Strict Standards: mktime(): You should be using the time() function instead in /home/umamnoer/public_html/plugins/system/vvisit_counter/vvisit_counter.php on line 32

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/umamnoer/public_html/plugins/system/vvisit_counter/helper/vvisit_counter.php on line 28

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/umamnoer/public_html/plugins/system/vvisit_counter/helper/vvisit_counter.php on line 120

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/umamnoer/public_html/plugins/system/vvisit_counter/helper/vvisit_counter.php on line 123

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/umamnoer/public_html/plugins/system/vvisit_counter/vvisit_counter.php on line 38

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/umamnoer/public_html/plugins/system/vvisit_counter/vvisit_counter.php on line 92
umamnoer.com - Beranda
  • umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

Beranda

Bulan Mati di Langit Utara Bekasi: Pembangunan, Pemiskinan & Ironi Lumbung Padi

on . Posted in Catatan Khusus

Tulisan ini adalah tulisan yang saya ikutsertakan dalam penerbitan Seri Ekofeminisme III; Perubahan Iklim, Tambang, dan Memori Rahim. Saya berterima kasih kepada Dewi Candraningrum (Editor-in-Chief Jurnal Perempuan) dan Arianti Ina Restiani Hunga (Ketua Pusat Penelitian Perempuan dan Anak Univ. Kristen Satya Wacana) yang telah memberikan kesempatan saya ikut berpartisipasi dalam karya kolaboratif yang menyenangkan. Buku Seri Ekofeminisme III dapat didapatkan di toko buku. Terima kasih.

Add a comment

menyoal kata abuya, sebuah tanggapan

on . Posted in Catatan Kaki

Akhirnya saya ketularan. Ujung pangkal semua masalah ini dimulai dari bang Darso yang melempar sebuah persoalan tentang pemakaian kata “abuya” kepada guru Nur (saya sih lebih suka kata itu). Setelah saling berbalas komentar di fb, kemudian muncul tulisan sahabat saya, Irhami (lihat DI SINI), kemudian saya tergelitik untuk ikut pula nimbrung soal “abuya” ini.

Add a comment

Hanya laki-laki yang (ber)migrasi, benarkah?

on . Posted in Catatan Khusus

Catatan: tulisan ini dibuat untuk acara seminar nasional yang diselenggarakan oleh Puslit Budaya Madura, Universitas Trunojoyo Madura dengan tema "Madura dalam Kacamata Sosial, Budaya, Ekonomi, Agama, Kebahasaan dan Pertanian" pada tanggal 12 November 2014. Tulisan ini sendiri merupakan perbaikan dari makalah saya pada Simposium Jurnal Antropologi Indonesia yang diselenggarakan di Universitas Lambung Mangkurat pada 2008 silam. 

Add a comment

Menguji klaim "kebenaran" dalam Pilpres 2014

on . Posted in Catatan Kaki

Saya memulai catatan ini dengan sebuah duka: belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas keruntuhan nalar kita sebagai bangsa Indonesia. Sesungguhnya saya sudah muak dengan ujian nalar ini, ujian yang bahkan seringkali menjungkirbalikkan nalar kita, atau setidaknya saya, dan celakanya jungkirbalik itu tanpa saya sadari. Pemilihan Presiden 2014 ini membuat kita, saya dan sahabat-sahabat saya, saling terfragmentasi, banal, bahkan nyaris menjijikkan. Pilpres 2014 tidak lain adalah ujian kewarasan saya dalam menghadapi dunia yang semakin tidak waras di sekitar saya.

Add a comment

Antropologi pasca Koentjaraningrat

on . Posted in Catatan Khusus

Sebuah pesan singkat mendarat di ponsel saya dari seorang sahabat baik, Sipin Putra, dia mengundang saya untuk mengisi sebuah acara yang dilaksanakan oleh Himpunan Mahasiswa Antropologi Universitas Brawijaya Malang. Sesungguhnya saya berada di persimpangan, entah apakah saya harus senang atau malah bingung dengan permintaan dari pihak panitia. Permintaan sahabat saya (menurut dia) sederhana: mendedahkan perkembangan antropologi di Indonesia, dan karena acaranya bertepatan dengan tanggal wafatnya Koentjaraningrat, sebagai Bapak Antropologi Indonesia, maka mau tidak mau saya harus bicara tentang Pak Koen juga.

Nah, disinilah letak kegamangan saya. Saya bukan murid langsung Koentjaraningrat. Ibaratnya saya hanyalah ta'biin, orang yang tidak pernah bertemu nabi namun hanya bertemu para sahabat, persis sama. Saya hanyalah orang yang pernah berguru pada sosok yang pernah menjadi murid Koentjaraningrat. Bolehlah saya mengatakan, bahwa saya adalah generasi ketiga antropolog Indonesia.

Add a comment

Branded mind, are you?

on . Posted in Catatan Kaki

Untuk kali pertama dalam hidup saya yang singkat, saya melihat tas itu: Hermes. ASLI bukan imitasi. Bukan main. Ingatan saya pun pergi ke sosok Gubernur Banten yang katanya doyan sama merek ini. Sesungguhnya bukan hanya Atut, banyak juga artis maupun ibu pejabat lainnya yang juga penggemar merek ini. 

Alkisah sahabat baik saya, di suatu hari yang penat, tiba-tiba mengajak saya untuk ngopi di sebuah kedai kopi ternama di perpustakaan UI. Saya dengan senang hati menerima undangan tersebut, secara saya juga sedang berada di kampus, dan cukup lama saya tak bersua dengan sahabat saya itu. Saya datang lima belas menit sebelum jam janjian. Rupanya dia terlambat hampir tiga puluh menit. Dengan terengah-engah dia masuk ke kedai tersebut dan menyapa saya.

Add a comment

Langit Suci di Langit Jakarta

on . Posted in Catatan Kaki

Setelah absen di kegiatan 411, saya berkesempatan untuk ikut agenda 212 (bagi anda yang tidak tahu apa yang saya maksudkan, sila browsing). Bagi saya, pengalaman hari ini menarik. Hari ini mengingatkan saya pada satu pandangan, tentang agama sbg realitas sosial. Dan imaji saya berlabuh ke Peter Berger.

Agama dalam perspektif Berger dimengerti sebagai hasil konstruksi manusia melalui tiga tahap dialektik: eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Dunia yang dikonstruksikan tersebut menjadi nomos yang mengatur kehidupan manusia agar terbebas dari ancaman anomi, chaos, dan ketidateraturan lainnya.

Add a comment

Anda itu, laki-laki atau perempuan? “Trans” atau “asli”? Homo atau hetero?: Menyoal “identitas” dalam air keruh diskursus gender

on . Posted in Catatan Khusus

Tulisan ini dimulai dengan sebuah kebingungan. Ketika saya diminta untuk membuat tulisan dalam sebuah seminar yang diadakan oleh para sahabat di Kajian Gender, saya tergagap. Bukan karena saya tidak biasa menulis dengan topik gender, melainkan saya tergagap karena saya menyadari bahwa siapapun yang mendengarkan presentasi dan membaca tulisan ini adalah mereka yang tumbuh dan dibesarkan dengan tradisi kajian gender. Alih-alih memuji atau bercerita mengenai topik penelitian, saya memilih untuk berjalan mundur. Saya tidak meminta anda, para pembaca yang saya hormati, untuk menghabiskan waktu anda membaca coretan dan omong kosong saya; pun saya tidak meminta anda untuk bersepakat dengan saya. Saya justru ingin agar kita bisa beradu argumentasi, bukan untuk mencari siapa yang benar versus siapa yang salah, melainkan untuk mencari satu titik temu – meski titik temu itu boleh jadi adalah sebuah kesepatakan bahwa kita tidak bersepakat.

Add a comment

Iwan Tjitradjaja, suara-suara, dan antropologi yang sederhana

on . Posted in Catatan Khusus

Entah kenapa, sulit sekali bagi saya menulis soal ini. Setiap saya menghadapi laptop, saya selalu kehilangan kata-kata. Seorang sahabat, Retha, setengah berkelakar melihat kediaman saya yang tidak biasa. Sebuah anomali bagi orang-orang yang mengenal saya dengan baik, bahwa saya kehilangan kata-kata. Menurutnya, hanya ada dua hal yang bisa membuat saya diam tanpa kata: jatuh cinta atau ditinggal mati orang saya sayangi. Sayangnya, sahabat saya itu benar. Saya kehilangan sosok orang yang menjadi guru sekaligus sahabat diskusi yang menyenangkan. Tulisan ini adalah tentang seorang laki-laki bernama Iwan Tjitradjaja.

Add a comment

Kebudayaan, perlukah pengakuan?

on . Posted in Catatan Kaki

Dalam Lokakarya Nasional terkait dengan RUU Kebudayaan yang diselenggarakan oleh Asosiasi Antropologi Indonesia (AAI) di FISIP UI beberapa hari yang lalu (22/9), terdapat satu perdebatan penting: perlukah kebudayaan diakui? Perdebatan ini muncul karena Rancangan Undang-Undang Kebudayaan yang sedang digodok oleh DPR mengabaikan masalah “pengakuan” ini.

Add a comment

Menakar kualitas penonton debat

on . Posted in Catatan Kaki

Setelah pusing menonton debat antara Prabowo dan Jokowi, saya berencana meninggalkan dunia maya dan beralih ke dunia nyata: garap makalah yang sudah ditagih. Namun rencana itu gagal total. Adalah telepon dari sahabat saya, Christina Simbolon, yang mengubah rencana saya. Pertanyaan sahabat saya sederhana: apakah para penonton debat memahami apa yang diperdebatkan antara dua kandidat? Jawaban saya jelas: tidak semua memahami esensi debat – kalau tidak mau dikatakan bahwa hampir semua terlalu terpaku pada si kandidat bukan pada apa yang disampaikan oleh si kandidat. Rupanya sahabat itu juga setuju.

Add a comment

Mengapa antropologi PERLU mendengar suara (seorang) perempuan?

on . Posted in Catatan Khusus

Jika anda sudah membaca ringkasan disertasi saya dalam postingan sebelumnya, maka ada satu pertanyaan mendasar yang ingin saya jawab: mengapa penting bagi antropologi untuk mendengar suara (seorang) perempuan? Mengapa tubuh perlu dibicarakan secara serius. Izinkan saya memberikan jawaban:

Pertama, penelitian ini menunjukkan bagaimana perempuan berkepentingan dalam mengkonstruksi pengetahuan dan kebudayaan. Sebagai penelitian etnografi, yang tentu saja bukan satu-satunya yang berbicara dari sudut pandang perempuan, penelitian ini mencoba menjadikan pengalaman perempuan sebagai basis dalam membangun kebudayaan. Bahwa perempuan, sebagaimana laki-laki, turut pula berkepentingan dalam membangun konstruksi kebudayaan. Saya setuju dengan Geertz (1973), yang meminjam istilah Weber, bahwa manusia terjerat dalam pintalan jejaring yang ia pintal sendiri, maka kebudayaan tidak lain adalah jaring tersebut, dan untuk menganalisis kebudayaan, maka saya tidak mungkin melakukan penelitian eksperimental untuk mencari hukum sebab-akibat atau pun melakukan komparasi kebudayaan. Maka saya pun mencari makna di balik tindakan, mengisolasi elemen-elemen kebudayaan, dan mencari penjelasan di balik hubungan antarelemen.

Add a comment

"Cinta kami berbeda": romantisme lansia

on . Posted in Catatan Kaki

Siapa bilang usia merapuhkan rasa cinta? Siapa bilang lansia tidak bisa romantis? Siapa bilang lansia tidak bisa menunjukkan rasa cinta? Pada awalnya saya meyakini tiga hal di atas, namun peristiwa hari ini meruntuhkan itu semua.

Hari senin lalu saya berangkat dari Pulogadung menuju Depok, menaiki patas ac langganan, saya setia menunggu di depan terminal Pulogadung. Akhirnya patas ac 84 muncul dan saya tanpa ragu naik. Di dalam patas masih agak lengang, dan saya memilih duduk di kursi tiga, dua baris di belakang supir. Ketika lewati jalan Balap Sepeda, Rawamangun, patas yang saya tumpangi lagi-lagi berhenti untuk menaikkan penumpang, tapi penumpang yang ini berbeda. Sepasang suami istri berusia lanjut naik, dan memilih untuk duduk di samping saya. Saya menawarkan tempat duduk di sudut namun mereka menolak, mereka bilang bahwa mereka hanya sampai di Lenteng Agung. Petualangan pun dimulai.

Add a comment

Maroho Adat, Manimpu Ngata: masyarakat adat dan penyelesaian sengketa di Lore Lindu

on . Posted in Catatan Khusus

…ini hutan kami, rumah kami, ibu kami. Sebelum orang-orang Jakarta teriak soal (konservasi) hutan, kami sudah menjaga hutan ini… semboyan kami, maroho adat manimpu ngata. Selama adat kami jaga, selama hutan kami pelihara, selama itu ngata (desa) ini ada – Naftali B. Potendjo”  

Pendahuluan: mengapa kita perlu bicara soal masyarakat adat?

Halimun turun menutupi sawah dan perbukitan di Taman Nasional Lore Lindu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Pagi itu, dalam suatu perbincangan dengan Naftali Potendjo, salah satu sesepuh dari masyarakat adat Ngata Toro, saya belajar mengenai kebangkitan masyarakat adat dalam menghadapi dominasi negara. Perbincangan itu sendiri dimulai dari satu pertanyaan mendasar: bagaimana masyarakat adat Ngata Toro berhasil mendapatkan pengakuan oleh Pemerintah atas hutan adat mereka sedangkan hutan tersebut sebelumnya diakui sebagai “milik negara” melalui Taman Nasional Lore Lindu? Pertanyaan sederhana ini mendorong penelitian yang menarik tentang kontestasi antara masyarakat adat di satu sisi, dengan negara – dalam hal ini Pemerintah Daerah Kabupaten Sigi dan Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu di sisi lainnya. Secara umum, tulisan ini akan mencoba menjelaskan dua hal. Pertama, bagaimana sesungguhnya posisi masyarakat adat dalam peta kebijakan di Indonesia. Kedua, bagaimana menjelaskan kebangkitan masyarakat adat pascareformasi dalam konteks partisipasi masyarakat dalam perumusan kebijakan kehutanan yang berpengaruh pada kehidupan mereka.

Add a comment

#SavingLives #SavingHopes #SaveIndonesia

on . Posted in Catatan Kaki

Beberapa hari ini lini masa facebook dan twitter saya dipenuhi satu hal: eksekusi mati. Sebagaimana yang lazim terjadi, selalu ada perdebatan sengit tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Bahkan para sahabat saya pun terjerat dalam perdebatan yang sama: apakah terpidana kasus narkotika, yang telah diketok palu untuk segera dieksekusi, pantas menerima keputusan tersebut.

Add a comment

Media dan citra perempuan yang terus berubah

on . Posted in Catatan Khusus

Tulisan ini adalah makalah yang saya sampaikan dalam acara "Roundtable Discussion Media dan Komunikasi" yang diselenggarakan oleh Program Pascasarjana Komunikasi, Departemen  Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Airlangga. Judul asli makalah ini adalah "Bukan untuk perempuan baik-baik seperti saya: Media dan citra perempuan ideal yang terus berubah."

Add a comment

Menapak jalan terjal pendidikan tinggi di Indonesia

on . Posted in Catatan Khusus

Ketika saya diminta untuk membuat satu tulisan tentang pendidikan tinggi di Indonesia, bolehlah saya katakan kalau saya mengalami kegalauan tingkat tinggi. Saya bukan praktisi pendidikan tinggi. Saya hanyalah orang yang mencicipi pendidikan tinggi di Indonesia, mulai tingkat sarjana hingga doktoral. Bolehlah saya mengklaim diri saya sebagai produk pendidikan tinggi di Indonesia. Akhirnya saya memilih untuk merefleksikan kembali apa yang telah saya jalani selama lebih dari satu dekade kuliah. Sesungguhnya banyak masalah yang terjadi di pendidikan tinggi di Indonesia, namun berdasarkan pengalaman, saya hanya berfokus pada tiga hal: (1) budaya kopi-salin (copy-paste) di kalangan mahasiswa, (2) kegagalan sistem pendidikan tinggi menghasilkan lulusan yang mumpuni dalam metodologi ilmiah, dan (3) minimnya keikutsertaan mahasiswa dalam aktivitas ilmiah.

Add a comment

Visi Attaqwa 2030 (bagian 1)

on . Posted in Catatan Khusus

Tanggal 25 mei mendatang, Pondok Pesantren Attaqwa Putri akan merayakan ulang tahunnya yang ke lima puluh. Tidak terasa, sudah setengah abad pondok ini berdiri. Saya sendiri terlibat di dalam kepanitiaan, dan memberikan kado terbaik saya untuk pondok: sebuah buku yang merangkai masa lalu Pondok Pesantren Attaqwa Putri. Namun tulisan ini tidak membahas masa lalu, tulisan ini adalah tentang harapan di masa depan.

Add a comment

Politik tubuh, imaji dan perlawanan janda terasing dari Madura (catatan ringkas)

on . Posted in Catatan Khusus

Kepada seluruh khalayak umum, saya sengaja memberikan ringkasan dari disertasi saya yang berjudul AMIMPEH TANEAN LANJENG: POLITIK TUBUH, IMAJI, DAN PERLAWANAN JANDA TERASING DARI MADURA dalam blog saya. Disertasi tersebut telah saya pertahankan di hadapan Dewan Penguji Disertasi dalam Sidang Promosi di AJS FISIP UI 9 Januari 2014. Bagi saya, ini adalah bagian dari tanggungjawab moral saya untuk berbagi pengetahuan, terlepas dari adanya paksaan dari pihak UI untuk menyimpan naskah disertasi dan naskah ringkas dalam repositori mereka, namun saya pikir naskah ringkas akan saya sebarluaskan secara terbuka. Saya menantikan tanggapan dan kritik untuk disampaikan langsung ke surat elektronik saya. Terimakasih.

Add a comment

Are They Slut??

on . Posted in Catatan Kaki

Ada yang mengganggu saya hari ini, ketika saya melangkah pulang ke arah kos saya, sekelompok perempuan, dengan rambut dicat berwarna pirang, berdandan seronok sambil tertawa terbahak-bahak di tepi jalan. Oh come on girls... Terus terang saja saya tertanggu dengan pemandangan tersebut. Tolong jangan salah paham, bukan berarti saya membenci seluruh spesies perempuan, namun bagi saya, perempuan seperti mereka adalah perempuan yang tidak menghargai dirinya sendiri.

Add a comment

Scoptoma dan persoalan klaim objektif Buni Yani

on . Posted in Catatan Khusus

 

Sedari malam hingga pagi ini, lini masa media sosial saya penuh soal mas Buni Yani (BY). Sebetulnya saya jenuh soal ini, tp logika yg dipergunakan para sahabat saya yg membela mas BY menggelitik saya. Bagi para sahabat saya, apa yg dilakukan oleh mas BY sudah benar dalam koridor akademik. Betulkah? Mari saya jelaskan soal apa yg dilakukan oleh mas BY dari sudut pandang saya sebagai peneliti.

Sebelum saya terlanjur ngomong panjang, penting meletakkan mas BY dlm konteksnya, yakni dlm posisi dia sebagai "orang kampus". Saya pikir jawabannya jelas, dlm banyak kesempatan mas BY selalu menempatkan posisi sbg dosen cum peneliti di salah satu kampus swasta (kesampingkan dulu sejarah akademik dia d Ohio ato klaim dia sbg kandidat doktor dr Leiden).

Add a comment

Utara Bekasi Bukan Untuk Dijual!! #SaveBekasi #SaveNeneng

on . Posted in Catatan Khusus

Kemarin (18/4) sebuah acara luar biasa dihelat. Luar biasa, karena untuk kali pertama, isu lingkungan dibahas di Attaqwa. Acara itu bernama “Seminar Pembangunan di Utara Bekasi Dalam Perspektif Lingkungan dan Sosial: Antara Peluang dan Ancaman”, yang merupakan kerjasama antara STAI Attaqwa dan Ikatan Keluarga Abiturien Attaqwa (IKAA). Acara tersebut mendatangkan Dr. M.Harun Al Rasyid (Unisma), Selamet Daroyni (PO INCLEI Indonesia), Dr. Arif (PERWAKU), dan KH. Abid Marzuki, M.Ed (STAI Attaqwa).

Add a comment

Perfection is a disease of a nation

on . Posted in Catatan Kaki

Beberapa hari ini saya resah. Alasannya sederhana: saya menemukan bahwa kalimat mbak Beyonce amat benar: perfection is a disease of a nation. Kesempurnaan adalah wabah bagi sebuah bangsa. Ketika setiap orang mencari kesempurnaan, maka setiap orang tidak lagi memperdulikan orang lainnya. Ketika setiap orang mencari kesempurnaan, maka setiap orang menjadi identik dengan orang lainnya. Semuanya sama.

Add a comment

RUU Kebudayaan, perlukah?

on . Posted in Catatan Khusus

Di tengah hingar-bingar dunia politik yang menyandera seluruh elemen bangsa saat ini, terselip satu diskusi menarik yang – sayangnya – terabaikan: Rancangan Undang-Undang Kebudayaan. Saya beruntung, meski saya bukan anggota Asosasi Antropologi Indonesia (AAI), saya berkesempatan untuk membaca naskah RUU Kebudayaan, dari seorang sahabat. Catatan ini adalah tanggapan pribadi saya atas RUU Kebudayaan, dan sebagai sebuah opini, seluruh isi dari catatan ini berada di bawah tanggungjawab saya.

Add a comment

Gay, terong, dan kucing

on . Posted in Catatan Kaki

Malam tadi saya mendapat kejutan: sebuah telepon dari seorang sahabat lama yang sudah amat lama tidak bersua maupun berkirim kabar ke saya. Tanpa berpanjang kalam, sahabat saya itu langsung ngomel-ngomel soal "terong" dan "kucing" yang menurutnya telah mendeskreditkan dirinya. Karena saya ditelpon pukul dua pagi, maka wajarlah kalau saya tidak paham dengan omongan sahabat saya itu, sampai dia bilang: "yap, gw memang gay, tapi gw bukan terong apalagi kucing", dan mengertilah saya duduk persoalannya.

Add a comment

Apa kabar museum kita?? (episode 3)

on . Posted in Catatan Kaki

Saya cukup gembira minggu ini, setelah mengunjungi Museum Gereja Katedral dan Museum Nasional (5/12) dan dilanjutkan dengan Monumen Nasional (7/12). Bagi saya, mengunjungi museum adalah perjalanan yang selalu menyenangkan. Adalah fakta yang tidak dapat disangkal, bahwa mengunjungi museum, selain murah meriah, juga kita bisa mendapatkan pengetahuan baru.

Add a comment

Setelah Silatnas, sebuah tanggapan

on . Posted in Catatan Kaki

Menanggapi tulisan abang saya, Cecep Maskanul Hakim di blognya (klik DI SINI), maka izinkan saya bertutur, tentunya dari sudut pandang saya sebagai Sekretaris Panitia Silatnas 2013. Jawaban yang lebih singkat sejatinya telah saya kirimkan ke milis Attaqwa, namun karena ini blog saya sendiri, saya merasa lebih bebas bertutur di sini.

Pertama, atas nama Panitia Silatnas IKAA 2013 kami mengucapkan terimakasih atas bantuan dan kehadiran semua alumni anggota IKAA pada acara Silatnas kemarin. Kedua, saya setuju sepenuhnya dengan tulisan bang Cecep, dan seperti yang saya tulis sebagai jawaban atas kritik bang Darso, maka izinkan saya menjawab. 

Jadwal Salat