• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri
  • marhaban

Beranda

RUU Kebudayaan, perlukah?

on . Posted in Catatan Khusus

Di tengah hingar-bingar dunia politik yang menyandera seluruh elemen bangsa saat ini, terselip satu diskusi menarik yang – sayangnya – terabaikan: Rancangan Undang-Undang Kebudayaan. Saya beruntung, meski saya bukan anggota Asosasi Antropologi Indonesia (AAI), saya berkesempatan untuk membaca naskah RUU Kebudayaan, dari seorang sahabat. Catatan ini adalah tanggapan pribadi saya atas RUU Kebudayaan, dan sebagai sebuah opini, seluruh isi dari catatan ini berada di bawah tanggungjawab saya.

Add a comment

Gay, terong, dan kucing

on . Posted in Catatan Kaki

Malam tadi saya mendapat kejutan: sebuah telepon dari seorang sahabat lama yang sudah amat lama tidak bersua maupun berkirim kabar ke saya. Tanpa berpanjang kalam, sahabat saya itu langsung ngomel-ngomel soal "terong" dan "kucing" yang menurutnya telah mendeskreditkan dirinya. Karena saya ditelpon pukul dua pagi, maka wajarlah kalau saya tidak paham dengan omongan sahabat saya itu, sampai dia bilang: "yap, gw memang gay, tapi gw bukan terong apalagi kucing", dan mengertilah saya duduk persoalannya.

Add a comment

Apa kabar museum kita?? (episode 3)

on . Posted in Catatan Kaki

Saya cukup gembira minggu ini, setelah mengunjungi Museum Gereja Katedral dan Museum Nasional (5/12) dan dilanjutkan dengan Monumen Nasional (7/12). Bagi saya, mengunjungi museum adalah perjalanan yang selalu menyenangkan. Adalah fakta yang tidak dapat disangkal, bahwa mengunjungi museum, selain murah meriah, juga kita bisa mendapatkan pengetahuan baru.

Add a comment

Setelah Silatnas, sebuah tanggapan

on . Posted in Catatan Kaki

Menanggapi tulisan abang saya, Cecep Maskanul Hakim di blognya (klik DI SINI), maka izinkan saya bertutur, tentunya dari sudut pandang saya sebagai Sekretaris Panitia Silatnas 2013. Jawaban yang lebih singkat sejatinya telah saya kirimkan ke milis Attaqwa, namun karena ini blog saya sendiri, saya merasa lebih bebas bertutur di sini.

Pertama, atas nama Panitia Silatnas IKAA 2013 kami mengucapkan terimakasih atas bantuan dan kehadiran semua alumni anggota IKAA pada acara Silatnas kemarin. Kedua, saya setuju sepenuhnya dengan tulisan bang Cecep, dan seperti yang saya tulis sebagai jawaban atas kritik bang Darso, maka izinkan saya menjawab. 

Meninjau Ulang Teori Migrasi, Di Mana Posisi Perempuan? Kritik, Tawaran, dan Implikasi

on . Posted in Catatan Khusus

ABSTRAK
 
Sepanjang sejarahnya, teori mengenai migrasi telah mengalami pasang-surut. Dimulai dari sudut pandang ekonomi, hingga pada posisi aktor pelaku individu. Namun perkembangan teori migrasi melupakan satu faktor penting: perempuan. Tulisan ini memiliki tujuan ganda: Pertama, melakukan kritik atas bangunan teori migrasi yang mengabaikan perempuan, baik sebagai pelaku migrasi maupun sebagai pihak yang berkepentingan untuk mengkonstruksi bangunan teori migrasi. Kedua, tidak berhenti pada kritik, tulisan ini mencoba memberikan tawaran feminisme atas bangunan teori migrasi dan apa implikasinya atas bangunan itu sendiri. Secara umum tulisan ini dibagi dalam tiga bagian. Bagian pertama akan mengekplorasi teori migrasi klasik yang menitikberatkan pada ekonomi dan teori migrasi kontemporer yang menitikberatkan pada aktor pelaku migrasi; bagian kedua merupakan kritik atas dua bagian sebelumnya, yakni melihat bagaimana sebenarnya posisi perempuan dalam bangunan teori migrasi; dan bagian ketiga merupakan  tawaran sekaligus implikasi atas tawaran feminisme terhadap teori migrasi. Sebagai kritik atas tidak munculnya suara perempuan dalam teori migrasi, maka kritik atas bangunan teori migrasi yang bias menjadi sangat penting, sebab dalam teori migrasi klasik maupun kontemporer, posisi perempuan sangat terabaikan. Terabaikannya perempuan membuatnya tidak mampu mengabarkan pengalaman mereka, akibatnya jelas: perempuan tidak diikutsertakan dalam konstruksi pengetahuan, terlupa, tenggelam dalam dinamika diskusi teori migrasi.
 
Kata kunci: teori migrasi, ekonomi, diri, perempuan, feminisme Add a comment

Balada guru bimbel, bagian 2

on . Posted in Catatan Kaki

Hari ini saya berpikir ulang mengenai apa sebenarnya guru itu. Dahulu saya berpikir, bahwa guru hanya lah sosok yang memiliki satu tugas pokok: masuk kelas dan mengajar. Hanya itu. Tidak lebih. Tidak kurang. Namun sejak saya diberi amanah untuk membantu mengisi bimbingan belajar sosiologi, memang bukan keilmuan saya, bagi kelas XII, setiap tahunnya saya semakin memahami apa hakikat guru itu.

"Maaf, anda gay ya??", Part 3

on . Posted in Catatan Kaki

Apa reaksi anda jika seseorang, yang tidak anda kenal, tiba-tiba bertanya di muka umum, apakah anda gay atau tidak. Alamak. Bikin panas-dingin, mengutip Syahrini, cetar membahana badai hehehehe. Sesungguhnya saya tidak tahu mengapa saya selalu berhubungan dengan kelompok ini. Pertanyaan tersebut adalah kali ketiga saya ditanya, dan ketiganya selalu di tempat umum dengan suara nyaris berbisik.

Add a comment

Menguji klaim "kebenaran" dalam Pilpres 2014

on . Posted in Catatan Kaki

Saya memulai catatan ini dengan sebuah duka: belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas keruntuhan nalar kita sebagai bangsa Indonesia. Sesungguhnya saya sudah muak dengan ujian nalar ini, ujian yang bahkan seringkali menjungkirbalikkan nalar kita, atau setidaknya saya, dan celakanya jungkirbalik itu tanpa saya sadari. Pemilihan Presiden 2014 ini membuat kita, saya dan sahabat-sahabat saya, saling terfragmentasi, banal, bahkan nyaris menjijikkan. Pilpres 2014 tidak lain adalah ujian kewarasan saya dalam menghadapi dunia yang semakin tidak waras di sekitar saya.

Add a comment

Antropologi pasca Koentjaraningrat

on . Posted in Catatan Khusus

Sebuah pesan singkat mendarat di ponsel saya dari seorang sahabat baik, Sipin Putra, dia mengundang saya untuk mengisi sebuah acara yang dilaksanakan oleh Himpunan Mahasiswa Antropologi Universitas Brawijaya Malang. Sesungguhnya saya berada di persimpangan, entah apakah saya harus senang atau malah bingung dengan permintaan dari pihak panitia. Permintaan sahabat saya (menurut dia) sederhana: mendedahkan perkembangan antropologi di Indonesia, dan karena acaranya bertepatan dengan tanggal wafatnya Koentjaraningrat, sebagai Bapak Antropologi Indonesia, maka mau tidak mau saya harus bicara tentang Pak Koen juga.

Nah, disinilah letak kegamangan saya. Saya bukan murid langsung Koentjaraningrat. Ibaratnya saya hanyalah ta'biin, orang yang tidak pernah bertemu nabi namun hanya bertemu para sahabat, persis sama. Saya hanyalah orang yang pernah berguru pada sosok yang pernah menjadi murid Koentjaraningrat. Bolehlah saya mengatakan, bahwa saya adalah generasi ketiga antropolog Indonesia.

Add a comment

Branded mind, are you?

on . Posted in Catatan Kaki

Untuk kali pertama dalam hidup saya yang singkat, saya melihat tas itu: Hermes. ASLI bukan imitasi. Bukan main. Ingatan saya pun pergi ke sosok Gubernur Banten yang katanya doyan sama merek ini. Sesungguhnya bukan hanya Atut, banyak juga artis maupun ibu pejabat lainnya yang juga penggemar merek ini. 

Alkisah sahabat baik saya, di suatu hari yang penat, tiba-tiba mengajak saya untuk ngopi di sebuah kedai kopi ternama di perpustakaan UI. Saya dengan senang hati menerima undangan tersebut, secara saya juga sedang berada di kampus, dan cukup lama saya tak bersua dengan sahabat saya itu. Saya datang lima belas menit sebelum jam janjian. Rupanya dia terlambat hampir tiga puluh menit. Dengan terengah-engah dia masuk ke kedai tersebut dan menyapa saya.

Add a comment

Dani, Solidaritas Mekanik, dan Jerat Kapitalistik

on . Posted in Catatan Kaki

Catatan ini ditujukan bagi senior saya, sahabat sekaligus saudara seiman saya, abang Syafiuddin Abdullah a.k.a Dani yang sukses tereliminasi pada acara Akademi Sahur Indosiar tadi pagi. Seorang teman bertanya, dieliminasi ko sukses? Izinkan saya menjelaskan.

Satu hal yang harus dipahami, bahwa dieliminasinya ustad Dani adalah persoalan sms. Ada dua kemungkinan: entah sms Dani berkurang dari hari sebelumnya, atau boleh jadi smsnya bertambah hanya pertumbuhannya kalah cepat ketimbang lawannya. Kita bisa beradu argumen sampai lebaran tentang mana yang paling benar, namun satu hal mutlak yang tidak mungkin dibantah: ini bukan urusan siapa yang logikanya paling yahud atau retorikanya paling mantap. Ini soal SMS.

Add a comment

bacaan hari ini: the graves of tarim, genealogy and mobility across the indian ocean – Engseng Ho

on . Posted in Catatan Tepi

 I

 
mereka yang pergi: menuju daerah asing
 
And it is He who tamed the sea, that from it you might feed on flesh tender and fresh, and pull fineries to costume yourselves with, and see the ship plying its water. That you might desire His bounty. Perchance you would give thanks (The Bee [An Nahl]: 14)
 
Membaca buku ini seperti berada di dalam kereta ekspress menuju masa lalu, menyusuri lorong-lorong sempit dan gelap, dan terlempar kembali ke masa kini. Harus saya akui, membaca Engseng Ho adalah sebuah tantangan, terutama dengan cara Engseng Ho menggambarkan masa lalu dengan kilatan cepat, membuat siapapun yang ketinggalan kereta akan kesulitan melihat kilatan tersebut. Add a comment

Apa kabar museum kita?? (bagian 2)

on . Posted in Catatan Kaki

Apa kabar museum kita??

Hari ini saya baru saja pulang habis menyasarkan diri, kalau kesasar kan tidak disengaja, nah ini disengaja, di Taman Mini Indonesia Indah. Awalnya saya berencana ke Museum Nasional, tapi ketika melihat angkutan 19 Depok-TMII ngetem di depan Gunadarma, tanpa pikir panjang saya segera naik. Rupanya saya salah. Supir angkutan itu benar-benar penipu. Ketika saya tanya “Bang Taman Mini??”, dia jawab “Iya”. Rupanya dia tidak belok ke TMII, malah langsung ke Kampung Rambutan balik ke Depok. Sungguh menyebalkan. Akhirnya kepada taksi pula lah saya berpaling.

Add a comment

Menakar kualitas penonton debat

on . Posted in Catatan Kaki

Setelah pusing menonton debat antara Prabowo dan Jokowi, saya berencana meninggalkan dunia maya dan beralih ke dunia nyata: garap makalah yang sudah ditagih. Namun rencana itu gagal total. Adalah telepon dari sahabat saya, Christina Simbolon, yang mengubah rencana saya. Pertanyaan sahabat saya sederhana: apakah para penonton debat memahami apa yang diperdebatkan antara dua kandidat? Jawaban saya jelas: tidak semua memahami esensi debat – kalau tidak mau dikatakan bahwa hampir semua terlalu terpaku pada si kandidat bukan pada apa yang disampaikan oleh si kandidat. Rupanya sahabat itu juga setuju.

Add a comment

Mengapa antropologi PERLU mendengar suara (seorang) perempuan?

on . Posted in Catatan Khusus

Jika anda sudah membaca ringkasan disertasi saya dalam postingan sebelumnya, maka ada satu pertanyaan mendasar yang ingin saya jawab: mengapa penting bagi antropologi untuk mendengar suara (seorang) perempuan? Mengapa tubuh perlu dibicarakan secara serius. Izinkan saya memberikan jawaban:

Pertama, penelitian ini menunjukkan bagaimana perempuan berkepentingan dalam mengkonstruksi pengetahuan dan kebudayaan. Sebagai penelitian etnografi, yang tentu saja bukan satu-satunya yang berbicara dari sudut pandang perempuan, penelitian ini mencoba menjadikan pengalaman perempuan sebagai basis dalam membangun kebudayaan. Bahwa perempuan, sebagaimana laki-laki, turut pula berkepentingan dalam membangun konstruksi kebudayaan. Saya setuju dengan Geertz (1973), yang meminjam istilah Weber, bahwa manusia terjerat dalam pintalan jejaring yang ia pintal sendiri, maka kebudayaan tidak lain adalah jaring tersebut, dan untuk menganalisis kebudayaan, maka saya tidak mungkin melakukan penelitian eksperimental untuk mencari hukum sebab-akibat atau pun melakukan komparasi kebudayaan. Maka saya pun mencari makna di balik tindakan, mengisolasi elemen-elemen kebudayaan, dan mencari penjelasan di balik hubungan antarelemen.

Add a comment

"Cinta kami berbeda": romantisme lansia

on . Posted in Catatan Kaki

Siapa bilang usia merapuhkan rasa cinta? Siapa bilang lansia tidak bisa romantis? Siapa bilang lansia tidak bisa menunjukkan rasa cinta? Pada awalnya saya meyakini tiga hal di atas, namun peristiwa hari ini meruntuhkan itu semua.

Hari senin lalu saya berangkat dari Pulogadung menuju Depok, menaiki patas ac langganan, saya setia menunggu di depan terminal Pulogadung. Akhirnya patas ac 84 muncul dan saya tanpa ragu naik. Di dalam patas masih agak lengang, dan saya memilih duduk di kursi tiga, dua baris di belakang supir. Ketika lewati jalan Balap Sepeda, Rawamangun, patas yang saya tumpangi lagi-lagi berhenti untuk menaikkan penumpang, tapi penumpang yang ini berbeda. Sepasang suami istri berusia lanjut naik, dan memilih untuk duduk di samping saya. Saya menawarkan tempat duduk di sudut namun mereka menolak, mereka bilang bahwa mereka hanya sampai di Lenteng Agung. Petualangan pun dimulai.

Add a comment

Syiar, promosi, dan "Lailatul Keder"

on . Posted in Catatan Kaki

Saya memulai catatan ini dengan penuh rasa sesal. Sebuah anomali, kalau tidak mau dikatakan tragedi, bahwa di pondok tercinta saya, di tengah geliat Lailatul Qadr, di antara orang-orang yang giat bermunajat, entah bagaimana, ada Armada dan para dai kondang di sana.

Apa lakon? Oh, rupanya ada siaran langsung yang digawangi oleh salah satu tipi nasional. Ya, geliat acara Ramadan memang membuat seluruh stasiun tipi sibuk luar biasa. Ramadan bukan lagi sekedar puasa atau pun ibadah. Ramadan adalah sebuah tradisi yang penuh nuansa keislaman. Nuansa itu lah yang ditangkap dengan sangat cermat oleh semua tipi di Indonesia. 

Add a comment

UN untuk (si)apa? catatan nelangsa guru bimbel

on . Posted in Catatan Kaki

Lima tahun yang lalu, saya mengiyakan ketika untuk kali pertama saya diminta untuk mengajar sosiologi. Istilahnya keren: bimbingan belajar. Apa itu bimbingan belajar? Mengapa perlu bimbingan? Apakah demikian buruknya sampai perlu dibimbing? Ah, pusing. Jangan tanyakan mengapa di namakan demikian, barangkali cuma terdengar keren saja. Pada awalnya adalah petualangan akademik, namun saat ini adalah ritual tahunan yang penuh kebosanan. Sumpah mati saya bosan mengisi bimbel. Teman saya bertanya, mengapa? Ada dua alasan: jenuh dan bosan. 

Pantai Camplong, sejumput garam dari surga

on . Posted in Catatan Kaki

Saya senang sekali berkunjung ke tempat ini. Sedikit keluar dari kegiatan riset yang bikin kulit semakin menghitam adalah sebuah kenikmatan kecil yang layak dilakukan. Awalnya saya ragu, ada ya pantai indah di Madura?? Teman saya langsung, tanpa salamlekum, menjitak saya. Mengendarai motor selama satu jam lebih, rasa pegal terbayar ketika sampai di tempat ini: Pantai Camplong.

Awalnya hanya sebuah keisengan. Bosan yang mendadak datang membuat saya berkomentar singkat, "ada pantai ga?? makan degan (kelapa muda) enak nih". Teman riset saya, yang memang asli Madura, langsung bersemangat dan mulai berkoar-koar promosi tentang indahnya pantai-pantai di Madura.Setelah berembuk singkat, disertai debat kusir yang tidak perlu (saya memang senang mendebat teman saya ini), akhirnya diputuskan kami akan ke pantai Camplong. Tidak jauh kata teman saya (saya lupa basa-basi khas Jawa, dekat itu artinya sekitar 16KM). Add a comment

Visi Attaqwa 2030 (bagian 1)

on . Posted in Catatan Khusus

Tanggal 25 mei mendatang, Pondok Pesantren Attaqwa Putri akan merayakan ulang tahunnya yang ke lima puluh. Tidak terasa, sudah setengah abad pondok ini berdiri. Saya sendiri terlibat di dalam kepanitiaan, dan memberikan kado terbaik saya untuk pondok: sebuah buku yang merangkai masa lalu Pondok Pesantren Attaqwa Putri. Namun tulisan ini tidak membahas masa lalu, tulisan ini adalah tentang harapan di masa depan.

Add a comment

Politik tubuh, imaji dan perlawanan janda terasing dari Madura (catatan ringkas)

on . Posted in Catatan Khusus

Kepada seluruh khalayak umum, saya sengaja memberikan ringkasan dari disertasi saya yang berjudul AMIMPEH TANEAN LANJENG: POLITIK TUBUH, IMAJI, DAN PERLAWANAN JANDA TERASING DARI MADURA dalam blog saya. Disertasi tersebut telah saya pertahankan di hadapan Dewan Penguji Disertasi dalam Sidang Promosi di AJS FISIP UI 9 Januari 2014. Bagi saya, ini adalah bagian dari tanggungjawab moral saya untuk berbagi pengetahuan, terlepas dari adanya paksaan dari pihak UI untuk menyimpan naskah disertasi dan naskah ringkas dalam repositori mereka, namun saya pikir naskah ringkas akan saya sebarluaskan secara terbuka. Saya menantikan tanggapan dan kritik untuk disampaikan langsung ke surat elektronik saya. Terimakasih.

Add a comment

Are They Slut??

on . Posted in Catatan Kaki

Ada yang mengganggu saya hari ini, ketika saya melangkah pulang ke arah kos saya, sekelompok perempuan, dengan rambut dicat berwarna pirang, berdandan seronok sambil tertawa terbahak-bahak di tepi jalan. Oh come on girls... Terus terang saja saya tertanggu dengan pemandangan tersebut. Tolong jangan salah paham, bukan berarti saya membenci seluruh spesies perempuan, namun bagi saya, perempuan seperti mereka adalah perempuan yang tidak menghargai dirinya sendiri.

Add a comment

Munarman, secangkir air, dan Islam yang saya tahu

on . Posted in Catatan Kaki

Apakah anda sudah menyaksikan bagaimana aksi Munarman, Jubir FPI, yang menyiram Tamrin Tamagola dalam acara Apa Kabar Indonesia Pagi di TvOne pada Jumat (28/6/2013) lalu?? Saya sudah dan itu membuat saya jengkel hingga hari ini. Teman saya, menanggapi kekesalan saya, menyatakan bahwa kegondokan saya hanya berbuntut sia-sia. Baginya jelas, FPI tidak mungkin dibubarkan. Negara membutuhkan anjing yang siap menggonggong bahkan menggigit orang (atau keadaan) yang tidak bisa diatur negara. Celakanya, begitu berharganya anjing ini, jika pun dia menggonggong bahkan menggigit, maka di pemilik hanya akan tutup mata. Seakan tidak pernah terjadi. Ya ya, saya setuju. Teman yang lain, mendukung keberadaan ormas ini. Baginya, keberadaan ormas ini diperlukan untuk membela kepentingan ummat Islam yang selama ini diabaikan oleh negara.

Add a comment

KAMI TIDAK BISU, sebuah tanggapan

on . Posted in Catatan Khusus

Kemarin (26/11), bertempat di Ruang Soelaeman Soemardi FISIP UI Depok, saya bersama Kamilia Manaf membedah buku yang diterbitkan oleh Institut Pelangi Perempuan. Sebagai orang yang mendadak ditodong untuk membedah buku itu, saya tentu tersanjung. Bagi saya, seorang pasivis (istilah ini tadi saya gunakan sebagai kebalikan dari aktivis), memdedah buku yang berasal dari pengalaman teman-teman lesbian muda adalah sebuah kehormatan.

Apa kabar lagu anak Indonesia?

on . Posted in Catatan Kaki

Apa kabar lagu anak hari ini? Rasanya saya enggan bertanya, sebab saya tahu, dan sungguh saya khawatir, atas jawabannya. Jawabannya sederhana: layu dan perlahan mati. Teman saya berkata, apa indikatornya? Bagi saya sederhana, lihat lah pengamen jalanan anak. Pernahkah anda mendengar pengamen jalanan, yang anak-anak lho ya, mendendangkan lagu anak-anak? Katakan lah ambilkan bulan? Saya sih tidak.

bacaan hari ini: raiding the land of the foreigners, the limit of the nation on an indonesian frontier – D. Rutherford

on . Posted in Catatan Tepi

 

I

apa yang kita maksud dengan bangsa Indonesia?
 
 
Membaca Rutherford membuat saya banyak bertanya, terutama satu pertanyaan utama: apa yang kita maksud dengan bangsa Indonesia? Sebelum saya berbicara lebih jauh, adalah penting bagi saya untuk menegaskan, bahwa tulisan ini tidak hanya memfokuskan pada tulisan Rutherford, namun juga beberapa hal yang muncul dalam kepala saya. Barangkali saya perlu meminta maaf jika tulisan ini tidak terlalu jelas dalam membahas tulisan Rutherford. Add a comment

Jadwal Salat

Para Tetamu

069744
Hari ini
Kemarin
Minggu Ini
Bulan ini
Seluruhnya
9
367
1043
6311
69744

Your IP: 50.17.27.205
Server Time: 2014-07-30 00:55:42