• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

Empat hari untuk selamanya: jalan-jalan, mudik, menjalin hubungan, dan oleh-oleh

on . Posted in Catatan Kaki

Tanggal 2-5 Oktober 2010, dari sabtu hingga selasa, saya dan keluarga besar saya melakukan perjalanan yang luar biasa. Menempuh jarak tidak kurang dari 1300 km, dari Bekasi hingga Yogyakarta. Perjalanan di mulai dari Bekasi pada hari sabtu pagi dan kembali ke Bekasi pada selasa malam. Apa yang luar biasa dari perjalanan tersebut? Buat saya, perjalanan tersebut bukan lah perjalanan biasa. Sekurangnya saya dapat memberikan empat argumen mengenai hal tersebut.

 
Pertama, untuk kali pertama, kami sekeluarga berada dalam sebuah perjalanan yang relatif lama dan panjang. Saya, ibu saya, ayah saya, kakak laki-laki dan keluarganya, kakak perempuan (minus Mas Azizan karena telah berangkat ke Sudan) dan keluarga, si Bibi, dan pembantu baru di rumah, Uum. Hal ini tentu saja sangat menantang. Biasanya kami sekeluarga tidak pernah pergi dalam jumlah anggota sebanyak itu lebih dari satu hari, dan bagaimana kami memenej sekaligus mengontrol situasi adalah tantangan tersendiri. Kedua kakak saya telah memiliki anak. Kakak laki-laki saya memiliki anak berusia dua tahun lebih sedikit, dan kakak perempuan saya memiliki anak satu tahun setengah. Dapat anda bayangkan betapa repotnya kedua kakak saya membawa “perlengkapan tempur” bagi anak-anaknya.
 
Kerepotan semakin bertambah, manakala kita mempertimbangkan aspek psikologis anak yang harus berada di dalam mobil sepanjang empat hari perjalanan. Anak kakak saya yang perempuan, karena masih kecil, rasanya mengalami kebosanan tingkat tinggi ketika naik kendaraan. Sepanjang jalan pulang dari Cirebon dia terus menerus menangis, apalagi ketika akan masuk mobil. Barangkali dia bosan berada di dalam mobil atau alasan lain yang saya tidak ketahui. Anak kakak saya yang laki-laki tidak lah lebih baik, terutama jika dia kambuh angotnya. Saya sering merasa kasihan melihat kedua kakak saya, terutama kakak saya yang perempuan, jika anak-anak mereka sedang kambuh. Keadaan malah semakin runyam kalau kedua krucil tersebut disatukan dalam satu mobil, yang ada malah saling rebutan boneka. Padahal rasanya hamper semua boneka sudah di bawa, si moo (sapi), si kodok, si apel, si wortel, si kucing, ampe si tawon juga ikut, tapi tetap saja mereka saling rebutan kalau yang satu pegang boneka oleh yang lain.
 
Di sisi yang berbeda, bepergian dengan keluarga besar membawa suasana yang sangat berbeda. Ketika kami singgah di Semarang, Yogyakarta, dan Cirebon untuk bermalam misalnya, kesulitannya terbesarnya adalah mencari penginapan yang lumayan bagus, tidak terlalu mahal, dan yang jelas memiliki empat kamar kosong. Karena kami bersembilan, maka dibutuhkan sekurangnya tiga kamar hingga empat kamar. Kesulitan ini sangat terasa ketika kami tiba di Semarang. Tanpa pemesanan hotel terlebih dahulu, sangat sulit untuk menemukan tempat menginap di daerah Simpang Lima. Akhirnya kami menginap di Simpang Lima Hotel, walaupun saya lebih setuju menganggapnya sebagai wisma (^^). Keadaan lebih mudah ketika di Yogyakarta. Ayah saya, disetujui oleh ibu, menginap di hotel yang pernah mereka singgahi ketika di Yogya, Wisanti Hotel di wilayah Taman Siswa. Ketika di Cirebon kami menginap di hotel Langen Sari yang berada di alun-alun Cirebon.
 
Saya berpikir, khusus untuk kasus hotel di Yogya, seorang dosen saya pernah secara tidak serius berkata kalau kita (orang Indonesia) cenderung loyal pada satu merek atau lokasi hingga kita merasakan perbedaan kualitas pelayanan yang mendorong kita untuk berpindah tempat atau merek. Barangkali kasusnya benar terjadi. Hotel di Yogya pernah disinggahi oleh orangtua saya ketika mereka berkunjung ke kota ini bersama rombongan guru-guru di Attaqwa Putri. Agaknya mereka puas dengan layanan hotel tersebut sehingga menyebut nama hotel tersebut. Kasusnya berbeda dengan di Cirebon, ketika ibu saya ngotot untuk menginap di sekitar alun-alun Cirebon. Saya tidak dapat menemukan di mana letak pasti hotel yang dulu pernah kami singgahi, ketika akhirnya kami menginap, akhirnya ibu saya tidak lagi menyebut-nyebut hotel tersebut, tentu saja setelah merasakan fasilitas hotel yang saya anggap sangat lumayan. Meskipun keesokan harinya kami menemukan hotel yang kami cari, yang ternyata hanya berbeda belokan jalan saja. Tapi kasusnya hamper sama. Nampaknya kita cenderung ingin mengulang perasaan yang sama seperti yang kita rasakan dahulu, meskipun kita sepenuhnya sadar bahwa rasa yang sama tersebut mustahil untuk diulang dengan kualitas yang sama. Paham kan maksud saya?
 
Perjalanan ini pun menjadi tidak biasa, karena kami dapat menikmati jalan-jalan yang benar-benar jalan-jalan. Bagi keluarga saya, jalan-jalan model ini adalah sebuah kemewahan. Jika anda membaca dengan seksama TENTANG SAYA, anda akan paham bahwa kesibukan orangtua saya tidak memungkinkan kami untuk dapat jalan-jalan setiap saat. Momen ini sangat penting dan berharga, bahwa kami dapat menikmati waktu panjang tanpa disibukkan oleh masalah pekerjaan. Meskipun saya sedikit keteteran sebelumnya karena harus menyiapkan berbagai pekerjaan kuliah sebelum bisa menikmati liburan. Jalan-jalan dalam liburan kali ini benar-benar jalan-jalan. Selama empat hari mobil adalah rumah baru kami. Mulai dari Bekasi-Cirebon-Semarang-Yogyakarta-Semarang-Cirebon-Bekasi, kami terus berada di dalam mobil. Meskipun kami sedikit melepas lelah di Malioboro, tapi tetap mobil adalah rumah baru kami.
 
Kedua, terkait dengan rasa, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun ini kami akhirnya bisa mudik. Mudik, menurut seorang teman, memiliki makna kembali ke udik. Ini kesalahpahaman yang lazim terjadi, di mana udik dianggap sama dengan satu wilayah yang benar-benar terbelakang dan fasilitas dan infrastruktur. Udik adalah tempat di mana kita bermula dan berasal. Dalam hal ini, mudik adalah perjalanan ke tempat kita berasal. Saya memiliki darah sunda yang mengalir dalam nadi saya, darah yang berasal dari ayah saya. Dengan demikian, sedikit-banyak saya memiliki keterkaitan dengan tanah kelahiran ayah saya: Cirebon.
 
Saya memang tidak dilahirkan di Cirebon, namun saya tetap dapat merasakan denyut budaya sunda dalam keluarga saya. Hal ini bisa dilihat dengan sejumlah karyawan yang bekerja di rumah saya yang seluruhnya berasal dari Cirebon dan sekitarnya, yang dapat dipastikan berbudaya sunda. Saya sendiri sering menikmati makanan khas sunda dalam menu harian keluarga. Oleh karena itu, kedekatan saya dengan budaya sunda boleh jadi telah tertanam sejak saya masih sangat kecil (secara usia bukan fisik ^^). Saya menyadari sepenuhnya, bahkan jika saya tidak dibesarkan dan dikelilingi oleh orang Cirebon, saya tidak dapat melepaskan fakta bahwa dalam diri saya, atau separuh diri saya, adalah milik tanah Cirebon. Fakta tersebut tentu saja tidak dapat dihapuskan dengan mudah, meskipun dalam ejaan nama saya tidak ada aroma sunda sama sekali, atau saya bahkan tidak mengerti bahasa sunda, tapi saya tetaplah memiliki sejumlah kondisi genetis yang diwariskan dari dan oleh orang sunda.
 
Bagi ayah saya, saya rasa perjalanan ini jauh lebih sentimental. Saya menyadari sepenuhnya, ketika beranjak semakin dewasa (saya enggan mengatakan beranjak senja), setiap orang memiliki kebutuhan tersendiri untuk bertemu dengan orang yang memiliki kedekatan emosional dan kultural. Barangkali anggapan ini keliru atau tidak memiliki landasan teoritik, tapi saya percaya hal tersebut benar, setidaknya kepercayaan saya tersebut berasal dari apa yang saya amati dari ayah saya. Ayah saya bukan lah tipe orang sentimental yang mudah menangis, tapi saya melihat, bahwa kedatangannya ke orang-orang yang juga sudah semakin dewasa, membuatnya menjadi lebih sentimental. Dalam hal ini, mudik yang kami lakukan memiliki makna yang lebih luas, setidaknya itu lah saya amati. Saya sendiri merasa, bahwa perjalan mudik kali ini tidak jauh berbeda dengan perjalanan mudik yang pernah kami lakukan beberapa tahun yang lalu. Barangkali karena saya, dalam derajat tertentu, kurang memiliki hubungan emosional yang kuat, akibatnya saya tidak mendapatkan pesona, esensi, bahkan mistisisme dalam mudik yang kami lakukan.
 
Ketiga, untuk pertama kalinya saya, ibu saya, dan kakak saya yang laki-laki mengunjungi rumah besan di Bantul, Yogyakarta. Kakak saya yang perempuan secara fisik dan kultural menikah dengan orang Bantul. Dia sendiri sudah beberapa kali ke Bantul, dan orangtua (dan kerabat) dari suami kakak saya sudah beberapa kali ke Bekasi. Perjalanan ini secara tidak langsung adalah upaya kunjungan balasan dari keluarga besar kami. Menjalin hubungan adalah kata kuncinya. Barangkali ini bersumber dari konsep keluarga dan budaya kita. Tentu saja hal ini masih kontestatif, tapi sepanjang yang saya amati, kita sangat menghargai dan menghormati konsep keluarga ini. Dalam pandangan kita, keluarga adalah entitas yang harus dijaga keberlangsungannya, dan untuk menjaga keberlangsungan keluarga itu lagh berbagai usaha dilakukan: salah satunya dengan melakukan kunjungan. Bagi saya, mudik merupakan contoh lain dari konsep yang sama. Kunjungan balasan yang dilakukan oleh keluarga besar kami pada dasarnya adalah upaya untuk menjaga keberlangsungan hubungan keluarga yang telah terbangun.
 
Secara genetis, tidak ada hubungan antara keluarga kami dengan keluarga Mas Azizan di Bantul sana. Tapi karena kakak perempuan saya menikah dengan Mas Azizan, dan telah melahirkan keturunan genetik, maka hubungan yang terbangun adalah hubungan sosial dan kultural. Jalinan aliansi yang dibangun oleh kakak saya membawa implikasi yang lebih luas, bahwa masing-masing keluarga membangun aliansi yang lebih besar. Aliansi antara keluarga di Bekasi dengan keluarga di Bantul. Aliansi ini, meskipun dibangun dibangun berdasarkan filiasi perkawinan, namun pada dasarnya adalah aliansi yang paling primitive yang pernah dikenal manusia. Hubungan perkawinan bukan lah urusan individu, namun melibatkan dua pihak keluarga. Filiasi atau perkawinan menjadi dasar terbentuknya aliansi, dan aliansi akan semakin kuat manakala hubungan aliansi berubah menjadi hubungan sanguine (darah) dengan lahirnya anak-anak yang bermula dari hubungan filiasi tersebut.
 
Hubungan perkawinan yang dilakukan oleh kakak saya tidak hanya membawa keluarga besar kami untuk membangun aliansi antarwilayah, namun membawa pada kondisi lain: adanya wilayah baru di mana hubungan kultural di bangun. Saya membayangkan kalau kakak saya tidak menikah dengan orang Bantul, maka saya akan jarang memiliki kesempatan untuk mengunjungi Yogyakarta, meskipun saya sendiri ragu bahwa hubungan tersebut akan menyebabkan saya lebih sering berkunjung ke Yogyakarta. Setidaknya saya dapat berimaji, bahwa saya memiliki saudara nun jauh di sana, dan kesempatan untuk mengunjungi saudara saya itu adalah prospek yang menyenangkan buat saya.
 
Keempat, mengapa saya ini bukan perjalanan biasa? Karena bagasinya luar biasa. Sejak awal kami berbincang mengenai jumlah kendaraan yang akan digunakan. Bagi ibu saya, satu mobil terlalu penuh, secara ya kami bersembilan, gila aja kalau satu mobil; tapi dua mobil bagi ibu saya terlalu kosong. Saya berhasil meyakinkan ibu saya, bahwa dua mobil tidak lah terlalu banyak. Saya yakin bahwa bagasinya pasti penuh. Dan keyakinan saya terbukti benar. Bahkan sejak awal perjalanan, bagasi di dua mobil sudah terasa penuh, dan bagasi semakin penuh ketika kami beranjak ke Yogyakarta dan Cirebon hingga perjalanan pulang. Bahkan Uum yang duduk di belakang sampai tertutup tas saking banyaknya bagasi yang kami bawa.
 
Empat hari untuk selamanya, itu lah yang saya rasakan dalam perjalanan tersebut. Sebuah perjalanan yang luar biasa. Luar biasa melelahkan, luar biasa menyenangkan, luar biasa dramatis dan sentimental, luar biasa mahal (^^), dan luar biasa lainnya. Saya tidak menyesal melakukan perjalanan ini, bahkan saya berharap untuk melakukan perjalanan ini kembali, meskipun tidak dalam waktu dekat. Saya katakan bahwa banyak hal saya pelajari dalam perjalanan ini, terutama bagaimana perjalanan ini mengubah konsepsi saya mengenai keluarga dan peran yang dimainkannya. Pelajaran yang saya dapatkan, sama berharganya dengan berbagai souvenir yang saya kumpulkan, akan saya letakkan dalam memori saya, dan akan saya beri judul “empat hari untuk selamanya”.
 

 

 

 

Jadwal Salat