• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

Setelah Silatnas, sebuah tanggapan

on . Posted in Catatan Kaki

Menanggapi tulisan abang saya, Cecep Maskanul Hakim di blognya (klik DI SINI), maka izinkan saya bertutur, tentunya dari sudut pandang saya sebagai Sekretaris Panitia Silatnas 2013. Jawaban yang lebih singkat sejatinya telah saya kirimkan ke milis Attaqwa, namun karena ini blog saya sendiri, saya merasa lebih bebas bertutur di sini.

Pertama, atas nama Panitia Silatnas IKAA 2013 kami mengucapkan terimakasih atas bantuan dan kehadiran semua alumni anggota IKAA pada acara Silatnas kemarin. Kedua, saya setuju sepenuhnya dengan tulisan bang Cecep, dan seperti yang saya tulis sebagai jawaban atas kritik bang Darso, maka izinkan saya menjawab. 
 
Menjadi panitia halal bi halal IKAA sesungguhnya tidak semudah yang kami kira. Kendala utama, khususnya bagian saya di sekretariat, adalah menjawab tantangan dari Pimpinan Perguruan Attaqwa. Ketika kami menghadap beliau, beliau berpesan, tersirat sebuah kekecewaan, bahwa setiap acara IKAA yang datang selalu sedikit, tidak sebanding dengan alumni yang lulus. Beliau punya kalkulasi tersendiri. Jika Attaqwa telah menghasilkan angkatan sejak tahun 1970 dan terakhir pada angkatan 2013, maka setidaknya telah ada 43 angkatan, itu minimal. Jika setiap angkatan punya 100 orang, maka setidaknya anggota IKAA berjumlah 4300 orang, dan itu jumlah minimal. Maka beliau menantang angkatan kami untuk mengundang setidaknya 1500 orang, jumlah yang kami tawar karena Pimpinan meminta untuk mengundang 2000 orang. Ya 1500 orang kami anggap rasional, maka kami pun bersiap dengan tantangan tersebut.
 
Tantangan utama pada lokasi. Pada awalnya kami diminta untuk mengadakan acara, atas saran Bang Encam, untuk mengadakan acara di Hotel Horison Bekasi, namun sayang kalkulasi biaya amat tidak memungkinkan. Tak patah arang, kami berencana mengadakan acara di TMII, namun kembali disayangkan, begitu ada gedung yang mampu menampung 1500 orang tapi tanggal segitu penuh, sekalinya ada yg kosong kapasitasnya ga sampai segitu. Di tengah kebingungan kami, kembali muncul wacana, lagi-lagi dari alumni, agar mengadakan acara di pondok saja, dengan alasan lebih mudah lebaran keliling sekaligus ziarah. Memang KH. Nurul Anwar pernah mengeluarkan "fatwa" agar lebaran keliling dilaksanakan setelah HBH IKAA, dan tahun ini pun setahu saya beliau tidak menerima alumni yang berlebaran dengan alasan alumni susah dikumpulkan pas IKAA jika lebaran duluan. Ibu saya, yang notabene Pimpinan Pondok Pesantren Attaqwa Putri pun mengamini fatwa yang sama, beliau tidak menerima alumni yang berlebaran, kecuali alumni senior, dengan harapan agar para alumni berkumpul pada acara Silatnas baru kemudian berlebaran ke rumah.
 
Dengan alasan demikian, sesungguhnya pihak pondok putra dan putri telah secara sadar mendorong alumni untuk datang ke acara halal bi halal, dan secara tidak langsung membuat acara halal bi halal atau SIlatnas atau apapun namanya untuk dilaksanakan tidak jauh dari pondok. Ya kami akui, di tengah kegalauan tersebut, kami kembali memutuskan untuk pulang kampung. Ya sudah lah, kita laksanakan di pondok saja, tapi di mana?? di putra atau putri? yang paling memungkinkan dengan kebutuhan kami jelas pilihan ke putri. Mengapa? Ada dua alasan: Pertama, aula di putri kami anggap paling sesuai dengan kebutuhan kami, yang bisa menampung 1500 orang sekaligus. Kedua, putri dipilih karena paling dekat dengan komplek makam untuk kepentingan ziarah.
 
Tapi masalah pilihan lokasi pun tidak lepas dari urusan dana. Persoalannya adalah, panitia sama sekali tidak punya dana awal. Kami hanya punya keinginan untuk mengundang sebanyak mungkin orang. Maka boleh lah dibilang bahwa pilihan untuk melaksanakan acara di pondok sendiri adalah cara kami untuk menyelamatkan anggaran. Selain itu, kami berhitung, berapa sesungguhnya dana yang kami butuhkan. Setidaknya kami berhitung, banyak komponen biaya, sebut saja konsumsi (meliputi makan siang, makanan ringan, dan minum), panggung, tata suara dan cahaya, pengisi acara, bahkan seragam. Sungguh komponen biayanya membuat kami panitia menahan napas.
 
Boleh lah saya katakan, saya bangga dengan teman-teman seangkatan saya. Jauh sebelum kami panitia meminta bantuan pada alumni di luar angkatan, kami terlebih dahulu meminta dari teman-teman seangkatan. Alhamdulillah. Dari sekitar 70jutaan anggaran, separuhnya berasal dari internal angkatan saya sendiri. Tentu tidak semua berbentuk uang. Ada yang menyumbang backdrop, makanan, spanduk, atau apapun. Saya pun ingin mengklarifikasi soal bantuan makanan yang saya, secara pribadi, menodong ke angkatan-angkatan senior. Saya akui, kue-kue seperti ancemon, timus, kue putu, dadar gulung, bala-bala, abug, jeruk, asinan buah, jagung urap dan air mineral adalah sumbangan. Namun perlu dijelaskan, bahwa seluruh sumbangan makanan yang ada hanya menutupi 20% biaya konsumsi, artinya, sisanya 80% lainnya masih ditanggung panitia sendiri. Saya pun ingin menjelaskan mengapa saya nekat meminta bantuan makanan, alasannya sederhana, saya ingin para senior ikut berpartisipasi secara aktif, sehingga mereka mau datang karena merasa ikut menyumbang, dan boleh lah saya berbangga hati, bahwa taktik saya cukup efektif mengundang para alumni, khususnya angkatan yang menyumbang.
 
Soal desain ruang, barangkali ini salah satu anomali yang bisa kami lakukan. Kami sama sekali tidak bermaksud untuk meniru ILC. Meja bundar dipilih dengan alasan sederhana: kami ingin mengumpulkan alumni berdasarkan angkatan, dan untuk memudahkan mobilitas setiap orang, maka desain meja bundar kami anggap paling memungkinkan. Berbeda dengan desain kursi stadion, di mana semua kursi menghadap depan seperti umumnya kita lakukan, maka komunikasi antarorang menjadi lebih terbatas. Lalu lalang orang pun tidak maksimal, akibatnya suasana menjadi sangat kaku. Bagi saya, ini hanya akrobat psikologis. Dengan meja bundar kami berharap suasana menjadi lebih cair, setiap orang bebas berjalan suka-suka, dan bisa saling bersilaturahmi antarmeja. Saya sendiri merasakan, bahwa saya sudah 6 kali mengikuti acara IKAA, sejak saya lulus tahun 2003, dan seluruhnya nyaris sama, untuk berbincang dengan teman, saya nyaris harus selalu menoleh ke belakang, karena pandangan selalu diarahkan ke depan. Akibatnya, ketika saya sudah duduk, nyaris mustahil untuk bangun dan keluyuran sesuka hati.
 
Alasan lainnya terletak pada kebosanan kami, panitia, dengan konsep acara yang selalu sama. Acara IKAA selalu diisi oleh sambutan yang panjangnya nauzubillah dan ceramah yang penceramahnya sendiri nyaris dicuekin. Pilihan meja bundar sendiri dipilih karena menyesuaikan dengan agenda acara yang kami buat sesederhana mungkin. Awalnya kami berencana mengadakan acara yang lebih serius, mengundang akademisi dan budayawan dalam satu panggung, ya sejenis talkshow lah. Namun semakin kami menggodok, semakin kami bingung dengan "tabiat" alumni yang amat jarang memberikan perhatian serius pada pembicara membuat posisi kami lebih dilematis. Mengutip perkataan Pimpinan, antara yang ceramah dengan diceramahin pinternya sama, maka kami lebih memilih untuk mengadakan acara yang, seandainya pun si pembicara di panggung dicuekin ga akan terlalu sakit hati. Maka kami memilih untuk mengadakan acara yang lebih santai. Apalagi yang lebih santai ketimbang mendengar seorang solois bernyanyi? Dan Wafiq Azizah menjawab kebutuhan itu. Pada awalnya kami berniat mengundang bang Dedi Mizwar, namun apa daya, jadwalnya tidak memungkinkan. Kami pun berencana mengundang Opick atau Haddad Alwi, namun apa daya, biayanya amat membuat jantung berdegup lebih kencang. Bagaimana dengan Abdul Hadi WM? Beliau dipilih atas saran dari pak Abid, yang memberikan solusi sederhana atas keinginan kami mengundang budayawan dalam acara yang kami helat. Abdul Hadi WM kami pilih dengan tujuan alasan untuk menambah khazanah sastra dalam lingkup IKAA. Terus terang kami berhutang pada akrobat angkatan 2001 yang mengundang Taufik Ismail. Kami iri dan akhirnya berpikir keras, siapa ya yang selevel dengan Taufik?? Dan Abdul Hadi WM menjawab kebutuhan itu. 
 
Kedua, soal politik, saya setuju dengan abang, dan saya kembali meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang merasa disinggung dan/atau tersinggung sepanjang pelaksaan acara tersebut berjalan. Sama sekali tidak ada niatan kami untuk menyinggung pihak-pihak manapun. Attaqwa sejatinya bukan lah organisasi yang monolitik, terlalu banyak warna dan aspirasi yang berseliweran. Mengingat hal itu, maka kami dari panitia, sesuai dengan instruksi, tidak sepeserpun menerima dana dari pemerintah maupun partai politik. Semua dana berasal dari alumni, karena acara tersebut memang acara alumni. Kami tentu berharap bahwa warna politik ditinggal di rumah masing-masing, namun apa lacur, siapa yang mampu menolak setiap kata yang terlontar, yang jujur saja juga membuat saya terperangah dan terkaget-kaget. Sungguh kami tidak menyangka, atau setidaknya saya, bahwa muatan politik akhirnya muncul di tengah arena. Kembali saya, atas nama panitia, menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh alumni yang datang. 
 
Soal ini pun kami berulangkali mendapat peringatan dari Ketua IKAA maupun Bendahara IKAA. Saya ingat betul pesan Bang Labib, haram minta ke pemerintah, atau dalam istilah dia "haram nyapir ke Bupati" dan kroni-kroninya. Ya, kami patuh soal itu. Semua dana yang kami miliki semuanya berasal dari alumni dan dapat dipertanggungjawabkan. Tidak ada warna apapun dalam acara kami. Bahkan untuk urusan backdrop dan undangan saja kami berpikir warna apa yang netral secara politik namun tidak membosankan. Akhirnya merah marun agak kecoklatan kami pilih. Urusan logo pun tidak lepas dari soal ini. Kami percaya bahwa anggota IKAA sangat kaya warna, dan warna-warna itu lah yang kami munculkan dalam acara kami.
 
Ketiga, terkait dengan usaha alumni, kami selaku panitia sudah menginformasikan kepada seluruh angkatan, ada dalam surat yang kami kirimkan, bahwa kami menyediakan arena stand untuk kegiatan usaha. Namun sebagaimana umumnya terjadi, baru pada menit-menit terakhir stand yang kami sediakan digunakan. Itu pun sebagaimana biasa, hanya sebagai pelengkap jalannya acara. Memang untuk menjalin hubungan simbiotik di bidang ekonomi antaralumni agaknya butuh dorongan yang lebih keras lagi, kami sebagai panitia tentu hanya dalam kapasitas menyediakan sarana dan fasilitas.
 
Keempat, terkait dengan MPO, saya pun kembali mengangguk setuju. Ya, harus ada upaya untuk menyelamatkan IKAA. Namun satu hal yang mengganjal, bagaimana mungkin kita bergerak jika dalam internal angkatan saja sulit untuk dikumpulkan dalam even yang sama? Ini tugas berat yang saya emban. Kami sengaja melakukan pendataan alumni perangkatan dengan harapan akan menjadi titik awal pembentukan pusat data alumni. Kami berkalkulasi, jika seluruh alumni datang, setidaknya anggota IKAA berjumlah 3000 orang, namun tentu akan menjadi sebuah sejarah manis, jika seluruh alumni berkumpul, dan barangkali kita butuh arena yang jauh lebih luas dan representatif untuk itu.
 
Terus terang saja, untuk urusan undangan bukan hal yang mudah dilakukan. Saya yang berkewajiban mengundang harus mengaktifkan seluruh sel alumni yang ada. Saya katakan bahwa jejaring alumni Attaqwa nyaris berantakan. Tentu kita harus bersyukur bahwa jejaring Korps Ikatakan Keluarga Attaqwa Putri masih cukup solid, sehingga saya harus terlebih dahulu mengaktifkan jaringan Korikaawati. Selain jaringan Korikaawati, masih ada jaringan wilayah, jaringan Rusydatul Ummah (yang meskipun secara organisasi tidak ada sangkut pautnya dengan Attaqwa namun memiliki hubungan historis dengan Attaqwa), dan jaringan pribadi.
 
Sungguh bukan perkara mudah untuk dilakukan. Persoalannya, bagi saya, terletak dengan tidak adanya pusat data alumni. Kita tahu bahwa kita punya alumni dari tahun 1970 sampai 2013, namun kita tidak tahu persis berapa sih jumlah setiap angkatan, di mana mereka tinggal, dan pada posisi apa mereka berada di masyarakat. Persoalan pusat data ini menjadi sangat pelik sekaligus krusial untuk dilakukan. Menang tidak mudah, namun setidaknya angkatan saya sudah memulai pendataan. Jika persoalan pusat data sudah bisa kita selesaikan, barangkali niatan untuk membentuk badan usaha atau pun badan amal IKAA dapat terwujud. Saya tentu akan memberikan bantuan atas usaha apapun yang terkait dengan pondok. 
 
Saya tentu bermimpi bahwa IKAA, entah kapan, memiliki, katakan lah, dana abadi ummat. Kita memiliki sejenis badan perwalian yang mengelola dana amal. Dan untuk itu agaknya saya dan bang Cecep memiliki mimpi yang sama. Tidak bisa kah kita membuka satu rekening di bank syariah, sehingga rekening tersebut dapat menampung dana amal dari para alumni? Sudah pasti tidak mudah, terutama persoalan transparansi dana, namun toh kita bisa buka-bukaan, berapa dana yang ada dan kemana saja dana mengalir. Sebagai mantan panitia, yang nguber-nguber uang ke alumni hingga ke pelosok-pelosok, tentu saja saya tahu betul betapa urusan dana bisa sangat menyebalkan. Percuma kita bicara konsep yang kelewat tinggi tanpa dukungan dana. Untuk itu tentu saja berharap pembuatan rekening alumni dapat segera terwujud.
 
Di luar dua hal tadi, pusat data alumni dan rekening IKAA, agaknya tugas yang penting lainnya adalah membangun sebuah kesadaran bersama. Kita pernah sukses membangun kesadaran dan solidaritas ketika saudara kita Dani ikut acara AKSI kemarin. Memang sporadis, namun toh sukses dilakukan. Apakah mungkin kita mempertahankan solidaritas tersebut? Solidaritas yang segera terbangun, kesadaran yang segera terkelitik, dengan hanya mendengar kata pondok? Saya pikir bisa saja. Tidak ada yang mustahil untuk dilakukan. Sebagai panitia, tentu saja saya amat bangga bahwa para alumni bersedia datang dan meluangkan waktu (dan biaya) untuk hadir ke acara tersebut. Sesungguhnya rasa itu masih ada, hanya butuh dorongan lebih keras. 
 
Terakhir, kembali atas nama panitia, tak ada gading yang tak retak. Kekurangan adalah sebuah keniscayaan, dan kami meminta maaf yang sebesar-besarnya atas seluruh kekurangan yang ada, baik itu suasana pengab (yang kami sendiri tidak menyangka akan sebanyak itu yang datang), makanan yang kurang, atau pun pengisi acara. Kami mengucapkan terimakasih kepada seluruh alumni yang telah hadir dan meramaikan acara kami. Tentu kami berharap, bahwa ke depan, kepanitiaan akan menyempurnakan apa yang kurang dalam penyelenggaraan Silatnas tahun ini, tentu dengan harapan yang sama, bahwa Silatnas berikutnya tidak lagi hanya sekedar seremonial belaka.
 

Jadwal Salat