• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

Are They Slut??

on . Posted in Catatan Kaki

Ada yang mengganggu saya hari ini, ketika saya melangkah pulang ke arah kos saya, sekelompok perempuan, dengan rambut dicat berwarna pirang, berdandan seronok sambil tertawa terbahak-bahak di tepi jalan. Oh come on girls... Terus terang saja saya tertanggu dengan pemandangan tersebut. Tolong jangan salah paham, bukan berarti saya membenci seluruh spesies perempuan, namun bagi saya, perempuan seperti mereka adalah perempuan yang tidak menghargai dirinya sendiri.

Saya buka anti fashion atau anti trend. Saya pun percaya bahwa setiap orang memiliki kebebasan untuk mengekspresikan dirinya sendiri. Namun di sisi lain saya pun percaya, bahwa setiap orang harus dapat menghormati dirinya sendiri untuk dapat mendapatkan penghormatan dari orang lain. Apa yang mereka harapkan dari saya? Bahkan saya enggan memandang mereka lebih lama.

Lama saya berpikir, apa sesungguhnya yang diinginkan oleh para pendahulu kita mengenai perempuan Indonesia? Barangkali orang akan berpikir bahwa emansipasi adalah kata kunci penting, begitu pentingnya sampai melupakan harga diri bagi perempuan itu sendiri. saya berpikir, sungguh mimpi perempuan Indonesia adalah mimpi yang mulia: perempuan yang memiliki kepribadian, kecerdasan, dan integritas. Perempuan yang mampu menjalankan seluruh potensi yang ia miliki tanpa khawatir mendapatkan tantangan dari dunia sekitarnya. Perempuan yang mampu menjalani hidup sepenuhnya dengan kesadaran penuh bahwa hidupnya adalah milik dirinya sendiri, dan takdirnya adalah goresan kuas yang dilukiskan melalui tangan-tangan terampilnya. Perempuan yang tidak memilih untuk menjadi orang lain. Perempuan yang memiliki ambisi untuk memperoleh apa yang ia inginkan tanpa meminta belas kasihan orang lain.

Sungguh saya lebih menghargai Ibu Sainah, ibu kos saya sendiri ketimbang gerombolan perempuan yang saya lihat di tepi jalan itu. Saya akui barangkali pendapat saya terlalu dini. Saya akui bahwa pendapat saya sangat subjektif. Saya akui bahwa saya tidak mengenal mereka dengan baik. Ketimbang mereka, saya lebih mengenal sosok ibu kos saya, tentu saja karena saya telah lama berinteraksi dengan ibu kos saya. Saya menghargai ibu kos saya karena dedikasinya, atas hidupnya dan orang-orang yang bergantung pada dirinya. Saya menghargai ibu kos saya karena dia menolak meminta bantuan orang lain untuk dapat mandiri, terlebih ia menolak meminta belas kasihan orang lain.

Kemudian imaji saya pun mengingat kembali perempuan tersebut. Apa ya yang mereka lakukan? Apa yang mereka inginkan? Barangkali mereka berpikir bahwa mereka telah memilih untuk menjadi diri mereka sendiri, tapi apa iya? Benarkah bahwa mereka telah menjadi dirinya sendiri secara penuh? Jangan-jangan saya yang terlalu curiga, bahwa penampilan mereka bukan lah penampilan sewajarnya dari seorang perempuan. Katakan lah begini, saya tidak pernah merasa risih atau terganggu dengan pakaian para penyanyi, sebab mereka toh berpakaian seperti itu dalam konteksnya sendiri: di panggung di mana mereka harus memuaskan mata yang lapar akan tontonan yang dianggap bagus. Dan saya pun mengerti mengapa saya terganggu. Saya tidak menemukan konteks yang tepat atas perilaku para perempuan itu.

Seorang teman menuduh saya terlalu berprasangka, dan iya, saya akui itu. Saya akui bahwa apa yang saya pikirkan memang bukan hal baik, namun saya punya pembelaan tersendiri. Bagi saya, apa yang saya sangka boleh jadi prasangka buruk, namun menjadi amat wajar berprasangka buruk dalam konteks waktu kejadian. Seorang teman lain, perempuan, yang juga jalan bersama saya pun mengatakan hal yang sama.

Bagi saya, dan saya yakin bagi teman saya juga, menjadi penting untuk mengetahui apa yang pantas kita kenakan, terutama jika kita ingin memperoleh kesan pertama yang menyenangkan dari orang lain. Teman saya bahkan berkata, come on girls, show your dignity!. Ya saya setuju dengan teman saya itu. Hal itu sejatinya bukan hanya untuk perempuan saja, namun juga untuk laki-laki.

Maka maafkan lah saya yang pada awalnya menganggap mereka sebagai pekerja seks komersial, walaupun saya sendiri menyadari, agaknya terlalu dini mengambil anggapan seperti itu.

Jadwal Salat