• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

"Cinta kami berbeda": romantisme lansia

on . Posted in Catatan Kaki

Siapa bilang usia merapuhkan rasa cinta? Siapa bilang lansia tidak bisa romantis? Siapa bilang lansia tidak bisa menunjukkan rasa cinta? Pada awalnya saya meyakini tiga hal di atas, namun peristiwa hari ini meruntuhkan itu semua.

Hari senin lalu saya berangkat dari Pulogadung menuju Depok, menaiki patas ac langganan, saya setia menunggu di depan terminal Pulogadung. Akhirnya patas ac 84 muncul dan saya tanpa ragu naik. Di dalam patas masih agak lengang, dan saya memilih duduk di kursi tiga, dua baris di belakang supir. Ketika lewati jalan Balap Sepeda, Rawamangun, patas yang saya tumpangi lagi-lagi berhenti untuk menaikkan penumpang, tapi penumpang yang ini berbeda. Sepasang suami istri berusia lanjut naik, dan memilih untuk duduk di samping saya. Saya menawarkan tempat duduk di sudut namun mereka menolak, mereka bilang bahwa mereka hanya sampai di Lenteng Agung. Petualangan pun dimulai.

Saya baru sadar, rupanya saya menurunkan bakat ayah saya, yakni menjadi pendengar yang baik, itu kata orang-orang yang menjadikan saya ember curahan hati mereka. keduanya memperkenalkan diri ke saya. Si suami bernama Mustopa dan istrinya bernama Maryati. Keduanya lupa sejak kapan mereka menikah. Mereka bercerita bahwa mereka memiliki lima orang anak, dan dari anak tersebut telah lahir sembilan orang cucu. Saya menduga, dari ceritanya mengenai lima anaknya, keduanya telah menikah setidaknya pada tahun akhir 1960an atau pertengahan 1970an, sebab anak terakhirnya, yang sudah menikah dan memiliki satu orang anak, baru berusia 27 tahun atau lahir sekitar 1983.

Saya membayangkan betapa riuhnya jagad kehidupan mereka. Keluarga saya saja, dari tiga bersaudara, dua orang kakak saya sudah menikah dan masing-masing memiliki satu anak, rasanya sudah ramai bukan main, apalagi mereka dengan sembilan orang cucu. Ada yang menarik dari pasangan yang duduk di samping saya. Sepanjang perjalanan, sang suami (Mustopa) selalu memegang tangan istrinya. Mereka menyebut diri mereka Papa dan Mama. Barangkali sangat biasa, sebab ayah dan ibu saya menyebut diri mereka papah dan mamah, namun mereka berbeda. Saya sengaja menggunakan hurup kapital, sebab kata Papa dan Mama tidak lain adalah akronim dari nama mereka: Mustopa (Papa) dan Maryati (Mama).

Tentu awalnya saya tidak tahu bahwa ketika Maryati menyebut suaminya Pa, atau sebaliknya saya pikir itu sebutan ‘pah’ atau ‘mah’, namun lama-lama telinga saya menangkap absennya hurup ‘h’ dalam sebutan tersebut. Saya iseng bertanya mengenai absennya hurup ‘h’ tersebut. Akhiirnya Maryati lah yang menjelaskan, bahwa ‘Pa’ atau ‘Papa’ dan ‘Ma’ atau ‘Mama’ adalah sebutan yang diambil nama mereka. Saya belajar satu hal, ketika pasangan sudah mulai mengubah nama mereka menjadi sebutan, entah itu “papah-mamah”, “ayah-bunda”, atau bahkan “nyak-babeh”, maka pasangan tersebut membangun sebuah jarak di antara keduanya.

Jarak tersebut muncul sebab pasangan itu tidak lagi menyebut nama mereka masing-masing, dan mereka secara tidak langsung menciptakan sebuah kondisi penyebutan nama yang formal, menghilangkan kesan akrab di antara keduanya. Saya pun iseng bertanya, “kenapa tidak dipanggil Papah atau Mamah?”, jawaban yang diberikan Mustopa singkat “(sebab) itu bukan nama saya dan nama istri saya.” Sesederhana itu, namun mampu membuat saya termenung. Saya membayangkan, sebutan apa yang diberikan oleh anak-anak mereka? barangkali mereka beruntung memiliki nama yang jika disingkat tapi tetap memiliki maksud panggilan yang lazim digunakan. Lha kalau nama saya, dengan apa saya akan mempergunakan nama saya bagi pasangan saya, dan bagaimana anak-anak saya akan memanggil saya?

Lupakan soal kebingungan saya. Pasangan di sebelah saya, membuat saya berpikir ulang mengenai ketidakpercayaan saya pada cinta pada pandangan pertama. Mereka bercerita bahwa mereka bertemu, di sebuah kota di Jawa Tengah: Pekalongan. Pemuda adalah penduduk asli Kudus yang jatuh cinta pada perempuan Pekalongan ketika ia bekerja di industri batik Pekalongan. Saya berpikir, secara historis, kisah cinta mereka boleh jadi benar. Pekalongan pada masa lalu adalah salah satu sentra industri batik terkemuka di Jawa, dan begitu pesatnya industri ini sehingga mendatangkan para pekerja dari luar Pekalongan. Saya membayangkan bahwa Mustopa adalah salah satu dari para pekerja itu.

Entah bagaimana kejadian sebenarnya, karena mereka enggan bercerita, tapi izinkan saya sedikit berimaji. Barangkali Mustofa, saya yakin dia bagian dari para pekerja yang bertugas mewarnai kain yang telah di batik atau bertugas menjemur kain yang telah diwarnai. Entah mengapa saya berkeyakinan bahwa Maryati adalah buruh batik yang bertugas menggambar di kain. Barangkali karena saya masih melihat kecantikan dari Maryati, dan saya berani bertaruh bahwa dugaan saya benar. Tidak banyak perempuan lansia, sepengetahuan saya, yang masih memiliki aura kecantikan alami. Barangkali anda akan protes ke saya, tapi saya membayangkan bahwa gadis secantik Maryati tidak mungkin menjadi buruh cuci atau apa lah yang membutuhkan tenaga kasar.

Rasanya saya harus menghentikan imajinasi liar saya. Kembali ke Mustopa dan Maryati. Mereka bercerita bahwa setelah anak kedua lahir, Mustopa kembali ke Kudus dengan membawa keluarga kecilnya. Awalnya saya membayangkan pasangan itu akan bekerja di industri kretek di Kudus, tapi ternyata saya salah. Mereka tidak lama di Kudus, tidak sampai satu tahun, dan akhirnya berpindah ke Lenteng Agung, Jakarta. Ketertarikan saya muncul, apa sebabnya mereka pindah dari Pekalongan, ke Kudus, hingga akhirnya terdampar di Jakarta? Lama mereka terdiam, hingga akhirnya Mustopa berbicara. Mereka memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan mereka karena ibu Mustopa sakit parah, di samping bahwa industri batik sedang mengalami kemunduran. Nyawa ibunda Mustopa tidak tertolong, dan akhirnya mereka memutuskan untuk datang ke Jakarta, ke rumah saudaranya yang membuka usaha di Jakarta.

Di Jakarta mereka menetap, membangun sebuah rumah, dan menambah jumlah keturunan. Maryati kembali melahirkan tiga orang anak yang menambah semarak rumah tangga mereka. Barangkali ini tipikal orangtua. Mereka menunjukkan foto anak-anak dan cucu-cucunya, yang tersimpan di memori ponsel mereka, kepada saya. Agaknya butuh penelitian lebih lanjut mengapa para orangtua begitu senang menyimpan foto anak-anaknya di memori ponsel bahkan menjadikannya foto latar. Saya memandang beberapa foto yang ada. Foto yang mampu memberikan gambaran kepada saya betapa bahagianya hidup mereka. Tiba-tiba saya teringat, apa sebabnya mereka dari Rawamangun? Maryati dengan senang menjelaskan, bahwa dari lima orang anaknya, hanya dua orang yang tinggal bersama mereka, sedangkan sisanya terpencar. Satu orang di Rawamangun, satu orang di Kalideres, dan satu orang di Cibubur. Meskipun mereka berjauhan, namun setiap dua minggu sekali mereka seluruhnya berkumpul di Lenteng Agung. Ah rasanya saya ingin datang ke pertemuan mereka, pasti menyenangkan.

Jadwal Salat