• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

Branded mind, are you?

on . Posted in Catatan Kaki

Untuk kali pertama dalam hidup saya yang singkat, saya melihat tas itu: Hermes. ASLI bukan imitasi. Bukan main. Ingatan saya pun pergi ke sosok Gubernur Banten yang katanya doyan sama merek ini. Sesungguhnya bukan hanya Atut, banyak juga artis maupun ibu pejabat lainnya yang juga penggemar merek ini. 

Alkisah sahabat baik saya, di suatu hari yang penat, tiba-tiba mengajak saya untuk ngopi di sebuah kedai kopi ternama di perpustakaan UI. Saya dengan senang hati menerima undangan tersebut, secara saya juga sedang berada di kampus, dan cukup lama saya tak bersua dengan sahabat saya itu. Saya datang lima belas menit sebelum jam janjian. Rupanya dia terlambat hampir tiga puluh menit. Dengan terengah-engah dia masuk ke kedai tersebut dan menyapa saya.

Saya selalu suka melihat penampilan sahabat saya ini. Meskipun saya bukan penggemar fashion terkini, namun saya tahu jika saya melihat "barang bagus". Pakaiannya sih sederhana, hanya kain panjang (dia selalu pakai kain) batik tulis dan kebaya berpotongan sederhana, sendalnya pun biasa saja. Bahkan tanpa perhiasan yang menyolok pun saya tahu, dibalik penampilannya yang biasa, harga pakaiannya amat mahal, apalagi sendalnya. Jadi orang kaya memang enak.

Persoalannya bukan apa pakaian atau sendalnya, namun pada tas yang ia jinjing. Hermes Birkin asli. Saya iseng bertanya "kayaknya saya kenal model tas lo", dan dia dengan entengnya bilang "iya, birkin" sambil menyeruput kopi. Tiba-tiba saya merasa bahwa pertemuan kami amat satir. Sahabat saya, dengan penampilan sederhana (nan mewah), saya dengan gaya berantakan saya, bertemu di sebuah kedai kopi yang mahalnya nauzubillah, duduk di sebuah gedung perpustakaan perguruan tinggi negeri. Pertemuan saya dengannya mengingatkan saya pada pertemuan saya dengan sahabat lain beberapa bulan sebelumnya.

Kisah lainnya, beberapa bulan lalu, saya juga menerima undangan minum kopi dari sahabat lain, lagi-lagi di sebuah kedai kopi di Senayan City. Nah, sahabat saya yang ini spesiesnya agak berbeda dengan yang pertama. Dia amat suka yang terang dan bling-bling. Tidak ada kesan sederhana pada mahkhluk yang satu ini. Namun keduanya jelas menenteng hal yang sama: Hermes. Hanya saja pertemuan pertama saya dengan Hermes asli justru terjadi pada pertemuan dengan sahabat di UI.

Kembali ke pertemuan dengan sahabat di UI. Lama saya berpikir, apa ya yang menarik dari Hermes? Saya akui, kualitas memang tidak bisa menipu. Bahkan saya yang baru kali pertama melihat, dan setelah meraba kulit luarnya, mengakui dengan tulus bahwa harga sebanding dengan apa yang didapat. Tapi bukan itu yang pertanyaan yang menggelayut, pertanyaannya adalah, jika saya dan dia memang akan mengobrol bebas sembari berbagi file, mengapa repot-repot harus ke kedai kopi itu? Mengapa pula dia harus repot membawa dua tas: si Hermes dan tas laptop?

Mau tidak mau saya berpikir ulang tentang intensitas pertemuan saya dengannya, yang memang selalu dilakukan di kedai kopi itu, yang jika bukan di mall pasti di tempat lain (salah satunya di perpus UI). Saya pun kembali mengingat pertemuan saya dengan beberapa sahabat, yang saya beri tempat mereka sebagai fashion freak, selalu di tempat yang amat menguras dompet. Bukan berarti saya anti tempat tersebut, pun saya tidak menyangkal bahwa kopi di kedai kopi tersebut memang enak, sama halnya donat di gerai donat di mall yang memang enak. Saya bukan tipe hipokrit yang menyangkal bahwa dalam derajat tertentu, saya pun bisa sangat konsumtif, apalagi yang berkaitan dengan kegiatan kuliner.

Saya pun berpikir, barangkali Miss Jinjing benar, bahwa dalam diri setiap kita selalu memiliki ketertarikan terhadap gaya hidup tertentu, terutama kecintaan kita terhadap merek, atau dalam kata lain branded mind. Tetap saja akal sehat saya menolak kalau saya masuk dalam kategori branded mind. Tapi, benarkah saya tidak branded mind?

Saya pun melihat barang-barang yang ada di sekitar saya. Oke. Hampir semua punya merek. Namun saya pikir, merek dari barang tersebut memang wajar. Ponsel misalnya, saya memilih produk Korea Selatan karena saya mengakui kualitasnya. Toh saya tidak freak-freak amat dengan membeli ponsel yang kelewat mahal. Selera fashion saya misalnya, meski ada beberapa yang bermerek, tapi lebih banyak yang tidak jelas mereknya apa. Selera ngopi saya misalnya, meski saya selalu menikmati ngopi di tempat yang happening, namun toh itu amat jarang saya lakukan, belum tentu seminggu sekali. Mall yang saya kunjungi juga masih dapat dihitung dengan jari, intensitasnya pun bisa dihitung jari, paling-paling sekali atau dua kali dalam sebulan. Ketika saya ke mall, saya amat jarang ke toko untuk beli barang bermerek, paling ke toko buku atau ke toko donat kesukaan saya. Jadi apakah saya termasuk dalam branded mind?

 

Jadwal Salat