• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

Apa kabar museum kita?? (episode 3)

on . Posted in Catatan Kaki

Saya cukup gembira minggu ini, setelah mengunjungi Museum Gereja Katedral dan Museum Nasional (5/12) dan dilanjutkan dengan Monumen Nasional (7/12). Bagi saya, mengunjungi museum adalah perjalanan yang selalu menyenangkan. Adalah fakta yang tidak dapat disangkal, bahwa mengunjungi museum, selain murah meriah, juga kita bisa mendapatkan pengetahuan baru.

Namun, apa kabar museum kita?

Rasanya saya sudah bertanya pertanyaan tersebut sampai tiga kali (ini kali ketiga). Saya akan menjawab dari pengalaman baru saya di Museum Nasional dan Monumen Nasional. Sebagai dua bangunan yang mengusung kata nasional, tidak berlebihan kiranya jika Museum Nasional dan Monumen Nasional adalah barometer kita dalam memahami dan melestarikan sejarah di satu sisi, dan bagaimana kita, sebagai orang Indonesia memahami museum di sisi lainnya.

Saya akan mulai dari sisi museum terlebih dahulu. Museum Nasional bagi saya adalah museum yang banyak mengalami perubahan, yang paling terasa tentu saja adanya pendingin ruangan, terutama di ruang etnografi Indonesia dan keramik. Dua tahun yang lalu, ketika saya berkunjung ke Museum Nasional, dua hal yang mengganggu: pendingin ruangan dan toilet. Beberapa ruang, seperti Ruang Etnografi, sangat panas karena hanya mengandalkan kipas yang tidak ada manfaatnya sama sekali sebab langit-langitnya kelewat tinggi dan jumlahnya amat minim. Sekarang, wah, jangan tanya, adem bener. Satu hal yang juga saya suka adalah pengaturan ulang beberapa koleksi sehingga tidak terkesan kelewat padat. Masalah toilet pun sudah diselesaikan. Walaupun toilet di gedung lama cukup jauh, karena berada di belakang ruang arca, namun saya nilai cukup memuaskan. 

"Ku Yakin Sampai Di Sana" oleh Nyoman Nuarta, menyambut tamu yang datang ke Museum Nasional

Bagaimana dengan Monumen Nasional? Nah ini dia, satu dekade lalu saya ke Monas, dan kondisi yang nyaris sama masih saya jumpai (setidaknya dalam memori saya). Selain ruang diorama yang tidak terlalu terang, pendingin ruangannya pun nyaris tidak terasa (kecuali jika anda baru masuk dari luar area Monas yang panasnya nauzubillah tiba-tiba masuk ke dalam ruang diorama yang berpendingin ruangan). Memang kedatangan saya bersamaan dengan kegiatan pameran keraton, sehingga ruang diorama yang biasanya kosong tiba-tiba terisi dengan beberapa stan keraton dari berbagai daerah. Oke lah saya masih bisa mentoleransi soal pendingin ruangan, satu masalah yang amat akut, yang sampai sekarang belum berubah: toilet.

Entah apa yang ada dalam pikiran desainer Monumen Nasional atau pengelolanya, bayangkan, ruang diorama hanya memiliki satu kamar mandi untuk laki-laki dan satu untuk perempuan. Untuk kamar mandi laki-laki, hanya sebuah toilet dan tiga buah toilet berdiri. Karena antrinya bikin tobat, tidak heran jika lantainya amat kotor dan aroma pesing menguar kencang. Yang paling menyedihkan adalah keran untuk berwudu, hanya satu buah, itu pun berhimpitan dengan toilet berdiri (entah apakah ada percikan najis dari tetangga atau tidak). Sungguh untuk sebuah negara yang mengaku mayoritas muslim, keberadaan keran wudu yang hanya satu buah amat menguji akal sehat. Bagi saya, alangkah baiknya jika pengelola Monumen Nasional mulai mengakomodir soal pendingin ruangan, terutama toilet. Bagaimana mungkin sebuah bangunan yang digadang-gadang sebagai simbol negara namun untuk masalah toilet saja amat memperihatinkan.

Di sisi lain, masalahnya bukan hanya pada museum, namun juga pada pengunjung museum. Saya akui, hingga hari ini saya masih berpendapat, bahwa museum adalah, dan saya berani bertaruh, pilihan paling akhir dari daftar panjang lokasi wisata yang akan dikunjungi di waktu senggang. Bangsa ini seringkali terlalu berlebihan dalam mengklaim sebagai bangsa yang besar, namun dalam hal menghargai masa lalu masih amat kerdil dan terbelakang. Kunjungan saya ke Museum Nasional misalnya, hanya ada tujuh turis lokal (termasuk saya dan teman saya), jauh jika dibandingkan turis mancanegara yang datang serombongan. Kita juga masih amat dangkal dalam memahami sejarah. Di saat rombongan turis mancanegara (saya menduga Jepang dan US) sibuk mendengarkan pemandu dan aktif bertanya, turis lokal malah sibuk memfoto diri sendiri dengan latar museum. Persetan dengan arca asli berusia ratusan tahun, yang penting narsis dulu. Aduh, sedih saya dibuatnya.

Monumen Nasional pun tidak kalah menyedihkan. Pengunjungnya memang amat ramai, namun begitu sedikit yang memperhatikan diorama yang ada. Mereka terlalu sibuk mengunjungi stan, ya memang tidak salah juga sebab memang ada pameran, atau naik di balkon cawan dan foto-foto narsis dengan latar Monas. Untungnya lift yang membawa ke puncak Monas sedang diperbaiki, setahu saya sih, banyak orang antri naik ke atas, lagi-lagi cuma untuk foto. Tidak mengherankan jika di Monas tukang foto keliling berkeliaran dengan amat vulgar.

Nah, apa kabar museum kita?

Rasanya jawabannya tidak bergerak terlalu jauh dari jawaban saya terdahulu: jalan di tempat. Barangkali saya berlebihan dalam melakukan generalisasi, jika Museum Nasional dan Monumen Nasional saja masih jalan di tempat, bagaimana dengan museum lainnya. Jalan di tempat bagaimana? Selain segudang masalah fasilitas, bagi saya jelas, banyak museum yang hanya menjadikan dirinya sebagai tempat penyimpan koleksi dan melupakan satu aspek fundamental: pengunjung. Kecuali kalau museum itu museum pribadi ya, yang tidak perduli apakah ada orang yang boleh ikut menikmati koleksinya atau tidak. Museum harus bergerak: menjadi museum yang berinteraksi dengan pengunjungnya. Saya tentu berharap, dengan derap pembangunan yang amat pesat, Museum Nasional dapat menjadi lokomotif pendorong bagi museum-museum lain, bukan hanya sekedar tempat menyimpan koleksi namun dapat menyampaikan pesan dari koleksi kepada pengunjung dengan cara-cara yang interaktif.

Kira-kira kapan ya?? Entah lah, saya akan menunggu.

Jadwal Salat