• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

Gay, terong, dan kucing

on . Posted in Catatan Kaki

Malam tadi saya mendapat kejutan: sebuah telepon dari seorang sahabat lama yang sudah amat lama tidak bersua maupun berkirim kabar ke saya. Tanpa berpanjang kalam, sahabat saya itu langsung ngomel-ngomel soal "terong" dan "kucing" yang menurutnya telah mendeskreditkan dirinya. Karena saya ditelpon pukul dua pagi, maka wajarlah kalau saya tidak paham dengan omongan sahabat saya itu, sampai dia bilang: "yap, gw memang gay, tapi gw bukan terong apalagi kucing", dan mengertilah saya duduk persoalannya.

Nah, persoalan teman saya itu cukup menggelitik saya hari ini hingga saya harus menghabiskan waktu untuk mencari informasi yang jelas soal "terong" dan "kucing". Bagi saya, persoalan sahabat saya dimulai dari kesalahpahaman masyarakat umum tentang istilah "gay", "terong", dan "kucing". Sejatinya ketiganya jelas tidak merujuk pada sosok yang sama. Sederhananya, seorang gay belum tentu terong dan kucing, sama seperti seorang terong belum tentu gay dan kucing, sama seperti seorang kucing belum tentu terong dan gay. Bagi sahabat saya, hal mana saya setujui, bahwa tidak mungkin ada seseorang yang secara khusus mengklaim diri sebagai gay, sebagai terong, dan sebagai kucing dalam waktu bersamaan.

Nah, izinkan saya menjelaskan. Gay, terlepas dari diskusi panas soal genetika apalagi agama, adalah orientasi seksual, di mana seorang lak-laki lebih menyukai laki-laki lainnya. Dalam hal ini, saya setuju dengan sahabat saya, bahwa belum tentu gay kemudian harus menjadi MSM, men who have sex with man, alias belum tentu melakukan aktivitas seksual dengan laki-laki lainnya. Meskipun demikian, penjelaskan ini sepintas logis, namun bagaimana kita menjelaskan ada seseorang yang mengaku gay namun belum pernah melakukan aktivitas seksual dengan laki-laki lain? Saya sih belum pernah menemukan ada gay tipe ini, karena para sahabat gay saya dengan terang dan terbuka menyatakan diri pernah (untuk tidak mengatakan selalu) menikmati aktivitas seksual yang aktif (tentunya dengan laki-laki lain).

Aktivitas seksual bagi sahabat-sahabat yang gay, selalu muncul dalam istilah top, bottom, atau versatile. Nah, ketiga istilah itukan jelas merujuk pada perbedaan peran dalam aktivitas seksual, hal mana juga muncul dalam realitas keseharian, di mana selalu ada sosok yang maskulin versus feminin, atau bahkan bisa keduanya, bisa top dan bottom juga. Karena istilahnya amat jelas, maka jelas tidak mungkin ada kesalahan dalam memahami "gay" sebagai sebuah konsep. Lalu bagaimana dengan "terong" dan "kucing"?

Disinilah letak kebiasaan kita orang Indonesia yang senang sekali membuat istilah yang alih-alih mudah dijelaskan namun justru amat membingungkan. Ketika kita bicara "terong", kita tidak merujuk pada terong, atau eggplant atau Solanum melongena. Kata terong justru kita lekatkan pada sosok laki-laki, dan karena laki-laki adalah manusia dan bukan sejenis tumbuhan, maka kita menggunakan istilah "terong-terongan". Istilah ini jelas membingungkan. Dari sisi bahasa, istilah "terong-terongan" sulit untuk bisa dianggap sama dengan istilah "rumah-rumahan" atau "mobil-mobilan", dari kata benda yang diberi akhiran "-an", yang bisa dimaknai "menjadi seperti rumah" atau " menjadi seperti mobil", nah, masa iya "terong-terongan" diartikan "menjadi seperti terong"? Bahkan bagi mereka yang awam secara bahasa, istilah ini aneh, sama anehnya dengan istilah "cabe-cabean", masa iya para pelakunya dianggap "menjadi seperti cabe"? Ataukah kita harus menjelaskan istilah terong dengan merujuk pada phalus laki-laki? Kalau iya, kenapa tidak ada istilah "timun-timunan"?


Terong?? 

Karena istilah terong-terongan tidak bisa dijelaskan secara bahasa, maka kerancuan dalam memahami apa sesungguhnya terong-terongan pun tidak mungkin dihindari. Banyak definisi tentang apa terong itu. Ada yang bilang kalau terong itu laki-laki yang hobi foto selfie untuk dipajang di jejaring media sosial, ada yang bilang kalau terong itu laki-laki dengan gaya alay habis-habisan (bahkan cenderung menjengkelkan), ada yang bilang kalau terong itu laki-laki yang gemulai (saya tidak menggunakan istilah banci sebab jelas akan lebih mempersulit), dan ada yang bilang kalau terong itu penyuka sesama jenis alias gay. Nah yang terakhir ini yang membuat gerah sahabat saya.

Saya mengerti sepenuhnya, bahwa menyamaratakan "terong-terongan" sebagai "gay" jelas sebuah kekeliruan, sebab tidak semua "gay" memenuhi kualifikasi sebagai "terong-terongan". Oke saya mengakui bahwa banyak sahabat gay saya yang "melambai" dan sangat feminin, namun banyak pula sahabat gay yang macho dan keren. Lalu apakah para waria bisa dikategorikan secara serampangan sebagai "terong-terongan"? Kemudian pada masalah foto selfie, apakah setiap laki-laki yang hobi foto selfie untuk kemudian disebar di media sosial kemudian dianggap sebagai "terong-terongan"? Sejumlah pertanyaan jelas tidak menjelaskan apa itu terong-terongan.

Berbeda dengan istilah "terong", istilah "kucing" lebih mudah dijelaskan. Secara faktual, istilah ini tidak merujuk pada hewan berkaki empat yang kita sebut kucing, namun pada sosok pekerja seks komersial laki-laki. Istilah kucing sendiri memperoleh padanannya untuk perempuan: ayam. Karena istilah itu merujuk pada "profesi", maka sejatinya kita harus membedakan antara "kucing" dan "gay", sebab tidak semua "gay" memilih menjadi "kucing", dan tidak semua "kucing" mengklaim diri mereka sebagai "gay". Sebab setahu saya, banyak "kucing" yang biseksual, mereka bisa dipanggil baik oleh laki-laki maupun perempuan. Dalam konteks ini, jelas sebuah kesalahan menyamaratakan antara "kucing" dan "gay".

Lalu apakah "gay", "terong" dan "kucing" tidak memiliki kesamaan? Jelas ada, seluruhnya dilakukan oleh laki-laki. Namun hanya "terong" dan "kucing" yang bisa memiliki kesamaan lain: usia. Disadari atau tidak, kita merujuk kedua istilah ini pada orang dengan kelompok usia tertentu. "Terong-terongan" biasanya merujuk pada usia ABG (14-18 tahun), sedangkan "kucing" spektrum usianya lebih luas, mulai dari ABG hingga usia 25an. Meski tidak mutlak valid, namun jelas kita bisa membedakan spesies "terong" dan "kucing" dari "gay", sebab gay sebagai sebuah orientasi seksual tidak mengenal pembatasan usia, pun tidak mutlak harus selalu dikaitkan dengan pubertas.

Persoalannya bagi sahabat gay saya itu, istilah "terong" dan "kucing" sangat bias dalam memahami apa "gay" atau homoseksual itu. Kedua istilah tersebut membuat persoalan tidak semakin mudah bagi sahabat-sahabat gay. Jika untuk menjelaskan posisi mereka sebagai "gay" saja sudah sulit, apalagi dengan munculnya dua spesies ini: "terong" dan "kucing". Celakanya, kita secara serampangan menyamaratakan bahwa "terong" dan "kucing" pasti gay, dan semua yang gay pasti "terong" dan berprofesi sebagai "kucing". Maka saya paham keluhan sahabat saya ini, bahwa dia butuh orang yang dengan waras mampu membedakan mana "terong", mana "kucing", dan mana "gay", dan dengan pemahaman yang sama mampu memberikan pemahaman kepada orang lain. Maka saya mendedikasikan catatan ini bagi sahabat saya, yang merasa semakin tersudut dengan munculnya "terong" (bahkan lebih celaka lagi karena ada acara The Terong Show yang malah semakin membuat istilah ini semakin sesat dan menyesatkan) dan "kucing". Mudah-mudahah tidak ada lagi spesies yang semakin aneh bin ajaib, yang justru semakin membingungkan kita (atau barangkali karena kita yang terlalu gemar membentuk satu istilah tanpa perlu berpikir bahwa kemunculan istilah tersebut akan berdampak pada orang lain).

 

Jadwal Salat