• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

#SavingLives #SavingHopes #SaveIndonesia

on . Posted in Catatan Kaki

Beberapa hari ini lini masa facebook dan twitter saya dipenuhi satu hal: eksekusi mati. Sebagaimana yang lazim terjadi, selalu ada perdebatan sengit tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Bahkan para sahabat saya pun terjerat dalam perdebatan yang sama: apakah terpidana kasus narkotika, yang telah diketok palu untuk segera dieksekusi, pantas menerima keputusan tersebut.

Terus terang saja, saya bukan ahli hukum. Malah saya amat awam soal hukum (itu sebabnya saya selalu menikmati diskusi dengan para sahabat yang jawara di bidang hukum). Namun satu hal yang saya tahu: mengeksekusi mati tidak menyelesaikan persoalan. Eksekusi mati bukanlah pegadaian, yang menyelesaikan masalah tanpa masalah. Eksekusi mati, bagi saya, justru menyelesaikan masalah dengan membuat masalah baru.

Beberapa sahabat baik saya rupanya tidak sepakat dengan saya. Tidak masalah sebenarnya, toh saya tidak mungkin memaksakan pendapat saya. Bagi para sahabat saya, eksekusi mati adalah “keharusan moral” untuk “menyelamatkan nyawa generasi muda”. Seorang sahabat baik saya malah berujar, lebih baik membunuh segelintir untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa. Ah, sungguh saya terpana mendengar komentar sahabat saya itu. Kalau dibilang kecewa sih, ya kecewa. Bahwa komentar yang begitu kejam itu meluncur, tapi ya sudahlah. Saya tidak ingin mengomentari sahabat saya itu, pun saya tidak ingin mengomentari sahabat saya lainnya, yang menyatakan bahwa hanya Tuhan yang berhak mencabut nyawa orang lain.

Saya hanya ingin menulis apa yang saya rasakan. Urusan apakah anda setuju dengan saya atau menolak, itu perkara lain. Saya akan mulai dengan menyatakan posisi saya terlebih dahulu: saya menolak hukuman mati. Sebelum anda mulai bertanya, izinkan saya menjelaskan.

Pertama, saya memang akan memfokuskan pada Mary Jane, dan itu akan terkait dengan poin terakhir dari argumen saya.

Kedua, menolak hukuman mati TIDAK BERARTI pro terhadap kejahatan. Dalam konteks ini tidak lain adalah peredaran narkotika. Ketika saya mengatakan saya menolak eksekusi bagi para terpidana ini, tidak berarti saya membela mereka dengan mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan itu benar. Bahwa para terpidana ini terbukti membawa narkotika masuk ke Indonesia adalah kejahatan, ya saya setuju. Namun apakah mereka harus dieksekusi mati, itu yang tidak saya setuju.

Mengeksekusi para terpidana ini tidak akan menyelesaikan masalah, karena mereka bukanlah akar dari masalah itu sendiri. Dalam konteks Mary Jane misalnya, apakah dia yang memproduksi heroin yang dia bawa? Jelas tidak. Mary Jane hanyalah kurir. Mary Jane hanyalah mata rantai kecil dari sindikat perdagangan narkotika yang luar biasa. Bagi saya, adalah sesat pikir jika berpikir bahwa mengeksekusi Mary Jane akan memutus mata rantai peredaran narkotika. Saya ambil contoh, apakah jika kita membakar satu gerai makanan dari waralaba internasional, sebut sajalah Starbucks, kemudian kita mengatakan kita telah memutus mata rantai waralaba tersebut? Kan tidak. Bahkan jika melarang Starbucks berjualan di seluruh wilayah Indonesia, apakah itu akan menghentikan peredaran kopi diseluruh Indonesia? Secara luaran bisa, tapi akan selalu muncul varian lain. Bentuk lain. Oke, mungkin contoh saya absurd, tapi anda pasti paham maksudnya.

Sebagian besar sahabat saya menolak argumen saya dengan menyatakan bahwa jika Mary Jane tidak datang ke Indonesia, maka tidak akan ada heroin yang beredar. Tidak salah sih, namun bagi saya, satu-satunya yang benar dari argumen sahabat saya adalah, jika Mary Jane tidak datang ke Indonesia, maka Mary Jane akan tetap hidup. Sebab dengan atau tanpa Mary Jane, heroin dan narkotika lainnya tetap akan datang ke Indonesia.

Sindikat narkotika tidak membutuhkan Mary Jane, sama seperti konglomerasi Starbucks tidak memikirkan jika salah satu gerainya ditutup paksa. Memutus mata rantai dengan demikian adalah delusi, jelas hasil pemikiran picik dan ketidakpahaman (atau tidak mau paham), bahwa sindikasi (namanya juga sindikat) selalu memiliki caranya sendiri untuk bertahan. Karena yang kita potong hanyalah ranting, maka akan selalu muncul ranting lain yang siap menggantikan. Sahabat baik saya berkata, ada kalanya kita harus memotong ranting untuk menyelamatkan pohon. Namun sahabat saya lupa, analog tersebut bersikap ambigu. Bahwa tanpa sadar dia pun menyadari bahwa, bahwa memotong dahan bukan solusi. Ranting dan dahan hanyalah bagian. Selama akarnya masih ada, yakinlah bahwa pohon tersebut akan tetap tumbuh besar (apalagi di “tanah subur” bernama Indonesia).

Ketiga, adalah penting pula untuk mengingat, bahwa nyawa manusia hanya ada satu. Ini bukan kelakar bahwa manusia berbeda dengan kucing yang katanya punya sembilan nyawa (padahal ini jelas mitos). Maka menjadi persoalan krusial, bagaimana kalau terjadi kesalahan dalam memutuskan perkara. Sudah menjadi rahasia bersama, bahwa hukum di Indonesia tidak pernah betul-betul memutuskan perkara secara adil. Bahwa hukum di Indonesia selalu membuka peluang terhadap transaksi haram. Saya bicara soal fakta sosial yang ada di depan mata, bukan fakta persidangan.

Persoalannya bagi saya, ketika eksekusi dilakukan, maka satu-satunya hal paling logis adalah kita kehilangan kesempatan untuk mengorek informasi lebih banyak. Informasi ini menjadi sangat penting untuk ditelusuri lebih lanjut. Melalui mereka lah kita bisa menarik setiap jelujur benang kusut sindikasi narkotika di Indonesia. Maka, sekali lagi saya menolak hukuman mati, karena mengeksekusi mereka hanya akan membuat para bandar sebenarnya tersenyum semakin lebar. Barangkali saya terlalu paranoid, jangan-jangan, keputusan untuk mengeksekusi inipun tidak lepas dari kepentingan para bandar, sebab mereka tahu, memotong ranting akan menyelamatkan pohon sindikasi mereka.

Keempat, ada yang bilang kalau kita tidak mengeksekusi para terpidana ini, maka tidak akan ada efek jera. Maka eksekusi adalah ultimatum. Pertanyaannya, benarkah hukum kita memiliki efek jera? Rasanya seperti bercermin di air keruh, atau bercermin di cermin retak. Bayangannya akan selalu buram, terfragmentasi, nyaris membingungkan. Pertanyaan lainnya, kepada siapa ultimatum tersebut disampaikan? Bagi nalar awam saya, ketika kita memberikan ultimatum, maka ultimatum itu sendiri harus memenuhi dua syarat: ultimatumnya jelas dan ditujukan kepada siapanya jelas. Saya tidak bertanya bagaimana cara ultimatum disampaikan (toh sudah jelas) atau mengapa ultimatum itu perlu (sebab jelas kita bisa berdebat panjang sampai pingsan soal itu)

Pertanyaannya, apakah ultimatumnya jelas? Sebagian sahabat saya bilang amat jelas. Lihat saja UU dan berbagai produk turunannya. Barang siapa yang bla bla bla. Yah, secara yuridis jelas, secara sosial? Ngehek. Kemudian, apakah pihak yang dituju jelas? Sebagian lainnya bilang amat jelas, para sindikat narkotika. Benarkah mereka sejelas itu? Maksud saya begini, berbeda dengan perusahaan waralaba internasional yang memiliki kantor pusat dan struktur organisasi yang jelas, sindikat narkotika – setidaknya hingga saat ini – tidak jelas. Kita tahu dan kita yakin, hanya saja tidak pernah benar-benar bisa dibuktikan. Ini sama persis seperti pocong dan kuntilanak. Kita tahu dan yakin kalau makhluk astral ini ada, tapi apakah bisa dibuktikan? Jadi, kalau pihak yang diultimatum saja tidak jelas, maka saya tidak perlu menanyakan pertanyaan ketiga: apakah pihak yang diultimatum mau perduli (kalau takut atas ultimatum itu rasanya sih tidak) atas ultimatum tersebut?

Kelima, mengapa saya setuju dengan para sahabat untuk menyelamatkan nyawa Mary Jane? Jelas, karena Mary Jane adalah korban pangkat tiga. Satu, dia korban dari sistem pengadilan Indonesia yang belum berpihak pada suara perempuan. Dua, dia korban dari pemiskinan (ini saja sudah kemiskinan kuadrat). Tiga, dia korban dari perdagangan manusia (akibat dia miskin dan dimiskinkan). Bahkan saya bisa mengatakan bahwa Mary Jane adalah korban pangkat lima. Empat, dia korban karena dia WNA yang hak-haknya tidak terpenuhi. Lima, dia korban karena dia perempuan. Bagi saya, Mary Jane adalah representasi paling ideal tentang bagaimana perempuan miskin yang dimiskinkan oleh sistem sosio-kultural-ekonomi yang tidak punya hak untuk mengambil keputusan yang diperintahkan untuk membawa barang yang dia tidak tahu (atau mungkin dia tahu tapi dia tidak bisa menolak) yang kemudian tertangkap di wilayah asing yang kemudian mengalami peradilan yang tidak memberikan ruang baginya untuk menyuarakan pendapatnya (yang mungkin saja sengaja dibungkam untuk menutupi kebenaran).

Lalu apakah Mary Jane tidak bersalah sepenuhnya? Mary Jane bersalah. Kesalahan terbesarnya adalah karena dia korban atas ketidakadilan. Ketidakadilan siapa? Rasanya saya tidak perlu mengatakan siapa yang tidak adil, sebab kita semua tahu, bukan keadilan yang terang benderang, melainkan ketidakadilan yang menyusup dalam hening, dalam gatra gelap, merembes dalam pikiran, dan kemudian semua orang yakin dan percaya kalau keadilan sudah ditenggakkan. Pertanyaannya, benarkah?

Maka bagi saya, ini soal korban, sebab semua orang adalah korban. Sebagian menjadi korban karena terjerat narkotika. Sebagian menjadi korban karena keengganannya untuk berpikir jernih. Sebagian menjadi korban karena kebebalannya untuk mengakui kesalahan. Sebagian menjadi korban karena suara dan pendiriannya. Mary Jane pun korban, dikorbankan untuk kebaikan bersama. Maka mengapa kita dengan beringasnya menentukan nasib seseorang, untuk kemudian menarik napas lega kalau kita semua sudah selamat. Sungguh keselamatan yang sia-sia. Delusi dari ekstase masal atas nama keadilan.

Maka malam ini saya berdoa, atas nama semua pihak, bukan untuk membebaskan Mary Jane, melainkan untuk memberikan Mary Jane kesempatan berbicara. Kesempatan, ya, itu yang tidak dimiliki oleh Mary Jane.

#SavingLives #SavingHopes

Seandainya saya bisa membuat tagar #CelebratingHopes. Barangkali nanti kesempatan itu tiba.

Jadwal Salat