• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

"Di zaman ini, masihkah Nawang Wulan menerima Jaka Tarub?"

on . Posted in Catatan Kaki

Caption tersebut menarik karena beberapa hal. Terma "menerima" mengisyaratkan bahwa perempuan "memiliki pilihan" sekaligus "memiliki kemampuan" untuk memilih. Pertanyaanya, benarkah?


Jika merujuk pada legenda, Nawang Wulan sejatinya tidak memilih, dan dia memang tidak bisa memilih. Jaka Tarub secara licik menyembunyikan selendangnya sehingga Nawang Wulan tidak bisa kembali ke kahyangan. Karena dia tidak bisa kembali k kahyangan, maka dia pun "menjadi manusia" dan menyampaikan janjinya, siapapun yg bisa memberikan pakaian akan dijadikan saudara (jika perempuan) atau suami (jika laki-laki). Yah, kita semua tahu pada akhirnya JakaTarub datang sebagai "penolong" dan menikahlah mereka. Lalu apakah cerita Nawang Wulan berakhir dgn happy ending? Nanti dulu.

Diceritakan bahwa Nawang Wulan melarang suaminya untuk melihat dia ketika memasak nasi. Namun suatu hari Jaka Tarub mengingkari janjinya, ia membuka penanak nasi dan terkejut bukan kepalang ketika tahu bahwa penanak nasi hanya berisi satu mayang padi. Jaka Tarub tidak tahu kesaktian Nawang Wulan, atau penasaran mungkin lebih tepat. Di waktu yg sama, Nawang Wulan menemukan kembali selendangnya, dan murka karena selama ini Jaka Tarub lah yg menyembunyikan selendangnya. Maka iyapun kembali ke kahyangan. Happy ending? Tidak juga.

Ketika tiba di kahyangan, Nawang Wulan tertolak karena dia sudah "tercemar" oleh sifat manusia. Ia menjadi proto-bidadari cum proto-manusia. Nawang Wulan menjadi sosok yg tidak lagi syurgawi. Ia sudah profan karena bersentuhan dengan manusia. Maka ia pun harus kembali turun k bumi, ke daerah selatan

Dikisahkan bahwa Nawang Wukan akhirnya "terdampar" di laut selatan. Satu versi menyatakan bahwa dia "menguasai" para demit di Laut Selatan dan menjadi Nyi Roro Kidul, versi lainnya dia bertempur dgn Nyi Roro Kidul dan Nyi Riyo Kidul alias Blorong, akhirnya dia menang dan menjadi penguasa Laut Kidul dgn julukan Kanjeng Ratu Kidul. Happy ending? Buat saya sih tidak.

Dari pernikahannya dengan Jaka Tarub, Nawang Wulan memiliki satu anak yg bernama Dewi Nawangsih, yg kemudian menikah dengan Lembu Peteng yg nanti akan melahirkan Panembahan Senopati pendiri Mataram.

Nah, pertanyaan yg diajukan oleh Kajian Drama dan Teater Inggris FIB UI menarik. Jika Nawang Wulan menolak untuk menikah dengan Jaka Tarub, maka tidak akan lahir Dewi Nawangsih, konsekuensinya tidak akan ada kerajaan Mataram. Maka para raja di Sala dan Yogya jelas kehilangan basis legitimasinya. Tapi ada pertanyaan yg lebih menggelitik, jika Nawang Wulan memilih untuk menolak Jaka Tarub, mungkinkah frasa "wanita dijajah pria sejak dulu" lahir? Mungkin ada baiknya Nawang Wulan menikah dgn Poltak Raja Minyak Dari Medan, mungkin nasibnya tidak setragis itu. Mungkin.

P.S. terus terang saya penasaran, apakah si sutradara menafsir ulang legenda Nawang Wulan, mengabaikan kelindan legenda dan fakta historis, atau justru meromantisasi dgn membuatnya semakin menderita (bahkan sampai matinya Nawang Wulan dia tetap menjadi arwah penasaran

Jadwal Salat