• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

Langit Suci di Langit Jakarta

on . Posted in Catatan Kaki

Setelah absen di kegiatan 411, saya berkesempatan untuk ikut agenda 212 (bagi anda yang tidak tahu apa yang saya maksudkan, sila browsing). Bagi saya, pengalaman hari ini menarik. Hari ini mengingatkan saya pada satu pandangan, tentang agama sbg realitas sosial. Dan imaji saya berlabuh ke Peter Berger.

Agama dalam perspektif Berger dimengerti sebagai hasil konstruksi manusia melalui tiga tahap dialektik: eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Dunia yang dikonstruksikan tersebut menjadi nomos yang mengatur kehidupan manusia agar terbebas dari ancaman anomi, chaos, dan ketidateraturan lainnya.


Melalui proses dialektis tersebut, agama melakukan pelanggengan dunia yang telah dikonstruksikan manusia. Di samping itu, agama melegitimasi realitas sosial yang ada, dan untuk melakukan itu, agama membutuhkan struktur basis sosial guna mendukung keberadaannya.

Agama dgn demikian menjadi semacam peta kognitif yang digunakan manusia untuk memahami berbagai kerangka makna. Dengan kata lain, agama adalah sesuatu yg bersifat subjektif dan personal, terutama perannya dalam memberikan makna bagi kehidupan manusia.

Di sisi lain, pengetahuan manusia terbentuk secara sosial. Bahwa pengetahuan manusia tentang fakta ditentukan dan diwarnai oleh lingkungan sosial di mana pengetahuan tersebut dikonstruksikan, ditransmisikan, dan dipelajari. Dengan kata lain, manusia hanya menangkap realitas yang berada di dalam proses yang dialaminya. Proses ini tentu saja kolektif, dan itu menjadikan agama sebagai sesuatu objektif yg diamini dan diyakini secara kolektif.

Dalam konteks inilah apa yg saya lihat hari ini saya letakkan. Bahwa saya melihat dan memahami agama (dalam hal ini Islam) dlm subjektivitas saya, berada dalam konfigurasi yg lebih besar, yakni agama sebagai realitas sosial yg di sekitar saya, menciptakan pemahaman kita bersama atas agama. Dalam hal ini, apa yg diyakini oleh ummat Islam, dgn Islam sbg "rahmatan lil alamin".

Pertanyaannya, bisakah kita mempertahankan agama yg muncul sebagai realitas sosial, yg kita rayakan hari ini, untuk kepentingan ummat? Untuk kepentingan kemanusiaan yg lebih luas?

Jadwal Salat