• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

Teroris sebagai profesi??

on . Posted in Catatan Kaki

Pulang dari kumpul-kumpul di rumah Dr. Leila Mona Ganiem, seorang pakar komunikasi terkenal (hehehehehe), saya melaju ke daerah Cibubur, menemui seorang teman yang sudah lama tidak berjumpa. Kalimat pertama teman saya sungguh mengherankan "Lo dah jadi anggota Baasyir Fans Club??". Eh, bingung saya. Kesadaran itu seketika muncul. Rupanya jenggot saya lah penyebabnya. Lama tak bersua, teman saya itu heran melihat penampilan saya. Saya bilang ke teman saya, anggap saja ini seperti dulu, temporary madness, kegilaan sementara. Teman saya tertawa. Rupanya dia bercanda. Sialan.

 
Pertanyaan itu, meskipun bercanda, mau tidak mau membuat saya berpikir. Sambil menunggu teman saya luluran (sebab kalau dia mandi luar biasa lama) saya pun merenung dan menulis. Mungkin benar apa yang dikatakan teman saya, bahwa ada sejenis fans club bagi orang-orang yang kita anggap teroris. Tapi apa sih sebenarnya teroris itu?? Spesies seperti apa teroris itu?? Saya teringat pada tulisan Mark Juergensmeyer, Terror in the mind of God (kalau tidak sih itu buku tahun 2003). Bagi Juergensmeyer, tujuan utama teror bukan lah membunuh. Teror sejatinya adalah upaya menakut-nakuti. Jatuhnya korban tewas adalah bonus.
 
Lalu persoalannya, jika memang tujuan utama teror adalah menakuti-nakuti, sesungguhnya preman pasar pun teroris, bahkan oknum polisi pun bisa masuk kategori ini. Namun mengapa kita begitu heboh ketika menghadapi spesies teroris ini? Mengapa kita begitu senang membincangkan spesies ini? Bahkan dengan mendatangkan para ahli, yang entah bagaimana, nampaknya punya jawaban atas semua hal.
 
Retorika bahwa teroris adalah makhluk berbahaya, bagi saya, buyar ketika para pakar itu berbicara.  Lihat saja para pakar yang berkoar-koar, berbicara seakan teroris adalah para selebritis lokal. Setiap pakar mencoba melihat teroris dari berbagai perspektif, dan bak anjing lapar, media melahap mentah-mentah perspektif tersebut, seabsurd apapun perspektif itu. Bagi saya, sebagian dari perspektif itu sesungguhnya lagu lama. Pakaian usang yang dicoba untuk dijadikan trend baru.
Tidak ada yang menarik dari penjelasan yang bertubi-tubi itu. Bagi saya, semakin mereka menjelaskan, semakin kita membayangkan teroris sebagai satu makhluk yang kita benci sekaligus kita rindukan. Entah bagaimana, dengan cara yang nyaris mistis, mereka membincangkan para teroris, dan perlahan membuat imaji kita akan teroris nyaris seperti idola.
 
Seandainya mereka ada di depan media, seluruh kamera dan lampu akan berpendar menyala di sekitar mereka, dan kita, celakanya, akan tergagap diam dan memandang wajah mereka. Seakan waktu berhenti dan pikiran kita mulai memasukkan wajah tersebut dalam memori kita (barangkali kita dapat dengan mudah menyebut si A teroris karena ia sering mampir di televisi, persis seperti kita bisa menyebut di B sebagai artis karena rajin hadir di sinetron).
 
Alih-alih menjadikan teroris sebagai public enemy, musuh bersama, media justru menjadikan teroris sebagai public sweetheart, kesayangan publik. Lihat saja ketika terjadi penggerebekan teroris yang disiarkan langsung oleh media kita, sungguh luar biasa. Bak audisi idola. Disiarkan langsung. Bahkan lebih dari kelas Indonesian Idol, penggerebekan itu disiarkan langsung tanpa jeda iklan. Sungguh tidak masuk akal.
 
Saya takut dengan pikiran saya sendiri. Benarkah teroris menjadi idola baru?? Kesayangan media?? Ah, sungguh terlalu. Teman saya, lagi-lagi dengan caranya yang menyebalkan, mendukung pemikiran saya. Bahkan dia beranjak lebih jauh, dengan mengetengahkan satu argumen luar biasa: boleh jadi teroris itu profesi. Saya bertanya, atas dasar apa kita beranggapan bahwa teroris itu profesi? Jawabannya sungguh sederhana. Jika teroris bukan profesi, maka boleh jadi kita tidak lagi membutuhkan Densus 88, dan mereka akan menganggur. Ketika ada di antara terdakwa teroris yang muncul di acara talkshow, hanya tinggal menunggu waktu, mereka mungkin saja muncul di salah satu episode sinetron kejar tayang. Boleh jadi pula media massa yang selama ini, diam-diam, mengidolakan teroris akan mengubah acaranya, yang mayoritas berita, dan perlahan memasukkan sinetron dalam slot acara mereka.
 
Alamak. Saya hanya terdiam. Mual saya dibuatnya.
 

 

 

 

Jadwal Salat