• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

Kebun binatang di sekitar kita

on . Posted in Catatan Kaki

Beberapa hari ini saya resah. Bukan soal utang atau bunga kartu kredit, secara saya memang tidak punya kartu kredit. Saya resah soal kebun binatang di sekitar saya. Alkisah hari ini, di terminal Pulogadung, seorang pengamen lari di depan saya. Dia mengejar temannya. Tidak ada yang istimewa sesungguhnya, sampai kata-kata itu keluar “he, monyet, tungguin gw dong…”. Astaga. Rasanya saya mengalami déjà vu. Peristiwa yang kurang lebih sama terjadi beberapa hari lalu saat saya naik angkutan umum. Seorang pelajar SMP, sambil cekikikan di ponselnya, bilang ke temannya, “anjing, masa gitu aja lo ga ngerti!!”. Ingatan saya pun melayang pada teman-teman kos saya di Kapuk Valley. Mereka yang notabene mahasiswa Gunadarma pun terbiasa mengucapkan kata anjing, babi, ngepet, monyet, dan lainnya.

 
Sesungguhnya kebun binatang itu telah saya jumpai bertahun silam, ketika saya menginjakkan kaki untuk kali pertama di Surabaya. Masih segar dalam ingatan, ketika kalimat sapaan para jancukers mampir ke telinga saya. Kalimat jancuk, jangkrik, sampai asu pun menjadi pemandangan lumrah selama saya tinggal di sana.
 
Persoalannya sesungguhnya sederhana. Saya sering merasa tidak nyaman mendengar bahasa porno seperti itu (izinkan saya menyebutnya sebagai bahasa porno). Keterkejutan kultural selalu membayangi saya, meskipun saya sendiri sudah sangat sering mendengar kata-kata porno di atas. Saya akui, memang bahasa Indonesia memiliki sejumlah ungkapan yang membawa binatang, sebut saja lintah darat, buaya darat, otak udang, dan lain sebagainya. Saya pun menyadari satu hal, makna dari ungkapan tersebut sesungguhnya sangat peyoratif. Ditujukan sebagai ungkapan merendahkan, menghina, dan/atau menyindir.
 
Apakah konteks yang sama dapat kita bawa pada kalimat anjing, babi, monyet, jangkrik dan teman-temannya?? Saya pikir tidak. Teman saya, seorang jebolan sastra Indonesia pun bilang tidak. Bagi teman saya, yang merupakan kekhawatiran terbesar saya, bahasa di atas adalah bahasa pergaulan. Astaga. Saya semakin risau. Kebun binatang di atas adalah bahasa pergaulan? Lingua franca? Logika awam saya menolak.
 
Saya menolak karena dua hal. Pertama, lingua franca, atau bahasa pergaulan, boleh jadi muncul sebagai akibat perlawanan atas bahasa yang dianggap mainstream. Bahasa gaul dan alay misalnya, boleh jadi merupakan perlawanan diam-diam atas hegemoni bahasa Indonesia. Bahkan bahasa Indonesia, yang terang benderang diambil bahasa Melayu, sebagai lingua franca dipergunakan sebagai perlawanan atas bahasa Jawa yang penuh undak dan aturan. Jika anggapan tersebut dapat diterima, bagaimana kita menempatkan bahasa porno itu? Sebagai bahasa gaul kah?? Setahu saya, Deby Sahertian sendiri tidak pernah bicara seporno itu. Atau apa?? Barangkali karena saya terlalu putus asa, maka saya menganggap kemunculan bahasa porno seperti itu ahistoris. Karena saya tidak tahu dalam konteks apa bahasa tersebut muncul. Barangkali untuk para jancukers saya bisa memahami, sebab konon katanya, bahasa itu adalah bagian kultur arek, yang memang wilayah persebarannya di Surabaya dan sekitarnya.
 
Kedua, saya percaya bahwa bahasa adalah representasi identitas dari satu masyarakat, satu bangsa, satu negara. Ketika kita berikrar menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, maka bahasa Indonesia pun menjadi identitas kita. Lha, kalau bahasa porno itu? Sungguh tidak terbayang jika bahasa porno itu menjadi identitas nasional. Identitas seperti apa yang hendak kita konstruksikan?? Barangkali kalau hanya satu atau dua orang boleh lah kita sebut oknum, lha, kalau berjamaah??
 
Teman saya bilang, bahasa adalah persoalan pendidikan. Saya menolak dengan tegas. Tanpa bermaksud merendahkan, barangkali teman saya benar ketika kita berbicara kelompok miskin perkotaan yang sulit atau bahkan tidak memperoleh akses pendidikan. Lha, kalau yang bicara adalah mahasiswa sarjana atau pascasarjana?? Atau mereka yang termasuk dalam kelompok terdidik?? Tidak kah mereka sudah cukup makan bangku sekolahan?? Maka kalimat teman saya tidak lagi valid dan reliabel.
 
Saya rasa ironi bahasa ini harus mendapat perhatian lebih, terutama dengan digalakkannya gerakan penggunaan bahasa Indonesia. Satu pertanyaan pun menggelitik dalam pikiran saya. Barangkali benar, bahwa bahasa Indonesia tidak mampu dipergunakan dengan baik dan benar oleh semua penuturnya?? Kali ini teman saya yang menolak. Bagi dia, logika bahasa tidak bisa disamaratakan. Jika ada seseorang yang tidak bisa berbahasa sesuai dengan standar bahasa, tidak berarti bahwa pengajaran bahasanya yang salah atau si penggunanya yang salah. Barangkali kondisi saat itu tidak memberikan kesempatan bagi dirinya untuk berbahasa yang benar. Hah?? Kali ini saya yang terkaget-kaget mendengar penjelasan teman saya.
 
Kondisi seperti apa yang menyebabkan penutur bahasa tidak memiliki kesempatan untuk berbahasa yang benar?? Sungguh saya tidak tahu. Celakanya, teman saya pun tidak tahu. Maka saya pikir itu hanya lah alasan pembenar atas ketidakmampuan si penutur bahasa. Bagi saya, bagaimana bahasa dituturkan oleh penggunanya sangat berhubungan dengan kemampuan bahasa si pengguna. Logikanya sederhana, ketika orang berbahasa lokal, Sunda misalnya, hanya dituturkan oleh mereka yang belajar bahasa Sunda. Tapi saya pun kemudian terbentur oleh fakta yang ada di depan mata saya. Bagaimana dengan teman-teman kos saya? Mereka mahasiswa. Mereka saya yakin tahu benar bagaimana bahasa Indonesia harus dituturkan. Lalu kenapa bahasa porno itu yang muncul??
 
Barangkali argumen teman saya benar. Bahasa dituturkan oleh penuturnya. Maka si penutur lah yang berkepentingan untuk menggunakan bahasa seperti apa yang ingin dia gunakan. Anggap saja begini. Anda menghadapi sejumlah makanan di meja, maka sebagai konsumen, anda bebas memilih mau makan apa. Persis seperti bahasa. Kita tahu banyak kosakata, dan kita lah yang berkepentingan untuk memilih kosakata apa yang ingin kita pergunakan. Kali ini saya dan teman saya itu mencapai kata sepakat. Maka saya pun mengamini, bahwa bahasa porno itu muncul karena si penutur bahasa porno itu memutuskan untuk mempergunakan bahasa porno. Sederhananya, kesalahan dalam penggunaan bahasa sepenuhnya ditanggung oleh  pengguna bahasa itu sendiri. Sesederhana itu.
 
Meskipun pikiran saya sudah tidak lagi mumet, tapi keresahan itu masih ada. Bagi saya, bahasa adalah masalah pembiasaan. Alah bisa karena biasa. Seseorang dengan mudah mengumbar kebun binatang dari lidahnya karena memang membiasakan diri dengan kalimat tersebut. Maka ini bukan soal pendidikan, namun pada masalah pembiasaan. Saya percaya, bahkan para pengemudi angkot yang suka mengumbar kebun binatang dengan lancar pun tidak akan mengajarkan hal buruk pada anak-anaknya. Lalu bagaimana saya harus menghadapi kebun binatang di sekitar saya?? Harus kah saya marah, yang nantinya malah akan membuat tekanan darah saya naik tidak karuan?? Atau hanya diam, berharap bahwa apa yang terjadi saat ini tidak pernah tercatat dalam sejarah kebahasaan kita.
 

 

 

 

Jadwal Salat