• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

Apa kabar novel Indonesia??

on . Posted in Catatan Kaki

Selasa lalu (3/7) saya mampir ke TM Bookstore di Depok Town Square. Niat awalnya sih hendak cari buku untuk bahan makalah, namun apa daya, godaan untuk mampir ke rak novel terlalu dahsyat untuk dilewatkan. Setelah berputar lima putaran, saya akhirnya memilih satu buku: the Language of Flowers tulisan Vanessa Diffenbaugh. Saya menuntaskan buku tersebut ketika saya dalam perjalan pulang. Dalam Patas AC 84 saya berpikir. Mengapa sangat sulit bagi saya untuk memilih satu novel di antara ratusan judul novel yang ada?

 
Lama saya berpikir, dan imaji saya pun melayang.
 
Perlahan saya menyadari beberapa hal. Pertama, saya menyadari, bahwa secara kuantitas, rak novel masih dipenuhi oleh novel terjemah. Memang tidak ada data resmi perbandingan antara novel Indonesia dengan novel terjemahan, namun sepintas yang saya lihat, novel terjemahan lebih mendominasi.
 
Apa alasannya?? Saya rasa argumentasi karya sastra Indonesia tidak laku di pasaran tidak lah valid. Lihat saja tulisan Dee, Ayu Utami, atau sastra Islami seperti Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa atau pun  Kang Abik (Habiburrahman) yang laris bak kacang goreng. Argumentasi lainnya yang menyatakan bahwa novel Indonesia tidak laris ketika dialihkan, dari sekedar tulisan menjadi audio visual pun keliru. Lihat saja antrian panjang mengular ketika novel-novel tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa film. Luar biasa.
 
Bagi saya, alasan utama mengapa novel terjemah lebih banyak ketimbang novel Indonesia adalah pada persoalan selera pasar. Memang banyak karya novel Indonesia yang laris manis di pasaran, namun sejatinya kelaris-manisannya itu, bagi saya, adalah semu. Saya menyadari, alasan mengapa saya enggan membeli novel Indonesia: topiknya nyaris seragam.
 
Tidak banyak penulis yang mampu mendikte pasar. Meskipun dikatakan bahwa para penulis itu dibebaskan sepenuhnya dalam menghasilkan karya mereka, namun dikte pasar atas alam bawah sadar para penulis masih sangat terasa. LIhat saja novel dengan “genre remaja”, tidak terdapat perbedaan mendasar antara novel teenlit atau chicklit terjemahan dengan novel Indonesia. Semuanya, bagi saya, sama-sama membosankan.
 
Hampir seluruh novel tersebut, yang telah saya baca dan membuat mual perut saya, sangat serupa dengan sinetron Indonesia. Sosok gadis miskin jatuh cinta dengan pemuda kaya (atau sebaliknya), ada dendam antarkeluarga di sana, ada cinta segita, cinta terlarang, dan cinta-cinta lainnya. Laiknya sinetron yang sudah tidak lagi saya tonton karena cenderung membodohi karena terlalu banyak bumbu, demikian pula novel-novel tersebut.
 
Saya menyadari sepenuhnya, bahwa generalisasi yang saya buat agak berbahaya dan menakutkan. Berbahaya karena saya sadar betul saya belum pernah membaca seluruh novel yang ada di pasaran. Menakutkan karena saya cenderung mengambil posisi menuduh bahwa novel Indonesia membosankan. Namun saya tetap pada posisi saya. Mengapa? Sepanjang pembacaan saya, bumbu dalam novel Indonesia terlalu pekat, drama yang terlalu berlebihan, logika cerita yang selalu berlompatan, dan alur yang tak kunjung selesai.
 
Sepanjang pembacaan saya, cerita-cerita dalam novel-novel tersebut tidak lain adalah sinetron yang dialihkan menjadi teks. Tidak banyak penulis yang mampu melambungkan imajinasi saya ketika membaca novel mereka, lebih sedikit lagi penulis yang mampu membuat saya terdiam dan tergugu ketika membaca tulisan mereka. Terus terang saja, saya rindu membaca tulisan Pram yang mampu bercerita masa lalu tanpa kehilangan konteks masa kini. Saya rindu membaca tulisan Romo Mangun yang sederhana namun menggugah asa. Saya rindu tulisan Ayu Utami, Leila S. Chudori atau pun Dee yang menukik tajam tanpa kehilangan pesona kelembutan.
 
Seorang teman, tempat menampung keluh kesah saya, hanya tertawa mendengar keluhan saya. Bagi teman saya itu, apa yang saya inginkan dan standar yang saya tetapkan sangat tidak rasional. Tapi rasa tidak mengenal rasionalitas. Rasionalitas bagi saya hanya lah gambaran kasar atas apa kita sebut sebagai pesona pasar. Tidak lebih. Tidak kurang.
 
Bagi teman saya, apa yang saya inginkan adalah masalah pribadi, dan sungguh menjadi keterlaluan, apabila saya membandingkan seorang newbie dalam novel Indonesia dengan sosok Pram. Malah bagi teman saya, jika saya berani melakukan itu, maka sesungguhnya saya lah pendosa utama: sebab saya menghakimi seseorang dengan tuduhan yang tidak dia lakukan. Oke lah, saya setuju dengan teman saya, bahwa saya melakukan dosa besar dengan meletakkan standar dan keinginan saya sebagai pedoman.
 
Saya mencoba mengatasi kekalahan saya dengan bertanya ke teman saya, bagaimana dengan perilaku penerbit yang keterlaluan dengan memberikan harapan kelewat besar dalam sampul depan buku yang mereka jual? Saya pernah menjadi orang yang impulsif ketika membeli buku, bahkan hingga hari ini. Saya seringkali membeli buku tanpa melihat isi. Hanya dengan melihat judul dan kesaksian (dan pujian) dari penulis lainnya telah menjadi alasan bagi saya untuk membeli novel tersebut. Celakanya, saya lebih sering kecewa ketimbang tertawa bahagia.
 
Teman saya, akhirnya, sepakat dengan saya. Memang dibutuhkan kecerdasan tersendiri untuk membeli novel ketimbang membeli buku ilmiah yang serius. Novel adalah soal rasa, bukan data. Maka maafkan saya, jika saya, untuk kesekian kalinya, membeli novel terjemahan ketimbang novel Indonesia. Bagi saya, halaman muka yang terlalu bombastis, judul yang terlalu sulit dicerna akal sehat, dan pujian setinggi langit tidak lagi menarik bagi saya. Bagi saya, kesederhanaan adalah segalanya: sederhana dari judul, sederhana dalam memuji, sederhana dalam cerita, namun jelas tidak sederhana dari pesan yang hendak disampaikan adalah novel yang saya cari. Memang sulit. Namun sebagaimana teman saya, saya tidak akan berhenti untuk mencari, berputar di setiap lorong, mengubek-ubek tumpukan, untuk mencari satu, cukup satu, novel yang mampu menggugah saya, mencerahkan, dan membuat saya merinding terdiam.
 

 

 

 

Jadwal Salat