• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

Cinta Bersemi di Danau UI

on . Posted in Catatan Kaki

Ini bukan cerita novel atau pun lakon FTV. Ini adalah keisengan saya dan teman saya. Setelah bertemu dengan orang yang saya tunggu-tunggu selama berjam-jam, saya menemui teman saya. Awalnya Detos adalah tujuan utama, namun teman saya berubah pikiran dan malah ngajak janjian ketemuan di tepi danau UI. Bagi saya, mendapat permintaan yang aneh dari teman-teman saya adalah hal yang biasa, termasuk permintaannya untuk menemani duduk di tepi danau.
 
Jangan bayangkan danau UI seperti danau yang kelewat indah. Secara ukuran, danau UI boleh lah dikategorikan indah, dengan catatan tidak banyak sampah yang merusak pemandangan (yang celakanya sangat jarang terjadi). Sebagai danau di tengah kota (eh Depok itu kota kan ya??), danau UI adalah tempat persinggahan bagi jiwa-jiwa yang lelah. Termasuk teman saya itu.
 
Alkisah, akhirnya teman saya buka suara, setelah saya paksa mengenai alasannya memilih ketemuan di danau UI. "Gw mo ngebuktiin kata orang, kalau danau UI itu indah", he??? Sungguh saya tidak percaya. Notabene dia tinggal Lenteng Agung, dan gampang ke sini. Saya pun yakin kunjungan kali ini bukan kunjungan pertama. Saya memaksa dia untuk menjelaskan apa yang dia maksud dengan indah. "Itu, persis di depan kita."
 
Alamak, rupanya dia hanya ingin melihat orang pacaran di tepi danau. Sinting teman saya ini. Karena melihat saya terbengong-bengong, dia malah komentar "how romantic, two horny man, sitting here waiting for sunset". What?? Hello... Saya cuma bilang ke dia, "its not romantic, its pathetic, sad and grim", teman saya hanya tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban saya.
 
Dia bilang saya telah kehilangan sisi romantis saya. Benar kah?? Bagi saya, tidak ada tuh sisi romantis dari melihat sekumpulan orang pacaran di tepi danau. Sisi ironis iya. Bagaimana mungkin pacaran di tepi danau yang berada persis di seberang masjid?? Menjelang magrib pula. Bagaimana mungkin pacaran, dengan segala atributnya, dilaksanakan tidak jauh dari tumpukan sampah??
 
Bagi teman saya, logika saya tidak keliru, tapi saya hanya melihat sisi sarkastik dari kondisi lingkungan. Bagi teman saya, terdapat sisi romantis yang lupa saya lihat, bahwa pacaran bisa dilakukan tanpa memandang tempat, bahkan kuburan angker sekalipun. Hello??? Gila juga teman saya ini.
 
Lama saya berpikir. Dalam diam perlahan saya setuju dengan teman saya ini. Namun tetap saya menolak logika pacaran. Barangkali ortodoksi saya menguat dengan menolak pacaran. Tapi lagi-lagi teman saya itu menang. Kalimat penutupnya lah yang membuat saya terdiam. "Bukan soal pacarannya, tapi soal rasa, yang bisa tumbuh di mana saja".
Azan magrib pun menggema, meninggalkan satu pertanyaan menggantung dalam benak saya. Ya teman saya benar, tapi kenapa harus jauh-jauh ke danau UI?? Saya enggan bertanya. Takut kalah untuk ketiga kalinya (dan membuat ego saya tersungkur habis-habisan)
 
 

Jadwal Salat