• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

Bandara, saya, dan penumpang lainnya

on . Posted in Catatan Kaki

Hari ini (8/4) saya senang karena dua hal. Pertama, saya akan mengunjungi rumah kedua saya: Surabaya. Kedua, saya senang akan prospek jalan-jalan yang menanti saya di sana nanti. Perjalanan saya awalnya menyenangkan, naik Damri tanpa sedikitpun mengalami kemacetan, adalah sebuah oase di tengah kesemrawutan Jakarta. Dan tiba lah saya di Soekarno-Hatta.

 

Lumayan, adalah kesan pertama saya. Banyak pohon-pohon baru mulai disusun dan ditanam, pohon-pohon lama sedang disiram, dan air mancur sang Proklamator sedang dalam perawatan. Tapi kesan saya berubah ketika saya tiba di terminal 1. Astaga. Ramainya. Bak pasar kaget. Rupanya bukan hanya saya yang agak terheran-heran, sebab menurut perhitungan saya, harusnya bandara agak sepi sebab hari ini adalah hari terakhir dari long weekend Paskah dari jumat kemarin. Rupanya saya salah. Amat salah.
Untung bagi saya, sebab saya menuju terminal 1C, melewati hiruk pikuk terminal 1A dan 1B yang penuh sesak. Saya berpikir ko ramai sekali ya. Rupanya kalimat tersebut sempat terdengar oleh seorang ibu yang duduk di sebelah saya. Ibu itu bilang, “biasa, yang liburan di Jakarta pulang kampung”, oh iya, karena besok para pekerja sudah mulai masuk, maka sangat masuk akal jika mereka kembali hari ini. Sekali lagi saya bersyukur tidak naik maskapai singa terbang atau sayap merah itu.
Tiba di 1C, suasana lengang yang saya dapati. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan dua terminal sebelumnya. Bagi saya, terdapat hal menarik dari dua terminal sebelumnya, dan termasuk terminal yang saya berada: bagasi yang luar biasa. Saya sendiri mengakui, saya membawa tiga tas, dua masuk bagasi, dan satu tas jinjing kecil masuk kabin (sebab isinya kamera dan laptop). Namun orang yang kebetulan antri di depan saya bawannya luar biasa. Dua orang dengan delapan tas masuk bagasi, dan tiga tas masuk kabin. Astaga. Padahal saya pikir penerbangan ke Surabaya biasanya tidak seheboh penerbangan ke daerah lain.
Ketiga saya tergeleng-geleng kagum karena dua orang di depan saya kelebihan muatan huingga 24kg dari 40kg yang dibolehkan, rupanya orang di sebelah saya lebih dahsyat lagi. Kelebihan muatannya bahkan hingga 37kg, padahal dia sendiri. Saya pun mulai berhitung. Berapa sebetulnya kapasitas bagasi pesawat sebenarnya? Jika orang di depan saya kelebihan muatan hingga 24, di samping saya hingga 37 kg, dan di belakang saya pun mengalami kelebihan yang sama besarnya saya yakin, maka tidak kah pesawat itu mengalami kelebihan muatan?? Maka imaji saya pun membayang. Apa yang saya lihat di terminal 1C sesungguhnya belum apa-apa ketimbang yang trejadi pada terminal 1A dan 1B. Masih membayang dalam ingatan, ketika Damri berhenti di terminal 1A, seorang ibu tergopoh-gopoh memanggil porter untuk membantunya membawa barang-barangnya. Dan saya pun terkaget-kaget. Si ibu rupanya membawa enam dus yang bergambar penanak nasi. Entah ke mana si ibu itu, dan entah mengapa si ibu membawa peralatan yang saya pikir sesungguhnya ada di mana-mana.
Bagi seseorang yang senang berpikir dan bertindak praktis seperti saya, apa yang dilakukan ibu tersebut tidak masuk akal. Sama tidak masuk akalnya dengan orang di belakang saya, yang juga sama-sama hendak ke Surabaya namun membawa kasur busa lipat hingga empat buah (semuanya masuk kabin pula). Terkadang saya suka senewen dengan hal-hal tidak praktis tersebut. Namun seorang teman, yang dengan iseng saya telpon ketika saya menunggu di ruang tunggu berkata, “it’s not about the goods my dear, it’s all about the price”. Ya teman saya benar. Ini bukan tentang barang atau pun tentang kerepotan dalam membawanya. Ini tentang harga. Entah bagaimana, harga-harga di Jakarta dianggap lebih murah ketimbang di daerah. Harus saya akui, terkadang, atau mungkin dalam banyak kesempatan, harga di Jakarta lebih masuk di akal ketimbang harga di daerah. Konsekuensinya jelas: mereka yang dari daerah cenderung membeli barang di Jakarta dan membawanya ke wilayah asal dengan beban luar biasa, dan nampaknya mereka sama sekali tidak keberatan dengan membayar kelebihan bagasi.
Barangkali benar apa yang dikatakan Miss Jinjing - sudah kah anda membaca bukunya?? Baca lah, anda akan mulai memahami mengapa setiap penerbangan dari Jakarta selalu dipenuhi penumpang dengan tas beranak-pinak dalam jumlah besar – bahwa jangan pernah meremehkan kualitas dompet orang-orang daerah. Liburan di Jakarta tidak hanya membutuhkan stamina dan kesabaran tingkat tinggi, namun juga kualitas kantong yang mumpuni. Saya semakin tersadar dengan logika tersebut ketika saya melihat orang-orang yang juiga duduk di ruang tunggu yang sama. Tas dari Zarra, kacamata Oakley, paperbag Charles & Keith, sepatu (yang desainnya saya ga suka) dari Crocs, kain batik halus yang saya kenal betul tidak mungkin dari kualitas pasar grosir, bahkan gemerlap gelang Kristal. Mulai dari orang-orang asik bermain ipad, si berry hitam, sampai galaxy note terbaru. Aduhai. Sungguh saya merasa salah tempat. Bak aliens di tempat bermain manusia bumi.
Bandara tentu saja tidak hanya dipenuhi para raja-raja dari daerah. Bandara justru lebih menarik jika dicermati dari sisi lain: penumpang dengan sandal jepit dan kaos seadanya. Saya mengakui, penerbangan murah membuka sisi lain dari bandara. Di luar dari orang-orang yang pantang mati gaya, atau bahkan haram mati gaya ketika ke bandara, ada selalu orang-orang yang berpenampilan sesukanya. Termasuk saya. Beberapa penumpang berseragam yang berlarian mengejar anak-anak majikan yang emoh makan, bahkan hingga rombongan ibu-ibu yang bergaya seperti hendak ke majelis taklim. Sungguh bandara dapat menjadi representasi dari adanya masyarakat yang multicultural. Di bandara, anda tidak akan ambil pusing dengan siapa orang di sebelah anda. Laki-laki atau perempuan. Muslim atau non muslim. Parlente atau celana pendek. Semua sama.
Tapi lagi-lagi, bukan masalah keragaman penumpang itu yang saya perhatikan. Semakin saya memperhatikan tingkah penumpang di sekitar saya, semakin menjadi kekhawatiran saya. Saya khawatir dengan kapasitas pesawat udara kita dalam membawa bagasi. Memang belum pernah terjadi ada pesawat yang gagal lepas landas akibat kelebihan muatan bagasi, namun tetap saja polah penumpang pesawat yang membawa barang luar biasa banyak bagi saya mengkhawatirkan. Di sisi berbeda, tingkah polah penumpang pesawat bukan hanya pada kelebihan bagasi, namun juga pada penggunaan barang elektronik.
Ambil contoh sederhana, bapak di sebelah saya, bahkan ketika pramugari sudah sibuk menutup pintu kabin dan menutup bagasi kabin, dia masih asik main dengan ponsel pintar terbarunya. Ketika sang pramugari mengingatkan, dia hanya bilang, heeh iya. Saya pun berkata, ganti saja dengan mode terbang. Si bapak Cuma tersenyum dan bilang, “emang bisa ya??”, gubrak. Alamak. Jika di bapak dengan lugunya mengakui kalau dia tidak mengetahui adanya fitur mode terbang, ibu-ibu di depan saya malah sibuk foto-foto dengan si berry hitam kesayangannya. Bahkan dia sempat meminta orang di depannya untuk memfoto dirinya dan teman-temannya. Semua itu bahkan ketika pramugari sedang bersiap menjelaskan peraturan penerbangan.
Ada kejadian lain yang lebih rusuh. Sudah menjadi rahasia umum, kalau maskapai di Indonesia melakukan penghematan luar biasa. Bahkan air saja tidak diberi (beberapa memang masih setia memberi air dan roti gratis, namun sisanya tidak). Alkisah seorang anak menangis kelaparan. Si ayah, karena bingung kemudian mencoba memanggil pramugari. Permintaannnya jelas: apa makanan paling enak (standar enak tentu relatif ya) di maskapai ini. Sang pramugrasi menjelaskan, ada dua makanan yang disajikan: barbekyu ayam dengan kentang, dan nasi goreng vegetarian. Si ayah kemudian berbisik ke istrinya (karena posisi mereka di belakang saya), “mahal mah, pop mie aja ya??”, dan kemudian si ayah berkata, “ga ada mie mbak? Takutnya anak saya muntah karena makan berat”, hah, pikir saya, bilang saja dari awal kalau mau yang lebih murah.
Kejadian lainnya pada sekelompok ibu, yang tadi heboh foto-foto. Rupanya mereka kedinginan. Kesempatan melihat penumpang gemetar kedinginan, para pramugari pun sibuk menawarkan pashmina yang memang barang jualan mereka. Para ibu itu tentu saja antusias. Dan tergopoh-gopohlah sang pramugari membawa berlembar-lembar pashmina. Namun setelah sepuluh menit memilih, tidak ada satu pun yang akhirnya membeli (dugaan saya karena harganya memang cukup mahal). Mereka malah memesan hal paling ajaib yang pernah saya dengar sepanjang pengalaman saya naik pesawat. Sambil berbisik, si ibu yang duduk di area lorong berkata lirih ke pramugari, “Mbak, bisa ga AC pesawatnya dimatiin, dingin banget.” Wew. Luar biasa.
Jika kejadian sepanjang lepas landas dan sepanjang perjalanan bikin nyengir kuda, maka peristiwa mendarat dapat membuat stress tingkat tinggi. Si bapak, yang akhirnya saya ajari menggunakan fitur mode terbang, membuat saya jantungan. Ketika pramugari baru menyampaikan “Selamat datang di Bandar Udara Juanda Surabaya.. bla bla bla”, sontak dia langsung menelpon. “Hello, mami, ayah baru aja mendarat, bentar lagi nyampe…”. Alamak kuadrat. Rupanya si bapak masih memiliki ponsel lain yang rupanya tidak dia nonaktifkan sepanjang perjalanan. Para penumpang lain rupanya berperilaku sama. Bahkan pesawat belum berhenti untuk parkir, sontak semua ponsel berdering. Mulai dari pesan singkat, sampai hello hello riang. Dan tinggal lah permintaan pramugari untuk tidak mengaktifkan ponsel hingga berada di ruang tunggu hanya menjadi pepesan kosong. Omong kosong yang hanya berbunyi tanpa pernah ditaati.
Hal lain yang selalu membuat saya senewen adalah ketidaksabaran penumpang untuk segera keluar dari pesawat. Tentu anda semua paham betul, atau barangkali turut pula berperilaku sama, ketika satu orang mulai heboh menurunkan barang bawaan dari atas kabin, yang lain pun ikut serta berpartisipasi. Tidak perduli apakah pesawat sudah benar-benar berhenti atau tidak. Yang menarik, sebagian besar dari mereka memilih untuk berdiri di lorong, menunggu pintu pesawat terbuka. Ingat cerita saya mengenai ayah yang akhirnya memesan pop mie?? Istrinya bilang ke dia, “ayah, ambil bagasi sana, ikut antri di tengah biar ga ketinggalan.” Hah? Sungguh logika awam saya tertantang. Bagaimana mungkin bisa tertinggal? Apakah kalau berdiri di tengah dapat langsung keluar?? Secara tempat duduk mereka di nomor 26 alias buntut??
Tepok jidat. Pusing saya dibuatnya. Ada apa dengan penumpang pesawat di Indonesia?? Saya cuma terdiam. Bingung.
 

 

 

 

Jadwal Salat