• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

"Lo diundang ga?", kisah sebuah undangan

on . Posted in Catatan Kaki

Saya mencoba menghitung jumlah undangan yang saya terima sepanjang September-Desember 2010. Tercatat saya memiliki empat puluh enam undangan dengan perincian sebagai berikut: enam belas undangan pernikahan dari teman yang saya kenal, dua belas undangan pernikahan dari orang yang tidak saya kenal, enam undangan sunatan anak teman yang saya kenal, delapan undangan mengikuti seminar, dan empat undangan menulis makalah. Jika saya melihat dari sisi metode pengiriman, maka dapat saya perinci: tujuh undangan dengan kertas, dua puluh delapan undangan dengan surat elektronik (email), dan sebelas undangan dengan menggunakan layanan pesan pendek (sms).

Lalu apa yang menarik soal undangan?

 

Tanya kan diri anda, saya yakin anda menerima undangan seperti yang saya terima, mungkin lebih banyak, mungkin pula lebih sedikit. Ketika kita menerima undangan, pada dasarnya kita menerima sebuah permohonan dari seseorang, permohonan yang membutuhkan persetujuan dan kesediaan kita. Jika undangan tersebut adalah undangan yang membutuhkan kehadiran fisik, maka kita dimohon untuk datang ke acara tersebut, berbeda jika yang datang adalah undangan untuk menulis, maka yang dibutuhkan adalah kesediaan kita untuk berbagi pikiran dalam kegiatan tersebut. Saya secara khusus akan bercuap-cuap soal undangan yang membutuhkan kehadiran fisik, baik itu undangan resepsi pernikahan maupun sunatan.

 

Persoalannya tentu saja tidak lah semudah itu. Ketika kita menyediakan diri kita untuk menjawab sebuah undangan, maka kita tidak serta merta membawa diri ke acara tersebut. Ada hubungan simbiosis di sana, sebuah hubungan, yang dalam pandangan Mauss, sebagai sebuah ikatan pemberian. Gift atau pemberian adalah sebuah proses sosial. Ketika anda member pada seseorang, maka sadar atau tidak, anda akan pamrih terhadap pemberian tersebut. Barangkali anda menganggap saya pragmatis atau hipokrit, tapi itu adalah fakta. Seringkali kita tidak mau mengakui fakta tersebut dengan berlindung di bawah tabir agama, bahwa setiap amal yang kita lakukan harus bebas dari rasa pamrih. Tapi kita lupa, bahwa agama sekalipun memiliki dimensi sosial di dalamnya. Koreksi jika saya salah, Allah sendiri menyatakan setiap amal saleh akan dilipatgandakan, bukan kah dengan janji tersebut kita terpacu untuk beramal agar mendapat ganjaran yang berlimpah? Bukan kah kita menjadi sangat pamrih ketika beramal?

 

Kembali ke soal pamrih. Kalau anda perhatikan, terutama bagi anda yang telah melangsungkan pernikahan, misalnya, anda akan berusaha mencatat siapa member apa. Apa tujuannya? Saya memiliki teman yang berasal dari satu etnis, dia mengaku bahwa dia memiliki catatan lengkap mengenai setiap pemberian yang diberikan orang pada saat ia menikah. Apa tujuannya? Bagi teman saya, dan saya yakin bagi sebagian besar orang, tujuannya agar ketika orang tersebut mengadakan sebuah acara yang kurang lebih sama, dia dapat memberikan hadiah yang memiliki nilai yang minimal sama dengan yang pernah diberikan oleh orang tersebut. Koreksi jika saya salah, ketika kita memberikan hadiah pada seseorang, bukan kah kita mengukur pada kemampuan kita dan posisi orang yang kita berikan hadiah? Bukan kah itu merupakan ciri sikap pamrih?

 

Dalam pandangan Mauss, kesadaran kita untuk menerima sebuah pemberian selalu membawa kesadaran lain: bahwa kita akan memampukan diri kita untuk membalas pemberian tersebut, meskipun secara kuantitas tidak sama, tapi kita akan mencoba menyetarakan secara kualitas. Anggap saja begini, saudara ibu saya selalu mengirimkan makanan ringan untuk berbuka puasa, suatu waktu ibu saya meminta saya membuat masakan, dan berdasarkan permintaannya itu, saya harus membuat dalam porsi cukup besar dan mengirim sebagiannya ke saudara ibu saya itu. Apa yang dilakukan oleh ibu saya sama persis dengan apa yang dipikirkan oleh Mauss, sebab pemberian adalah sebuah proses sosial.

 

Kembali ke soal undangan. Ketika saya datang ke sebuah acara, yang notabene saya diundang, maka saya tidak lah hanya datang membawa diri. Saya akan datang disertai sebuah proses dialektis yang ditutupi melalui selubung pemberian. Katakan lah saya datang, dan saya memberikan sesuatu kepada yang mengundang, anggap lah itu kado, maka dengan menggunakan model pemikiran Mauss, saya menjadi pamrih. Hal ini dikarenakan sadar atau tidak, ketika saya memberikan sesuatu, saya memiliki, meskipun sangat minim, harapan agar orang yang sama akan melakukan hal yang sama ketika saya mengundang dirinya. Barangkali terdengar terlalu simplistis,tapi jika menggunakan model Mauss hal tersebut sangat rasional. Lihat saja orang-orang yang sibuk mencatat hadiah yang diberikan oleh orang. Meskipun sah-sah saja kita berasumsi bahwa si pemberi memberikan sesuatu dengan sangat ikhlas tanpa mengharap pengembalian, tapi kita akan selalu membawa ‘tanggungjawab moral’ untuk mengembalikan pemberian tersebut, meskipun tidak dalam derajat yang sama.

 

Di sisi yang berbeda, si pengundang pun memiliki tanggungjawab sosial yang tidak kalah beratnya. Ketika ia dengan sadar menyampaikan sebuah undangan, maka secara sosial dia mengambil tanggungjawab sebagai pelayan bagi tamu yang dia undang. Tengok lah diri anda ketika anda mengundang seseorang, maka anda secara sadar mengambil tanggungjawab dan berperan sebagai tuan rumah ‘yang baik’. Hal ini tentu saja sangat wajar terjadi, lagi-lagi karena hal ini adalah hubungan dialektis yang di bawah bayang-bayang pemberian. Ketika anda mengundang pada dasarnya anda memberikan sesuatu pada orang yang anda undang, dan orang yang diundang akan memberikan sesuatu kepada yang mengundang. Sejauh yang saya tahu, pola ini sangat umum berlaku di mana saja.

 

Lalu apa hubungannya dengan undangan? Sebelum saya menjawab, mari kita berandai-andai. Andaikan anda diundang ke sebuah resepsi, dan resepsi tersebut diadakan di rumah di pengundang; di sisi lain, anda menerima undangan resepsi yang dilaksanakan di sebuah gedung, adakah anda akan membawa perilaku dan pemberian yang sama? Saya sendiri meragukan hal tersebut. Barangkali kita butuh pandangan dari ahli keilmuan lain yang mampu menjelaskan perbedaan perilaku kita dalam menjawab undangan tersebut. Jika anda tanya ke saya, saya akan menjawab perbedaan tersebut terkait dengan status yang ada, baik pada diri si pengundang maupun yang diundang. Kita akan mencoba menyamakan status dengan si pengundang dengan melebihkan (atau mungkin mengurangi) pemberian. Barangkali pula kita melebihkan pemberian ketika sebuah kegiatan dilaksanakan di tempat yang cukup khusus, sehingga kita membutuhkan sebuah keputusan khusus untuk menyatakan status dengan kegiatan khusus tersebut, walaupun bagi saya hal ini masih berupa hipotesa awal.

 

Hubungan dengan undangan, jika menggunakan model Mauss terkait denganpemberian, maka saya akan banyak pertimbangan apakah akan menjawab undangan tersebut atau tidak. Pertama, saya harus mempertimbangkan mengenai kedekatan saya dengan si pengundang. Bagi saya, adalah tidak relevan datang ke sebuah acara yang saya tidak kenal siapa yang mengundang. Kedua, saya harus mempertimbangkan posisi finansial saya. Kondisi saya di dasarkan pada status saya, setidaknya secara sosial itu lah yang terjadi. Maka dengan demikian, ketika status saya tidak dimungkinkan secara finansial, maka saya harus betul-betul memperhatikan undangan siapa yang akan saya jawab. Saya bukan pelit, tolong pahami dari sisi model pemikiran Mauss. Saya harus melakukan seleksi siapa yang saya rasa mampu saya kembalikan apa ia berikan dan ia sendiri mampu ‘mengembalikan’ apa yang saya berikan. Meskipun terkesan pragmatis, namun saya sendiri menganggap hal tersebut rasional dan relevan. Maka itu lah saya mencoba menjawab undangan-undangan tersebut dengan dua jawaban. Pertama, saya akan menjawab undangan tersebut dengan datang langsung dan menyampaikan pemberian secara langsung. Umumnya saya hanya melakukan hal ini pada orang yang saya kenal dekat dengan saya tidak ragu menyesuaikan pemberian saya dengan hubungan status saya dan pengundang. Kedua, saya akan menjawab undangan tersebut dengan menitipkan pemberian saya pada teman yang akan datang ke acara tersebut. Umumnya saya melakukan ini pada undangan yang si pengundang tidak saya kenal dekat. Nah, jika saya diundang oleh orang yang tidak saya kenal, maka saya akan melihat kondisi finansial saya, jika memang mencukupi, saya akan berusaha untuk menjawab undangan tersebut meskipun umumnya tidak saya datangi langsung. Namun jika finansial saya tidak mencukupi, saya rasa bukan lah sebuah kesalahan jika saya tidak menjawab undangan tersebut.

 

Sebetulnya saya masih ingin cuap-cuap soal alasan mengapa orang Indonesia memiliki kesukaan untuk mengadakan sebuah kegiatan yang mengundang banyak orang, dan mengapa orang yang tidak kita kenal begitu berani mengundang kita, namun mata saya sudah tidak dapat ditahan lagi. Sebagai penutup, izinkan saya bertanya, adakah anda setuju dengan yang saya sampaikan?

Jadwal Salat