• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

Rokok, Mau???

on . Posted in Catatan Kaki

Indonesia Lawyers Club (10/7) hari ini membuat saya jengkel berat. Alasannya sederhana: entah kenapa, saya tidak lagi menghormati Karni Ilyas terkait isu rokok. Maka saya pun menyerah dan berganti chanel. Kenapa ya, begitu sulit bagi orang untuk duduk tenang ketika bicara soal rokok?? Saya akui, rokok, atau industri rokok memang industri yang luar biasa besar. Lihat saja daerah-daerah di Jawa Timur atau Kudus yang menggantungkan kehidupan mereka dari rokok. Ribuan orang terlibat dalam industri rokok, dan bahkan MUI sendiri tidak pernah berani, dan tidak akan berani mengeluarkan fatwa haram soal rokok. Alasannya sederhana: ribuan orang terancam kehilangan pekerjaan.

Tapi bagi saya, benar kah diskusi tentang rokok harus semenyebalkan itu?? Mengapa isunya kemudian digeser ke kucuran uang lembaga donor ke LSM yang anti rokok?? Sungguh pikiran awam saya menolak kegaduhan yang muncul. Sebuah gambaran orang-orang idiot yang melupakan inti utama masalah rokok: KESEHATAN.
 
Kesehatan sejatinya adalah pemberian. Maka saya mengatakan, hanya mereka yang benar-benar tolol yang membuang pemberian tersebut. Rokok, bagi saya, adalah indikatornya. Saya bukan perokok, namun saya jamin, saya memiliki paru-paru yang tidak lebih baik dari perokok. Saya adalah perokok pasif, orang yang terpapar asap rokok, dan celakanya, paparan itu terjadi di sekeliling saya (kecuali rumah, Alhamdulillah).
 
Rokok, bagi saya, adalah fakta sosial yang tidak dapat ditutupi. Saya menyaksikan sendiri, bagaimana rokok dikonsumsi oleh semua orang, tanpa memandang usia, tanpa memandang etnisitas, tanpa memandang kelas sosial. Rokok menjangkiti semua orang tanpa terkecuali.
 
Lalu apakah kita berhenti hanya di sana?? Hanya dengan mengakui, dengan berat hati, bahwa merokok DAPAT menyebabkan kanker dan gangguan kehamilan dan janin?? Sungguh celaka dan terlaknat jika kita berhenti di sana. Saya membuang jauh-jauh rasa hormat saya pada industri rokok yang dengan sangat tega membuat para siswa SMP bahkan SD kecanduan rokok. Saya mengutuk mereka yang dengan senang hati berkata berkata urusan siapa yang membeli rokok adalah urusan konsumen, bukan produsen rokok. Saya mencela akal sehat mereka. Sungguh saya melecehkan kaum intelektual sampah yang mendukung rokok.
 
Seorang teman berkata, bahwa rokok adalah persoalan pilihan. Ya saya setuju. Merokok adalah pilihan. Tapi pilihan yang sangat berbahaya, sebab mereka yang memilih merokok seringkali lupa, bahwa mereka adalah diktator. Mana ada perokok yang minta izin merokok di depan umum. Semuanya sama: lupa pada orang-orang yang tidak merokok di sekitar mereka. Dia senang, persetan dengan orang lain.Saya setuju dengan teman saya, merokok adalah hak asasi. Namun teman saya lupa, saya pun punya hak asasi.
 
Bagi saya, apa sih sulitnya untuk tidak merokok di depan umum?? Maka saya pun melangkah lebih jauh, apa salahnya rokok diregulasi?? Toh, bagi saya, ini untuk menjaga hak-hak semua orang. Semua senang (seharusnya). Tapi rupanya tidak. Bagi industri rokok, terutama rokok kretek, regulasi itu dapat membuat mereka gulung tikar. Efek lanjutnya: semua orang yang berada di industri rokok bisa kehilangan pekerjaan.
 
Benarkah?? Saya yakin iya. Tapi tidak berarti kita bisa jor-joran kampanye rokok. Harus ada pengaturan. Tanpa pengaturan, jangan-jangan nanti ganja pun dijual bebas di warung-warung.
 
Duh, Gusti nyuwun ngapura....
 
Semakin lama saya menonton, saya merasa akal sehat saya semakin tertampar. Semakin lama saya mengikuti diskusi, semakin tersesat saya dalam kedunguan mereka. Sungguh celaka. Sebab bagi saya, mereka semakin menjauh dari topik utama, dan karenanya semakin menjauh dari penyelesaian masalah. Hadoh, bang Wendo, rokok tidak bahaya?? Astaga. Sama saja dong kalau saya bilang arsenik tidak berbahaya. Yang bahaya jika arsenik dikonsumsi?? Ah tepok jidat.

Jadwal Salat