• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

Pantai Camplong, sejumput garam dari surga

on . Posted in Catatan Kaki

Saya senang sekali berkunjung ke tempat ini. Sedikit keluar dari kegiatan riset yang bikin kulit semakin menghitam adalah sebuah kenikmatan kecil yang layak dilakukan. Awalnya saya ragu, ada ya pantai indah di Madura?? Teman saya langsung, tanpa salamlekum, menjitak saya. Mengendarai motor selama satu jam lebih, rasa pegal terbayar ketika sampai di tempat ini: Pantai Camplong.

Awalnya hanya sebuah keisengan. Bosan yang mendadak datang membuat saya berkomentar singkat, "ada pantai ga?? makan degan (kelapa muda) enak nih". Teman riset saya, yang memang asli Madura, langsung bersemangat dan mulai berkoar-koar promosi tentang indahnya pantai-pantai di Madura.Setelah berembuk singkat, disertai debat kusir yang tidak perlu (saya memang senang mendebat teman saya ini), akhirnya diputuskan kami akan ke pantai Camplong. Tidak jauh kata teman saya (saya lupa basa-basi khas Jawa, dekat itu artinya sekitar 16KM).
Nama yang aneh. Pikiran awal saya. Saya kesini ketika surya beranjak ke peraduan. Masih ada pengunjung walau hari telah sore. Dua buah bis, lima mobil, dan tiga sepeda motor (termasuk punya teman saya). Namun para pedagang souvenir mulai tutup, sebagian malah telah tutup. Akhirnya kami menuju ke pantai. Ah udaranya sejuk. Ya yang namanya laut pasti anginnya lumayan. Saya bilang ke teman saya, harusnya kita membawa layang-layang (sebab saya memang sudah sangat lama tidak bermain layang-layang, lupa rasanya).
 
Duduk terdiam di bibir pantai. Memandang para tamu yang heboh naik kapal, makan pentol, atau pun hanya sekedar bermain pasir. Harus saya akui, teman saya benar. Pantai Camplong memang indah. Sayang sekali. Kegemaran turis lokal yang doyan membuang sampah sembarangan merusak keindahan pantai tersebut.
 
"Udah sore, yang nyapu udah balik ke rumah." Komentar teman saya ketika saya bilang ke dia soal sampah yang bertebaran di pantai. Ya teman saya benar. Memang sudah sore. Petugas kebersihan pun tidak ada. Tapi bagi saya, bergantung pada petugas kebersihan adalah sebuah dosa besar. Apa sih susahnya membuang bungkus es ke tempat sampah? Apa sih susahnya membuang puntung rokok di tempat sampah? Tidak susah. Hanya belum terbiasa (atau tidak terbiasa?). Masalahnya adalah, kita membiasakan diri dilayani. Buang sampah sembarangan dengan pikiran ya nanti juga dibereskan sama petugas. Kepada petugas kebersihan lah kita bergantung.
 
Teman saya enggan berdebat lebih panjang. Diam mendengar kecerewetan saya soal sampah. Dan saya pun semakin senewen karena keluh saya tidak direspon. Saya pun terdiam. Mengambil kamera dan mulai memfoto apapun yang saya suka.
 
Rupanya diam bukan tabiat kami berdua. Enggan berdiam lebih lama, teman saya mengajak saya minum es kelapa. Dengan satu syarat: saya tidak lagi meributkan soal sampah. Dalam diam kami mencapai kata sepakat. Dan tiba lah es degan itu. Sambil menikmati es degan, teman saya berkata, "Buat saya, Madura adalah rumah. Tempat kembali. Saya tidak marah ketika ada tamu yang membuat berantakan. Saya tidak marah ketika ada lelucon jorok tentang kami. Sekotor apapun itu, sejelek apapun cemooh, toh itu tetap rumah saya. Sejumput garam yang dari surga" Saya terdiam. Teman saya, lagi-lagi, benar.
 

Jadwal Salat