• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

Apa kabar museum kita?? (bagian 2)

on . Posted in Catatan Kaki

Apa kabar museum kita??

Hari ini saya baru saja pulang habis menyasarkan diri, kalau kesasar kan tidak disengaja, nah ini disengaja, di Taman Mini Indonesia Indah. Awalnya saya berencana ke Museum Nasional, tapi ketika melihat angkutan 19 Depok-TMII ngetem di depan Gunadarma, tanpa pikir panjang saya segera naik. Rupanya saya salah. Supir angkutan itu benar-benar penipu. Ketika saya tanya “Bang Taman Mini??”, dia jawab “Iya”. Rupanya dia tidak belok ke TMII, malah langsung ke Kampung Rambutan balik ke Depok. Sungguh menyebalkan. Akhirnya kepada taksi pula lah saya berpaling.

 

Tiba di TMII, saya belum memutuskan hendak ke mana. Akhirnya di menit terakhir, ketika supir taksi sudah bertanya kedua kalinya, saya menjawab Taman Tionghoa. Harus saya akui, taman itu sangat menawan. Udara panas berpadu dengan koleksi patung-patung menawan. Hm. Layak lah untuk dikunjungi. Tak lama setelah saya datang, muncul rombongan dari stasiun TV swasta, rupanya mereka hendak syuting. Langsung saja mereka menggelar set, ruang make up dadakan, dan tiba-tiba suasana riuh. Ketenangan saya pun sirna. Saya akan melanjutkan perjalanan.
 
Kemana ya?? Saya memilih 3 museum: Museum Perangko, Museum Pusaka, dan Museum Indonesia. Satu hal yang pasti: semua museum itu sedang kosong melompong. Tidak ada pengunjung kecuali saya. Ahai, sangat menyenangkan, sendirian di museum. Namun terdapat satu masalah utama: museum yang saya kunjungi, tidak hanya kosong, tapi nyaris temaram.
 
Museum Perangko, bagi saya, adalah yang paling menyedihkan. Hanya beberapa titik lampu di langit-langit yang menyala. Lampu display sebagian mati. Bahkan pendingin ruangan pun tidak menyala. Alhasil, saya pun kipas-kipas dengan kipas merah raksasa yang saya beli di taman budaya Tionghoa. Petugas museum, melihat saya kipas-kipas, langsung tergopoh-gopoh. Saya pikir mau menyalakan AC, rupanya mereka mengambil kipas angin dari gudang. Alamak. Sungguh prihatin saya dibuatnya.
 
Museum Pusaka, sedikit lebih baik, namun tetap menyedihkan. Memang sebagian lampu di lantai 1 menyala, namun lantai dua sangat temaram. Barangkali memang disengaja. Pernah kah anda berkunjung ke Museum Pusaka?? Datang lah. Anda akan merasa waktu seakan berhenti di sekeliling anda. Samar tercium aroma damar dan cendana, karena sebagian pusaka keris dan tombang dibuat dari kayu beraroma. Namun sumpah, saya merasakan aroma dupa. Barangkali saya berhalusinasi, sebab ruangan display ruangan ini memang temaram, hanya mengandalkan lampu dari area display saja.
 
Museum Indonesia, bagi saya, sedikit dari museum yang ada di Jakarta yang sangat nyaman. Alasannya sederhana: pendingin ruangannya berfungsi sangat baik. Displaynya pun baru. Terakhir kali saya kemari dua tahun lalu, museum ini nampak kotor. Namun sekarang, harus saya akui, saya terkesima. Tapi satu hal menarik di museum ini: kalau mau foto-foto, selain pake kamera hape, harus tambah bayar Rp.5000, artinya saya membayar Rp. 15.000 untuk tiket dan untuk foto-foto. Tidak mengapa sebab memang sangat layak.
 
Selepas dari Museum Indonesia, sudah zuhur, dan saya pun melaju ke masjid yang memang dekat dari sana. Lama saya berpikir. Mengapa museum di Indonesia tidak pernah ramai pengunjung? Bahkan untuk kunjungan yang tidak serius sekalipun?
 
Saya pikir, jika dibandingkan dengan anjungan daerah yang sangat terawat, museum-museum di Taman Mini Indonesia Indah sangat terlupakan. Museum-museum itu kesepian. Sungguh saya amat prihatin dengan minimnya dana yang dimiliki museum untuk perbaikan diri. Kalau saya boleh kalkulasi, biaya masuk museum sesungguhnya tidak pernah membuat kantong kempes tiba-tiba. Museum Perangko mematok biaya Rp.5.000, Museum Pusaka Rp.7.000, dan Museum Indonesia Rp.10.000. Sungguh harga yang rasional. Namun saya pikir, tentu pihak museum tidak cukup hanya mengandalkan tiket masuk untuk perawatan, belum termasuk gaji pegawai. Tidak mengherankan sesungguhnya, jika museum-museum yang memiliki halaman luas kemudian mengkomersilkan ruang yang mereka miliki. Museum Perangko misalnya, harus menyewakan area tamannya untuk satu acara demi mendapatkan pendapatan tambahan, bahkan Museum Purna Bakti Pertiwi, secara terang-terangan mengiklankan ruang terbuka mereka untuk resepsi perkawinan.
 
Berbanding terbalik dengan anjungan daerah yang memang didesain sebagai area kultural sehingga kegiatan ekonomi memang dimungkinkan, nasib museum-museum ini sangat mengenaskan. Saya berpikir, apa kah dengan tumbangnya Soeharto membawa pengaruh signifikan pada museum-museum ini? Dengan hilangnya patron utama maka TMII mulai kekuarangan uang untuk merawat fasilitas yang mereka miliki? Jika iya, sungguh saya sangat kecewa. Sebagai area edukasi, seharusnya museum dibuat gratis dengan fasilitas yang sangat memadai. Harus ada standardisasi, misalnya, harus ada pendingin ruangan, kecuali kalau museum itu memang dirancang berada di luar ruangan seperti Museum Taman Prasasti atau memang ruang terbuka dengan ventilasi yang besar-besar seperti Museum Sejarah Jakarta. Lha kalau Museum Perangko, yang didesain segi delapan dengan hanya pintu masuk tanpa jendela?? Mereka hanya mengandalkan kipas angin?? Bahkan Museum Pusaka, dengan desain yang hampir sama, tidak menawarkan sedikit pun kesejukan. Sungguh terlalu. Oke lah pengunjung dibebankan biaya. Namun sangat tidak masuk akal jika hanya mengandalkan tiket masuk untuk perawatan dan operasional museum.
 
Saya menyadari, museum masih menjadi anak tiri, kalau tidak mau dibilang anak haram, dari kekuasaan. Sebagai anak tiri, mereka mendapatkan perhatian dari orangtua kandung mereka. Pemerintah, entah pemerintah pusat, entar pemerintah DKI Jakarta, atau entah pengelola TMII, bagi saya, lepas tangan dalam pengelolaan museum-museum ini. Bayangkan, di Museum Perangko atau Museum Pusaka, sawang berserakan di sudut-sudut ruang. Bagaimana mungkin mau menjamu tamu yang berkunjung jika dilihat sepintas ruang museum tanpak tidak menarik untuk dikunjungi.
 
Di sisi lain, pengunjung pun memainkan peran penting. Barangkali karena saya datang di hari kerja, sehingga TMII memang sepi. Berbeda dengan hari libur atau sabtu-minggu, yang memang menjadi hari yang sangat ramai bagi TMII. Benarkah keramaian itu berimbas ke museum? Saya ragu. Saya pernah tuh datang ke museum pada hari minggu, tetap saja sepi, walaupun tidak sesepi hari ini karena saya satu-satunya pengunjung. Orang Indonesia masih memandang remeh museum. Seakan pergi ke museum sama seperti pergi ke kuburan, kalau tidak dipaksa mereka tidak akan mau, rasanya kuburan saja masih lebih ramai ketimbang museum. Saya bahkan berani bertaruh, kalau sebagian besar kita menempatkan museum sebagai penghuni paling akhir dari daftar rencana kunjungan ketika libur.
 
Ingatan saya kembali ke beberapa bulan lalu, ketika berkunjung ke Museum Nasional, tiga rombongan anak SD, berlari-larian di lorong museum, sibuk mencatat. Bukan karena mereka serius ingin belajar, tapi karena mereka diwajibkan mencatat daftar benda koleksi yang mereka amati. Saya setuju dengan Mahfud MD, bahwa pendidikan di Indonesia hanya membuat orang pintar, namun tidak berempati. Kita tidak pernah merasa perlu untuk menengok masa lalu hanya karena kita merasa telah mempelajari masa depan. Sistem pendidikan kita begitu rusaknya, sehingga menjadikan museum sebagai objek tambahan. Dalam sistem kurikulum, yang katanya, berbasis tingkat satuan pendidikan, museum dianggap salah satu cara pembelajaran. Hanya itu. Datang ke museum. Catat ini itu. Selesai.
 
Apa kabar museum kita? Ah, rasanya saya akan terus bertanya. Semakin saya bertanya, semakin saya menyesal telah bertanya. Rupanya museum kita tidak kemana-mana. Mereka diam. Seiring berjalannya waktu, matahari pun tergelincir ke peraduan. Kala telah memakan surya. Celakanya, kala pula lah yang telah memakan keinginan kita untuk belajar. Maka senjakala museum-museum di Indonesia nampaknya tidak terhindari. Hanya segelintir orang yang tetap mempertahankan harapan, bahwa museum bukan lagi gudang menyimpan benda dari masa lalu. Berdebu. Membatu. Terlupakan.
Ah, saatnya pulang. Mumpung masih sore. Jalanan belum macet.

Jadwal Salat