• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

Apa kabar lagu anak Indonesia?

on . Posted in Catatan Kaki

Apa kabar lagu anak hari ini? Rasanya saya enggan bertanya, sebab saya tahu, dan sungguh saya khawatir, atas jawabannya. Jawabannya sederhana: layu dan perlahan mati. Teman saya berkata, apa indikatornya? Bagi saya sederhana, lihat lah pengamen jalanan anak. Pernahkah anda mendengar pengamen jalanan, yang anak-anak lho ya, mendendangkan lagu anak-anak? Katakan lah ambilkan bulan? Saya sih tidak.

 
Sepanjang dua tahun ini, saya selalu komutar Bekasi-Depok, saya telah mendengar ratusan pengamen, lalu lalang, naik turun, bernyanyi dengan suara pas-pasan (beberapa bahkan tidak menyanyi tapi merampok [bagi saya meminta dengan memaksa adalah perampokan]), dengan ratusan lagu. Namun semua lagu itu berada dalam domain yang sama: lagu yang dibawakan terlalu dewasa untuk usia mereka.
 
Sebagaimana hari biasa, hari ini pun sama adanya. Seorang pengamen cilik naik di PATAS 84 yang membawa saya ke Depok. Namun satu hal yang membuat saya ternganga, heran bercampur jijik, pujian bercampur celaan. Untuk kali pertama, saya mendengar seorang pengamen anak yang bersuara merdu, dalam pengertian yang sebenarnya. Namun lagu yang dibawakannya sungguh membuat merana, miris, dan berduka: Belah Duren. Astaga, ingin rasanya saya menyumbat telinga saya rapat-rapat.
Jika lagu pertama membuat saya berduka, maka lagu kedua membuat saya merana: cinta satu malam; lagu ketiga membuat saya meringis: apa tuh yg liriknya “you are beautiful, beautiful...” (kalau ga salah sih Cherry Belle); lagu keempat membuat saya sakit hati: ada cinta sm*sh (aslinya saya suka lagu ini ketika dibawakan oleh Bening, tapi tidak dengan versi baru)
Duh, Gusti nyuwun ngapura. Apa salah hamba.
Sungguh saya berduka, dalam duka yang sedalam-dalamnya. Bagi teman saya, sikap saya sangat mengherankan. Bagi teman saya, saya adalah orang yang paling cuek dan seringkali sarkastik dalam melihat lingkungan sosial saya. Maka sikap duka saya adalah sebuah anomali.  Biar lah pikir saya. Toh saya sedang berduka. Maka anomali adalah sebuah kewajaran.
Barangkali teman saya benar, bahwa para pengamen pun menyesuaikan dengan selera pasar. Maka lagu yang mereka bawakan adalah lagu yang diterima pasar. Namun argumentasi itu bagi saya tidak lah masuk akal. Andaikata, para pengamen itu menyanyikan lagu yang memang seusia dengan mereka, bukan kah akan menarik simpati lebih banyak?? Saya siap menjadi orang pertama yang membayar lebih untuk lagu tersebut. Tapi persoalannya adalah, saya belum menemukan pengamen jalanan tipe itu.
Teman saya, yang temperamennya sama dengan saya, tak mau kalah. Dia bilang alasan saya memilih pengamen jalanan sebagai indikator keliru. Tidak valid. Tidak reliabel. Bagi saya, konklusi teman saya, bahwa pengamen menyesuaikan dengan selera pasar pun tidak valid dan reliabel. Sebab bagi saya, argumentasi itu terlalugambling bahkan mengada-ada. Benarkah pasar mampu mendikte pengamen jalanan untuk memilih lagu apa yang mereka nyanyikan? Bagi saya, jauh lebih masuk akal jika pengaruh pasar terhadap pengamen adalah karena tidak ada lagu anak-anak yang dijual pasar dan dapat dinikmati semua orang.
Saya bertanya ke teman saya, jika pengamen jalanan, yang anak-anak adalah indikator yang keliru, lalu apa indikator yang tepat?? Anak-anak dalam konteks luas? Atau anak-anak dari golongan menengah atas?? Saya rasa sama saja. Tidak banyak anak yang menyanyikan lagu anak-anak karena memang lagu anak-anak tidak laku di pasar. Tidak banyak penyanyi anak-anak yang lagunya booming di pasar: rajin diputar di televisi, akrab di telinga, dan untung luar biasa dalam penjualan cakram digital.
Lagi-lagi teman saya protes. Katanya, Umay adalah contoh yang sangat baik mengenai penyanyi lagu anak-anak dalam konteks pasar. Benarkah? Apakah kita semua tahu lagu Umay?? Saya dengan berat hati mengakui, bahwa saya sama sekali tidak tahu lagu yang dibawakan Umay. Lagu anak terakhir yang saya dengar berasal dari Tasya. Sesudah itu tidak ada.
Terus terang saja, saya merindukan satu masa dalam memori saya, di mana saya mendengarkan lagu anak-anak dengan hati riang. Bukan berarti masa itu sekarang tidak ada, hanya saja, masa itu tidak lagi mudah ditemukan. Anak-anak di sekitar bekas kos saya di Surabaya, lebih akrab dengan lagu Peterpan ketimbang AT. Mahmud. Bahkan anak-anak di sekitar kos saya di Depok, lebih ahli menyanyikan lagu boyband dan girlband ketimbang lagu Indonesia Raya, apalagi lagu anak-anak. Mereka lebih hapal syair kacangan di luar kepala ketimbang Pancasila (saya memang bukan penggemar Pancasila atau Orde Baru, namun jika anak-anak lebih hapal lagu dewasa ketimbang Pancasila jelas ada yang salah), apalagi dibandingkan lagu anak-anak.
Ingat kah anda lagu “pada hari minggu ku turut ayah ke kota...”?? Anak ibu kos saya tidak tahu lagu itu, bahkan ibunya pun tidak tahu. Anak ibu kos saya lebih hapal lagu Ello, Vidi Aldiano, Armada atau Afgan di luar kepala. Anak ibu kos saya lebih senang belajar lagu boyband ketimbang belajar lagu tradisional dan lagu anak-anak.
Bagi saya, jelas ada yang salah. Memang lagu pada hari minggu itu tidak lagi valid. Mana ada delman di Jakarta hari ini? Hari minggu pula. Cuma di Monas delman berkeliaran. Maka lagu itu pun kehilangan pesonanya. Namun bagi saya, hilangnya pesona lagu itu bukan pada delman yang menghilang, namun pada orang dewasa yang memilih melupakan lagu itu dan tidak mewariskan ke anak-anak.
Maka saya pun sedih berkelanjutan. Bagi saya, ketika anak-anak sudah melupakan keriangan lagu anak-anak, maka dia telah kehilangan masa kanak-kanak tersebut. Tercerabut dari usia mereka, terlempar ke dunia dewasa, yang bahkan mereka belum mengerti dunia tersebut. Terancam di tengah gerombolan serigala lapar dan serakah, pengusaha media televisi yang lebih senang memutar dan mengundang penyanyi karbitan, ketimbang mengundang penyanyi anak-anak. Hilang di tengah rimba musik yang menomorbuncitkan lagu-lagu yang mendidik.
Maka kesedihan saya pun seakan tak berujung. Saya ingin mendengar, seorang anak yang menyanyi dengan riang lagu anak-anak. Saya ingin mendengar, entah itu pengamen jalanan, anak-anak yang ada di sekitar saya, maupun anak-anak lain pada umumnya, yang tidak lagi terperangkap pada busuknya sampah musik, yang dengan senang menyanyikan lagu yang memang diperuntukkan bagi mereka.
Duh, Gusti nyuwun ngapura. Apakah keinginan saya ini berlebihan?
 

 

 

 

 

Jadwal Salat