• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

Balada guru bimbel, bagian 2

on . Posted in Catatan Kaki

Hari ini saya berpikir ulang mengenai apa sebenarnya guru itu. Dahulu saya berpikir, bahwa guru hanya lah sosok yang memiliki satu tugas pokok: masuk kelas dan mengajar. Hanya itu. Tidak lebih. Tidak kurang. Namun sejak saya diberi amanah untuk membantu mengisi bimbingan belajar sosiologi, memang bukan keilmuan saya, bagi kelas XII, setiap tahunnya saya semakin memahami apa hakikat guru itu.

Pada tahun pertama saya belajar, bahwa guru adalah sosok yang dianggap mahatahu atas segala sesuatu. Saya tergagap ketika saya pertama kali mengajar, saya menyadari bahwa saya tidak banyak tahu tentang pelajaran yang saya ampu. Awalnya saya berpikir, ah sosiologi dan antropologi kan saudara, maka saya dengan kelewat percaya diri mengiyakan permintaan mengisi bimbel. Ternyata saya salah. Amat keliru. Materi sosiologi, bahkan untuk siswa MA ternyata sangat rumit. Belum lagi dengan adanya berbagai materi pokok yang harus saya ajarkan selama sepuluh pertemuan.
 
Pada tahun pertama saya belajar. Banyak belajar. Saya membaca ulang semua bahan sosiologi, dari kelas X sampai XII. Saya mulai memetakan masalah-masalah. Pembahasan yang sedemikian ruwet harus diatur, disusun, dan diperdalam. Saya menyadari sepenuhnya, itu adalah tugas guru. Maka saya pun memahami. Menjadi guru adalah menjadi sosok yang bertanggungjawab atas bidang yang dia ajarkan. Sebelum menyampaikan kepada para siswa, guru harus terlebih dahulu tahu apa yang akan dia sampaikan (saya bahkan teringat kebiasaan ibu saya yang selalu belajar terlebih dahulu sebelum dia mengajar di berbagai tempat).
 
Pada tahun kedua saya belajar, bahwa sosok guru bukan hanya sosok yang dianggap mahatahu, namun juga sosok yang bertanggungjawab membawa pengetahuan dari langit ke bumi. Awalnya saya berpikir, barangkali karena kesombongan akademik saya, saya tidak terlalu memperdulikan bahasa yang saya pergunakan. Sampai pada satu ketika, seorang peserta bimbel bertanya di luar kelas, dia tidak mengerti apa yang saya jelaskan.
 
Ah, celaka. Sungguh celaka. Guru macam apa saya. Menjelaskan interaksi sosial saja tidak becus. Saya pun berpikir, jangan-jangan bimbel tahun lalu pun saya melakukan kesalahan yang sama. Sungguh saya minta maaf kepada mantan murid-murid saya atas kebodohan saya. Saya lupa, mengajar anak SMA tidak lah sama dengan berdiskusi dengan kolega saya di pascasarjana. Istilah-istilah akademis yang selama ini saya telan mentah-mentah rupanya telah saya paksa untuk ditelan oleh murid-murid saya.
 
Tahun kedua saya belajar, bahwa tugas transfer pengetahuan ada di tangan guru. Ibarat wahyu dari langit, guru lah yang menyampaikan. Guru lah yang bertugas untuk membawa pengetahuan, kebenaran, kepada semua orang. Maka saya pun menyadari, agar transfer pengetahuan tersebut berjalan sempurna, harus berjalan dalam frekuensi yang sama. Guru dan murid harus bicara dalam nada yang sama.
 
Tahun ketiga adalah musibah bagi saya. Tahun ini adalah tahun ketiga. Saya berharap banyak tahun ini, aslinya, karena saya pikir saya telah belajar dua hal penting sepanjang dua tahun sebelumnya. Namun tahun ketiga ini pun saya belajar. Bukan semata belajar tentang apa yang akan saya ajarkan, atau bagaimana saya menyampaikan materi. Tahun ini saya belajar tentang kedirian seorang guru. Tentang menghormati guru. Tentang menghargai guru.
 
Saya harus akui, kejadian bimbel tahun ini barangkali adalah refleksi dari bagaimana relasi saya dengan guru-guru saya. Ketika sekolah dahulu, saya memang bukan murid yang baik. Saya tidak pernah terlalu penurut terhadap petuah guru saya. Maka ketika saya dicuekin oleh peserta bimbel, sungguh saya terdiam. Saya mengalami déjà vu. Astaga, ternyata apa yang dulu pernah saya lakukan, sekarang terjadi pada diri saya.
 
Saya menyadari sepenuhnya, saya bukan lah guru yang baik. Guru, katanya, merupakan sosok yang digugu dan ditiru. Apakah saya sudah menjadi contoh bagi murid saya? Saya dengan sengaja telah mengaburkan batasan formal, yang selama ini dijaga ketat dalam lingkungan pendidikan tempat saya berada, antara guru dan murid. Saya tidak pernah menerima cium tangan, toh karena saya memang bukan mahram mereka, juga karena saya risih dengan hal itu. Saya bahkan enggan menganggap mereka sebagai murid, karena saya sendiri tidak pernah menganggap diri saya sebagai guru. Apakah saya telah menjadi contoh yang baik?
 
Demi Allah saya tidak tahu. Tentu saja memberikan penilaian terhadap diri sendiri adalah tindakan tidak patut, setidaknya itu pendapat saya. Orang lain lah yang menilai. Rupanya nilai saya di mata para peserta bimbel tidak lah baik. Dua minggu sudah saya melewati ambang toleransi saya. 15 menit boleh terlambat. Alangkah baiknya saya, begitu saya pikir. Ketika saya memberikan keleluasaan bagi mereka, setidaknya saya berharap ada rasa tanggungjawab, meskipun sedikit. Tapi ah, barangkali memang salah saya. Saya tidak menganggap mereka sebagai murid dan saya pun tidak menganggap sebagai guru (dengan segala wewenang yang dia punya), dan rupanya mereka berpikir hal yang sama. Lama saya berpikir, apakah saya marah terhadap perilaku mereka?? Jika dibandingkan dengan apa yang pernah saya lakukan, tentu tidak patut saya marah. Maka saya katakan pada diri saya sendiri kalau saya tidak lah marah. Lebih tepat kiranya, jika dikatakan saya kecewa. Hanya itu. Semoga.
 
Tahun ketiga ini membawa pemikiran baru bagi saya. Guru bagi saya adalah manusia. Saya melupakan aspek fundamental ini. Saya melupakan bahwa guru pun bisa sakit hati. Maka itu, saya meminta maaf secara terbuka pada semua guru-guru saya atas perilaku saya. Sungguh saya belajar, bahwa menjadi guru adalah tugas yang tidak ringan. Sungguh saya belajar untuk lebih menghargai dan menghormati para guru. Siapa pun dia.
 
Terlepas dari itu semua, peristiwa dicuekinnya saya selama dua minggu berturut-turut membuka satu pertanyaan mendasar: masih pantas kah saya mengajar mereka? Barangkali tidak. Lagi-lagi karena kebodohan saya. Mereka berhak mendapatkan guru yang jauh lebih baik dan jauh lebih tidak temperamental. Maka saya kembali meminta maaf kepada pihak sekolah. Bahwa saya tidak lagi mampu menyelesaikan amanah yang diberikan. Lagi-lagi karena kebodohan saya.

Jadwal Salat