• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

stupid boys versus stupid girls, saya sendiri?

on . Posted in Catatan Kaki

Saya selalu berpikir bahwa penggila boysband adalah anak perempuan. Persoalannya sederhana, lihat saja televisi kita yang menampilkan pada boysband itu, siapa yang paling depan dan berteriak paling kencang? Ya, segerombolan gadis-gadis muda. Namun pikiran awal saya itu salah dan logika saya tiba-tiba terbalik 180 derajat.

 
Alkisah, teman kos saya, mahasiswa baru di Gunadarma datang bersama teman-temannya. Teman saya bilang ke temannya “eh lihat deh, gayanya keren ya??”, dan temannya menyahut “iya, keren mampus!!!”. Karena penasaran, saya mengalihkan pandangan saya ke arah teman kos saya itu, dan jatuh lah buku yang saya baca. Teman kos saya, dan teman-temannya, yang kebetulan cowok semua, sedang melihat majalah remaja dan menunjuk penampilan dari boysband yang tenar (saat ini): si cenat-cenut. Astaga.
 
Apa yang ada dalam pikiran mereka ya (si teman saya itu)? Sama sekali saya tidak bertujuan mencari tahu apa yang ada dalam pikiran si boysband itu. saya pikir buat apa, toh hanya buang waktu saja memikirkan mereka. Ideologi kapitalis dalam media kita dengan sengaja menyuguhkan kita sebuah gambar industri musik di Indonesia, di mana para penyanyi lipsync tiba-tiba terkenal dan mukanya ada di mana-mana. Bagi saya ini masalah pilihan. Saya tidak suka melihat penyanyi yang cuma modal tampang. Saya tidak suka penyanyi yang TIDAK BERNYANYI ketika di atas panggung. Bagi saya itu sampah. Itu pilihan saya. terserah anda.
 
Kembali ke soal teman kos saya. Saya semakin terkaget-kaget ketika temannya bilang ke teman saya itu, kalau dia mau juga tindik di telinga, dan celakanya hal ini diamini pula oleh teman saya. Buat saya sah-sah saja. Namun entah bagaimana, logika awam saya menolak orang ingin melakukan tindik (atau tato) hanya untuk mengikuti contoh dari idolanya. Saya punya banyak teman yang memiliki tindik dan/atau tato. Terus terang saya salut, sebab saya sendiri tidak pernah memiliki keberanian untuk melakukan itu. Di mata saya, tindikan dan tato yang mereka punya itu keren, sebab mereka lakukan bukan untuk mencontoh idola mereka. Sepengetahuan saya, tindikan dan tato mereka adalah kemauan mereka sebagai representasi atas diri mereka sekaligus menunjukkan bahwa mereka mampu melawan rasa sakit dan memiliki kuasa atas diri mereka masing-masing.
 
Barangkali karena hal itu lah logika awam saya menolak keinginan teman saya itu. Bagi saya, mereka yang cuma modal tampang dan suara pas-pasan dijamin tidak akan lama dalam industri hiburan di Indonesia. Kecuali kalau mereka secara berkala membuat kontroversi yang akan membuat media terus menyebut nama mereka. Hal ini buat saya menyedihkan. Apa yang ada dalam pikiran orang lima puluh tahun yang akan datang melihat pemberitaan saat ini.
 
Saya menyebut mereka sebagai stupid boys. Bagaimana mungkin, mereka yang dengan segala kebodohan yang ada tampil sebagai panutan? Ibu kos saya adalah pencinta gosip, dan dari dirinya saya tahu bahwa, di dalam berita gosip tentu saja, salah satu personel boysband ada yang meninggalkan dunia akademik dan beralih ke jalur entertainmen. Astaga. Sungguh saya tidak dapat berpikir jernih mengenai hal ini.
 
Di saat ribuan orang membuang cita-citanya untuk melanjutkan pendidikan karena masalah keuangan, mereka melakukan hal yang sama, namun dengan kebodohan yang berbeda. Mereka menolak untuk melanjutkan akademik mereka karena tawaran untuk manggung menghabiskan seluruh hari dalam kalender mereka. Ini sih sama saja dengan kejar setoran. Bahwa mereka menyadari sepenuhnya, bahwa bisnis hiburan di Indonesia bukan lah profesi seumur hidup bagi mereka. Bahwa mereka tahu kalau mereka tidak mungkin digemari sepanjang masa. Maka, selagi mereka masih diterima pasar, mereka mengeksploitasi pasar (atau mereka dengan gobloknya berpikir bahwa mereka mengeksploitasi pasar bukan sebaliknya) semaksimal mungkin. Maka saya pun berpikir tentang teman kos saya ini dan berkata dalam hati saya, “ah itu mah biasa, namanya juga ABG”, karena saya sadar, saya bukan ABG lagi hehehehehe.
 
Di saat saya sudah berdamai dengan hati saya, sebuah peristiwa lain datang. Di saat saya sedang menunggu pesanan minuman saya. Segerombolan mahasiswi datang, dan tiba-tiba seorang temannya berkata “Eh lo ada saran ga biar Ardi mau jadian sama gue??”, si temannya dengan serius berkata “harusnya lo rayu dia pake tanktop merah lo itu”, dan dia menjawab “iya kali ya, gue coba ah”, dan teman lainnya menimpali “iya, cuma cowok bego yang bakal nolak, kan seksi banget”, dan mereka tertawa-tawa. “Hah!?!” Pikir saya. Astaga.
 
Izin kan saya menyebut mereka stupid girl. Gadis bodoh yang berpikir bahwa besarnya payudara dan kencangnya bokong dapat membuat laki-laki tunduk dan taat. Maka lagi-lagi saya menyalahkan media. Apa yang mereka tonton sehingga mereka jadi bodoh seperti itu? Saya yakin orangtua manapun tidak ada yang mengajari anaknya untuk merayu laki-laki dengan pakaian ketat dan transparan. Bagaimana pun saya pikir ada batasan, walaupun tidak selalu jelas, antara seksi dengan “seksi” (dengan konotasi merendahkan tentu saja).
 
Entah apa yang ada dipikiran mereka. Namun saya teringat lagu dari P!nk, Stupid Girl. Ah ya, sama persis dengan mereka. Gadis yang melupakan ambisinya untuk menjadi diri yang pintar, diri yang cerdas, diri yang bermartabat. Namun mereka mengunci diri tersebut dalam relung gelap kamar mereka. Terkunci rapat bersama dengan buku dan diktat. Dan aura kebinalan pun mencuat. Saya akui, saya bukan lah laki-laki hipokrit yang membenci segala sesuatu yang seksi. Bagi saya, selama berada dalam koridor yang benar, seksi bisa muncul di mana saja. Anda toh tidak mungkin berjalan di siang hari di Depok yang panas hanya mengenakan bikini saja bukan?
 
Lalu saya tersadar. Saya terlalu silau dengan orang-orang bersinar di sekeliling saya. Makhluk-makhluk berkilauan yang seakan malaikat yang turun dari langit. Sosok-sosok yang muncul dan mengusir gelap dari sekeliling saya. Para kerabat, teman, kolega maupun guru saya. Saya begitu tersihir oleh keberadaan mereka sehingga saya lupa, bahwa di sekeliling saya, masih banyak orang yang seperti saya. Masih mencari siapa diri mereka masing-masing. Saya bukan lah orang yang angkuh dan berkata bahwa saya sudah menemukan jati diri saya. Saya adalah diri yang sedang berproses, begitu pun mereka.
 
Melihat sosok-sosok tersebut, saya terlupa, bahwa di sekeliling saya, banyak stupid boys dan stupid girls. Termasuk diri saya sendiri. Maka saya mencela diri saya sendiri. Bagaimana mungkin saya membenci sepenuhnya media di Indonesia jika saya sendiri menikmati media itu? Alangkah munafiknya saya mencaci para bintang media di saat saya sendiri menikmati kehadiran mereka? Maka saya pun mulai mengkategorikan diri saya, apakah saya termasuk dalam stupid boys? Astaga. Ternyata iya. Dengan besar hati saya akui, terkadang saya pun terlarut dan masuk dalam kelompok yang saya cela habis-habisan.
 
Barangkali ini adalah ajang katarsis bagi saya. Saya mengakui dosa besar saya. Bahwa saya selingkuh dengan media. Bahwa saya, benci tapi mau atau malu tapi mau terhadap media. Saya memang membenci para boysband (dan girlsband) yang hanya bermodal tampang, namun kebencian saya toh tidak lah universal. Saya mengakui bahwa saya pun senang mendengar beberapa lagu dari boysband (asal luar tentu saja, untuk urusan ini saya lebih suka produk impor) yang saya anggap lebih mudah dicerna. Maka maafkan kalimat awal saya dalam catatan ini. saya begitu terbawa emosi sehingga saya lupa berkaca, bahwa saya pun masuk dalam kategori stupid boys, bahkan lebih stupid lagi, karena saya lah yang membuat kategori tersebut.
 
Maka lagi-lagi saya berdamai dengan hati saya. Bernegosiasi dengan diri dengan berkata, bahwa saya pun pernah berpikir untuk melakukan tindik (hanya untuk memenuhi hasrat diri) atau pun tato (hanya untuk kesenangan tubuh saja). Saya pun kemudian berpikir, barangkali saya pun akan bertekuk lutut di hadapan perempuan dengan tanktop merah ketat dengan gincu menyala (siapa tahu kan). Maka saya pun berpikir bahwa saya sudah tidak lagi terjerat dalam jaring media, yang mengkultuskan apa yang kita anggap keren dan seksi, namun saya sudah tenggelam, jatuh sejatuh-jatuhnya. Tenggelam tanpa pernah melawan.
 

Jadwal Salat