• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

"Maaf, anda gay ya??", Part 3

on . Posted in Catatan Kaki

Apa reaksi anda jika seseorang, yang tidak anda kenal, tiba-tiba bertanya di muka umum, apakah anda gay atau tidak. Alamak. Bikin panas-dingin, mengutip Syahrini, cetar membahana badai hehehehe. Sesungguhnya saya tidak tahu mengapa saya selalu berhubungan dengan kelompok ini. Pertanyaan tersebut adalah kali ketiga saya ditanya, dan ketiganya selalu di tempat umum dengan suara nyaris berbisik.

Jika pertanyaan pertama saya dapatkan di Surabaya dan pertanyaan kedua di angkutan umum menuju Depok, maka pertanyaan ketiga ini saya dapatkan di Commuter line dari Manggabesar ke Bekasi. Commuter line itu nyaris kosong. Di kursi panjang itu hanya ada saya, dan dua orang di depan saya. Orang itu, yang bertanya ke saya, naik dari Manggarai, sama dengan saya. Pada awalnya saya menyadari, bahwa saya merasa diamati. Pernah kah anda merasakan hal itu? Serasa dipandang oleh tatapan orang yang penasaran?

 
Barangkali saya yang terlalu berlebihan. Narsisme saya tidak segera menghilang, justru semakin menjadi ketika ada satu orang yang mendekati saya. Hahahaha... Sungguh saya bingung. Orang itu akhirnya duduk di samping saya. Dan pertanyaan itu pun meluncurlah.
 
Saya bingung. Boleh lah saya katakan, berdasarkan pengalaman, saya cukup bisa membedakan antara gay dan straight. Barangkali saya terlalu berprasangka, namun saya jarang keliru. Laki-laki itu jelas, dalam pandangan pertama, tidak masuk dalam kategori gay. Perlu saya jelaskan dulu, jangan pernah menuduh laki-laki yang melambai sebagai gay, karena itu prasangka yang acapkali keliru. Saya berpikir, apa yang diajarkan pengalaman sehingga saya bisa membedakan, walaupun tidak selalu benar, mereka yang straight maupun yang gay.
 
Saya belajar, bahwa teman-teman saya yang gay memiliki jenis wajah yang berbeda dengan teman-teman yang straight. Barangkali konsep survivor of the fittestbenar, karena bersaing untuk saling berebut perempuan, lelaki straight selalu meminculkan wajah relatif tegas dan sangar. Bukan jenis wajah preman, namun penampilannya jelas. Teman-teman saya yang gay, seluruhnya berwajah relatif lurus (hahahahaha lurus) dan lembut. Mereka tidak pernah secara serampangan mengumbar feromon di muka umum.
 
Saya belajar, teman-teman saya yang straight tidak pernah berpenampilan gemerlapan dan berlebihan. Mereka cenderung suram. Jeans butut agak gelap (tidak harus hitam lho ya), kaos gelap (dominan hitam), aksesorisnya pun cuma jam tangan atau cincin. Teman-teman gay saya, selalu tampak fashionable, walaupun dalam selera saya agak berlebihan (maaf ya guys). Baju warna-warni, acapkali tabrak warna (terkadang sangat luar biasa), aksesoris bling-bling, dan terkadang aroma parfum yang meruap, celakanya jenis aroma yang saya suka hehehehe. Saya tidak tahu apakah ini benar atau tidak, bahkan di antara teman-teman gay saya, saya bisa menduga top dan bot. Teman-teman saya ini, meskipun berupaya keras untuk tampil macho, namun tetap ada sesuatu yang "cantik" pada yang mereka kenakan. Boleh saja berpakaian hitam-hitam, tapi dengan sabuk merah atau sepatu kuning.
 
Saya tidak mengerti betul, apakah teman-teman yang gay memang secara ideologis berkarakter feminin? Sungguh saya tidak percaya bahwa maskulinitas adalah domain utama teman-teman straight, namun entah bagaimana, teman-teman gay selalu gagal dalam upaya mereka merebut domain ini. Saya belajar, teman-teman straight saya selalu memunculkan kesan santai dan misterius. Mereka, meskipun tidak selalu, tenang dalam bicara. Suaranya cenderung bass dan tenang, bahkan cenderung stabil. Barangkali ini tendensius, tapi teman-teman gay saya selalu riuh dan berisik. Beberapa teman, terkadang berupaya sekeras yang mereka bisa untuk bicara ngebass dan tenang, tapi tetap saja tidak stabil. Tabiat mereka akan muncul terlebih jika mereka berkumpul dengan teman segank. Bahkan ibu-ibu arisan saja kalah saing. Suara meninggi dan terkadang berbicara dengan nada tidak sabaran. Walaupun demikian, i still love u guys hihihihi.
 
Soal gaya bicara, saya juga sadar, teman-teman gay saya selalu bicara apa adanya. Mereka adalah teman bicara yang baik, namun teman belanja yang sangat menyebalkan. Jika saya suka terhadap satu barang dan meminta saran dari mereka, mereka akan bicara apa adanya. Jelek lah. Ga cocok sama kulit saya lah. Ga sesuai sama postur saya lah. Celakanya, jika saya meminta saran mereka, mereka selalu menyarankan sesuatu yang membuat dahi saya berkerut saking takjubnya. Mereka pun cenderung bicara ceplas-ceplos ketika bicara dengan perempuan. Namun jangan tanya ketika mereka bicara dengan pasangannya. Sangat hangat. Membuat saya iri (^^").
 
Saya belajar, bahwa pandangan mata tidak pernah menipu. Teman-teman saya straight sangat jarang melihat mata saya ketika berbicara dengan saya. Mereka nampak tidak tertarik ketika berbicara dengan laki-laki. Ya mata mereka jelatatan ketika melihat perempuan, tapi jelalatannya, bagi saya, masih sopan. Teman-teman saya yang gay, jangan harap mereka tertarik melihat mata lawan bicara jika anda perempuan, namun kalau ada laki-laki yang masuk dalam tipe mereka, bersiaplah untuk ditinggal bicara xixixixixi.
 
Nah, kembali ke persoalan saya. Saya mikir, apa ya yang menyebabkan saya dianggap sebagai gay?? Gaya pakaian saya kah? Parfum saya kah? Gerak tubuh kah? Atau suara saya? Ah sudah lah. Toh saya mulai terbiasa. Tapi ini yang lebih luar biasa. Dia meminta nomor kontak saya dan pin BB. Saya pun berdalih, bahwa saya baru beli nomor dan tidak hapal nomor saya, pin BB, sori aja, saya masih bergama android. Akhirnya saya yang bilang, saya saja yang minta kontak dia. Alamak. Dia memberikan kartu namanya sambil tersenyum. Hmm.... Untung lah dia turun di Cakung. Tanpa cup-cup muah-muah. Meninggalkan saya yang hanya tersenyum kecut. Bingung harus bereaksi seperti apa. Hahahahahahaha............
 

Jadwal Salat