• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

UN untuk (si)apa? catatan nelangsa guru bimbel

on . Posted in Catatan Kaki

Lima tahun yang lalu, saya mengiyakan ketika untuk kali pertama saya diminta untuk mengajar sosiologi. Istilahnya keren: bimbingan belajar. Apa itu bimbingan belajar? Mengapa perlu bimbingan? Apakah demikian buruknya sampai perlu dibimbing? Ah, pusing. Jangan tanyakan mengapa di namakan demikian, barangkali cuma terdengar keren saja. Pada awalnya adalah petualangan akademik, namun saat ini adalah ritual tahunan yang penuh kebosanan. Sumpah mati saya bosan mengisi bimbel. Teman saya bertanya, mengapa? Ada dua alasan: jenuh dan bosan. 

 
Jenuh karena saya mengajar materi yang sama, berulang-ulang selama bertahun-tahun. Saya membayangkan, betapa saktinya seorang guru beneran, karena saya guru karbitan, yang harus mengajar materi yang sama bertahun-tahun. Tidak ada penambahan yang berarti setiap tahunnya. Pada awal saya diminta, sumpah saya deg-degan. Meskipun antropologi, disiplin ilmu di mana saya dibesarkan, merupakan saudara kandung sosiologi, namun saya menyadari, bahwa pemahaman konseptual saya tentang materi sosiologi tidak lah seberapa.
 
Saya belajar. Sungguh belajar. Apa yang saya pelajari? Saya belajar untuk memahami konsep-konsep dasarnya sebelum saya menjelaskan ke anak didik saya. Apa gunanya saya, sebagai guru bimbel, jika salah menjelaskan materi ke anak didik saya? Alangkah celakanya seorang guru yang salah mengajarkan, membentuk pemahaman, mengkonstruksi pemikiran anak didiknya. Nah, agar tidak terjadi kesalahan, maka saya harus paham sebelum memberikan pemahaman kepada orang lain.
 
Tapi paham saja tidak cukup. Saya harus berpikir, bagaimana caranya menjelaskan sosiologi, sebagai ilmu yang setengah gaib, kepada peserta didik. Saya harus berpikir bagaimana caranya menjelaskan interaksi sosial sebagai sebuah konsep sekaligus sebagai realitas sosial. Setiap peserta didik saya berinteraksi dan berkonflik dengan orang lain, tapi apakah mereka paham apa yang mereka lakukan secara konseptual? Saya ragu. Setiap peserta didik saya berteman dengan orang-orang dari berbagai wilayah dan dengan beragam kebudayaan, namun apakah mereka paham dalam kerangka masyarakat multikultural? Saya ragu. Hal ini mendorong pada alasan kedua saya: bosan.
 
Bosan, karena saya tahu bahwa sosiologi, sebagai cabang keilmuan, adalah anak tiri, kalau tidak mau dikatakan anak haram, dalam sistem pendidikan di tempat saya mengajar. Ko bisa?? Dalam sistem pendidikan yang menganakemaskan pendidikan ilmu agama, ya saya berasal dari lingkungan pondok pesantren, ilmu sosial selalu menjadi anak tiri. Suplemen. Diajarkan syukur, tidak pun rasanya tidak akan ada yang protes. Sosiologi adalah salah satu korbannya.
 
Begini lho ya. Ketika saya pertama kali mengajar bimbel, saya menyadari, bahwa para peserta bimbel sama sekali tidak tahu, celakanya tidak perduli, bahwa mereka sangat terbelakang dalam memahami sosiologi sebagai sebuah cabang keilmuan. Celakanya, setelah lima tahun, ketidakperdulian itu masih ada, bahkan semakin akut. Sungguh saya tidak mengerti, apakah mereka terlalu banyak dijejali materi agama sehingga sudah kehabisan tenaga untuk pelajaran ilmu sosial? Apa jangan-jangan mereka sendiri yang menganggap ilmu sosial tidak penting?
 
Saya belajar untuk memancing motivasi mereka terkait dengan materi sosiologi. Saya mulai mengeksplorasi berbagai isu untuk menempatkan sebuah pemahaman baru mengenai sosiologi dan ilmu sosial pada umumnya. Namun toh usaha saya belum berhasil. Mereka tampak antusias, misalnya, ketika saya mengubah cara mengajar yang kaku dan rigid menjadi model pengajaran yang interaktif. Saya bahkan mengajak mereka menonton film yang berkaitan dengan topik materi. Apakah sukses? Ya sukses menarik perhatian, namun tidak secara pemahaman.
 
Sungguh saya mengalami depresi tingkat tinggi jika berhubungan dengan bimbingan belajar untuk UN. Saya keki berat ketika saya dicuekin oleh murid saya (namun saya ikhlas, saya toh waktu dulu masih santri sering melakukan hal yang sama), namun saya selalu sedih ketika saya sudah menyelesaikan setiap sesinya. Mengapa? Karena saya tahu, pemahaman mereka tentang sosiologi sebelum bimbel dan setelah bimbel tidak banyak bedanya. Terserah anda menyebutnya setengah kosong atau setengah isi. Sama saja.
 
Lalu untuk apa mereka belajar? Ya jelas untuk UN. Gampang. Benarkah? Mengapa perlu merisaukan, atau takut?, UN jika pengajaran sosiologi dilakukan sejak kelas IX? Sungguh tidak masuk akal. Saya semakin senewen ketika berbincang dengan peserta bimbel tentang materi yang saya ajarkan. Apakah betul mereka paham? Apakah betul mereka mengerti? Apakah betul mereka telah siap? Saya ragu.
 
Bagi saya rezim UN sudah membahayakan. Prsetan dengan kecurangan atau pun kisikan jawaban. Rezim UN membawa satu musibah yang tidak pernah kita pertimbangkan: UN sukses mencetak siswa yang ahli menjawab namun enggan untuk bertanya. UN sukses mencetak siswa yang sangat pintar menjawab namun sangat tolol dalam bertanya. Apa indikatornya?? Sepanjang saya mengadakan bimbel, hampir tidak pernah ada yang menyela saya dan bertanya, bahkan untuk pertanyaan yang paling sederhana sekalipun.
 
Faktanya sederhana: saya mengajar dan mereka belajar. Saya ceramah dan mereka mendengarkan. Saya menjelaskan dan mereka mencatat. Lalu apa bedanya mereka dengan, maaf, kuli angkut pelabuhan? Angkat sana. Gotong sini. Taruh di sana. Yang ini bawa ke situ. Perintah saja dan semua beres. Mereka manusia yang punya otak. Manusia yang memiliki kemampuan berpikir. Namun toh mereka sadar, otak cerdas tidak dibutuhkan untuk lulus UN. Apa yang dibutuhkan hanyalah menjawab jawaban benar di antara pilihan jawaban yang memang sudah tersedia. Mereka tidak membutuhkan nalar tinggi untuk menjawab karena memang tidak ditanya. Sesederhana itu.
 
UN pun tidak hanya berbahaya bagi murid, namun juga mencelakakan guru. Saya misalnya, apa bedanya apa yang saya lakukan dengan, maaf, tukang ojek? Apa tugas dasar tukang ojek? Mengantarkan pelanggan ke tempat tujuan secepat dan seefisien mungkin. Sama saja. Saya mengajarkan mereka secepat dan semudah mungkin. Persetan dengan pemahaman konseptual. Persetan dengan metode pengajaran. Tujuannya apa? Agar mereka bisa menjawab soal-soal UN. Sesederhana itu.
 
Untuk kesekian kalinya saya senewen. Saya senewen karena saya menghabiskan delapan kali pertemuan untuk ceramah hal-hal yang saya tahu tidak mereka perdulikan. Mereka cukup merasa tahu cara menjawab dan apa jawaban yang paling tepat. Maka maafkan jika saya bersikap kasar. Bukan berarti saya berputus asa. Sama sekali tidak. Saya hanya berpikir, untuk apa UN itu? Untuk siapa UN itu? Mengapa kita begitu mendewakan UN yang secara nyata membuat setiap peserta didik begitu tololnya sampai membuang semua potensi yang mereka punya? Mengapa kita begitu takut terhadap UN yang membuat setiap kepala sekolah begitu gemetarnya padahal dia tahu bahwa murid-muridnya sangat pintar dan sangat layak lulus? Mengapa kita begitu takut terhadap UN yang membuat setiap wali murid begitu khawatir bahwa anaknya tidak bisa menjawab soal pilihan ganda namun tahu benar bahwa anaknya sangat pandai berdasarkan nilai-nilai rapornya? Sungguh saya tidak tahu.
 
#catatan galau ini ditujukan buat diri sendiri dan para guru bimbel, terutama bidang non agama. Apa yang akan terjadi, terjadi lah. Biar Allah menjadi saksi.
 

Jadwal Salat