• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

Fatin: x factor, emosi keagamaan atau budaya fans?

on . Posted in Catatan Kaki

Sebuah pesan singkat mendarat di ponsel saya sejak subuh hingga siang hari ini. Isinya nyaris sama: entah mendukung atau menolak kemenangan Fatin di kontes X-Factor Indonesia. Saya heran, siapa sih si Fatin itu? Begitu pentingkah dirinya sampai mengganggu teman-teman saya, yang saya tahu persis bukan maniak acara musik begituan?

 
Saya mengikuti X-Factor Indonesia, meskipun bukan penggemar setia acara tersebut. Bagi saya, acara tersebut menarik hanya karena acara tersebut menawarkan sebuah oase dari acara musik sampah yang sudah lama saya tinggalkan atau pencarian bakat yang mulai mencapai titik jenuh. X-Factor Indonesia adalah pelarian saya di malam hari dari himpitan sinetron tidak jelas atau film pocong-pocongan. Saya menonton X-Facator karena saya bosan lihat chanel tipi yang lain. Sesederhana itu.
 
Lalu apa hubungannya dengan Fatin? Kemenangan Fatin sebagai X-Factor Indonesia yang pertama terasa menyentak teman-teman saya. Jujur saja, saya bukan penyuka suara Fatin. Saya lebih suka anak asuh Rossa yang lain: Shena. Tapi itu pilihan. Shena terlempar karena dia kurang dukungan sms. Apa boleh buat, rupanya Fatin mendapat sms terbanyak. Sesederhana itu.
 
Benar kah sesederhana itu? Rupanya tidak. Pesan singkat yang saya terima mulai dari keluhan biasa hingga pada taraf konspirasi. Saya paham bagi mereka yang mengeluh, bagi saya, suara lawannya, Novita Marpaung, jauh lebih matang, sehingga kekalahannya rupanya agak mengejutkan. Saya paham logika teman-teman saya, bahwa remaja bersuara emas banyak bertebaran, remaja perempuan bersuara emas jumlahnya pun cukup banyak, namun remaja perempuan, berkerudung, yang bisa menyanyi, bisa dihitung dengan jari. Fatin adalah salah satunya.
 
Nah, pendapat ini yang buat saya agak konspiratif. Pertama, cara pandang teman saya secara tersirat menyatakan bahwa kemenangan Fatin jelas penuh muatan “politik kerudung”. Istilah ini saya ambil dari sahabat baik saya. Politik kerudung, bagi teman saya, adalah kemahiran Fatin menjual sisi lain di luar suaranya. Pertanyaan teman saya membuat saya berbengong sepanjang pagi: coba sebutkan nama peserta lomba pencarian bakat yang berkerudung dan sampai pada tahap final?? Saya hanya bisa menyebut satu nama: Gita KDI. Gita tidak lain adalah pemenang lomba menyanyi dangdut, dan sama-sama mengenakan jilbab.
 
Jadi, jilbab kah yang membuat Fatin menang? Salah satu faktornya iya. Celakanya saya setuju. Fatin dan manajemen Rossa dengan sangat baik mengelola emosi keagamaan masyarakat Indonesia (baca: ummat Islam). Tentu saja pandangan ini agak tendensius, sebab melupakan fakta mendasar: bahwa ada pula ummat Islam yang ikhlas memberikan pulsanya untuk mendukung Novita, yang “kebetulan” non muslim, saya salah satunya. Namun rupanya fakta, bagi teman saya itu, ditafsirkan berbeda: kemenangan Fatin tidak lain adalah kemenangan tim RCTI dan Rossa yang mampu memanipulasi jilbab Fatin sebagai pendulang suara.
 
Namun bagi saya, rasanya unik jika betul fakta itu yang terjadi. Mau tidak mau saya ingat kemenangan Klanting atas Putri ayu di kontes adu bakat Indonesia Mencari Bakat. Pikiran nakal saya perlahan mengangguk setuju, bahwa emosi keagamaan bermain dalam banyak hal, termasuk dukungan dalam kontes pencarian bakat yang sangat dan murni sekuler (kecuali dulu ada acara kontes dakwah). Emosi yang sama lah yang, sedikit-banyak, berpengaruh atas kemenangan Fatin.
 
Namun satu pikiran lain muncul: barangkali Fatin menang karena dia masih remaja. Sesederhana itu. Budaya fans di Indonesia banyak terpengaruh oleh komposisi jumlah penduduk Indonesia yang didominasi usia produktif. Mereka lah yang menjadi penopang utama kemenangan Fatin. Mereka lah yang dengan senang hati menghabiskan pulsanya untuk mendukung Fatin. Dalam hal ini, selera musik mengalahkan emosi keagamaan. Jika logika ini diterima, maka kemenangan Fatin tidak lain karena Fatin bernyanyi lagu yang sangat akrab di telinga generasi muda. Berbeda dengan Novita yang sering bernyanyi dengan lagu yang kelewat canggih atau kelewat jadul, Fatin bernyanyi dengan lagu yang mudah dicerna telinga anak muda yang memang keburu rusak karena di bombardir lagu sampah.
 
Namun logika ini agak cacat, jika memang basis utamanya adalah fans, bagaimana mungkin Mikha Angelo kalah? Basis fans di Indonesia didominasi oleh perempuan ketimbang laki-laki (sebab anak laki-laki, bagi saya, lebih memilih untuk membelanjakan uangnya untuk hal lain ketimbang membeli pulsa yang bakal dihabiskan untuk memberikan dukungan), sehingga kekalahan Mikha membuat logika di atas perlu ditinjau ulang.
 
Namun pesan singkat terakhir membuat saya tertawa: bahwa all Batak final telah menyatukan seluruh orang Batak untuk mendukung Marpaung dan Lubis. Tentu saja ini agak menggelikan, sebab logika ini lagi-lagi akan membawa kita pada teori konspirasi agama. Meskipun tentu saja akan sangat menarik, jika hal ini dibenarkan, bagaimana konstelasi dukungan dari marga-marga yang tidak memiliki wakilnya di final X-Factor.
 
Ah, terlepas dari dua hal: entah karena emosi keagamaan atau basis fans, saya cukup senang Fatin menang, walaupun saya jauh lebih senang jika Novita yang menang. Mengingat saya adalah tipe penikmat musik yang jauh lebih enjoy mendengar suara ketimbang nonton video klip, saya jelas akan menikmati suara Novita (mudah-mudahan Shena juga). Setidaknya saya bisa memastikan, saya akan senang hati membeli CD Novita (dan Shena), entah ya dengan Fatin, hanya waktu dan perubahan selera saya yang bisa menjawab.
 

 

 

 

 

Jadwal Salat