• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

“it’s not what you want or mood, it’s what you wear and appearance”: antara uban, usia, dan maturitas

on . Posted in Catatan Kaki

Kata-kata di atas diucapkan oleh seorang kolega ketika saya secara sadar mengubah penampilan saya.Ketika saya ditanyakan alasan mengapa saya mengubah penampilan saya, saya katakan bahwa saya hanya sekedar ingin atau dalam mood tertentu. Teman saya tidak sepenuhnya beriman terhadap apa yang saya katakan. Baginya, diri sebagai entitas fisik dilihat bukan pada apa yang diinginkan atau didasarkan pada mood si diri itu, melainkan apa yang ditampilkan dalam bentuk perwujudkan fisik: sebuah penampilan fisik.

 
Sebagai entitas fisik, saya senang mengalami perubahan. Bagi mereka yang mengenal saya dengan baik, pasti telah mengenal evolusi gaya saya. Ada masanya ketika saya berpenampilan sangat ‘berantakan’, hanya mengenai kaus yang penuh warna, celana denim, dan bersendal jepit ria. Ada masanya ketika saya mengubah gaya dengan melakukan hair coloring, sesuatu yang selalu saya katakan sebagai kondisi di mana saya mengalami ‘temporary madness’. Ada masanya ketika saya tampil amat sangat kelewat rapi; dan ada masanya ketika saya melakukan gaya kasual eklektik, tradional kontemporer, atau apa lah. Pada dasarnya saya adalah entitas fisik yang selalu dalam proses perubahan, sebuah proses yang tidak memiliki akhir.
 
Kembali ke soal kalimat di atas. Kata-kata yang hampir sama bahkan saya dapatkan beberapa hari yang lalu ketika saya, untuk kesekian kalinya, mengubah penampilan saya. Terus terang saja, saya lagi senang mengenakan gaya rambut spike, terutama sejak saya perlahan bosan dengan rambut yang agak panjang dan berombak ^^. Ketika saya datang ke kampus dengan penampilan seperti ini, saya senang mendapat apresiasi dari teman-teman saya. Namun rupanya kegembiraan saya hanya berlangsung beberapa hari saja. Seorang dosen dari jurusan sebelah datang dan menemui saya, dan melihat penampilan saya dia menatap saya dengan pandangan tajam. Dengan heran dia berkata “you looks different”, dan saya tersenyum dan berkata “thank you, what do you think?”, dan kata-katanya lah yang membuat mood saya berubah, “I think it kind of mess”, ha?? Hello!!! Saya terus terang agak tersinggung, tapi saya paksakan diri untuk bertanya, “why?”, dia hanya bilang “darling, your appearance is not fit for you”. Seorang teman di Pasuruan, kangen juga neh sama dia, pernah bilang, “if your comfort with your outfit, never care what people think about you, they just uncomfort with their own skin”. Barangkali benar apa yang dikatakan teman saya benar, namun saya terus menerus berpikir, ‘what kind of appearance fit for me?’. Namun pertanyaan ini membawa saya pada pikiran yang lebih kusut lagi.
 
Saya kembali bertanya, apa yang sesungguhnya yang kita inginkan dengan penampilan kita? Saya sendiri dari dulu selalu berpenampilan sesuai dengan mood. Saya bukan orang yang terlalu taat aturan dalam hal berpenampilan. Namun saya menyadari sepenuhnya, bagaimana reaksi orang terhadap diri kita pasti terpengaruh pada kesan pertama. Beberapa pengalaman membuktikan, bagaimana perubahan kecil dalam penampilan dapat mengubah persepsi orang. Dalam hal ini saya setuju dengan dosen saya, bahwa penampilan yang dilakukan oleh seseorang dipengaruhi oleh oportunitas yang tersedia. Pragmatis memang. Saya sendiri menyadari bahwa melakukan beberapa penyesuaian penampilan sesuai dengan oportunitas yang tersedia. Pengalaman mengajarkan saya, bagaimana pakaian yang digunakan dapat membuat orang-orang terlihat serius atau malas dalam mendengarkan paparan saya. Di sisi yang berbeda, pengalaman pun mengajarkan saya, bahwa ketika saya melakukan penyesuaian gaya, saya merasa tidak nyaman dengan kulit saya sendiri.
 
Barangkali anda berpikir bahwa saya cuma orang iseng yang bingung untuk menentukan pilihan dalam urusan penampilan. Sama sekali bukan itu. Saya yakin sepenuhnya anda pernah mengalami kesulitan yang sama dengan yang saya alami. Bagi saya persoalan ini bukan lah persoalan yang sepele. Sejak kecil saya diajarkan untuk bertanggungjawab atas pilihan-pilihan yang saya ambil, dan saya mengambil tanggungjawab itu ketika saya mengambil pilihan untuk bertahan pada satu penampilan atau malah mengambil keputusan untuk berganti penampilan.
 
Saya berpikir bagaimana persoalan usia dan penampilan selalu menjadi topik pertanyaan orang-orang yang baru berkenalan dengan saya. Dalam banyak kesempatan, ketika saya menyampaikan makalah di berbagai kesempatan, selalu saya ditanya “lulus tahun berapa?”, dan ketika saya bilang “2009”, biasanya mereka tanya balik “S1?”, dan saya dengan kalem bilang “bukan, S2”, dan mereka pasti tanya balik, “berapa usianya?”, saya cuma bilang “24”, dan reaksi mereka umumnya sama: dengan sedikit terkejut mereka bilang “muda sekali”. Entah apa yang anda pikiran mereka ketika berhadapan dengan saya. saya sendiri bukan lah orang yang mau terlalu pusing memikirkan apa yang mereka pikirkan.
 
Kembali ke soal perkataan dosen ruang sebelah soal penampilan saya, menurutnya, jika saya ingin dianggap serius oleh orang, syarat utamanya adalah saya harus serius dalam setiap penampilan saya. Saya mulai bertanya, penampilan model apa yang dapat membuat saya terlihat serius? Seorang teman bilang kalau saya baru akan terlihat serius manakala saya saya terlihat memiliki uban. Bagi teman saya, uban tersebut tidak perlu terlalu banyak, cukup beberapa sebagai aksen. Saya hanya tergagap mendengar perkataan teman saya itu. Rasanya tidak masuk akal, masa iya baru 24 tahun udah beruban? Logika awam saya menolak hal tersebut. Bagi teman saya, logika awam dia pun menolak fakta bahwa ada orang berusia 24 tahun mengikuti program doktoral. Saya jadi berpikir, logika awam siapa yang akan saya gunakan? Secara subjektif tentu saya akan menggunakan logika awam saya.
 
Akhirnya saya mulai mempertimbangkan masalah uban. Saya perhatikan dengan seksama orang-orang di sekeliling saya. Beberapa teman saya memang berusia yang jauh lebih dibanding saya, dan secara faktual mereka memang memiliki uban, tentu dengan variasi jumlah. Di sisi lain, saya pun memiliki teman-teman sebaya, bahkan di bawah saya, dan mereka belum beruban sama sekali. Saya berada di tengah kegamangan. Apa iya uban menjadi penanda satu-satunya agar saya dapat dianggap serius? Jika memang begitu, rasanya tidak salah jika saya mulai menimbang-nimbang untuk memiliki uban. Akhirnya teman kos saya tertawa terkikik mendengar ocehan saya tentang uban. Bagi teman saya, keinginan saya untuk diperhatikan secara serius adalah menggelikan. Saya pun tersadar, apa iya saya begitu terobsesinya untuk diperhatikan secara serius?
 
Saya sadar bahwa keinginan saya boleh jadi bermula dari kejengkelan saya ketika orang-orang mulai mempermasalahkan usia saya. Bagi sebagian orang, usia mempengaruhi tingkat pendidikan seseorang. Artinya begini, barangkali ini delusi, orang-orang nampaknya tidak ikhlas melihat saya manakala mereka mengetahui latar belakang pendidikan saya. Barangkali kesimpulan saya keliru, namun seringkali saya merasa lebih nyaman untuk tidak memberitahukan latar belakang pendidikan saya. Hal yang selalu muncul bahkan muncul ketika saya melakukan wawancara untuk sebuah jabatan. Ketika si pewawancara menanyakan usia saya, dia mengatakan bahwa usia saya terlalu muda untuk memperoleh gelar master dalam satu bidang ilmu. Saya cuma berpikir, apa iya? Apakah usia segitu pentingnya ketika berhadapan dengan orang lain? Mengapa usia tiba-tiba menjadi faktor determinan dalam relasi saya dengan orang-orang yang ada di sekitar saya, bahkan lebih celaka lagi manakala usia menjadi pembeda manakala saya berinteraksi dengan orang yang baru saya kenal.
 
Bagi ibu saya, yang menjadi masalah bukan lah usia. Baginya yang menjadi persoalan adalah kedewasaan atau kematangan. Maturitas menjadi persoalan lain yang saya hadapi. Beberapa orang yang mengenal saya dengan baik seringkali berkomentar betapa penampilan dan pendidikan saya tidak sinkron. Saya kembali bertanya, apa iya penampilan dan pendidikan harus selalu sinkron? Bukan kah kita sendiri yang menentukan apakah sesuatu itu sinkron atau tidak? Barangkali mereka mengaitkan penampilan saya dengan persoalan maturitas. Persoalan yang hingga saat ini belum dapat saya hadapi dengan baik.
 
Maturitas atau kematangan, bagi saya, adalah konsep yang absurd, apalagi ketika kita mencoba mengaplikasikan pada manusia. Kalau buah, katakan lah mangga, jika dikatakan matang pasti punya sejumlah ciri yang menyatakan bahwa mangga tersebut sudah matang, dan ciri tersebut berlaku universal. Bayangkan dengan manusia. Saya meyakini bahkan mengimani, bahwa maturitas pada manusia tidak lah bersifat universal. Saya coba untuk membayangkan. Katakan lah bahwa maturitas pada manusia memiliki sejumlah ciri yang universal, lalu apa batasan yang kita gunakan. Jika kita menggunakan batasan usia, maka penampilan saya boleh jadi sangat wajar mengingat usia saya yang masih sangat belia (hihihihihi….). Jika maturitas dikaitkan dengan pendidikan, ciri maturitas seperti apa yang akan dimunculkan? Sebab jika hal ini dipaksakan, akan banyak orang seperti saya yang boleh jadi dianggap tidak matang meskipun secara pendidikan sangat berkecukupan. Jika memang demikian, barangkali ada yang dengan senang hati menjelaskan kepada saya, apa yang kita maksud dengan maturitas? Terus terang saya bingung.
 
Setelah berpikir selama berhari-hari, berkaca selama berjam-jam, dan termenung selama beberapa saat, saya belum tiba pada satu kesimpulan yang saya sukai. Saya belum memutuskan, apakah saya masih terobsesi dengan uban atau malah berdoa selama mungkin agar saya baru memiliki uban ketika berusia tujuh puluh tahun. Saya belum memutuskan, apakah saya akan meneruskan kegilaan saya membeli kain batik untuk saya jahit hanya untuk dilihat serius atau malah akan menjadikan kain-kain tersebut hanya pajangan. Saya belum memutuskan, apakah saya akan tetap berpenampilan sesuka hati atau menjatuhkan diri ke dalam jerat yang jalin oleh orang-orang di sekitar saya, yang saya tahu sepenuhnya akan mengatur penampilan saya selamanya. Saya belum memutuskan, apakah saya akan meminta bantuan dari orang-orang yang saya anggap lebih ahli dalam menjawab pertanyaan saya atau tidak. Satu hal yang nampaknya sudah saya putuskan, bahwa saya akan terus mencoba bertanya pada diri saya tanpa sekalipun khawatir bahwa saya akan tersesat semakin jauh.
 

 

 

 

Jadwal Salat