• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

Munarman, secangkir air, dan Islam yang saya tahu

on . Posted in Catatan Kaki

Apakah anda sudah menyaksikan bagaimana aksi Munarman, Jubir FPI, yang menyiram Tamrin Tamagola dalam acara Apa Kabar Indonesia Pagi di TvOne pada Jumat (28/6/2013) lalu?? Saya sudah dan itu membuat saya jengkel hingga hari ini. Teman saya, menanggapi kekesalan saya, menyatakan bahwa kegondokan saya hanya berbuntut sia-sia. Baginya jelas, FPI tidak mungkin dibubarkan. Negara membutuhkan anjing yang siap menggonggong bahkan menggigit orang (atau keadaan) yang tidak bisa diatur negara. Celakanya, begitu berharganya anjing ini, jika pun dia menggonggong bahkan menggigit, maka di pemilik hanya akan tutup mata. Seakan tidak pernah terjadi. Ya ya, saya setuju. Teman yang lain, mendukung keberadaan ormas ini. Baginya, keberadaan ormas ini diperlukan untuk membela kepentingan ummat Islam yang selama ini diabaikan oleh negara.

Hanya saya tetap tidak sreg atas keberadaan ormas seperti ini. Bagi saya dua pandangan diatas agak janggal. Jika pandangan bahwa ormas tersebut dipelihara untuk melakukan tugas kotor negara, sweeping miras salah satunya, dapat dibenarkan, maka secara tidak langsung mengatakan bahwa negara absen dan membiarkan tugas-tugas tersebut diambil oleh pihak lain, yang bagi saya sangat tidak masuk akal. Di sisi lain, jika keberadaan ormas ini diperlukan untuk, katakanlah, menegakkan amal makruf nahi munkar, maka bagaimana mungkin sebuah amal makruf nahi munkar dilakukan dengan penuh kekerasan?

Bagi saya, tindakan amal makruf nahi munkar yang dilakukan dengan kekerasan sama saja dengan mengepel lantai kotor dengan menggunakan kain pel yang kotor. Alih-alih bersih kinclong, yang ada justru kerja dua kali. Percuma bin sia-sia. Lihat lah sirah nabawiyah. Apakah Nabi Muhammad pernah memerintahkan amal makruf nahi munkar dengan melakukan kekerasan? Jika iya, tunjukkan kepada saya pada bagian apa dalam penggalan sejarah kenabian perintah itu muncul. Sepengetahuan saya, bahkan Nabi Muhammad, yang selalu menerima cobaan dan gangguan tidak pernah memerintahkan untuk melakukan kekerasan. Tindakan nabi adalah menerima dengan sabar, mendengarkan, dan memberikan solusi. Saya tidak pernah membaca cerita nabi marah-marah bahkan sampai melempar gelas atau memukul.

Tindakan Munarman, yang katanya mewakili ormas yang mewakili kepentingan ummat Islam, amat jauh dari apa yang pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad. Apakah Nabi pernah menyiram air ke muka orang lain? Bahkan Allah menegur Nabi yang bermuka masam, catat: hanya bermuka masam saja Allah sudah tidak senang, apalagi sampai menyiram muka orang lain. Tindakan Munarman tidak lain adalah tindakan orang bodoh yang dilandasi oleh amarah, yang celakanya menutup otak dan nalarnya, sehingga kebodohannya semakin menjadi-jadi.

Saya akui, saya bukan penggemar pak Tamrin Tamagola, namun dalam hal ini saya bersimpati pada beliau. Apa yang dilakukan oleh Munarman adalah gambaran kecil dari tindak kekerasan yang dilakukan oleh teman-temannya dalam ormas tersebut. Tindak kekerasan, bagi saya, bukan lah anjuran Islam. Saya percaya bahwa Islam adalah rahmat bagi semua alam. Wajah Islam adalah wajah yang humanis dan egaliter. Wajah ini lah yang tidak pernah dibawa oleh Munarman dan kroni-kroninya.

Kembali ke soal Munarman. Satu hal yang tidak saya mengerti adalah mengapa tindakan tidak terpelajar itu muncul? Saya menonton ketika peristiwa itu terjadi. Sesuatu yang sungguh tidak saya sangka, sesuatu yang mencoreng akal sehat, terjadi pada acara diskusi yang sejatinya mementingkan nalar sehat, dan disiarkan langsung ke seluruh Indonesia. Sumpah, akal sehat saya masih bertanya. Jika menggunakan nalar Islam, apa yang dilakukannya jelas di luar nalar. Islam selalu mengajarkan setiap pemeluknya untuk berkata santun, menggunakan logika yang baik, bahkan berdebat dengan akal sehat. Apakah itu terjadi? Sama sekali tidak. Teman saya berkata, bahwa tindakan Munarman adalah tindakan impulsif: lakukan dulu berpikir kemudian. Apakah itu bisa dibenarkan? Sama sekali tidak.

Islam yang saya tahu selalu mengajarkan untuk mendengar dulu baru melihat (baca: bertindak). Bukan kah Allah selalu meletakkan Maha Mendengar selalu lebih dulu ketimbang Maha Melihat? Kondisi ini sejatinya mendorong kita untuk selalu berusaha mendengar dan memahami baru bertindak. Islam tidak pernah mengajarkan ummatnya untuk berperilaku serampangan, asal tembak, asal siram. Islam selalu mengajarkan untuk berpikir jernih dalam menghadapi semua masalah.  Islam melarang kita untuk berdebat dengan kasar bahkan jika kita berada dalam posisi yang benar. Dalam kebaikan lah Islam muncul dan tersebar. Pertanyaannya, apakah watak Islam ini muncul dalam tindakan Munarman dan kroni-kroninya? Saya amat ragu.

Izinkan saya bertanya, jika mereka dikatakan Front Pembela Islam, sesungguhnya Islam siapa yang dibela? Islam sebelah mana yang dibela? Saya beragama Islam sejak lahir, saya mencoba mengamalkan Islam sejak kecil, saya belajar Islam mulai dari taman kanak-kanak hingga sekarang, tidak pernah saya membayangkan bahwa wajah Islam dapat sesangar itu. Saya selalu percaya, bahwa wajah Islam adalah wajah yang meneduhkan, bukan wajah yang doyan ribut. Bukan kah Allah selalu memerintahkan untuk menjaga akhlak? Bahkan kita tidak diperkenankan untuk membuat tetangga tidak nyaman? Kurang Rahman dan Rahim apa Allah? Bahkan untuk membuat tetangga tidak nyaman saja kita dilarang? Apalagi sampai membuat keonaran. Sungguh saya tidak mengerti atas tindakan ormas yang membuat keonaran atas nama agama.

Secara pribadi saya menyesalkan semua tindakan yang mengatasnamakan Islam yang dilakukan dengan anarki. Sungguh saya tidak ikhlas. Demi Allah saya tidak rela nama Islam dicatut oleh para bajingan yang hanya mengabdi pada kekuasaan. Jika memang mereka mengatasnamakan Islam, di mana mereka ketika para TKW/TKI kita mati di Timur Tengah? Kenapa mereka tidak demo ketika harga BBM naik? Ah, tololnya saya, jelas lah di mana mereka: kipas-kipas di bawah ketiak penguasa.

 

Jadwal Salat