• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

Syiar, promosi, dan "Lailatul Keder"

on . Posted in Catatan Kaki

Saya memulai catatan ini dengan penuh rasa sesal. Sebuah anomali, kalau tidak mau dikatakan tragedi, bahwa di pondok tercinta saya, di tengah geliat Lailatul Qadr, di antara orang-orang yang giat bermunajat, entah bagaimana, ada Armada dan para dai kondang di sana.

Apa lakon? Oh, rupanya ada siaran langsung yang digawangi oleh salah satu tipi nasional. Ya, geliat acara Ramadan memang membuat seluruh stasiun tipi sibuk luar biasa. Ramadan bukan lagi sekedar puasa atau pun ibadah. Ramadan adalah sebuah tradisi yang penuh nuansa keislaman. Nuansa itu lah yang ditangkap dengan sangat cermat oleh semua tipi di Indonesia. 

Ramadan bukan lagi sekedar menahan diri dengan berpuasa, pun bukan sekedar salat tarawih. Ramadan adalah komoditas dagang yang laku dijual. Apapun bisa dijual. Bahkan dakwah pun bisa dijual. Sudah bukan rahasia, bahwa dai, sebagai sebuah profesi, tidak kalah mentereng ketimbang artis. Mahalnya sama, hanya saja kemasannya yang berbeda. Ini jelas bukan fitnah, pun bukan gosip sampah. Apa indikatornya? Sederhana: semakin terkenal semakin mahal, celakanya, semakin mahal semakin tidak jelas apa yang didakwahkan. 

Barangkali kebodohan saya, saya termasuk tipe orang yang paling enggan mendengar ceramah kosong. Lebih baik bertanya pada ensiklopedi atau kitab tafsir ketimbang mendengar ceramah yang isinya itu-itu saja. Cuma lakon kosong. Asal tampil, fasih berdalil, dan voila, terkenal. Ujungnya? Tajir melintir. Lalu bagaimana dengan jamaah? Saya ragu apakah para dai kondang itu peduli. Barangkali saya terlalu tendensius, tapi rasanya fakta sosial tidak dapat disangkal. Lalu apa hubungannya dengan media televisi?

Sederhana sekali. Kembali ke hukum ekonomi. Televisi adalah agen penjual. Mereka tidak pernah berkepentingan mengedukasi, setidaknya secara serius, penontonnya. Asal orang nonton. Asal ada sponsor. Persetan dengan penonton. Setidaknya saya merasa seperti itu. Maka maafkan jika saya berkata bahwa acara dakwah apapun yang masuk ke dalam slot tayangan televisi tidak bertujuan lain selain mendapatkan keuntungan, termasuk pada kasus tayangan Ramadan.

Nah, kembali ke soal pondok saya. Sungguh saya tidak habis pikir, atas dasar pertimbangan apa bahwa acara begituan kembali muncul di pondok saya. Memang acara semacam itu bukan kali pertama dilaksanakan. Telah ada acara yang semacam itu pada tahun-tahun sebelumnya. Kontennya nyaris sama: ada ustaz, terkenal, memberikan tausiah kepada jamaah. Menggebu-gebu, penuh tawa, soal isi? Nyaris kosong. Tapi ada yang beda pada malam ini, ada Winda dan Armada di sana. Jelas mereka tidak ceramah, karena bukan kapasitasnya, namun mereka menyanyi.

Eh, tidak salah? Jelas tidak. Mereka lah gula bagi para semut. Tanpa mereka, tampilan acara tersebut akan hambar tak berasa apa-apa. Apakah salah? Secara hukum ekonomi jelas tidak salah, malah dapat dibenarkan. Secara etis? Saya jawab ya. Bukan hanya salah, namun amat melecehkan.

Bagi saya, malam ini sejatinya adalah malam untuk berkontempelasi. Bukan genjrang-genjreng apalagi ketawa-ketiwi. Namun apa lacur, televisi tidak pernah peduli ini malam apa. Bagi mereka, setiap malam sama saja. Tidak ada malam yang lebih istimewa ketimbang malam lainnya. Di sisi berbeda, saya tentu menyesalkan munculnya izin sehingga dagelan tersebut sukses digelar. Tentu akan ada justifikasi atas dihelatnya dagelan yang sangat tidak lucu tersebut, namun cukup lah saya berspekulasi, bahwa alasan pembenarnya terletak pada satu fakta sederhana: bahwa acara tersebut disiarkan secara nasional, dan karena dapat dimanfaatkan sebagai media promosi.

Sungguh kah sesederhana itu? Benar kah pondok saya, Attaqwa tercinta, sebegitu putus asanya sehingga menghalalkan cara-cara tidak patut demi publisitas? Sungguh akal sehat saya menolak. Bagi saya, acara tersebut sah-sah saja digelar. Alasan promosi pun dapat dibenarkan, sebagaimana dilakukan oleh kakak kelas saya di forum dakwah yang berbeda. Namun tidak saat ini. Waktu dan tempatnya jelas amat keliru. Bagi saya ini pelecehan, setidaknya pelecehan terhadap akal sehat saya. Saya tentu tidak bisa berbuat banyak, sebab saya cuma penonton di barisan paling belakang.

Lalu apa yang bisa saya lakukan? Yah, pada blog ini saya berpaling. Saya menuliskan bagaimana porak-porandanya perasaan saya. Sungguh tidak ada kata yang bisa terucap kecuali doa, semoga Allah mengampuni kekhilafan ini. Saya tidak bisa berbuat lebih. Apa yang terjadi, terjadi lah. Hanya kepada Allah saya berserah. 

Sudah ah, dari pada terus ngomel, mari, kembali mengaji. Insya Allah berkah.

Jadwal Salat