• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

Dani, Solidaritas Mekanik, dan Jerat Kapitalistik

on . Posted in Catatan Kaki

Catatan ini ditujukan bagi senior saya, sahabat sekaligus saudara seiman saya, abang Syafiuddin Abdullah a.k.a Dani yang sukses tereliminasi pada acara Akademi Sahur Indosiar tadi pagi. Seorang teman bertanya, dieliminasi ko sukses? Izinkan saya menjelaskan.

Satu hal yang harus dipahami, bahwa dieliminasinya ustad Dani adalah persoalan sms. Ada dua kemungkinan: entah sms Dani berkurang dari hari sebelumnya, atau boleh jadi smsnya bertambah hanya pertumbuhannya kalah cepat ketimbang lawannya. Kita bisa beradu argumen sampai lebaran tentang mana yang paling benar, namun satu hal mutlak yang tidak mungkin dibantah: ini bukan urusan siapa yang logikanya paling yahud atau retorikanya paling mantap. Ini soal SMS.

Nah, kenapa saya bilang sukses? Bagi saya, apa yang terjadi di balik layar jauh lebih menyenangkan ketimbang mendengar ceramah yang lebih layak disebut advertorial. Ceramah tapi isinya iklan. Memang yang diiklankan pondok, dan tidak salah juga model iklan kayak begini, namun tetap saja kontennya iklan. Model iklan seperti ini yang justru membangun kembali sebuah solidaritas yang selama ini hilang.

Emile Durkheim membedakan antara solidaritas mekanik dan organik. Solidaritas mekanis terjadi ketika kita, sebagai anggota masyarakat, berada dalam tekanan untuk mencari konformitas, kita mengikat diri kita dalam sebuah "kesadaran kolektif". Kesadaran ini lah yang menguat ketika saudara saya muncul di tipi nasional. Kita tidak lagi melihat Dani sebagai entitas fisik seseorang, tapi kita melihatnya sebagai wakil yang dianggap merepresentasikan Attaqwa. Perlahan tapi pasti, emosi keattaqwaan kita tergelitik. Model solidaritas ini semakin menguat manakala kita melihat lawan-lawan Dani bukan sebagai entitas diri, namun sebagai representasi dari pondok masing-masing. Maka ajang seperti ini bukan lagi persoalan siapa lawan siapa, namun pondok mana lawan pondok mana. 

Tentu akan sangat menyenangkan membayangkan saudara saya tampil sebagai juara. Meskipun kemenangan tidak selalu sebangun dan sejajar dengan popularitas, namun kemenangan adalah tujuan yang hendak kita, seluruh pendukung yang dengan ikhlas memberikan sebagian dari pulsa kita, capai bersama. Dalam hal ini kita mengalami ilusi sosial, bahwa kemenangan Dani adalah kemenangan pondok, dan begitu pula sebaliknya.

Namun logika di atas agak cacat. Pengandaian bahwa kemenangan seseorang adalah kemenangan kolektif jelas menyederhanakan persoalan. Lalu apa bedanya acara AKSI dengan Idonesian Idol atau X-Factor Indonesia? Bagi saya, ini mutlak urusan budaya fans yang coba dibangun. Jika Indonesian Idol mendasarkan pada sentimen kedaerahan maka AKSI mendasarkan diri pada semangat chauvinistik. Naluri keattaqwaan sebagai naluri purba kita lah yang mendorong sentimen itu muncul. Maka saya sangat mengerti, jika dalam setiap komentar teman-teman di lini masa FB atau twitter bertebaran penyesalan hingga hujatan atas kekalahan Dani.

Kita lupa bahwa acara AKSI pun tidak lepas dari tangan-tangan gelap kapitalis. Katakan lah begini, jika memang niatnya mencari bibit-bibit unggul dalam bidang dakwah, kenapa bukan di tangan juri lah siapa yang berhak tampil dan siapa yang akan mudik? Apakah Indosiar pernah memberikan fakta statistikal secara terbuka? Jika Dani, katakan lah, mendapat 18% suara, jelasnya berapa suara itu? 5000 SMS atau berapa? Siapa pula yang bisa menjamin bahwa Indosiar bermain fair dengan tidak mengubah urutan perolehan SMS?? Tentu saja beratus pertanyaan bisa kita ajukan, beragam hipotesis bisa kita kicaukan, dan teori-teori konspirasi bisa kita hembuskan. Pun jika kita mau berpikir waras, tidak perduli siapa yang menang dalam acara tersebut, yang jelas menang adalah Indosiar sebagai penyelenggara acara. Sementara Indosiar bergelimang uang sponsor, kita justru saling ribut menyalahkan satu sama lain.

Satu hal yang pasti: abang Dani mudik. Dia kekurangan SMS. Lalu apakah dia pantas disebut kalah? Bagi saya, abang Dani tidak kalah. Dia menang di mata kita semua. Kemenangan utama Dani adalah bahwa dia sukses mendorong kita, alumni, yang selama ini terfragmentasi, terkotak-kotak dalam berbagai kotak dan warna, untuk kemudian satu suara. Kita bergerak dari solidaritas organis ke solidaritas mekanis. Kita membangun kembali kesamaan yang selama ini kita lihat namun kita abaikan: ATTAQWA. Bahkan Dani bisa membawa sentimen kita lebih jauh, seakan kekalahan Dani adalah kekalahan kolektif.

Bagi saya, keikutsertaan Dani adalah sesuatu yang patut dirayakan. Terlepas dari kekalahannya, ini hanya lah soal permainan. Saya percaya, masing-masing dari kita membesarkan nama Attaqwa dan menjaga nama baik Attaqwa dengan cara kita masing-masing. Dani melakukannya dengan tampil di tipi nasional, saya melakukannya dengan menulis. Lalu apa bedanya saya dengan Dani? Kemudian jika pun Dani kalah, apakah kekalahannya mencoreng nama baik pondok? Sama sekali tidak. Ini hanya soal permainan, yang celakanya kita ikut main tanpa tahu nilai kita sebenarnya. Ini hanya soal SMS. Sederhana. Oleh karena itu, tidak patut kita terus bermuram dan saling menghujat, toh dunia belum berakhir.

Satu hal lagi, boleh lah kita merenung, jika seluruh pulsa yang kita keluarkan diwujudkan dalam bentuk barang. Aduhai. Kita bisa bikin gedung sekolah tanpa harus repot utang kanan-kiri. Insya Allah berkahnya sama, malah lebih. Iya toh?? Tooohhh....

Jadwal Salat