• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

Mengapa antropologi PERLU mendengar suara (seorang) perempuan?

on . Posted in Catatan Khusus

Jika anda sudah membaca ringkasan disertasi saya dalam postingan sebelumnya, maka ada satu pertanyaan mendasar yang ingin saya jawab: mengapa penting bagi antropologi untuk mendengar suara (seorang) perempuan? Mengapa tubuh perlu dibicarakan secara serius. Izinkan saya memberikan jawaban:

Pertama, penelitian ini menunjukkan bagaimana perempuan berkepentingan dalam mengkonstruksi pengetahuan dan kebudayaan. Sebagai penelitian etnografi, yang tentu saja bukan satu-satunya yang berbicara dari sudut pandang perempuan, penelitian ini mencoba menjadikan pengalaman perempuan sebagai basis dalam membangun kebudayaan. Bahwa perempuan, sebagaimana laki-laki, turut pula berkepentingan dalam membangun konstruksi kebudayaan. Saya setuju dengan Geertz (1973), yang meminjam istilah Weber, bahwa manusia terjerat dalam pintalan jejaring yang ia pintal sendiri, maka kebudayaan tidak lain adalah jaring tersebut, dan untuk menganalisis kebudayaan, maka saya tidak mungkin melakukan penelitian eksperimental untuk mencari hukum sebab-akibat atau pun melakukan komparasi kebudayaan. Maka saya pun mencari makna di balik tindakan, mengisolasi elemen-elemen kebudayaan, dan mencari penjelasan di balik hubungan antarelemen.

Saya mulai melihat Madura bukan sebagai pulau sunyi tanpa penghuni. Saya mulai memahami bagaimana hubungan antara tanah, tanean, perkawinan, emas, dan ekspresi (serta harapan) para penghuninya sebagai elemen-elemen yang saling terinterkoneksi satu dengan lainnya. Harus saya akui, melakukan hal tersebut bukanlah yang hal yang kelewat mudah, sebab mau tidak mau, saya harus melihat webs of significance yang mengikat semua orang, untuk kemudian saya tarik setiap jelujurnya. Semakin saya menarik setiap jelujur benang, semakin saya menyadari, bahwa kebudayaan bersifat publik karena makna dan kebudayaan itu sendiri tidak lain adalah properti kolektif dari masyarakat. Ketika saya bertanya tentang makna “tanah” misalnya, saya menyadari bahwa tanah secara taksonomik berlaku universal, sebagaimana makna “benih” dan “ladang” berlaku bagi semua laki-laki dan perempuan Madura.

Namun saya beranjak, tidak hanya menjelaskan bagaimana makna dan pengetahuan dibentuk dan dibagikan kepada seluruh orang, sebab saya pikir hal tersebut akan membuat kita melihat setiap orang, sepanjang memiliki makna dan pengetahuan yang sama, cenderung bergerak ke arah yang sama dan berperilaku yang sama. Jika asumsi saya dapat dibenarkan, maka sama saja saya melihat manusia sebagai cyborg yang bergerak dan berperilaku sama. Bahwa laki-laki dan perempuan kemudian memiliki pengalaman yang sama, dan karenanya pengalaman sejumlah kecil perempuan kemudian tidak dianggap sebagai pengalaman yang turut serta membentuk kebudayaan. Saya justru ingin membangun ulang pemahaman atas kebudayaan Madura dari pengalaman perempuan, atau secara spesifik dari sejumlah kecil perempuan.

Tentu saja terdapat konsekuensi serius dari apa yang ingin saya lakukan dengan pengalaman-pengalaman tersebut. Alih-alih membuat cerita besar yang menggambarkan kebudayaan satu wilayah secara utuh yang berasal dari pengalaman komunal, saya justru lebih memberi ruang bagi pengalaman individual. Tidak berarti bahwa saya antipati terhadap kajian-kajian luar biasa, misalnya kajian Geertz tentang agama Jawa, hanya bagi saya, bangunan pengetahuan harus dilihat pada level individual. Konstruksi bangunan pengetahuan, atau barangkali lebih tepat saya katakan sebagai kebudayaan, dengan demikian harus digeser ke arah yang lebih partikular. Dengan memberikan ruang bagi pengalaman individu, utamanya perempuan, kebudayaan dapat dilihat tidak lagi sebagai bangunan monolitik besar yang seringkali tipikal laki-laki, namun juga terdapat ruang yang sama besarnya untuk perempuan. Bagi saya, ruang-ruang ini hanya akan muncul ketika narasi kebudayaan digelar dalam ruang lingkup yang partikular.

Saya setuju pada cara Abu-Lughod dalam menuliskan cerita dari Bouduin (Abu-Lughod 1993). Adalah fakta bahwa antropolog menulis mengenai apa yang mereka pelajari, dan dalam banyak hal melakukan generalisasi atas apa yang mereka amati, dengan cara yang mirip satu sama lain. Bagi Abu-Lughod, generalisasi atau moda karakteristik dari apa yang dilakukan dan gaya penulisan yang sama dalam ilmu sosial (baca: antropologi) tidak dapat lagi dilihat sebagai deskripsi yang netral. Saya pun setuju, bahwa untuk melihat kebudayaan, kita harus menggeser fokus ke arah yang lebih partikular, baginya: 

and the particulars suggest that other live as we perceive ourselves living, not as robots programmed with “cultural” rules, but as people going through life agonizing over decisions, making mistakes, trying to make themselves look good, enduring tragedies and personal losses, enjoying others, and finding moments of happiness.”

Saya mencoba memberikan memberikan gambaran tentang kehidupan yang terus bergerak, seiring dengan terus bergeraknya kajian etnografi ke arah yang semakin partikular. Saya mencoba menjadikan Suhadiyah, Faridah, Rukoyah, Jaenab dan Kholifah sebagai manusia biasa yang menceritakan narasi kehidupannya dengan cara yang amat biasa. Partikularitas, jika boleh saya sebut demikian, menjadi ciri yang umum berlaku utamanya dalam kajian-kajian feminisme. Feminisme misalnya, membawa kehidupan sehari-hari ke dalam episentrum pengetahuan dengan menjadikan kehidupan sehari-hari tersebut sebagai masalah yang harus dipertanyakan. Dengan demikian, langkah awal feminisme, termasuk dalam etnografi, adalah memberikan ruang bagi kehidupan sehari-hari untuk turut serta membentuk bangunan kebudayaan (lihat Moore 1988, 2006, Grosz 1993, Joyce 1996, Khater 2001).

Anderson (1995, 2011), Perry dan Potter (2006), dan Stocket dan Geller (2009) menjelaskan adanya kecenderungan untuk memberikan porsi yang lebih besar bagi perempuan, sebuah ruang di mana perempuan dapat mengekspresikan diri mereka dan berbicara dengan bebas tanpa melulu direcoki oleh laki-laki. Persoalannya adalah, siapa yang memiliki akses atas ruang tersebut dan apa konsekuensi dari terbukanya ruang tersebut? Saya mencoba membuka ruang tersebut untuk mereka, tentu dengan sejumlah catatan yang harus saya perhatikan, khususnya pada epistemologi feminis dalam penelitian ini. Catatan yang oleh Alcoff dan Potter (1993), Code (1993), dan Harding (1993) disebut sebagai kritik membabibuta tanpa melihat bagaimana nalar kritik feminisme harus diletakkan dalam diskursus epistemologi. Longino (1987) memberikan peringatan agar saya tidak hanya terpaku pada mengeliminasi bias atau pun kritik tanpa memberikan keluasan perspektif. Saya harus melihat interkoneksi antarelemen, sebagaimana dituntut oleh Geertz, mengkritisi elemen-elemen tersebut, dan mengkonstruksi ulang dengan kerangka yang lebih memberikan ruang bagi perempuan untuk turut serta membentuk pengetahuan.

Satu hal yang ingin saya capai adalah mendedahkan kehidupan Suhadiyah, Faridah, Jaenab, Rukoyah, dan Kholifah dengan cara yang memanusiakan mereka. Mereka adalah subjek yang berbicara oleh dan untuk kepentingan mereka sendiri. Mereka adalah individu yang selalu bergerak dan bersinggungan dengan imaji dan realitas sosial. Melalui gerak itulah saya memahami bagaimana sebuah kebudayaan hadir, bekerja, dan bertahan. Melalui pengalaman itulah saya mengkonstruksi bagaimana pemahaman saya atas kebudayaan suatu masyarakat, dalam hal ini Madura. Meskipun saya setuju, bahwa sharing knowledge memungkinkan setiap orang untuk memperoleh pengetahuan dan kebudayaan yang sama, namun saya meragukan bahwa setiap orang memperoleh porsi yang sama atau setara, sebab setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda, dan melalui perbedaan itulah sebuah konstruksi kebudayaan harus dibangun.

Perbedaan pengalaman dimungkinkan melalui banyak hal, salah satunya gender. Perempuan dan laki-laki memiliki pengalaman yang berbeda, dan penelitian ini setidaknya menunjukkan hal tersebut. Bahkan dalam skala yang lebih kecil, sesama perempuan, pengalaman yang dimiliki pun dapat amat berbeda. Kehidupan Suhadiyah amat berbeda dengan kehidupan ibu atau saudara kandungnya, dan meskipun terdapat sejumlah kesamaan mendasar antara Suhadiyah, Faridah, Rukoyah, Jaenab dan Kholifah, namun pengalaman hidup mereka begitu berbeda dan penuh warna. Saya tidak mungkin menceritakan pengalaman para subjek saya secara individual, namun saya dapat menarik sejumlah kesamaan di antara mereka. Saya mencoba membangun pondasi pengetahuan dari pengalaman para subjek saya yang selama ini terabaikan, baik dalam studi Madura maupun studi perempuan.

Di sisi yang berbeda, penting bagi saya untuk tidak mengatakan bahwa narasi yang sampaikan adalah pengalaman setiap perempuan. Saya memang setuju dengan Abu-Lughod (1991) yang menyatakan bahwa perempuan berbagi kesamaan yang lahir bukan karena proses kematangan tubuh yang universal, namun karena pengalaman yang sama  dari interpolasi atas kelas, ras, dan orientasi seksual yang selalu didasarkan pada formasi patriarkal. Namun saya menolak jika dikatakan sebagai akibat dari kesamaan tersebut maka setiap pengalaman perempuan secara universal sama. Setiap perempuan pasti memiliki pengalaman yang berbeda antara satu dengan lainnya. Dalam penelitian ini misalnya, pengalaman perempuan yang mampu mempertahankan rumahtangganya dan tidak terlempar ke luar jelas berbeda dengan pengalaman para subjek saya. Saya pun tidak menyangkal, bahwa boleh jadi ada Suhadiyah lain yang tidak menjadi fokus penelitian ini, yang boleh jadi memiliki pengalaman yang amat berbeda dengan Suhadiyah yang narasinya saya dedahkan. Bagi saya persoalan klaim – bahwa penelitian ini bukan tentang semua janda dari Madura – ini menjadi penting, sebab saya tidak hanya memberikan ruang untuk penelitian lain dengan topik yang sama, namun juga memberikan sejumlah keterbatasan yang memang nyata.

Kedua, penelitian ini menunjukkan bagaimana konstruksi politik tubuh bekerja dalam kebudayaan, secara lebih spesifik kebudayaan Madura, bukan dari kacamata tubuh-tubuh yang produktif namun dari kacamata tubuh-tubuh yang tidak produktif. Ketika antropologi bicara mengenai politik tubuh, sesungguhnya domain yang dibincangkan pada bagaimana tubuh dikonstruksikan dan dikontrol. Salah satu persoalan yang amat mendasar dari bagaimana dikonstruksikan dan dikontrol terletak pada satu fakta biologis: bahwa tidak semua tubuh bisa dikonstruksikan dan bisa dikontrol. Ketika Handwerker (1986) dan Hayden (1986) bicara tentang hubungan antara reproduksi dan kebudayaan, keduanya gagal melihat, bahwa selalu ada tubuh-tubuh yang tidak produktif alias infertil. Balen (2009) sesungguhnya memulai perdebatan tentang infertilitas dan bagaimana infertilitas berimplikasi pada kebudayaan. Persoalannya, Balen juga gagal melihat bagaimana konstruksi politik tubuh ketika berhubungan dengan tubuh-tubuh yang tidak produktif ini.

Politik tubuh selalu bicara pada berbagai dimensi yang membedakan antara tubuh laki-laki dan tubuh perempuan, pembagian kerja berdasarkan seks, maupun bagaimana tubuh-tubuh diatur dalam skema kultural. Saya tidak mengatakan bahwa kajian-kajian tersebut tidak penting, namun jelas  kajian tersebut melupakan salah satu dimensi krusial dalam politik tubuh: bagaimana tubuh diatur bukan semata pada seperangkat hak dan kewajiban namun juga seperangkat norma dan aturan. Akibat dari pengabaian pada tubuh-tubuh yang tidak produktif, juga berakibat pada pengabaian pada eksklusi sosial terhadap tubuh-tubuh tersebut. Kajian politik tubuh amat jarang bicara mengenai pengucilan, keterasingan, dan pengusiran tubuh-tubuh yang tidak produktif.

Penelitian ini sendiri dimulai bukan dari tubuh-tubuh yang produktif, namun dari tubuh yang tidak produktif. Saya menarik tubuh-tubuh ini dari satu kategori sosial yang juga sering terlupakan: para janda. Keberadaan mereka seringkali dianggap tidak terlalu menarik dalam kajian antropologi maupun kajian perempuan. Di sisi yang berbeda, kajian janda, sebut saja Blom (1991), Cavallo dan Warner (1999), dan Evans-Grub (2002), terlalu asik bicara mengenai sejarah janda dan kejandaan sejak masa klasik sampai saat ini, dan abai dalam melihat bahwa urusan janda juga berkaitan dengan politik tubuh.

Penelitian ini berada di titik singgung penting dalam diskusi mengenai politik tubuh, eksklusi sosial, dan kejandaan. Di satu sisi, politik tubuh kerap mengabaikan terusirnya para janda dengan tubuhnya yang dianggap tidak produktif. Di sisi lain, pengkaji janda sebagai kategori sosial seringkali lupa bahwa kehidupan para janda erat kaitannya dengan politik tubuh. Penelitian ini mencoba menjelaskan, keterkaitan antara politik tubuh dan eksklusi sosial, bahwa politik tubuh menghasilkan tubuh-tubuh yang tidak produktif, dan bahwa politik tubuh pula yang mengusir tubuh-tubuh tidak produktif tersebut jauh dari rumahnya.

Ketiga, penelitian ini menunjukkan bagaimana perempuan, tidak hanya mengalami perpindahan (displacement) dan merekonstruksi tempat (reconstructing the place), lebih dari itu, mereka menegosiasikan tempat (negotiating place) untuk memperoleh apa yang mereka sebut sebagai tempat kembali (place of return). Keempat hal ini jelas amat penting sebab saling berkaitan satu dengan lainnya. Adalah sebuah kesalahan jika kita hanya bicara displacement yang hanya dikaitkan dengan place of return sebagaimana dilakukan oleh Olwig (1997) dan DeRogatis (2003), sama masalahnya dengan bicara reconstructing the place yang hanya dikaitkan dengan place of return sebagaimana dilakukan oleh Ho (2006) dan Jacobsen (2009).

Negosiasi menjadi hal yang seringkali terlupakan ketika bicara mengenai tempat – atau politik tempat – dalam diskusi antropologi, terutama ketika tempat berjalin dengan pasangan politik tubuh-konstruksi kultural yang patriarkal. Persoalan perpindahan (displacement) jelas berkaitan dengan politik tubuh, sebab perpindahan hanya dilakukan oleh mereka yang gagal mencapai apa yang telah dikonstruksikan untuk dicapai. Persoalan ini berkaitan dengan persoalan membangun kembali tempat (reconstructing place) yang jelas hanya dilakukan oleh mereka yang pergi bukan karena alasan sukarela apalagi altruistik. Kedua hal ini penting, terutama ketika dikaitkan dengan tempat sebagai tempat kembali (place of return), yakni bagaimana tempat kembali menjadi refleksi mereka, apa yang Engseng Ho dan DeRogatis menyebutnya sebagai geografi moral.

Adanya tempat sebagai place of return memberikan kita pegangan dalam menjelaskan perilaku orang yang telah lama pergi namun selalu merasa bahwa di sana rumahnya. Penelitian ini sendiri mempergunakan istilah rumah di sana sebagai lawan dari rumah di sini. Namun keberadaan rumah di sana, tidak seperti kajian-kajian tentang tempat yang terlalu romantis membayangkan tempat sebagai wilayah geografis yang selalu mudah dijangkau, penelitian ini menunjukkan hal yang sebaliknya. Bahwa rumah di sana tidak hanya sulit dijangkau, namun juga harus direbut dan dinegosiasikan. Ini bukan urusan harga tiket atau buah tangan, ini urusan bagaimana rumah di sana dipertahankan. Saya tidak sedang bicara bagaimana narasi genealogis disusun melalui surat atau cerita, namun bagaimana narasi genealogis dipertahankan dalam wujudnya yang paling ekstrem: nisan kuburan.

Negosiasi jelas merupakan usaha yang dilakukan oleh perempuan untuk tetap mempertahankan satu pijakannya di Madura sana. Penelitian ini menunjukkan bagaimana perempuan berpijak pada dua wilayah yang saling berpengaruh satu sama lain: satu kaki di rumah di sini dan kaki lainnya di rumah di sana. Penelitian ini menitikberatkan pada negosasi sebagai tindakan yang diambil perempuan untuk merebut apa yang pernah menjadi milik mereka, dan dengan berfokus pada negosiasi inilah kita dapat memperoleh gambaran lain tentang rumah sebagai tempat kembali. Bahwa tempat kembali tidak hanya lokus yang berwujud geografi fisik ataupun geografi moral. Rumah tempat kembali sejatinya bicara pada takdir yang tidak bisa ditolak semua orang, termasuk perempuan, bukan menjadi istri dan bukan pula menjadi ibu, takdir itu bernama kematian.

Penelitian ini bicara tentang perempuan yang terusir yang selalu ingin kembali, namun bagaimana perempuan tersebut menegosiasikan mimpi-mimpi mereka adalah persoalan yang menjadi fokus penelitian ini. Kematian boleh jadi merupakan jawaban paling sederhana dan paling memungkinkan, meskipun belum tentu kematian akan membawa para perempuan ini mencapai mimpi-mimpi yang selalu mereka inginkan. Penelitian ini setidaknya memberikan gambaran bagaimana kehidupan perempuan dipengaruhi oleh tubuhnya, dan bagaimana kehidupan tersebut membentuk pengalaman perempuan. Pengalaman itulah yang coba saya bawa dan narasikan sepanjang penelitian ini dilangsungkan.

Di titik akhir ini, saya harus mengakui secara terbuka bahwa penelitian ini belum sepenuhnya menyelesaikan masalah, di mana sejumlah kekurangan menjadi pekerjaan rumah yang saya tinggalkan. Saya pun mengakui, bahwa pilihan saya untuk mulai berpijak dari politik tubuh, sebagaimana pilihan saya untuk memberikan suara bagi perempuan, adalah sikap politik saya, yang tentu saja akan mempengaruhi bagimana penelitian ini dinarasikan – narasi yang amat berbeda dapat muncul jika dimulai dengan sudut pandang yang berbeda pula. Seluruh kekurangan dalam penelitian ini sepenuhnya menjadi tanggungjawab saya, dan tentu saja saya berharap, bahwa suatu saat nanti terdapat penelitian lain tentang perempuan Madura yang akan memperkaya khazanah pengetahuan tentang Madura.

 

Jadwal Salat