• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

Visi Attaqwa 2030 (bagian 1)

on . Posted in Catatan Khusus

Tanggal 25 mei mendatang, Pondok Pesantren Attaqwa Putri akan merayakan ulang tahunnya yang ke lima puluh. Tidak terasa, sudah setengah abad pondok ini berdiri. Saya sendiri terlibat di dalam kepanitiaan, dan memberikan kado terbaik saya untuk pondok: sebuah buku yang merangkai masa lalu Pondok Pesantren Attaqwa Putri. Namun tulisan ini tidak membahas masa lalu, tulisan ini adalah tentang harapan di masa depan.

Mari kita bicara Attaqwa secara institusi, karena akan mencakup juga Pondok Pesantren Attaqwa Putri. Mau kemana Attaqwa? Sebagai alumni dari Pondok Pesantren Attaqwa Putra pada 2003 lalu, saya berhutang banyak pada Attaqwa. Saya lahir, dibesarkan, dan tumbuh dalam tradisi keilmuan dan Attaqwa, dan karena rasa hutang itulah saya melakukan otokritik terhadap Attaqwa. Terlepas dari posisi diri saya yang dianggap “orang dalam”, sesungguhnya saya tidak pernah benar-benar berada “di dalam”, saya adalah “orang luar” yang sering disalahpahami sebagai “orang dalam”. Tulisan ini boleh anda sebut sebagai kritik orang luar atau otokritik orang dalam, terserah saja. Silahkan.

Ada baiknya kita berhenti dulu membangga-banggakan kematangan usia – secara ya Attaqwa Putri saja sudah 50 tahun, sudah pasti Attaqwa berusia jauh lebih tua. Jika kita setuju mengambil usia Attaqwa Putri sebagai batasan, artinya sudah 50 tahun Attaqwa menghasilkan alumni. Saya tidak bicara mengenai kuantitas, sebab jika dikalkulasikan secara sederhana, jika setiap angkatan rata-rata meluluskan 70 orang, dikali 50, artinya sudah ada 3500 orang alumni, dan itu hanya dari Attaqwa Putri. Pertanyaannya, di mana para alumni “berada” saat ini. Saya tidak bicara soal domisili, melainkan aktivitas. Memang belum ada catatan resmi mengenai aktivitas alumni, namun seringkali kita menarik kesimpulan – yang jelas merupakan simplifikasi – bahwa ribuan alumni Attaqwa tersebar di masyarakat dengan berbagai profesi.

Okelah saya terima penjelasan seperti itu, namun jelas jawaban itu akan memicu pertanyaan lain: apa kiprah alumni saat ini? Satu hal yang nampak amat jelas, setidaknya di lingkungan sosial saya, bahwa mayoritas alumni Attaqwa berprofesi sebagai guru. Apakah salah? Jelas tidak. Setidaknya salah satu mimpi Alamghfurlah tercapai, bahwa untuk menciptakan masyarakat madani, salah satu kunci terpenting adalah pendidikan. Para alumni yang memilih untuk menjadi guru jelas menjawab harapan Almaghfurlah. Namun apakah itu cukup? Bagi saya tidak.

Menjadi guru adalah sebuah pilihan yang amat saya dukung, namun izinkan saya bertanya lagi? Guru apa? Saya mengakui secara terbuka, Attaqwa mengalami surplus guru agama. Sama sekali tidak ada yang keliru soal itu. Pendidikan di pesantren memang berefek samping pada munculnya guru-guru agama. Persoalannya adalah, bagaimana dengan bidang ilmu lain? Ilmu alam atau ilmu sosial? Apakah kita sadar, bahwa Attaqwa amat kekurangan alumni yang mau mencemplungkan diri ke dalam bidang ilmu alam dan ilmu sosial. Apa indikatornya? Lihat saja di berbagai sekolah di bawah naungan Perguruan Attaqwa, berapa banyak guru ilmu alam dan ilmu sosial – yang benar-benar lulusan di bidang itu – yang merupakan alumni? Kita akan menemukan sebuah fakta yang miris, bahwa untuk bidang ilmu alam dan bidang ilmu sosial, kita masih mencari di luar alumni. Pun ada, maka jumlahnya masih amat sedikit, amat tidak mencukupi untuk ratusan sekolah yang bernaung di bawah Attaqwa.

Bagi sebagian orang, fakta bahwa kita masih merekrut non alumni untuk mengajar bidang ilmu alam dan ilmu sosial mungkin saja tidak penting, namun bagi saya hal ini penting. Bagi sebagian yang lain, apa yang saya utarakan adalah bentuk kekhawatiran yang berlebihan. Bagi para sahabat yang berpikir bahwa tidak masalah merekrut orang luar untuk mengajar di Attaqwa, yang katanya demi alasan kompetensi, justru tidak berpikir pada satu hal krusial: apakah sang guru tersebut memahami kultur Attaqwa? Apakah sang guru tersebut memahami sejarah dan visi Attaqwa? Apakah sang guru tersebut memahami ruh Attaqwa? Barangkali iya, namun bisa juga tidak.

Maka saya pun mengajukan pertanyaan, mengapa para alumni tidak mau mengambil ilmu alam (murni) dan ilmu sosial (murni)? Saya misalnya, selalu mengatakan bahwa saya satu-satunya alumni Attaqwa yang mengambil antropologi sebagai bidang saya. Apakah saya senang karena tidak punya saingan? Sama sekali tidak. Saya justru bersusah hati. Apa pasal? Jika saya memilih untuk mengajar, saya tidak mau direkrut hanya karena saya satu-satunya pilihan yang tersedia, karena saya tidak memiliki rival yang seimbang untuk berkompetisi. Saya sadar, lambat-laun, saya akan menjadi besar kepala dan menjadi katak dalam tempurung. Karena saya tidak punya saingan, maka saya akan berbuat sekehendak hati saya. Jelas bukan itu yang saya inginkan ketika saya membuka jalan, memberikan bukti bahwa anak pesantren bisa menembus PTN dengan mengambil ilmu sosial murni sebagai pilihan. Satu dekade sudah, dan rupanya harapan saya belum membuahkan hasil, bahwa para alumni akan keluar dari “habitatnya” dengan mengambil ilmu-ilmu di luar rumpun agama.

Mengapa itu penting? Akan saya ceritakan alasannya. Pada tahun 2009, saya berkesempatan diundang pada acara inaugurasi murid baru di salah satu sekolah kristen di Jakarta. Saya berkesempatan berbincang dengan kepala sekolahnya, dan sang kepala sekolah bercerita dengan visi 2020. Saya tanyakan, apa visi 2020 sekolah tersebut? Jawaban dari sang kepala sederhana, namun membuat saya terperangah: “pada 2020, kami akan menghasilkan lulusan yang menguasai seluruh cabang keilmuan. Kami hanya merekrut mereka yang terbaik di bidangnya untuk mengajar.” Saya bertanya tentang pola rekrutmen guru, dan lagi-lagi membuat saya terkaget-kaget: “hanya alumni terbaik yang kami terima setelah melalui proses seleksi yang ketat”. Apa artinya kalimat seleksi? Jelas saya tidak mungkin keliru, bahwa kalimat seleksi mempersyaratkan lebih dari satu orang di satu bidang. Saya pun mengkonfirmasi kesimpulan saya dengan bertanya: “apakah semua mata pelajaran dipegang oleh para alumni?”, dan sang kepala menjawab, “ya, tapi kami belum memiliki orang terbaik. Seleksi akan dilaksanakan pada akhir tahun ajaran (saya datang bulan Desember, artinya seleksi pada bulan Juni 2010) kami sudah memanggil para alumni untuk ikut”, saya kembali bertanya “calon dari bidang apa saja?”, dan jawaban sang kepala membuat saya malu untuk bertanya lebih jauh, “Sebut saja satu bidang, akan kami sebutkan siapa saja kontestannya.”

Sungguh pengalaman yang luar biasa. Ketika saya menyebut fisika aplikatif, saya diberi daftar nama alumni yang sudah dan sedang mengambil bidang itu. Bahkan ketika saya tanya kedokteran, saya justru ditanya balik, “bidang spealisasi apa yang anda cari?.” Alamak. Saya terdiam cukup lama. Bayangkan situasi yang sama yang alami di Attaqwa, jika saya menghadap dan diberikan jawaban seperti itu. Sungguh sebuah harapan yang layak dikejar.

Saya menyadari satu hal, adalah fakta yang tidak disangkal, bahwa lulusan Attaqwa memiliki sudut pandang yang keliru tentang pendidikan lanjutan yang akan dia jalani. Saya menyebutnya pesantren complex. Ketakutan yang tidak nyata kalau anak Attaqwa tidak bisa hidup di luar "habitatnya", yakni dalam bidang ilmu agama. Attaqwa, terutama Attaqwa Putra maupun Attaqwa Putri, acapkali keliru dalam memberikan kesan kepada mereka yang belajar di pesantren, bahwa anak pesantren “memiliki takdir” untuk belajar agama, bahkan di bangku kuliah. Saya setuju jika dikatakan bahwa belajar (baca: kuliah) adalah fardu ain bagi semua orang, namun memilih jurusan adalah fardu kifayah. Bagi saya, menjadi dosa Attaqwa jika tidak mampu melahirkan seorang sejarahwan, programer komputer, bankir, sosiolog, ahli kimia, ahli fisika, dan ahli-ahli lain.

Kita seringkali tanpa sadar membuat ilusi dan batasan mental, bahwa anak pesantren habitatnya berada di rumpun ilmu agama. Akibatnya kita mengabaikan ilmu-ilmu lainnya. Celakanya, pengabaian itu seringkali diikuti pula dengan argumen yang sesat nalar, bahwa ilmu di luar rumpun agama tidak penting. Lebih celaka lagi, kita mengkritik ketika muncul ahli kimia dari kalangan non muslim dengan menyalahkan mereka karena menguasai bidang ilmu itu.  Kita berlindung para argumen picik bahwa kemunduran ummat Islam karena non muslim menguasai ilmu-ilmu strategis, akibatnya kita hanya jadi penonton. Maka pertanyaan saya lainnya adalah, sampai kapan kita mau berlindung pada argumen bahwa anak Attaqwa tidak mampu hidup di luar habitatnya di bidang ilmu agama? Apakah kita masih rela menyerahkan bidang ilmu lain diambil oleh orang lain? Bisa kah kita, alih-alih menyalahkan orang lain, justru mengambil peluang dengan mendorong para santri untuk mengambil ilmu-ilmu di luar ilmu agama Islam?

Saya tidak berpikir sempit bahwa ilmu agama tidak penting. Semua ilmu penting, baik itu ilmu agama, ilmu sosial, dan ilmu alam. Semua penting, namun jelas kita harus mengejar ketertinggalan kita di bidang ilmu alam dan ilmu sosial. Saya senang ketika mendengar ada alumni yang mengikuti jejak kegilaan saya dengan mengambil kuliah di jurusan matematika dan kimia, sama senangnya ketika mendengar ada alumni yang mengambil sastra Indonesia dan sejarah. Artinya kita mulai membuka diri dengan keberadaan ilmu-ilmu lain di luar rumpun agama. Artinya Attaqwa mulai “mengizinkan” para alumni untuk hidup di luar habitatnya. Lagi pula, bukankah menyenangkan membayangkan ada seorang ahli kimia analis yang juga ahli fikih, atau ahli fisika yang juga ahli zikir? Bukankah menyenangkan membayangkan praktisi bank berdebat dengan sejarahwan? Tidakkah kita mengimpikan bahwa kelak Attaqwa akan menghasilkan lulusan di berbagai bidang keilmuan yang berkumpul dalam satu forum untuk menyatakan secara bersama-sama bahwa kita adalah keluarga besar Attaqwa? Saya rasa impian saya tidaklah berlebihan.

Bersambung....

Jadwal Salat