• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

Menapak jalan terjal pendidikan tinggi di Indonesia

on . Posted in Catatan Khusus

Ketika saya diminta untuk membuat satu tulisan tentang pendidikan tinggi di Indonesia, bolehlah saya katakan kalau saya mengalami kegalauan tingkat tinggi. Saya bukan praktisi pendidikan tinggi. Saya hanyalah orang yang mencicipi pendidikan tinggi di Indonesia, mulai tingkat sarjana hingga doktoral. Bolehlah saya mengklaim diri saya sebagai produk pendidikan tinggi di Indonesia. Akhirnya saya memilih untuk merefleksikan kembali apa yang telah saya jalani selama lebih dari satu dekade kuliah. Sesungguhnya banyak masalah yang terjadi di pendidikan tinggi di Indonesia, namun berdasarkan pengalaman, saya hanya berfokus pada tiga hal: (1) budaya kopi-salin (copy-paste) di kalangan mahasiswa, (2) kegagalan sistem pendidikan tinggi menghasilkan lulusan yang mumpuni dalam metodologi ilmiah, dan (3) minimnya keikutsertaan mahasiswa dalam aktivitas ilmiah.

Mari kita mulai dari masalah pertama – yang celakanya paling krusial: budaya kopi-salin di pendidikan tinggi. Bagi saya, salah satu akar masalah tingginya budaya kopi-salin di pendidikan tinggi adalah karena sistem pendidikan dasar di Indonesia tidak mendorong siswanya untuk berpikir kritis dan menulis. Sistem pendidikan dasar kita terlalu berfokus pada hasil ketimbang proses, akibatnya tanpa sadar sistem pendidikan dasar kita membentuk mentalitas praktis, pragmatis, dan instan. Sudah menjadi rahasia bersama, bahwa Sistem Kebut Semalam (SKS) menjadi biang keladi, mulai dari tingkat dasar hingga pendidikan tinggi. Di tingkat dasar misalnya, murid-murid lebih ditekankan pada menghapal ketimbang memahami. Mereka dituntut untuk memperoleh nilai tinggi tanpa mempertimbangkan apakah mereka memahami materi pelajaran atau tidak. Rezim Ujian Nasional (UN) memperparah gejala ini, di mana kelulusan seseorang ditentukan dari nilai ujian dalam satu hari.

Kesulitannya adalah, kerena membiasakan diri untuk kebut belajar dalam satu malam, maka kebiasaan tersebut terbawa hingga ke pendidikan tinggi. Ketika mahasiswa diminta untuk membuat makalah misalnya, hal pertama yang dilakukan bukanlah membaca dan memahami konsep-konsep, melainkan mencari informasi di dunia maya, berselancar di berbagai laman blog, maupun bertanya pada mbah google. Akibatnya, alih-alih membiasakan diri membaca dan memahami persoalan, para mahasiswa lebih suka berselancar di dunia maya, mencari ringkasan buku yang harus dibaca, kopi di sana kemudian salin di sini, ubah di sana dan tambah di sini, dan voila, jadilah makalah. Karena pendidikan tinggi berfokus pada hasil bukan proses, maka yang dicari adalah nilai Indeks Prestasi (IP) setinggi-tingginya meski untuk mencapainya harus mengorbankan sisi proses. Apa yang terjadi di Indonesia sesungguhnya menakutkan: sisi praktis dari dunia maya justru semakin mendorong sisi pragmatis mahasiswa yang berpikir cepat dan instan.

Persoalan budaya kopi-salin ini semakin runyam karena kegagapan mahasiswa, utamanya di tingkat pascasarjana, dalam menghadapi sistem pendidikan tinggi di Indonesia yang menuntut kemandirian dalam belajar. Ketika masih berstatus sebagai pelajar, kita terbiasa hanya belajar dari satu buku dan mengikuti apa yang diajarkan oleh guru. Kebiasaan ini masih terbawa hingga di tempat kuliah, sehingga ketika harus menghadapi dosen yang memiliki daftar buku yang akan dipakai, banyak di antara mahasiswa yang tidak siap. Celakanya, hal ini juga berlaku di tingkat pascasarjana. Pengalaman saya, banyak teman-teman saya di tingkat pascasarjana yang suka terkaget-kaget ketika menemukan satu mata kuliah yang memiliki lebih dari dua puluh buku yang harus dibaca.

Kegagapan ini semakin diperparah ketika si mahasiswa harus menghadapi buku berbahasa asing. Saya ambil contoh, di antropologi misalnya – sebagai bidang ilmu sosial yang paling asing, sebagian besar buku bacaan kuliah saya berbahasa Inggris. Bahkan di tingkat doktoral, semua buku yang dipergunakan adalah buku berbahasa Inggris. Akibatnya, karena tidak terbiasa membaca buku asing ketika masih di tingkat sarjana, banyak teman-teman di tingkat pascasarjana yang sangat bergantung pada Google Translate. Sangat menyedihkan. Akibat ketidakmampuan mahasiswa – entah itu mahasiswa sarjana, magister, dan doktoral – beradaptasi dengan sistem belajar, kebiasaan kebut satu malam, kemalasan untuk membaca bahan kuliah, hingga keinginan untuk berpikir instan menjadikan budaya kopi-salin menjadi semakin akut di dunia pendidikan tinggi di Indonesia.

Persoalan kedua yang juga memperihatinkan adalah kegagalan sistem pendidikan tinggi menghasilkan lulusan yang mumpuni dalam metodologi ilmiah, dalam hal ini adalah penguasaan metode penelitian dan penulisan yang baik dan benar. Adalah fakta yang tidak dapat disangkal, bahwa pendidikan di tingkat sarjana lebih menekankan pada pemahaman teoritik – sesuai dengan disiplinnya – dan mengabaikan persoalan metodologis. Banyak perguruan tinggi – utamanya perguruan tinggi swasta (PTS) – yang hanya memiliki satu mata kuliah metode penelitian, itupun hanya di semester satu. Berdasarkan pengalaman dengan berbincang dengan para sahabat yang kuliah di berbagai perguruan tinggi, perguruan tinggi negeri (PTN) nampaknya lebih baik dalam soal mata kuliah metodologi ilmiah.

Saya cukup beruntung bisa mencicipi kuliah di PTN yang sangat ketat soal menulis. Ketika saya berada di jenjang sarjana, saya harus belajar metode penelitian selama empat semester penuh: satu semester untuk metode penelitian sosial, satu semester untuk metode penelitian kualitatif, satu semester untuk metode penelitian kuantitatif, dan satu semester untuk statistik. Belum cukup, saya masih harus belajar metode penulisan selama dua semester, filsafat ilmu satu semester, dan kuliah membaca kritis selama satu semester. Artinya saya menghabiskan dua tahun pertama hanya untuk menulis dan memahami metode penelitian. Bahkan di tingkat pascasarjana, saya kembali berurusan dengan matakuliah metodologi ilmiah. Jika dibandingkan dengan para sahabat yang kuliah di perguruan tinggi swasta, bolehlah saya dikatakan sangat merana. Persoalannya adalah, bahkan PTN yang sangat ketat soal metodologi ilmiah acapkali gagal menghasilkan lulusan yang mumpuni dalam metodologi ilmiah. Masih banyak kasus plagiasi di kalangan mahasiswa PTN, hal yang sama parahnya terjadi di PTS.

Penguasaan metodologi ilmiah bagi lulusan perguruan tinggi adalah hal yang mutlak dan krusial, sehingga menjadi amat mengherankan jika ada lulusan perguruan tinggi yang tidak menguasai soal metodologi ilmiah. Persoalannya adalah, banyak lulusan perguruan tinggi yang bahkan tidak bisa membedakan antara asumsi, hipotesis, dan teori; banyak lulusan perguruan tinggi yang tidak bisa membedakan antara sampel dan populasi – bahkan tidak menguasai metode penelitian kualitatif maupun metode penelitian kuantitatif, bahkan banyak lulusan yang bahkan tidak mengerti cara mengutip tulisan orang lain dalam tulisannya. Ini persoalan yang sangat krusial yang dihadapi oleh pendidikan tinggi di Indonesia, bahwa banyak mahasiswa yang sesat pikir dengan berpikir bahwa yang penting lulus, tidak perlu ahli soal metodologi ilmiah.

Letak penting penguasaan metodologi ilmiah terletak pada persoalan ketiga: minimnya keikutsertaan mahasiswa dalam aktivitas ilmiah. Salah satu persoalan yang mengkhawatirkan adalah ketidakmampuan mahasiswa maupun lulusan perguruan tinggi – utamanya di tingkat pascasarjana – untuk mengungkapkan pemikiran maupun penelitiannya untuk konsumsi publik ilmiah, dalam hal ini adalah keikutsertaan mereka pada berbagai konferensi dan simposium, atau menulis untuk jurnal ilmiah. Ada dua masalah di sini yang saling berkaitan: Pertama, karena mereka tidak mengerti metode penelitian dan metode penulisan sehingga mereka tidak pernah menulis atau ikut serta dalam kegiatan ilmiah. Kedua, karena tidak pernah ikut dalam kegiatan ilmiah, banyak di antara mahasiswa dan lulus perguruan tinggi yang tidak memiliki kepercayaan diri untuk tampil di muka publik ilmiah untuk menyampaikan gagasan dan penelitian mereka.

Ada kesalahpahaman yang umum terjadi di pendidikan tinggi di Indonesia, bahwa urusan menulis dan publikasi tulisan adalah domain program magister dan doktoral. Akibatnya para mahasiswa sarjana tidak terbiasa menulis dengan kaidah yang benar dan tidak terbiasa tampil mempresentasikan tulisannya. Persoalannya semakin sulit justru ketika si mahasiswa tersebut melanjutkan ke jenjang pascasarjana, karena tidak terbiasa menuangkan gagasannya ke dalam tulisan, banyak mahasiswa pascasarjana yang gagap dalam menyampaikan gagasannya. Adalah fakta yang tidak dapat disangkal, bahwa amat sedikit mahasiswa pascasarjana yang mau mengikuti berbagai kegiatan konferensi atau menulis untuk jurnal ilmiah. Pengalaman mengajarkan saya, ketika saya mengikuti berbagai konferensi nasional maupun internasional, para panelis – yang menyampaikan makalah – utamanya sangat mengapresiasi mahasiswa yang ikut menjadi panelis dalam konferensi tersebut. Dapat dikatakan, bahwa keikutsertaan saya ke dalam berbagai aktivitas ilmiah membuka pintu bagi saya untuk ikut serta dalam komunitas ilmiah.

Aktivitas ilmiah sesungguhnya tidak hanya bagi mereka yang sudah memiliki sederet gelar akademik. Pengalaman mengajarkan saya, bahwa komunitas ilmiah sesungguhnya amat ramah terhadap para mahasiswa. Penguasaan atas metodologi ilmiah menjadi prasyarat utama untuk dapat berpartisipasi dalam komunitas ilmiah. Persoalannya adalah, banyak mahasiswa maupun lulusan perguruan tinggi yang minder untuk masuk ke dalam komunitas ilmiah ini. Karena tidak terbiasa menulis, maka amat sedikit dari kalangan mahasiswa yang percaya diri untuk mempublikasikan tulisan mereka. Akibatnya dapat dilihat dari skala makro, bahwa Indonesia kalah bersaing dengan negara serumpun Malaysia dan Singapura dalam publikasi tulisan ilmiah. Persoalannya sesungguhnya sederhana: kita bukan tidak memiliki bibit ilmuan yang memiliki tulisan yang bermutu, kita hanya kekurangan orang yang percaya diri untuk mempublikasikan tulisannya.

Lalu apa yang harus dilakukan, utamanya bagi teman-teman yang sedang menempuh pendidikan tinggi di Mesir dan tempat lainnya? Saya hanya bisa memberikan tiga saran: Pertama, jangan pernah berhenti untuk belajar. Jika memungkinkan, lanjutkan kuliah hingga jenjang yang tertinggi. Jadilah ahli dibidangnya masing-masing. Saya misalnya, setia pada disiplin antropologi sebagai disiplin utama. Penguasaan disiplin ini penting, sebab kita akan menghadapi suatu masa di mana hanya mereka yang ahli di bidangnya yang akan mampu bertahan. Dunia akademik di Indonesia sesungguhnya bukan dunia yang ramah bagi mereka yang tidak kompeten. Gelar akademik mungkin saja membuat nama mentereng, namun tidak akan ada artinya jika tidak memiliki keahlian dalam bidangnya. Jadilah ahli tafsir, ahli fikih, atau bidang sosial yang benar-benar ahli.

 Kedua, belajarlah untuk menguasai metodologi ilmiah dan mulailah untuk menulis dengan baik dan benar. Mohon maaf jika saya menyinggung, saya selalu mengkritik dua hal dari lulusan timur tengah secara umum: (1) para alumni timur tengah sangat ahli dalam teoritik namun sangat lemah dalam metode penelitian, dan (2) para alumni timur tengah sangat ahli dalam menjelaskan secara lisan namun sangat lemah dalam tulisan. Oleh karena itu, saya meminta teman-teman untuk mempelajari lebih serius metode penelitian, baik itu penelitian kualitatif, kuantitatif, statistik, maupun kepustakaan. Saya pikir ini penting dilakukan, terutama jika melanjutkan pendidikan di Indonesia. Cobalah belajar secara otodidak, setidaknya pada kaidah-kaidah dasarnya. Kemudian, mulailah untuk menulis, tidak perlu yang serius, cukuplah artikel-artikel ringan, yang terpenting adalah terbiasa untuk menulis.

Ketiga, sedapat mungkin ikuti kegiatan ilmiah. Mulailah untuk hadir dalam seminar maupun konferensi. Cobalah untuk tidak hanya sebagai pendengar, melainkan sebagai pemberi materi. Percayalah bahwa komunitas ilmiah sangat ramah terhadap para mahasiswa, sebab merekapun memahami bahwa tidak mudah bagi para mahasiswa untuk mempresentasikan tulisannya di hadapan mereka. Keuntungan lainnya dengan ikut berbagai seminar dan konferensi adalah membuka jaringan, dan dengan masuk ke dalam jaringan tersebut kita bisa masuk ke dalam komunitas ilmiah. Masuk ke dalam komunitas ini penting, sebab tidak hanya menguntungkan diri kita, namun juga dapat mengharumkan nama almamater. Dalam setiap konferensi saya tidak pernah menyebut diri sebagai lulusan Unair atau lulusan UI, saya selalu mengatakan kalau saya adalah lulusan Pondok Pesantren Attaqwa yang kebetulan penah kuliah di UI. Setidaknya bagi saya itu terdengar keren, ada anak pesantren kesasar di kalangan antropolog dan menyampaikan presentasi, menegaskan bahwa lulusan pesantren tidak hanya bisa ceramah di pesantren dan bicara soal agama saja.

 

Keterangan: tulisan ini dibuat khusus untuk Tabloid Kreasi terbitan IKPMA Kairo.

Jadwal Salat