• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

Utara Bekasi Bukan Untuk Dijual!! #SaveBekasi #SaveNeneng

on . Posted in Catatan Khusus

Kemarin (18/4) sebuah acara luar biasa dihelat. Luar biasa, karena untuk kali pertama, isu lingkungan dibahas di Attaqwa. Acara itu bernama “Seminar Pembangunan di Utara Bekasi Dalam Perspektif Lingkungan dan Sosial: Antara Peluang dan Ancaman”, yang merupakan kerjasama antara STAI Attaqwa dan Ikatan Keluarga Abiturien Attaqwa (IKAA). Acara tersebut mendatangkan Dr. M.Harun Al Rasyid (Unisma), Selamet Daroyni (PO INCLEI Indonesia), Dr. Arif (PERWAKU), dan KH. Abid Marzuki, M.Ed (STAI Attaqwa).

Di tengah pemaparan yang amat kaya data, ada satu pertanyaan penting – setidaknya bagi saya – terlewatkan: kemana laju pembangunan di Utara Bekasi itu diarahkan? untuk menjawab hal itu, izinkan saya bertutur.


Para Narasumber Seminar

Lima belas tahun lalu, saya masih ingat betul bagaimana wilayah yang sekarang bernama Sektor V masih berupa hamparan persawahan. Saya masih ingat, setiap sabtu siang, bersama almarhum ayah saya, kami berdua jalan ke Sektor V dengan menembus sawah, ke sebuah lahan yang saat ini menjadi Yayasan Attaqwa 49. Jalan kaki. Ya betul, jalan kaki. Saat ini, jalan tersebut telah menjadi area permukiman padat penduduk. Jangan tanya berapa jumlah penduduknya, sebab satu-satunya yang saya tahu, bahwa saya nyaris lupa bagaimana wajah persawahan itu dulunya.

Pada awalnya, adalah sebuah mimpi besar pemerintah pusat untuk membangun sebuah struktur kota raksasa yang bernama kota megapolitan. Isinya tentu saja Jakarta sebagai titik episentrumnya. Dari Jakarta lah pembangunan dimulai, dan celakanya Bekasi, sebagai wilayah yang berbatasan langsung dengan Jakarta kemudian menjadi kota satelit, yang pendarnya mengikuti pendar warna Jakarta. Tentu saja saya paham betul, bahwa tujuan menjadikan Jakarta sebagai episentrum adalah karena posisi Jakarta sebagai pusat administrasi pemerintahan sekaligus pusat ekonomi, sehingga Jakarta tidak mungkin dapat berdiri sendiri. Jakarta membutuhkan penopang, berapapun “harga” dan “biaya sosial” yang harus dikeluarkan. Itu adalah harga yang amat mahal untuk ditebus untuk mencapai satu mantra sakti yang bernama pembangunan.

Pembangunan, bahkan dalam nalar paling awam, adalah membuat sesuatu yang belum ada menjadi ada. Pembangunan mewujud dalam satu tujuan utama yang dikejar pemerintah: kesejahteraan (yang katanya) untuk semua rakyat. Atas nama pembangunan, pemerintah pusat kemudian berselingkuh dengan para komprador industri, yang celakanya didukung oleh para begawan ekonomi, mendirikan pusat-pusat industri di sekitaran Jakarta. Di mana lagi? Jelas Bekasi. Jakarta terlalu ringkih untuk menanggung beban sebagai pusat industri. Bahkan dalam skalanya sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan, Jakarta sudah berjalan tertatih-tatih, nyaris mati.

Maka tumbuh suburlah industri di mana-mana, bak cendawan di musim hujan dan lava yang membakar semua jalan yang dilewatinya.

Lalu muncul satu pertanyaan, jika pembangunan mensyaratkan adanya industri (lupakan asumsi trickle down effect alias efek menetes ke bawah karena itu jelas cuma bualan dan pepesan kosong), maka dibutuhkan area untuk menampung para pekerja. Di mana kita bisa menampung para pekerja itu? Ya Bekasi. Tanpa bermaksud melupakan daerah lain seperti Bogor, Depok dan Tanggerang, Bekasi adalah tujuan utama. Mengapa? Jelas terlihat. Mustahil membuat permukiman skala masif di Bogor dan Depok yang kontur tanahnya tidak rata, maka pilihannya tinggal Bekasi dan Tanggerang. Kalaupun kita asumsikan bahwa pembangunan permukiman di Bekasi dan Tanggerang itu berjalan sama, saya meragukan kalau Tanggerang bisa memberikan hal yang ditawarkan Bekasi: lahan maha luas dengan kontur datar dan harga yang teramat murah. Ya, persawahan itu kini berganti wajah menjadi permukiman. Siapa sangka, tempat jin buang anak itu kini telah menjadi pusat elite perbelanjaan.

Pertanyaannya, di wilayah Bekasi mana permukiman bisa dibangun? Ketika Cikarang dan Cibitung sudah disulap menjadi wilayah industri, maka pilihan paling logis adalah bergeser ke Utara, ke wilayah yang dianggap belum berkembang (untuk tidak mengatakan terbelakang). Tidak sulit membayangkan bagaimana areal persawahan menjadi lahan permukiman. Di tangan pemerintah Orde Baru, satu mantra sakti yang tidak mungkin ditolak: PKI. Mungkin anda bingung, apa hubungannya antara PKI dengan pembangunan? Secara historis tidak ada, namun secara sosiologis dan psikologis ada.

Seorang sahabat saya pernah berujar, dosa masa lalu meninggalkan bayangan panjang. Ya, itu benar. Apa yang terjadi di sekitar saya adalah dosa masa lalu yang bayangannya masih terasa hingga saat ini. Kita boleh mengatakan bahwa apa yang terjadi saat ini adalah kekeliruan masa lalu. Kekeliruan atas nama pembangunan kemudian pemerintah mengambil posisi liberal, dengan memberikan izin usaha dan ekspansi lahan. Mengubah wajah Utara Bekasi menjadi wajah yang dipenuhi cacar, rumah monopoli (saya sih menyebut rumah di komplek perumahan sebagai rumah monopoli karena kesamaan bentuk dan warna genteng) mewabah, bak jamur di musim hujan.

Disinilah letak masalahnya. Kebijakan pembangunan yang amburadul tidak mempertimbangkan aspek ekologis dan sosiologis masyarakat. Tentu saja tololnya saya berharap aspek ekologis dan sosiologis menjadi pertimbangan. Para pengambil kebijakan hanyalah orang-orang dengan otok kosong dan mulut yang selalu menganga lebar, sedangkan para pengembang (saya selalu menolak kata “pengembang”) hanyalah para penjual yang selalu mencari untung. Bagaimana kedua pihak ini bisa bertemu dan mencapai kata sepakat tidak perlu saya jelaskan. Gunakan imajinasi, dan kita semua paham, ini hanyalah masalah bisnis.

Di sisi lain, pembangunan bukan hanya mengubah wajah lingkungan. Pembangunan menyedot jiwa setiap orang yang terperangkap di dalamnya. Pembangunan menghasilkan "kota tanpa jiwa". Pembangunan mengubah wajah sosial, meniadakan identitas dan keunikan, menafikan semua sistem dan pranata, dan membongkar apa yang kita sebut sebagai “adat ketimuran”. Kalau anda tidak percaya, lihat saja pagi hari, ketika semua orang bergegas hendak ke kantor, ke sekolah, pabrik, atau apapun namanya. Anda hanya melihat wajah yang tegang, khawatir terlambat. Wajah-wajah tertutup masker dan helm. Wajah yang tidak kita ketahui siapa dan dari mana wajah itu berasal. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa pembangunan mencerabut kita dari akar kemanusiaan kita. Pembangunan, alih-alih mensejahterakan dan memanusiakan, justru membuat semua orang menjadi robot.

Apa gunanya bicara kebudayaan ketika dihadapkan dengan pembangunan? Ribut-ribut soal identitas (terserah deh mau identitas lokal atau nasional) atau kebudayaan hanya terjadi dalam wadah diskusi akademik. Ga ada tuh yang risau soal identitas ketika bicara di ruang keluarga. Semua orang sudah terlalu lelah untuk bicara mengenai identitas, rasa kekeluargaan, gotong royong, sebut saja apapun. Pembangunan – melalui semua instrumennya – menyedot semua energi. Dengan demikian, pembangunan membawa efek samping, apa yang oleh Merton disebut unintended consequences, konsekuensi yang tidak diinginkan (tapi toh muncul juga).

Pertanyaannya, apakah saya membenci pembangunan? Jelas tidak. Adalah hipokrit bin munafik kalau saya membenci pembangunan sambil ngetik di laptop sambil ngopi Kalosi Toraja. Adalah hipokrit bin munafik kalau saya membenci pembangunan padahal menikmati lancarnya koneksi internet di rumah. Adalah hipokrit bin munafik kalau saya membenci pembangunan padahal masih sering ke pusat perbelanjaan. Segala sesuatu jelas ada plus dan minusnya, termasuk pembangunan. Pembangunan membuka banyak hal, sekaligus menghapus banyak hal. Semua hal ada biayanya. Orang Jawa Timur suka bilang, Jer Basuki Mawa Bea, segala sesuatu ada biayanya. Itulah biaya yang kita bayarkan untuk menerima pembangunan. Rasanya seperti jual jiwa kepada setan, bahwa kita menikmati hal-hal tertentu namun ada sebagian dari diri kita yang hilang. Bagi saya, kehilangan terbesarnya adalah kenikmatan berjalan di sawah atau memandang kunang-kunang di malam hari.

Tapi ada satu hal yang menarik dalam seminar kemarin, ketika para narasumber menjelaskan posisi Bupati Bekasi sebagai pihak yang bisa mengubah keadaan. Maka saya pun bertanya, adakah Bekasi memiliki Bupati? Saya ragu. Orang yang duduk sebagai Kabupaten Bekasi 1 bukanlah Bupati. Dia hanyalah pion di tengah papan catur raksasa. Geraknya terbatas, atau barangkali dia sengaja membatasi diri (wah, celaka benar jika begitu). Saya tidak merasa kalau Bekasi memiliki Bupati, entah siapa sosok yang bernama Neneng Hasanah Yasin itu sesungguhnya, saya tidak tahu, dan tidak ingin tahu juga. Anda boleh menyebut saya egois dan tolol dengan menyatakan diri tidak mau kenal dengan orang bernama Neneng. Buat apa. Secara pribadi saya tidak berkeinginan, bahkan secuilpun, untuk masuk dalam ring 1 Bupati. Pantang bagi saya menjilat pantat orang lain untuk mencapai popularitas. Alih-alih membenci, saya justru kasihan terhadap orang bernama Neneng ini yang begitu berhasratnya ingin jadi Bupati Bekasi.

Maka saya menyadari sepenuhnya kalau saya mendua.

Di satu sisi, saya khawatir bahwa bayangan dari dosa masa lalu itu masih akan terus berlanjut. Tidak ada jaminan bahwa lahan persawahan akan berhenti mengubah diri menjadi cacar rumah monopoli, atau berubah menjadi cerobong asap. Tidak ada jaminan kalau Utara Bekasi bebas banjir, yang ada justru kita semakin dibanjiri oleh wabah sampar minimarket (yang meluluhlantakkan warung-warung). Tidak ada jaminan kalau kita bebas dari rasa takut (dulu sih saya takut sama pocong dan sebangsa lelembut lainnya, namun saat ini agaknya terbalik, mereka lah yang takut pada terangnya lampu rumah dan jalan), yang ada justru kita semakin khawatir sebab kita tidak lagi mengenal lingkungan sosial tempat kita tinggal. Jika Marx melihat alienasi pada kelas pekerja, saat ini pun saya merasa teralienasi di lingkungan sosial saya. Kita yang dahulu membentuk wajah sosial, kini kita yang takut pada wajah itu sendiri.

Lalu bagaimana dengan orang bernama Neneng ini yang begitu berhasratnya ingin jadi Bupati Bekasi? Apa yang bisa ia lakukan? Banyak sesungguhnya. Seandainya saja orang itu tidak dikelilingi oleh para penjilat. Saya percaya kalau orang bernama Neneng itu orang baik. Ia hanyalah anak pengusaha. Seorang dokter yang harusnya memahami bagaimana simptom sebuah penyakit untuk dicari solusi pengobatannya. Seharusnya, ya hanya seharusnya. Tapi apa boleh buat. Bahkan dokter di rumah sakit pun tidak bisa mengobati tanpa adanya bantuan obat-obatan. Selalu ada pihak ketiga yang membantu. Yah apa boleh buat. Dia hanyalah anak pengusaha, yang kebetulan dokter (dan gagal pula memahami kalau rakyatnya itu sakit), yang kebetulan terpilih jadi Bupati.

Maka sebuah pikiran nakal pun berkelebat di otak kotor saya. Seandainya saya bertemu dengan Bupati Bekasi, saya mungkin akan bilang, “Bu Neneng yang baik. Anda tidak perlu menyukai saya atau apa yang saya katakan. Mari Bu Neneng, ngeteh dengan saya di serambi rumah ibu saya. Bu Neneng yang baik. Jadilah seperti ibu yang menyayangi semua anaknya. Jadilah Pertiwi, Gaea, Ibu Bumi, yang memberikan kesejahteraan bagi setiap manusia yang bergantung kepadanya. Dengarkan suara kicauan burung, apakah anda mendengar? Jelas tidak, karena burung-burung pun sudah enggan tinggal di Bekasi. Lalu apa yang anda dengar? Dengkingan klakson dan sumpah serapah orang? Kasihan ya. Lihatlah kunang-kunang, apakah anda lihat? Jelas tidak, karena kunang-kunang sudah lama pergi. Lalu apa yang anda lihat? Kilau lampu LED penerangan jalan dan lampu mobil? Kasihan ya. Rasakan riak air di pinggir kali, apakah anda rasakan dinginnya? Jelas tidak, karena kali sudah lama beralih fungsi. Lalu apa yang anda rasakan? Sampah nyangkut di kaki? Atau barangkali anda terlalu takut untuk menceburkan kaki karena melihat buih limbah industri? Kasihan ya. Rasakan nikmatnya nasi dari padi yang tumbuh di tanah Bekasi, apakah anda bisa rasakan pulennya? Jelas tidak, sebab padi tidak lagi memiliki ruang untuk tumbuh. Lalu apa yang anda makan? Jangan-jangan beras impor (jelas bukan raskin Bulog). Kasihan ya. Nikmati hembusan sepoy angin, apakah terasa? Jelas tidak, sebab angin telah terhalang belantara beton. Jadi angin dari mana itu? Oh, itu rupanya dari pendingin ruangan. Jadi bagaimana, Ibu yang baik. Apa yang anda rasakan? Tidak ada? Ya jelas tidak ada, sebab syurga sudah lama hengkang dari Bekasi. Barangkali hanya di Utara Bekasi anda dapat menemukan oase. Pertanyaannya, maukan anda menjaga Oase itu? Bersediakah anda menjaga secercah ruang bagi anak-anak kami untuk main bola, ataukah hanya kuburan yang tersisa bagi anak-anak kami untuk saling tertawa dan mengadu layangan? Maukah anda mengundang kembali burung-burung dan kunang-kunang? Saya percaya Bu Neneng orang baik dan mau berbuat kebaikan, hanya anda terlalu bodoh untuk menyadari belitan ular beludak di sekitar. Pesan saya cuma satu: tolong, Utara Bekasi jangan dijual. Selamatkan kami, dan anda akan selalu diingat sebagai orang yang berhasrat jadi Bupati untuk menyelamatkan burung-burung dan kunang-kunang. Itu cukup, lebih dari cukup”.

Sudah ah, ko saya jadi mengkhayal (sambil menyesal karena kopi saya terlanjur dingin).

#SaveBekasi #SaveNeneng

P.S. Saya bukan tim sukses, dan jika orang bernama Neneng ini memilih untuk membiarkan burung-burung pergi, ya sudahlah. Jangan pilih dia lagi. Entah warisan apa yang dia tinggalkan, kecuali rasa menyesal, bahwa kita telah menggadai Bekasi dengan harga yang amat murah.

Jadwal Salat