• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

Scoptoma dan persoalan klaim objektif Buni Yani

on . Posted in Catatan Khusus

 

Sedari malam hingga pagi ini, lini masa media sosial saya penuh soal mas Buni Yani (BY). Sebetulnya saya jenuh soal ini, tp logika yg dipergunakan para sahabat saya yg membela mas BY menggelitik saya. Bagi para sahabat saya, apa yg dilakukan oleh mas BY sudah benar dalam koridor akademik. Betulkah? Mari saya jelaskan soal apa yg dilakukan oleh mas BY dari sudut pandang saya sebagai peneliti.

Sebelum saya terlanjur ngomong panjang, penting meletakkan mas BY dlm konteksnya, yakni dlm posisi dia sebagai "orang kampus". Saya pikir jawabannya jelas, dlm banyak kesempatan mas BY selalu menempatkan posisi sbg dosen cum peneliti di salah satu kampus swasta (kesampingkan dulu sejarah akademik dia d Ohio ato klaim dia sbg kandidat doktor dr Leiden).

Sebagai peneliti, mas BY saya anggap paham betul bagaimana risiko dunia riset, bagaimana sebuah data diperoleh, diverifikasi, dianalisis, ditafsirkan, dan disimpulkan. Bagaimana satu data bisa menghasilkan beragam interpretasi di tangan peneliti yg berbeda.

Misalnya, bagaimana pembacaan atau prmahaman anda kalau saya katakan bahwa Angka Kematian Ibu di Indonesia mencapai 359 orang per 100.000 kelahiran (Data SDKI 2012)? Bagi sebagian orang, mungkin berpikir ah jumlahnya kecil, masih ada 99.641 yg selamat. Bagaimana kalau saya katakan di tahun 2013 terdapat 9352 ibu yang meninggal dalam setahun. Artinya, terdapat 779 orang ibu yang wafat dalam sebulan, atau 25 ibu dalam sehari, atau sekitar 1 orang setiap jam? Datanya tetap sama, hanya penyampaiannya berbeda. Bagaimana anda memahami data tersebut? Masihkah anda berpikir angka tersebut kecil?

Bagi kami peneliti, apalagi di ilmu sosial, data menjadi titik awal, sekaligus titik krusial. Data dapat dibaca dengan cara yg amat beragam, bergantung pada pemahaman maupun latar belakang si peneliti. Lupakan dulu soal tafsir dan analisa atas data, sebab bisa diseret kemana-mana - bergantung pada agenda, kepentingan, pesan sponsor, ataupun interest pribadi si peneliti.

Persoalannya, dalam memperoleh dan menganalisa data, kami para peneliti di ilmu sosial, karena sebagian besarnya masih berparadigma positivis, masih merasa perlu untuk menjelaskan bahwa data diperoleh dengan objektif. Bahwa peneliti tidak subjektif bla bla bla.

Bagi sebagian orang yg saya kenal, objektivitas - sayangnya hanya justifikasi. Objektivitas menjadi dalih pembenar seakan bahwa penelitian yg dia lakukan itu benar, tanpa tendensi, netral, bebas bias, bebas kepentingan, valid dan sahih, bla bla bla.

Pertanyaannya, bisakah seorang peneliti objektif dalam memperoleh data dan menganalisa data? Saya ragu. Dalam konteks mas BY, yg dalam beberapa wawancara selalu menyatakan posisinya dgn jelas: bahwa yg dia lakukan sudah BENAR dan secara OBJEKTIF dapat dipertanggungjawabkan. Pertanyaannya, apakah dia sudah melakukan apa yg dituntut dr seorang peneliti ketika memperoleh data dan menganalisa data?

Disinilah letak kekecewaan saya. Jika dia mengklaim sbg wartawan atau orang awam, saya ga akan komplain apalagi nulis status segala. Menurut penjelasannya, di berbagai wawancara dan ILC, bahwa yg dilakukan mas BY hanyalah mengunduh dr fanspage FB, kemudian dia verbatim (lupakan soal kelalaian dia), dia unggah kembali disertai caption dan transkripsi dia. Dan setelah semua itu dilakukan, mas BY kemudian berkata kalau yg dia lakukan sudah benar secara keilmuan.

Yassalam. Mau ditaruh di mana muka? Orang-orang yg sepenuh hati melakukan riset dengan serius, harus ke daerah terpencil sambil berpanas-panas ria. Bagaimana mas BY menjelaskan soal kewajiban dia untuk cek dan verifikasi? Bagaimana mas BY menjelaskan soal teks dan konteks (padahal dia mengklaim diri sbg "pakar" media)? Atau lebih penting, bagaimana dia menjelaskan soal posisi dia ketika memperoleh data dan ketika menganalisis (dalam bahasa yg lebih sederhana, bagaimana mas BY memahami posisinya ketika mendengar, melihat, dan membuat transkripsi)?

Sebagian sahabat saya membela mas BY dgn mengatakan bahwa kritik nyinyir saya karena perbedaan paradigma yg saya anut. Bahwa saya mengamini paradigma kritis, itu sebabnya saya mempersoalkan posisi seorang peneliti terhadap subjek (ingat ya subjek bukan objek penelitian). Itu sebabnya saya kritik saya dianggap salah sasaran. Bagi sahabat-sahabat saya, yg dilakukan mas BY itu SUDAH BENAR, dgn menarik diri dr konteks, melakukan verbatim dgn hati-hati, dan menyampaikan apa adanya. Tanpa tendensi. Tanpa kepentingan. Tanpa bias (sic!)

Saya akui secara terbuka, bahwa saya dibesarkan dlm tradisi antropologi dan berkembang dlm semangat feminis. Bagi saya, objektivitas adalah dalih pembenar yg represif dan abai terhadap pengetahuan itu sendiri. Dengan menarik diri dr konteks, peneliti seakan membebaskan dr konsekuensi politis. Padahal yg terjadi adalah bias otoritarian, antara peneliti dan objek yg diteliti. Dengan menyampaikan data (dlm hal ini hasil verbatim) yg dianggap objektif, maka yg dilakukan oleh mas BY adalah pengkhianatan dan perampokan besar-besaran atas kaidah keilmuan.

Bagi saya, yg dilakukan mas BY adalah scoptoma. Orang hanya akan melihat apa yg ingin dia lihat. Adalah umum terjadi dalam dunia riset, ketika seorang peneliti sudah "membawa beban pengetahuan" ketika dia melakukan riset. Omong kosong kalau dikatakan bahwa peneliti HARUS bebas nilai dan meninggalkan pengetahuannya ketika tiba di lapangan. Dengan dalih universalitas ilmu pengetahuan harus objektif dan bebas nilai, seorang peneliti dituntut untuk membuang jauh-jauh subjektivitas dirinya. Peneliti harus mampu mengambil jarak, mengamati dinamika sosial tanpa perlu terlibat. Masyarakat tak ubahnya seperti laboratorium yg hasilnya dapat dilihat tanpa perlu bersentuhan dgn si peneliti. Bagi saya, subjektivitas bukan harus ditolak melainkan disadari dan diakui secara terbuka.

Scoptoma berbeda dengan subjektivitas.
Subjektivitas adalah posisi politis. Ia adalah kesadaran, bahwa ilmu pengetahuan itu sendiri tidak pernah bebas nilai. Ia adalah kemampuan untuk terbuka bahwa peneliti pun berperan dalam seleksi data, memahami data, dan menganalisis data. Subjektivitas mendorong interaksi antara peneliti dan subjek untuk mengkonstruksi pemahaman dan pengetahuan. Dengan demikian, pengetahuan adalah bangunan yg tak pernah selesai.

Scoptoma di sisi lain, terma ini dipakai d psikologi, adalah kondisi di mana mata hanya melihat apa yg ingin dipercayai oleh otak. Artinya, pikiran manusia hanya menerima apa yg diekspektasikan atau apa yg ingin dilihat. Scoptoma seringkali membatasi peneliti hanya melihat apa yg ingin dia lihat, atau sekedar melihat atau memperoleh data yg sesuai atau mendukung kesimpulan yg sudah dia buat. Scoptoma tidak bertujuan mengkonstruksi pengetahuan, namun menjadi justifikasi dari pengetahuan itu sendiri. Scoptoma, ibarat seorang pejabat teras, yg katanya melakukan sidak tapi yg tempat dan waktu sidaknya sudah diatur. Dia hanya melihat apa yg ingin dia lihat.

Scoptoma - setidaknya dr org2 yg saya temui - adalah gejala yg nyaris universal dr orang-orang yg mengagungkan objektivitas penelitian. Sayangnya, mas BY ada d sini. Lihatlah berbagai wawancara yg dia lakukan. Tidakkah menggelikan ketika dia menyatakan kelalaiannya dengan menyalahkan airphone? Tidakkah mengherankan jika dia tiba-tiba pada konklusi bahwa masalahnya bukan dengan metodenya, melainkan pada fakta bahwa ada seorang public figure bicara SARA? Tidakkah mengkhawatirkan jika di tempurung kepala org yg mengklaim diri diri sebagai peneliti sudah tiba pada kesimpulan padahal tidak ada satupun prosedur ilmiah dia lakukan? Lalu apa bedanya riset ilmiah dengan gosip dan bisik-bisik tetangga?

Saya mencela mas BY justru karena dia selalu memposisikan diri sebagai sivitas akademika. Dia berlindung di balik tameng universitas sbg produsen ilmu pengetahuan. Dia berlindung di balik jubah keilmuan yg membuat silau sebagian sahabat saya. Tapi tidak bagi saya, atau bagi orang-orang yg mengabdikan dirinya bagi pengetahuan. Apakah karena dia dosen kemudian apa yg dia lakukan sudah pasti benar secara keilmuan? Apakah karena dia dosen kemudian menjadi sosok yg bebas kritik? Enak betul. Bagi saya, satu-satunya faedah dr peristiwa ini adalah pengingat bagi kami, di dunia riset, bahwa sebuah pengkhianatan akademik bisa dimulai dgn cara yg amat sederhana: cukup unduh, verbatim, dan unggah.

 

Jadwal Salat