• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

Masih soal identitas nasional, lalu di mana relevansinya Sumpah Pemuda?

on . Posted in Catatan Khusus

Beberapa hari ini saya bosan setengah mati mengikuti perdebatan mengenai identitas nasional. Tolong jangan salah paham. Bukan berarti saya menganggap identitas nasional tidak penting, hanya saja rasanya perbincangan mengenai identitas nasional kok persis kayak kurma. Kalau kurma hanya muncul ketika Ramadhan, maka perbincangan mengenai identitas nasional hanya muncul ketika menjelang kemerdekaan Agustus dan mendekati sumpah pemuda pada oktober.

Siapa pun yang tertarik pada sejarah bangsa akan mengetahui persis apa yang terjadi pada tanggal 28 Oktober tahun 1928. Ya, itu lah hari di mana sumpah pemuda dibacakan. Apa itu sumpah pemuda? Sumpah pemuda adalah sumpah yang diucapkan pada saat Kongres Pemuda II pada tanggal 28 Oktober 1928, bertempat di tempat yang saat ini dikenal dengan nama Museum Sumpah Pemuda yang terletak di Jl. Kramat Raya 106 Jakarta. Sumpah pemuda sendiri pada hakikatnya adalah janji pemuda untuk mencapai apa yang saat ini kita kenal dengan nama Indonesia. Hakikat ini termaktub dengan sangat jelas dalam sumpah yang dibacakan, yaitu:

 
Pertama. Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea. Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga. Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.
 
Saya kembali ke pertanyaan yang diajukan teman saya, “di mana relevansinya Sumpah Pemuda?”. Bagi saya pertanyaan ini penting. Bagi saya relevansi sumpah pemuda justru ada pada poin terakhir, poin yang dapat kita jadikan sebagai identitas nasional. Seorang teman pernah bertanya pada saya, apakah dengan kita menentukan sesuatu sebagai identitas nasional kita akan mereduksi hal tersebut hanya menjadi sebuah penanda yang diakui secara nasional dan global? Bagi saya ya. Bahkan lebih dari itu, identitas nasional secara gamblang telah menjadikan sebagian besar hal menjadi liyan. Saya secara pribadi membayangkan bahwa identitas nasional muncul bukan dari artefak kebudayaan. Saya bukan orang yang terlalu semangat menjadikan batik sebagai identitas nasional. Bukan karena saya tidak mencintai batik, tapi ketika kita menjadikan batik sebagai identitas nasional, maka secara tidak langsung kita meliyankan yang bukan batik, seperti songket, ulos, atau lainnya. Di sisi yang berbeda, saya rasa ada satu masalah lain, yakni keinginan kita untuk membentuk sebuah identitas nasional rasanya ko selalu Jawa-sentris. Apa-apa ko dihubungkan dengan Jawa. Saya sendiri sebagai orang yang tinggal di pulau Jawa kadangkala kurang mempertimbangkan bagaimana teman-teman yang bukan dari pulau Jawa. Bagaimana reaksi mereka ketika mendengar bahwa batik menjadi identitas resmi bangsa ini. Barangkali saya terlalu paranoid, tapi saya rasa penting untuk mengambil elemen yang berlaku nasional untuk menghindari celaan primordialisme yang dengan senang hati akan dialamatkan manakala kita gegabah dalam menentukan identitas nasional.
 
Saya sendiri menolak usaha sebagian saudara saya untuk menjadikan Islam sebagai identitas nasional. Meskipun menghadapi kritik dan sentimen agama, namun saya berkeyakinan bahwa menjadikan salah satu agama sebagai identitas nasional secara langsung akan meliyankan agama yang lain. Bagaimana mungkin kita menjadikan satu agama, meskipun dikatakan mayoritas, sebagai pedoman dasar bagi peletakkan identitas nasional kita? Bukannya saya tidak menghargai para pejuang kita, yang mana pada masa lalu berjuang atas nama agama, namun penting bagi saya untuk meletakkan masalah pada proporsinya. Benar bahwa Diponegoro tidak lah melakukan Perang Jawa atas nama bangsa Indonesia, sebab apa yang kita maksud dengan Indonesia pada saat itu belum ada, namun lebih ada faktor pribadi dan agama. Benar bahwa Tuanku Imam Bonjol maupun Sultan Hasanuddin berperang, lalu bagaimana dengan para pahlawan lain? Sebut saja Christina Marta Tiahahu? Manakala sentimen agama kita letakkan sesuai dengan proporsinya, saya berkeyakinan bahwa perdebatan mengenai apakah satu agama akan dijadikan identitas nasional akan tereliminir dengan sendirinya.
 
Saya rasa Bahasa Indonesia dapat menjadi identitas nasional yang diterima secara penuh oleh semua pihak. Bukan kah sumpah pemuda telah secara jelas menyatakan menjunjung tinggi bahasa persatuan, yakni bahasa Indonesia? Jadi saya rasa tidak ada kendala yang berarti manakala kita mengambil bahasa Indonesia sebagai identitas nasional. Berbeda dengan artefak budaya lain, di mana seringkali kita akan saling klaim dengan para tetangga kita, tapi berbeda dengan bahasa Indonesia. Rasanya belum pernah ada saling klaim soal bahasa Indonesia dengan para tetangga kita. Memang secara historis bahasa yang kita gunakan saat ini adalah bahasa melayu yang dijadikan lingua franca, agaknya hal ini berkaitan erat dengan keengganan para pendiri bangsa untuk menjadikan bahasa Jawa sebagai bahasa nasional. Selain karena bahasa Jawa mengandung tata bahasa yang rumit, sehingga yang dibutuhkan adalah bahasa yang mudah dipahami dan digunakan. Di sisi yang berbeda, bahasa persatuan harus lah bahasa yang tidak menyiratkan struktur sosial yang ketat, dan agaknya hal ini ditemukan dalam bahasa melayu. Saya sendiri menduga, seandainya bukan bahasa melayu yang menjadi landasan utama bahasa Indonesia, barangkali kita akan sulit berkomunikasi manakala setiap kita hanya berkomunikasi dengan bahasa daerahnya masing-masing.
 
Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bukan lah bahasa yang statis. Lihat saja Kamus Besar Bahasa Indonesia. KBBI setidaknya telah mengalami revisi besar sebanyak tiga kali. Saya sendiri belum punya edisi terakhir. Jika melihat KBBI, jelas terlihat betapa bahasa Indonesia telah mengalami banyak penambahan materi bahasa, baik itu lema maupun sublema. Dalam hal ini, KBBI memberikan gambaran yang tegas betapa bahasa Indonesia adalah bahasa yang terbuka terhadap pergerakan zaman, sama halnya dengan bahasa Inggris yang senantiasa berubah. Perubaan ini bagi saya menjadi kata kunci penting manakala kita berbicara mengenai identitas nasional.
 
Bagi saya, identitas nasional tidak boleh bersifat statis, pun tidak boleh berubah-ubah sepanjang waktu. Sebuah identitas adakalanya berubah untuk kepentingan pengguna identitas itu sendiri. Saya sendiri misalnya, sebagai sebuah pribadi membutuhkan sebuah identitas pribadi, dan identitas pribadi saya selalu berkembang sejalan dengan perkembangan diri saya. Adalah sangat mustahil melihat diri saya saat ini dengan menggunakan identitas pribadi sepuluuh tahun yang lalu. Demikian pula dengan bangsa ini. Jika identitas nasional bangsa ini terletak pada sesuatu yang baku, bukan kah kita akan selalu berubah? Lalu bagaimana perubahan yang kita alami sebagai bangsa akan diakomodir oleh identitas nasional kita?
 
Barangkali pertanyaan yang paling mendasar adalah, apa yang kita maksud dengan bangsa Indonesia? Dosen saya pernah bertanya, akan kah yang kita maksudkan dengan bangsa Indonesia sama sebagaimana yang dimaksudkan oleh Anderson? Bahwa bangsa pada dasarnya adalah sebuah konsep, sebuah komunitas yang dibayangkan? Imagined communities atau komunitas yang dibayangkan pada dasarnya menyatakan bahwa yang dimaksud dengan bangsa pada dasarnya adalah sebuah bayangan. Bahwa bangsa yang ada saat ini diletakkan pada pondasi bahwa kita mengikatkan diri kita, suka rela atau tidak, ke dalam sebuah komunitas bersama, yang kita bayangkan bersama, sebagai bangsa Indonesia. Sebagai sebuah komunitas yang dibayangkan, tidak menjadi penting bahwa anda berinteraksi dengan orang-orang nun jauh di sana. Saya memiliki teman-teman yang berasal dari berbagai wilayah, dan tidak penting bagaimana interaksi itu terjadi, saya dan teman-teman saya dengan senang hati akan menyatakan diri sebagai bagian dari bangsa Indonesia.
 
Bangsa Indonesia tidak lah hanya sebatas urusan geografis. Betul bahwa wilayah geografis menjadi sangat penting untuk menentukan di mana sebenarnya Indonesia itu, tapi itu bukan lah persoalan yang krusial untuk memahami siapa atau apa sebenarnya bangsa Indonesia. Sejarah sendiri telah membuktikan, bahwa sebagai bangsa, seringkali kita tidak terlalu memusingkan masalah geografis. Meskipun anggapan tersebut adalah simplifikasi dari masalah yang ada, barangkali para pejuang yang merebut Irian Barat akan sangat kecewa dengan pendapat saya. Saya sendiri berkeyakinan, bahwa bangsa Indonesia tidak hanya sekedar gagasan kepulauan. Toh ketika Timor-Timor yang saat ini berubah nama menjadi Timor Leste melepaskan diri, tidak ada gejolak yang terlalu berarti di antara pulau-pulau yang lain. Benar bahwa kita merasa sakit manakala pulau-pulau terluar kita diambil oleh tetangga sebelah, tapi rasanya kebangsaan kita terlalu kecil manakala kita hanya berbicara urusan fisik semata.
 
Kembali ke soal sumpah pemuda. Para pemuda yang hadir dalam Kongres Pemuda pada saat itu rasanya sudah mengetahui, bahwa masalah identitas nasional akan menjadi perbincangan yang penting di masa depan. Oleh karena itu mereka mengetengahkan tiga lokus penting: tumpah darah, bangsa, dan bahasa. Sentimen nasionalisme kita akan sangat kuat manakala ketiga hal ini disinggung (dengan catatan bahwa pelanggaran hak atas kebudayaan dikatakan sebagai pelanggaran terhadap tumpah darah). Tumpah darah maupun bangsa bukan lah titik terang dari kicauan saya, justru bahasa lah yang menjadi fokus utama.
 
Sebagai bangsa, kita seringkali melupakan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu. Rasanya agak keterlaluan melihat perilaku berbahasa para pejabat di negeri ini. Mereka lebih asyik menggunakan bahasa pergaulan yang sedang trend: bahasa Inggris. Bukan berarti saya anti terhadap bahasa Inggris, sebab kalau saya perhatikan, hampir delapan puluh persen bahan kuliah saya menggunakan bahasa ini. Saya sendiri menikmati berbagai literatur bahkan musik dalam bahasa ini. Masalahnya adalah, penggunaan bahasa asing seringkali menggeser penggunaan bahasa Indonesia, meskipun kita sudah tahu betul bahwa kata yang ingin diucapkan telah diterjemahkan dan/atau memiliki padanan kata dalam bahasa Indonesia. Meskipun saya sendiri kadang terbengong-bengong mendengar beberapa padanan kata bahasa Indonesia atas bahasa Inggris. Sebut saja mouse yang digunakan dalam perangkat komputer diterjemahkan sebagai tetikus. Agak aneh memang, namun ini saya rasa hanya lah pada faktor pembiasaan saja, bukan lah masalah yang patut dibesar-besarkan. Di sisi yang berbeda, saya mengapresiasi usaha-usaha untuk mengalihbahasakan maupun mencarikan padanan kata yang tepat dari bahasa asing ke bahasa Indonesia, pun dari bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia, sebagaimana yang dapat kita lihat dalam KBBI.
 
Saya sendiri sedang berusaha, sebaik yang saya mampu, untuk mempergunakan bahasa Indonesia yang sesungguhnya. Saya ingat pada Cak Nun, yang mengatakan bahwa bahasa tidak hanya harus baik dan benar, namun juga enak diucapkan. Cak Nun mengambil contoh, walaupun bagi saya agak berlebihan, jika seseorang berbelanja ke seorang pedagang dan mengatakan “Bapak penjual, berapakah harga sayur ini?” atau “Wahai pedagang yang budiman, berapakah harga satu ekor ayam?”, rasanya kembali ke masa Tutur Tinular (mudah-mudahan anda masih ingat film seri Tutur Tinular) atau pada era klasik sebagaimana digambarkan dalam film-film drama pada masa lampau. Penggunaan bahasa tentu saja tidak lah sekaku itu. Bahasa berkembang seiring dengan perkembangan penggunanya. Hal ini lah yang bagi saya menjadi poin penting dari penggunaan bahasa sebagai identitas nasional.
 
Meskipun bahasa terus berkembang, namun pedoman dasar dalam berbahasa agaknya bersifak ajeg. Penggunaan struktur bahasa, dalam banyak hal, tetap berlangsung sebagaimana adanya, entah sejak kapan, namun penggunaannya tetap lah sama. Perkembangan bahasa lebih pada penggunaan serapan-serapan bahasa, dan serapan ini tidak lah menjadi titik krusial. Persoalan utama bagi saya justru terletak pada penggunaan bahasa Indonesia yang semakin tidak marak. Saya tidak hanya berbicara pada orang-orang yang secara tiba-tiba, mengutip teman: sok keminggris, lebih banyak menggunakan bahasa asing dengan tujuan-tujuan tertentu, dan melupakan bahasa Indonesia demi tujuan-tujuan lainnya. Saya berbicara pada orang-orang yang berbicara bahasa Indonesia namun melupakan aturan dasar dalam berbahasa. Saya bukan orang yang menentang penggunaan bahasa slank maupun bahasa gaul, namun penting, setidaknya bagi saya, untuk meletakkan bahasa Indonesia pada proporsi yang tepat. Bagi saya, dengan meletakkan bahasa Indonesia sebagai pedoman dalam berbahasa, kita dapat dengan secara jelas menunjukkan pada dunia, bahwa bahasa Indonesia adalah identitas nasional kita, dan dengan demikian saya harap perdebatan mengenai identitas nasional, yang celakanya lebih banyak menggunakan istilah asing, dapat mengerucut dan mencapai kata mufakat. Setidaknya itu bagi saya, entah dengan anda??

 

 

 

Jadwal Salat