• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

Educating Girls, Creating Future

on . Posted in Catatan Khusus

Kalimat di atas, educating girls creating future, dapat diartikan secara literal sebagai mendidik anak perempuan adalah sama dengan menciptakan masa depan, adalah kalimat yang diucapkan oleh Ratu Rania dari Yordania, pada suatu wawancara dengan Oprah Winfrey pada tahun 2009. Secara pribadi, saya senang sekali dengan ungkapan tersebut. Adalah fakta yang tidak dapat disangkal, bahwa pendidikan adalah upaya dasar dalam membentuk sebuah generasi yang akan mendorong perubahan sosial.

Lalu apakah hanya Ratu Rania saja yang percaya hal tersebut? Bahkan jauh sebelum Ratu Rania, telah ada gagasan untuk menyediakan pendidikan bagi perempuan, khususnya bagi anak perempuan, bahkan untuk konteks Indonesia. Tentu saja Attaqwa boleh berbangga diri, bahwa gagasan yang sama sejatinya telah dilakukan oleh Almaghfurlah KH. Noer Alie, tepat empat puluh delapan tahun yang lalu: mendirikan Pondok Pesantren Attaqwa Putri. Sejumlah pertanyaan dasar mendesak untuk dijawab adalah mengapa Almaghfurlah, yang notabene sedang melanjutkan pendidikan di Mekkah berpikir untuk menyelenggarakan pendidikan? Khususnya pendidikan bagi perempuan.

 
Meminjam kerangka berpikir dari Azra mengenai jaringan ulama Indonesia dengan Timur Tengah, khususnya di Mekkah, tidak sulit membayangkan bagaimana isu gerakan pendidikan bagi perempuan menyeruak muncul di tengah berbagai isu kebangkitan nasional yang gaungnya terasa hingga ke Timur Tengah. Bagi saya, penelitian Elizabeth Martyn tentang pergerakan nasional menjadi penting, sebab memberikan jawaban, mengapa pada periode 1900-1970 terjadi momentum peningkatan partisipasi perempuan dalam dunia pendidikan. Sebagai bagian dari pergerakan Nasional yang digaungkan oleh Boedi Oetomo pada tahun 1908 dan terus berlanjut hingga era kemerdekaan, sesungguhnya perempuan telah ikut berpartisipasi, utamanya dalam bidang pendidikan. Sebagai pelajar yang menempuh ilmu di Mekkah pada periode 1930-1940, tentu saja Almaghfurlah paham betul mengenai jaringan ini. Melalui jaringan yang sama lah sesungguhnya informasi dari Indonesia menyebar ke seluruh pelosok. Interkoneksi jaringan ini menyebarkan berita pergerakan nasional di bidang politik, ekonomi dan pendidikan. Tidak mengherankan, setidaknya bagi saya, ketika Almaghfurlah kembali dari Mekkah pada 1940, beliau mendirikan lembaga pendidikan, meskipun secara formal baru tercapai pada 1950 dengan didirikannya Pesantren Islam Bahagia, dan menyusul pendirian Yayasan Pembangunan, Pemeliharaan dan Pertolongan Islam (YP3I) pada tahun 1962.
 
Terlepas dari latar belakang agama Islam yang memang memfokuskan pada pendidikan sebagai manifestasi keimanan, sesungguhnya virus pendidikan memang sedang mendapatkan momentumnya. Era 1940-1950an adalah era di mana gerakan nasional lebih difokuskan pada dua hal: politik kemerdekaan dan pendidikan. Tentu mudah dipahami mengapa dua hal ini menjadi sangat penting. Pendidikan merupakan upaya dasar untuk melanjutkan perjuangan mendapatkan kemerdekaan. Tidak kurang dari Bapak Pendiri bangsa, Soekarno dan Hatta, menyadari betul betapa pentingnya pendidikan menjadi pilar penopang utama dalam kemerdekaan, dan mendorong terbukanya akses pendidikan bagi setiap orang.
 
Di titik ini sesungguhnya pertanyaan mengenai mengapa pendidikan sudah terjawab. Namun terdapat satu ganjalan besar, mengapa perlu menunggu hingga dua dekade lebih untuk mengambil keputusan mendirikan Attaqwa Putri? Barangkali kita perlu menengok masa lalu untuk memperoleh jawabannya. Maka izinkan saya memberikan konteks sosial politik ketika Attaqwa Putri berdiri.
 
Dalam konteks keindonesiaan, sejatinya Pondok Pesantren Attaqwa Putri bukan lah lembaga pendidikan pertama yang dikhususkan bagi perempuan. Jauh sebelum Attaqwa Putri, telah ada Diniyah Padang Panjang yang didirikan oleh Rachmah El Yunusiah, sekolah Kartini di Jepara, atau sekolah Keutamaan Istri yang didirikan Dewi Sartika di Bandung tahun 1904. Di samping sekolah, telah ada pula tokoh-tokoh pergerakan yang mendirikan organisasi sosial yang memiliki tujuan pokok menyelenggarakan pendidikan bagi perempuan, sebut saja Putri Mardika yang didirikan di Jakarta tahun 1912, Pawijatan Wanito yang didirikan di Magelang tahun 1915, Wanito Hado yang didirikan di Jepara tahun 1915, PIKAT (Pengasuh Ibu Kepada Anak Keturunan) yang didirikan di Minahasa tahun 1917, Wanita Susilo yang didirikan di Pemalang 1918, dan Sopo Tresno yang berdiri tahun 1917 di Yogyakarta, sebelum akhirnya berganti nama menjadi Aisyiyah. Momentum ini berakhir pada tahun 1950, terutama dengan berdirinya Gerwis (Gerakan Wanita Sedar), yang nanti akan berubah nama menjadi Gerwani, yang membawa euforia pendidikan ke ranah politik. Pasca tahun 1965, diawali dengan kegagalan kudeta Partai Komunis Indonesia, yang berimplikasi dengan dibubarkannya PKI, membawa titik balik dalam pergerakan perempuan, dari semula berada di domain politik, seperti yang dilakukan oleh Gerwani, kembali ke bidang pendidikan.
 
Saya menyebutnya sebagai kejeniusan politik Almaghfurlah. Entah bagaimana, beliau paham betul, bahwa pergerakan politik di masa itu hanya akan membawa musibah berkepanjangan. Seandainya Almaghfurlah mendirikan Attaqwa Putri pada tahun 1950, boleh jadi lembaga ini dipaksa ditutup, atau setidaknya mengalami sekarat parah, dan butuh waktu lama untuk melakukan pemulihan. Maka mendirikan lembaga pendidikan, di tahun 1964, adalah pilihan yang sangat tepat. Terutama pendidikan bagi perempuan, adalah pilihan terbaik di tengah hingar-bingar dunia politik praktis yang penuh intrik. Harus diingat, dengan dibubarkannya Gerwani sebagai organisasi perempuan terbesar, hampir semua organisasi politik perempuan mengalami kematian mendadak. Hanya mereka yang bergerak di bidang pendidikan, yang sedari awal menjauhi kemelut politik yang mampu bertahan, itu pun dalam kondisi sekarat. Aisyiyah misalnya, meskipun selamat dari perpecahan pasca 1965, tetap saja butuh waktu satu dekade untuk memulihkan diri, namun beberapa akhirnya mati tak berbekas.
 
Pilihan mendirikan Attaqwa Putri, dahulu bernama Albaqiyatussalihat, boleh jadi sangat riskan di sisi waktu, namun sangat tepat dari sisi pilihan yang diambil. Pendidikan adalah penyelamat bangsa yang sedang morat-marit. Kembali saya harus memuji langkah politik Almaghfurlah yang menjauhkan lembaga pendidikan yang dirintisnya dari kisruh politik, setidaknya hingga era 1970an. Perpecahan politik boleh jadi mencapai titik kestabilan pada era awal Orde Baru, itu pun dengan sejumlah catatan, bahwa setiap pergerakan harus sesuai dengan Garis Besar Halauan Negara, salah satunya adalah tidak membawa lembaga pendidikan ke ranah politik.
 
Di sisi yang berbeda, ada satu hal penting dari didirikannya Attaqwa Putri yang seringkali luput dari perhatian: perubahan sosial. Seiring dengan berkembangnya YP3I dengan seluruh organ pendidikan di bawahnya, muncul satu fenomena sosial baru di masyarakat, yakni dengan munculnya kelas sosial terdidik yang membuat satu struktur baru dalam lapisan di masyarakat. Jika kita mencermati biografi Almaghfurlah yang ditulis oleh Ali Anwar, terdapat satu peristiwa penggedoran, yakni pengusiran elite ekonomi tionghoa dari wilayah Bekasi. Dalam struktur sosial yang tiba-tiba terguncang karena hilangnya satu struktur dasar, yakni kelas ekonomi, justru muncul kelas sosial terdidik yang perlahan mengisi kekosongan struktur sosial. Mereka lah anak didik dari Almaghfurlah, dan tidak kurang dari Almaghfurlah sendiri yang menjadi aktor utama dari kelas sosial tersebut.
 
Fungsi dasar dari kelas sosial terdidik adalah sebagai aktor intelektual organik yang memaksa terjadinya perubahan sosial di masyarakat. Saat ini melihat anak perempuan pergi ke sekolah adalah hal yang lumrah, tapi tidak pada tahun 1960an. Despresi ekonomi dan masih stabilnya kondisi politik membuat pendidikan adalah barang mahal yang boleh jadi cuma mimpi di siang bolong. Jangan kan pendidikan bagi anak perempuan, bahkan bagi anak laki-laki, pendidikan adalah barang mewah yang hanya bisa dicicipi oleh segelintir orang. Maka pilihan untuk membuka pendidikan bagi anak perempuan dapat dianggap sebagai mimpi yang mewujud nyata.
 
Dalam hal ini, sesungguhnya Almaghfurlah telah menyatakan dengan tegas, mewujudkan dengan jelas, apa yang dikatakan oleh Ratu Rania, bahwa mendidik anak perempuan adalah sama dengan menciptakan masa depan. Sejak berdiri tahun 1964, Attaqwa Putri telah menghasilkan ribuan kader yang merupakan aktor-aktor intelektual organik di wilayahnya masing-masing. Terhitung sejak 1970, sejak angkatan pertama diluluskan hingga saat ini, Almaghfurlah terus menebar benih perubahan, dan sejatinya sebagian dari perubahan itu telah nampak. Para alumnus yang tergabung dalam Korikaawati adalah produk dari perubahan itu, sekaligus menjadi motor bagi perubahan yang lebih luas.
 
Kelas sosial terdidik hanya lah satu bagian kecil, riak kecil dari gelombang perubahan yang menyapu semua wilayah. Pendidikan bagi perempuan adalah sebuah keniscayaan, sebuah kebutuhan, hasil dari perubahan yang digagas oleh aktor intelektual besar beserta seluruh aktor pendukung. Sebuah kondisi yang mewujud akibat dinamika sosial politik, sekaligus kejeniusan gagasan. Perubahan tentu saja tidak berhenti sampai di sini. Riaknya akan terus menyebar, membawa gagasan mengenai pentingnya pendidikan bagi perempuan. Menjadi jelas dan nyata, bahwa mendidik anak perempuan adalah sama dengan menciptakan masa depan. Masa depan tentu saja tidak hanya di bidang pendidikan, namun juga merambah dunia politik, ekonomi, dan lain sebagainya. Maka dengan senang hati saya katakan, saya senang dengan kondisi saat ini, terlebih ketika mengkaji lebih jauh, apa yang pernah terjadi beberapa dekade lampau. Sungguh satu pencapaian yang luar biasa dari orang biasa yang berani mewujudkan gagasannya di masa lalu, yang terus menggema hingga saat ini dan masa yang akan datang.
 
(diterbitkan dalam Buletin Bunga Karang Nomor 1 Tahun 2012 hlm. 14-16)

Jadwal Salat