• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

AGAINST POP CULTURE: Komunitas Indie dan Penolakan Terhadap Mainstream Populer

on . Posted in Catatan Khusus


AGAINST POP CULTURE: 
Komunitas Indie dan Penolakan Terhadap Mainstream Populer[1]
 
Khaerul Umam Noer[2]
 
Abstract
 
The indie community, including underground music genre, punk and others, is sometimes considered as a community that rejects the establishment and the elite bourgeoisie. There is no denying that, even though this community is considered as an ‘outskirts’ community, their membership continues to grow. As one group against mainstream pop, this community creates their own identity and develops their own social solidarity. They refuse all aspects of pop ideology by creating a community that liberates itself from the net of pop culture. Although considered exclusivist, this community has an open membership and is generally unstructured. This explains why the indie community has spread, not only in big cities like Jakarta or Surabaya, but also in other cities in Indonesia. Although indie community has spread so extensively, their characteristics differ from one city to other; but these differing characteristics are not fundamental. The growth of underground music genre, punk and indie label give us an excellent picture of how this community has developed and spread. This spread is not surprising, given that the growth of the indie community shows how far the opposition to mainstream pop culture in Indonesia continues into the present.
Keywords: Pop Culture, Indie Community, Identity, and Social Solidarity
 
 
Meninjau Ulang Budaya Pop, Pendahuluan
 
Budaya pop, sebuah topik yang sedang banyak diperbincangkan setidaknya pada dekade terakhir. Topik kajian budaya pop pun semakin beragam, mulai dari yang membahas isu dalam musik, film, fashion, gaya hidup, kemudian beranjak ke ranah politik, hingga yang bekaitan dengan ‘national identity’. Budaya pop dapat ditemukan dalam setiap sudut kehidupan dan dalam setiap artefak budaya yang ada di seluruh sudut ruangan. Dalam kamar tidur hingga ruang keluarga, dalam dapur hingga garasi, dari gang sempit hingga gedung perkantoran. Seorang teman pernah berkata “I’m pop, so what?”. Barangkali benar bahwa tidak ada yang salah dengan ‘menjadi pop’ atau ‘mengikuti trend’, dalam hidup manusia tidak dapat melepaskan diri dari berbagai penggunaan simbol-simbol. Harus diakui, budaya pop menjadi suatu pencapaian tersendiri dalam kehidupan manusia. Kenapa banyak orang mempermasalahkan mengenai budaya pop? Apakah berbagai pertanyaan tersebut menyeruak muncul karena ketidakpuasan terhadap budaya pop? Atau alih-alih mempertanyakan budaya pop, ia justru menginginkan popularitas terhadap dirinya.
 
Saya pun masih ingat betul betapa teman perempuan saya begitu mengidolakan grup boysband, apakah itu NKOTB, Backstreet Boys, Westlife, atau boysband lokal seperti Cool Colors, ME, FBI, dan sebagainya, saat ini tentu saja seleranya berubah luar biasa. Apa yang dahulu dia idolakan, bahkan poster grup idolanya sampai diberikan kepada saya karena kamarnya sendiri tidak lagi memiliki dinding kosong untuk ditempeli, sekarang tidak lebih dari onggokan sampah di gudang. Lalu di mana persoalannya? Persoalannya tentu saja terletak pada masalah definisi budaya pop itu sendiri. Strinati (1995) mengaitkan makna definitif budaya pop dengan budaya massa yang diciptakan oleh industri dengan teknik tertentu sehingga dapat diproduksi secara massal dan dipasarkan ke publik untuk mendapatkan benefit, atau dalam kata lain, budaya pop adalah ‘varian’ budaya yang diproduksi secara massal untuk memperoleh keuntungan yang maksimal. Definisi yang diajukan oleh Strinati tentu saja bersifat sangat umum. Apakah dapat disamakan cd album Britney Spears dengan cd album Gesang? Keduanya mungkin sama-sama diproduksi secara massal dan ditujukan untuk mendapatkan keuntungan. Menjawab pertanyaan ini kemudian muncul suatu dikotomi khas a la kajian budaya pop, yakni ‘high culture’ versus ‘low culture’. Orang Jawa sering membayangkan budaya yang dimilikinya sebagai budaya adiluhung, budaya tinggi. Pementasan wayang kulit purwa dinilai lebih adiluhung ketimbang acara campursari, lagu keroncong Waljinah dinilai lebih bagus ketimbang lagu dangdut Elvi Sukaesih, apalagi dengan lagu pop. Bahkan Linus Suryadi (1994:116-117) secara gamblang mengkritik budaya pop melalui tokoh Pariyem:
 
“....ah ya, inilah lagu kesayangan
mengikut alunan suara Diana Nasution
saya pun menyanyi lagu Benci Tapi Rindu
Dengan lengkingan yang tinggi
dan ratapan yang mendayu-dayu
....
Tapi, ya, amit-amit nuwun sewu
syairnya jelek tidak bermutu
Sebagaimana syair pop Indonesia
yang dibuat untuk lagu-lagu
yang dibuat secara kodian
Yang dibuat untuk target perusahaan rekaman
yang dibuat guna mencari keuntungan....”
 
Pariyem secara gamblang telah memberikan gambaran mengenai apa itu budaya pop. Meskipun demikian, adalah menyesatkan jika mengaitkan budaya pop hanya sebatas pada dunia musik. Budaya pop dapat dilihat dalam semua lini kehidupan, mulai dari musik, film, fashion, dan lain sebagainya. Sebagian bagian integral dalam kehidupan manusia modern, keberadaan budaya pop bukan tanpa tanding, dalam hal ini yang menjadi lawan dari budaya pop adalah komunitas yang menamakan diri mereka sebagai komunitas indie.
 
 
Indie vis-à-vis Budaya Pop
 
Indie, merupakan singkatan dari ‘independent’, merujuk pada satu tren dalam bidang musik, film, bisnis fashion, dan subculture yang mencuat pada akhir abad 20. Sebagai satu tren baru, indie acapkali dipertentangkan dengan budaya pop. Indie mengetengahkan satu gagasan besar pembebasan terhadap budaya pop, di mana budaya pop – terutama dalam bidang musik – dianggap sebagai jalur mainstream bagi persebaran nilai budaya yang massif. Hal ini mudah dimengerti, bahwa budaya pop memang memiliki ciri yang sama, yakni penciptaannya yang bersifat massal dan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan. Dalam hal ini, indie merupakan counter terhadap budaya pop, di mana nilai-nilai yang terdapat dalam budaya pop tidak dilakukan oleh golongan indie. Sebagai satu budaya perlawanan terhadap budaya pop, indie berbagi satu ciri umum: penekanan pada ekspresi diri ketimbang pencarian keuntungan. Dalam banyak hal, komunitas indie membedakan dirinya dengan masyarakat umum sebagai salah satu bentuk ekspresi diri. Salah satu yang paling jelas terlihat adalah komunitas punk yang tersebar di beberapa lokasi di wilayah perkotaan.
 
Komunitas indie, terutama dalam bidang musik, berbagi ciri umum lainnya: penolakan terhadap keseragaman. Penolakan ini juga muncul tidak hanya di bidang musik, namun juga bidang fashion dan film indie. Dalam bidang fashion misalnya, komunitas indie memiliki wadahnya tersendiri, yakni distro atau ‘distribution outlet’. Berbeda dengan butik atau gerai fashion lainnya, distro mengkhususkan diri pada individualitas produk, dalam pengertian yang lain, distro tidak membuat secara massal produk yang mereka ciptakan. Dalam bidang film, komunitas ini lebih mengetengahkan pada unsur keterbukaan terhadap ide dan teknik-teknik yang berbeda dalam sinematografi, terutama jika dibandingkan dengan film populer, di mana film indie lebih bebas dalam mengeksplorasi berbagai tema yang sulit dieksplorasi dalam film populer. Sedangkan dalam bidang musik lebih ditekankan pada proses pencarian ide, cara bermain musik, dan terutama sekali adalah distribusi hasil karya mereka.
 
 
Komunitas Indie: Persebaran dan Eksistensi
 
Pada awal tahun 2008, lebih tepatnya pada 9 Februari di Bandung, terjadi kericuhan dalam konser grup musik underground Beside di Asia Africa Cultural Center, tercatat 11 orang tewas dan puluhan luka-luka. Hal tersebut setidaknya membuka banyak perhatian terhadap eksistensi grup musik indie, di mana Bandung dalam hal ini sering menjadi barometer di tingkat nasional tentang keberadaan komunitas indie. Pemberitaan yang ada lebih ditekankan pada kisruhnya penyelenggaraan konser, terbatasnya kapasitas ruang, lengahnya petugas keamanan, hingga isu pembagian minuman keras bagi para penonton yang rata-rata berusia 15-25 tahun. Hal yang tidak menjadi sorotan adalah betapa berkembangnya komunitas indie setidaknya dalam dua dekade terakhir. Secara jelas saya harus menyatakan bahwa untuk keperluan kajian ini saya membatasi diri pada komunitas musik indie, apakah itu punk, underground, hardcore, rock, dan pop-rock. Saya akan sering mempergunakan istilah komunitas indie yang merujuk pada hal tersebut di atas terkecuali saya maksudkan berbeda.
 
Saya harus mengakui adanya kesulitan untuk memetakan di mana saja terdapat komunitas indie di Indonesia, namun satu hal yang dapat dipastikan, bahwa komunitas indie tersebar di seluruh kota besar di Indonesia, barangkali yang dapat dikecualikan adalah kota-kota di NAD dan Papua. Persebaran komunitas indie umumnya dalam dua varian utama: komunitas musik (punk dan underground) dan menjamurnya distro. Sebagai salah satu genre musik yang paling berkembang di antara komunitas indie, punk dan post-punk dapat dikatakan menguasi tren bermusik di kalangan indie pada dekade 1990an, sedangkan pada tahun 2000 hingga saat ini, genre yang lebih berkembang lebih mendekati pop indie dan musik yang dikategorikan cadas dan bawah tanah. Salah satu poin penting yang dapat dilihat dari penampilan genre bermusik komunitas indie, terutama dalam post-punk, rock, hardcore, dan underground dapat dilihat dengan dominannya distorsi permainan gitar dan lengkingan parau vokalisnya; sedangkan ciri paling terlihat dari penonton grup musik tersebut adalah kerumunan yang tidak teratur dan ekspresi dalam mengapresiasi musik yang dimainkan. Dalam pop indie, ciri yang paling terlihat adalah penambahan instrumen yang jarang dilakukan dalam pop mainstream. Secara umum dapat dikatakan bahwa dalam bermusik komunitas indie menyasar pada mereka yang berada dalam rentang usia 15-30 tahun sebagai basis massa terbesar mereka.
 
Sebagai basis massa utama, mereka yang berada di rentang usia 15-30 tahun menjadi basis massa terpenting bagi komunitas indie. Sekurangnya terdapat dua alasan utama mengapa mereka menjadi basis massa komunitas indie, yaitu: Pertama, mereka yang dalam rentang usia tersebut belum dikatakan sebagai sosok yang mapan dan mandiri sehingga cenderung menolak status quo dalam bermusik dan pilihan gaya hidup. Kedua, mereka yang berada dalam rentang usia tersebut dapat dikatakan sedang dalam ‘proses menjadi’, beberapa pihak menyatakan bahwa dalam usia tersebut masalah jati diri menjadi fokus utama, dengan demikian mereka lebih mudah terpengaruh. Lebih jauh, mereka yang berada dalam rentang usia tersebut cenderung untuk menunjukkan sisi individualitas mereka dengan melakukan perlawanan terhadap lingkungan mereka.
 
Saya harus mengakui, bahwa argumentasi di atas bukan lah tanpa persoalan dan implikasi tertentu. Setidaknya terdapat tiga implikasi dari argumentasi di atas, yaituRazzertama, mereka yang telah mapan cenderung untuk menolak gaya hidup komunitas indie, selain bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mengkonsumsi gaya hidup yang lebih mahal. Jika implikasi ini dapat diterima, maka tidak menutup kemungkinan bahwa mereka yang mampu secara finansial, meskipun dalam rentang usia 15-30 tahun, akan menolak bentuk gaya hidup komunitas indie. Kedua, jika dikaitkan dengan kemapanan dan tingkat ekonomi, maka mereka yang menjadi basis komunitas indie boleh jadi berasal dari golongan ekonomi menengah ke bawah. Ketiga, mereka yang dalam rentang usia tersebut seringkali dikatakan sebagai pemberontak di lingkungan masyarakatnya, sehingga secara ‘ideologis’ mereka lebih cenderung untuk menjadi pendukung utama komunitas indie. Ketiga hal ini sesungguhnya tidak lah kaku dalam pengertian yang sebenarnya, atau dalam pengertian lain, dapat terjadi perlintasan antara tiga hal tersebut seperti mereka yang mapan secara ekonomi dapat menjadi anggota komunitas indie atau mereka yang secara ekonomi lemah justru menjadi pendukung utama budaya pop mainstream. Saya pun tidak menutup mata atas adanya faktor lain yang harus dipertimbangkan, setidaknya secara kasusistik. Dalam beberapa kasus, para pendukung komunitas indie, terutama mereka yang menyukai genre musik cadas, underground, rock dan post-punk berasal dari keluarga yang rumah tangga orang tuanya tidak harmonis, sehingga musik menjadi satu pelarian terhadap masalah pribadi.
 
 
Komunitas Indie dan Jaring Distribusi
 
Satu hal yang jarang diperhatikan dalam melihat komunitas indie adalah jaring distribusi mereka yang kompleks. Jaring distribusi di sini tidak lah dimaksudkan semata-mata pada persoalan pendistribusian barang, namun juga ide dan gagasan. Dapat dikatakan bahwa persebaran ide di kalangan indie sangat cepat dan progresif, di mana hal ini dapat dilihat dengan persebaran satu ide baru di satu wilayah akan segera diketahui di daerah lainnya. Cepatnya persebaran di kalangan komunitas indie terjadi karena dua hal, yaituRazzertama, komunitas indie memiliki kode etik untuk tidak menggunakan hak kekayaan intelektual atas karya yang mereka ciptakan secara ketat dan legal. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa komunitas indie tidak menghargai hasil kreativitas orang lain dengan melakukan penjiplakan atas karya tersebut, namun yang dilakukan adalah dengan melakakukan modifikasi atas karya tersebut, dan modifikasi tersebut kemudian diedarkan agar dapat dimodifikasi oleh orang lain. Hal ini lah yang membuat banyak karya di kalangan indie berbagi karakteristik yang sama meskipun dengan bentuk tampilan fisik maupun cita rasa yang berbeda. Kedua, komunitas indie menyebarkan ide mereka melalui ‘jalur umum’ yang dapat dinikmati oleh banyak orang tanpa harus membayar sejumlah biaya tertentu. Para pemusik punk dan underground misalnya, banyak memanfaatkan YouTube dan berbagai server yang menyediakan konten musik secara online dan gratis sebagai medium penyampaian ide bermusik mereka, sehingga ide bermusik mereka lebih tersebar dan terbuka bagi setiap orang.
 
Hal lainnya yang juga mendorong cepatnya persebaran ide dan gagasan di kalangan indie adalah kebebasan komunitas ini dari berbagai hal yang terkait dengan istrumen legal suatu karya seni. Para pemusik indie tidak terikat dengan major label tertentu sehingga mereka dapat dengan bebas menciptakan gaya bermusik mereka dan menyebarkan hasil karya mereka. Dalam hal ini, setidaknya terdapat dua pilihan yang dapat dipilih oleh pemusik indie, yakni mereka dapat menyebarkan lagu mereka secara gratis di berbagai website atau mereka bergabung dalam sebuah indie label yang memiliki cabang di berbagai kota besar, sehingga produksi tidak dilakukan di salah satu cabang saja. Tentu saja ada faktor lain yang menyebabkan persebaran genre musik komunitas indie menjadi sangat ekspansif, yakni dengan bekerjasama dengan berbagai stasiun radio di tingkat lokal.
 
Beberapa radio di kota besar umumnya memiliki satu slot khusus acara untuk memainkan lagu indie dari berbagai genre. Di Jakarta, Surabaya, dan Bandung misalnya, beberapa radio memberikan slot yang cukup besar, dengan durasi antara satu hingga tiga jam untuk memutar lagu indie. Bagi komunitas indie hal ini boleh jadi sangat membantu, terutama dari segi publikasi. Mereka hanya perlu mengirimkan demo kaset mereka ke radio yang memiliki slot acara tersebut, dan lagu mereka akan secara reguler diputar di radio tersebut. Persolannya adalah, cara ini sebenarnya justru menghasilkan suatu dilema baru bagi komunitas indie. Di satu sisi, radio memberikan celah yang lebih luas bagi komunitas indie untuk mengeksplorasi musik mereka. Namun di sisi yang lain, acara ini justru menjadikan banyak “grup band indie dadakan”, yang justru lepas dari ide dasar indie dalam bermusik, yakni orisinalitas dan individualitas, sehingga karya-karya mereka cenderung sama dengan musik pop biasa.
 
 
Komunitas Indie, Persoalan Identitas dan Solidaritas
 
Salah satu persoalan mendasar dalam membahas mengenai komunitas indie terletak pada identitas. Dapat dikatakan bahwa identitas berupa representasi publik merupakan ciri yang paling mudah terlihat dari komunitas indie, terutama bagi mereka yang tergabung dalam komunitas musik punk dan underground. Bagi mereka yang kali pertama melihat anggota dari komunitas punk kemungkinan akan dapat langsung menebak bahwa mereka adalah anggota kelompok tersebut. Ciri paling signifikan yang terlihat adalah pakaian dan asesoris yang dipakai, di mana mereka umumnya berpakaian sesuka hati, dengan tindik dan tatto menghiasi tubuh, beberapa menampilkan gaya rambut mohawk ataupun gimbal. Meski penampilan seringkali menjadi penanda anggota kelompok tersebut atas orang kebanyakan, namun penampilan juga menjadi dilema tersendiri bagi mereka. Dalam banyak hal, dengan penampilan ‘semrawut’ a la komunitas punk, sebagian akses yang dapat dinikmati oleh orang lain tidak dapat mereka nikmati. Ketakutan adalah faktor yang sering muncul bagi orang kebanyakan ketika bertemu dengan komunitas punk. Hal ini sebenarnya tidak lah mengherankan, mengingat tempat berkumpul komunitas ini pun umumnya berada di tempat yang sepi atau terpencil. Saya harus mengakui bahwa generalisasi di atas dapat menyesatkan, karena di beberapa kota seperti Bekasi, anggota komunitas punk justru berkumpul di pertigaan lampu merah, di mana mereka umumnya mengamen atau meminta sumbangan; di beberapa tempat komunitas punk boleh jadi malah berkumpul di taman kota atau di sekitar pusat perbelanjaan.
 
Berbeda dengan komunitas punk dan underground yang secara penampilan fisik mudah dibedakan, mereka yang tergabung dalam komunitas indie pop agak sulit dibedakan, mengingat mereka pada dasarnya berbagi ciri yang sama dengan orang kebanyakan. Meskipun demikian, jika diperhatikan dengan seksama terdapat perbedaan, yakni penampilan mereka yang walaupun umum namun memiliki ciri khas yang unik yang membedakan pakaian yang mereka kenakan dengan produk lain yang ada di pasaran. Hal ini lagi-lagi merujuk pada ciri umum komunitas indie, yakni pada individualitas. Di antara komunitas indie sekalipun terdapat perbedaan dalam berpenampilan. Mereka yang lebih ke jalur pop dan mainstream umumnya tidak terlalu berpenampilan ekstrim dengan lingkungan sekitar, berbeda dengan mereka yang tergabung dalam komunitas punk dan underground yang secara ekspresif lebih berani terbuka dengan pakaian dan gaya yang mereka kenakan.
 
Komunitas indie tidak hanya memiliki corak penampilan sebagai bentuk identitas mereka, namun mereka pun memiliki solidaritas tersendiri terhadap kelompoknya. Solidaritas kelompok dapat terwujud dalam banyak hal, tergantung pada varian komunitas indie itu sendiri. Komunitas punk memiliki solidaritas yang lebih kompleks. Dalam beberapa komunitas punk di Bekasi misalnya, mereka membentuk satu wadah yang tidak resmi bagi semua ‘punkers’ untuk menyisihkan sebagian dana perseorangan sebagai ‘tabungan sosial’, di mana tabungan ini akan mereka gunakan untuk membebaskan teman mereka yang kebetulan tertangkap oleh polisi. Solidaritas di antara ‘punkers’ tidak hanya dalam bentuk pengumpulan dana sebagai jaminan di kepolisian, mereka pun akan menyisihkan dana jika ada di antara para ‘punkers’ yang orang tuanya meninggal dunia. Meskipun solidaritas mereka terlihat hanya sebatas ekonomi, namun mereka juga memiliki solidaritas dengan membela teman mereka yang diserang oleh pihak lain. Konsekuensi dari hal ini jelas terlihat ketika dua kelompok bentrok karena masing-masing kelompok berusaha untuk membela kelompoknya. Solidaritas yang tidak jauh berbeda ditunjukkan oleh anggota komunitas underground, di mana mereka menjadikan wadah tidak resmi sebagai sarana untuk pengumpulan dana yang ditujukan untuk menggelar konser di beberapa tempat. Dalam hal ini pun saya harus mengakui kemungkinan terjadinya simplifikasi atas bentuk solidaritas komunitas indie. Solidaritas dalam komunitas indie memang tidak selalu dalam bentuk uang maupun barang, namun juga dalam bentuk rasa sepenanggungan. Dalam beberapa hal, seperti kebutuhan untuk mengadakan konser atau pementasan kecil solidaritas yang ditunjukkan memang dalam bentuk pengumpulan uang, namun ketika salah satu anggota komunitas atau justru komunitas itu sendiri dilecehkan maka semangat untuk membela itu lah yang merupakan wujud solidaritas.
 
Salah satu persoalan lain yang muncul dalam identitas dan solidaritas terletak pada tingkat fluiditas identitas dan solidaritas komunitas itu sendiri. Di satu sisi boleh jadi identitas seseorang dapat ditentukan dengan jelas sebagaimana solidaritas mewujud dalam satu tindakan, namun di sisi yang lain, identitas maupun solidaritas tersebut tidak lah mewujud secara tegas dan jelas. Hal ini disebabkan oleh dua hal pokok, yaitu: pertama, komunitas ini tidak memiliki satu aturan formal dalam satu institusi yang baku yang mengikat bagi setiap orang. Kedua, aturan yang berlaku di komunitas ini terletak pada kesepakatan antar anggota dalam komunitas dalam memandang sesuatu, sehingga ketika seorang anggota tidak setuju terhadap suatu hasil kesepakatan ia dapat dengan bebas keluar dari komunitas tersebut. Tidak adanya aturan baku yang mengikat dalam komunitas indie, apakah itu dalam bentuk identitas fisik maupun solidaritas, menyebabkan komunitas ini dapat mengalami perubahan yang drastis dalam waktu relatif singkat. Seseorang dapat dengan mudahnya keluar dari komunitas ini sebagaimana mereka masuk. Hal ini sebenarnya memiliki keuntungan tersendiri, yakni adanya akses bagi setiap orang untuk masuk, dan hal ini pula yang mendorong cepatnya pertumbuhan komunitas indie di berbagai kota di Indonesia.
 
Secara nasional memang tidak ada satu organisasi yang mampu memberikan klaim bahwa mereka mewakili komunitas indie, bahkan di tingkat kota atau kabupaten pun tidak ada yang berani memberikan klaim seperti itu. Ketiadaan organisasi resmi justru memberikan keuntungan tersendiri bagi komunitas indie, yakni persebaran mereka yang progresif tanpa harus mempertimbangkan aspek yuridis di satu wilayah. Hal ini menyebabkan tumbuhkembangnya satu komunitas indie di satu wilayah tidak sama dengan komunitas indie di wilayah lainnya, namun tidak berarti mereka begitu berbeda hingga dapat ditarik sebuah garis pemisah yang tegas. Terdapat benang merah di antara semua komunitas indie yang tersebar di seluruh wilayah, yakni penolakan mereka terhadap mainstream populer.
 
 
Komunitas Indie dan Perebutan Ruang Publik
 
Perdebatan mengenai identitas dan solidaritas di kalangan indie jelas tidak dapat melepaskan diri dari pertarungan untuk memperebutkan ruang publik yang tersisa. Salah satu persoalan pokok yang menjadi momok bagi komunitas indie adalah pertarungan untuk memperebutkan ruang publik yang tidak adil. Budaya pop dapat dikatakan telah mengambil hampir semua ruang publik yang ada, dan hanya menyisakan sedikit celah bagi komunitas indie untuk mempertahankan eksistensi diri mereka. Hal ini justru memaksa komunitas indie untuk mengambil pilihan yang terbatas, apakah mereka akan menempati ruang publik yang tersisa atau justru mereka akan merebut ruang publik yang dikuasai oleh budaya pop?
 
Persoalan ini bukan lah persoalan yang mudah untuk dijelaskan. Satu hal yang tampak jelas adalah perebutan ruang publik oleh komunitas indie, terutama adalah mereka yang tergabung dalam kelompok punk dan underground. Dengan gaya yang eksentrik sebagai bagian dari identitas kelompok, mereka merebut ruang publik yang selama ini dikuasai oleh budaya pop dengan muncul di area sekitar pusat perbelanjaan. Persoalannya, tindakan pengambilalihan ini seringkali dianggap sebagai bentuk pelanggaran sehingga mereka lebih sering mendapatkan perlakuan diskriminatif. Banyak pusat perbelanjaan yang menolak dengan tegas pengunjung yang berpakaian dan bergaya punk, itu pun dengan alasan keamanan pengunjung lainnya. Akibatnya, perebutan ruang tersebut tidak lagi bersifat netral karena adanya perlindungan hukum bagi para konsumen, hal ini bahkan membawa konsekuensi yang lebih lanjut: anggota komunitas ini dianggap sebagai penjahat atau dianggap berpretensi melakukan tindakan kriminal.
 
Saya pernah berdiskusi dengan banyak anggota punk di Bekasi dan Surabaya, dalam beberapa perbincangan mereka mengakui bahwa keberadaan mereka justru dianggap meresahkan karena dianggap sebagai pelaku tindak kriminal. Tanpa disadari oleh banyak pihak, industri budaya pop menjadikan lawan mereka takluk bukan dengan ancaman, namun mereka justru melakukan konstruksi terhadap pelanggannya mengenai ‘tindak kejahatan’ yang dilakukan oleh komunitas punk dan sebagainya. Akibatnya memang mudah dilihat, bahwa keberadaan mereka sering dianggap meresahkan karena konstruksi tersebut justru berubah seakan-akan merupakan kenyataan yang sebenarnya. Tentu saja saya tidak dapat menutup mata saya, bahwa memang ada di antara anggota komunitas ini yang melakukan tindakan kejahatan, namun rasanya tidak adil jika hal ini dijadikan generalisasi bagi seluruh komunitas indie.
 
Perebutan ruang publik yang semakin terbatas juga memaksa anggota komunitas indie untuk memikirkan alternatif lain untuk mempertahankan eksistensinya, dan hal ini lah yang menjadi persoalan selanjutnya. Dapat dikatakan masih sangat banyak komunitas indie yang tetap berada di jalur indie dan mempertahankan cara-cara yang umum dilakukan oleh komunitas indie untuk bertahan, namun tidak sedikit juga yang akhirnya menyerah dan berpindah dari jalur indie ke jalur mainstream, hal ini jelas membawa konflik baru di kalangan komunitas indie itu sendiri.
 
 
Dari Indie ke Mainstream atau Dari Mainstream ke Indie?
 
Salah satu perkembangan yang terjadi di komunitas indie saat ini adalah beralihnya jalur indie ke mainstream atau sebaliknya. Beberapa tahun ke belakang misalnya, terdapat kontes band indie yang hasil rekamannya dipegang dan dirilis oleh major label. Hal ini menunjukkan dinamika baru di kalangan indie sendiri, di mana cukup banyak grup band yang bermula dari indie label kemudian berpindah ke major label dengan alasan respon masyarkat atas band indie tersebut. Radio dalam hal ini memiliki andil yang cukup besar dengan beralihnya jalur indie ke mainstream, di mana hal ini ditandai dengan semakin banyaknya radio yang memberikan slot siaran mereka bagi komunitas indie. Hal ini tentu saja membuat perubahan besar dalam tubuh komunitas indie itu sendiri.
 
Salah satu perubahan yang cukup signifikan yang terjadi akibat berpindahnya jalur sebagian band indie ke jalur mainstream adalah konflik di kalangan indie sendiri, meskipun konflik tersebut tidak lah mencuat ke permukaan, tapi jelas bagi band indie yang masih bertahan di jalur indie cenderung untuk mencurigai band indie yang terlalu banyak mengiklankan diri melalui jalur mainstream. Kecurigaan ini sebenarnya cukup beralasan, sebab band indie yang tetap berada di jalur indie umumnya menutup diri dari bentuk promosi melalui jalur mainstream, seperti tampil di pentas musik yang disponsori oleh perusahan tertentu maupun beriklan secara terbuka di media massa. Tentu saja terdapat beberapa band indie yang terkenal di jalur mainstream namun tetap berada di jalur indie. Bagi mereka yang bertahan di jalur indie, mereka yang berpindah di jalur mainstream, mengutip salah satu wawancara di radio Surabaya, dianggap sebagai “kutu loncat di dunia musik.” Hal ini tentu saja menarik, mengingat fakta baru yang berkembang bahwa mereka yang berpindah ke jalur mainstream umumnya hanya menjadikan jalur indie sebagai batu loncatan.
 
Berpindahnya jalur grup band dari jalur ke jalur mainstream setidaknya dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: mereka yang didatangi oleh major label sebab ketertarikan major label terhadap grup band tersebut, atau mengikuti berbagai kontes musik yang disponsori oleh perusahaan dan pemenang dari kontes tersebut akan mengeluarkan debut album yang disponsori oleh perusahaan tersebut. Pada point pertama, datangnya major label dapat disebabkan karena dua hal, banyaknya permintaan lagu dari grup tersebut di siaran radio yang memutar lagu-lagu indie, atau melalui medium lain yang mewadahi para grup indie seperti YouTube atau MissHacker. Perpindahan jalur dari jalur indie ke jalur mainstream dapat dikatakan sebagai dilema bagi grup indie tersebut. Di satu sisi, mereka terlanjur pindah ke jalur mainstream umumnya tidak lagi dihormati oleh mereka yang masih bertahan di jalur indie; di sisi yang lain, perpindahan mereka ke jalur mainstream belum tentu memberikan keuntungan bagi grup tersebut, alih-alih memperoleh keuntungan, mereka justru tidak dapat kembali ke jalur indie.
 
 
Komunitas Indie dan Perlawanan Terhadap Mainstream Pop
 
Sebagaimana yang telah dipaparkan sebelumnya, komunitas indie – yang masih bertahan di jalurnya – adalah mereka yang secara eksplisit menolak mainstream budaya pop. Dalam banyak kesempatan mereka, terutama yang bergerak di musik punk dan underground, mencemooh mereka yang mencoba peruntungan di jalur mainstream dengan menjadikan indie sebagai loncatan, atau dalam istilah mereka “indie kapiran”. Mereka juga mencemooh berbagai aktivitas industri massa yang mencoba menciptakan bintang secara instan, baik itu melalui kontes musik individual maupun band (Noer 2008). Dalam beberapa hal, mereka yang tergabung dalam komunitas indie menolak untuk berpartisipasi dalam acara yang diselenggarakan oleh penyelenggara yang disponsori atau bertujuan untuk mencari ‘bintang baru indie’.
 
Penolakan ini pada dasarnya bermula dari satu anggapan yang berlaku umum di kalangan indie, bahwa mereka yang berada di jalur mainstream tidak lah memiliki kebebasan untuk mengeksplorasi kemampuan bermusik mereka. Anggapan ini barangkali dapat dibenarkan, mengingat musik pop mainstream memang ditujukan bagi pasar sehingga apa yang diinginkan oleh pasar maka itu lah yang diproduksi. Hal ini lah yang justru dikritik oleh banyak pemusik indie maupun kalangan akademisi. Adorno (1990) misalnya, mengkritik perubahan dalam dunia musik dan menyebutnya sebagai dunia yang sepenuhnya telah dimodifikasi. Baginya musik pop telah berubah dari ekspresi artistik ke arah pengaturan berdasarkan produksi dan permintaan pasar. Kritik ini juga muncul di kalangan indie, dalam wawancara di stasiun radio mereka menyebutnya ‘musik rusak’ atau ‘musik yang tidak punya jiwa’. Bagi kalangan indie, jiwa dalam musik terletak pada ekspresi artistik pemain musik untuk mengeksplorasi diri, dan kebebasan untuk mengekspresikan diri dalam jalur mainstream dapat dikatakan sangat terbatas. Kebebasan barangkali hanya dimiliki oleh para artis yang memiliki segmentasi pasar yang jelas dan/atau sudah terkenal sehingga apapun yang mereka ciptakan akan diserap oleh pasar. Persoalannya justru terletak pada artis baru yang baru kali pertama masuk dalam bisnis musik, dan musik mereka ini lah yang banyak dikritik oleh para anggota komunitas indie sebagai ‘seragam sekolah’ karena adanya kesamaan yang jelas antara satu grup dengan grup lainnya baik dari segi tema musik maupun ekspresi bermusik.
 
Barangkali anggota komunitas indie pun menyadari betapa pentingnya musik dalam kehidupan manusia. Musik pop misalnya, tidak hanya telah mengalami modifikasi total sebagaimana dituduhkan oleh Adorno, tapi juga telah menjadi agen dari kontrol sosial yang mempengaruhi pendengarnya (lihat Brown 2008). Dalam satu kesempatan wawancara dengan salah satu anggota komunitas punk, mereka berkata bahwa musik pop dan budaya pop bukan lah sesuatu yang menginspirasi, alih-alih memberikan inspirasi, musik pop justru menjadikan pendengarnya sebagai konsumen pasif. Hal ini dapat dimengerti, mengingat konsumen musik tidak memiliki akses untuk mengkritisi musik yang diedarkan di pasar. Sangat tidak mungkin seorang konsumen memberikan kritik terhadap seorang musisi terhadap karya yang dibuatnya, terlebih kritik itu dapat mengubah karya tersebut. Hal ini tidak dimungkinkan karena penikmat musik hanya dianggap sebagai konsumen pasif, dan hal ini lah yang coba ditolak oleh komunitas indie. Beberapa komunitas indie membuka musik mereka terhadap kritik yang dimunculkan sebagai konsekuensi logis dari dorongan komunitas ini untuk menolak proses dehumanisasi yang dilakukan oleh musik pop.
 
Saya pun tidak dapat menutup mata terhadap persoalan pelik yang muncul sebagai akibat dari adanya anggapan komunitas indie bahwa musik pop melakukan dehumanisasi, tentu saja ini merupakan simplifikasi berlebihan atas budaya pop itu sendiri. Dalam konteks tertentu, budaya pop merupakan bagian integral dari kehidupan manusia modern, sehingga setiap aspek dalam kehidupan manusia menjadi wilayah dari budaya pop itu sendiri. Akibatnya adalah, setiap resistansi terhadap budaya pop justru membawa pada suatu dilema baru. Di satu sisi budaya pop dianggap sebagai sesuatu yang tidak memberikan manfaat dan/atau justru menjadikan manusia tidak lagi memiliki kebebasan untuk memilih, di sisi yang lain menafikan budaya pop justru membuat orang menutup mata terhadap apa yang ada di sekelilingnya. Komunitas indie pun seringkali menutup mata terhadap budaya pop sehingga mengecilkan arti dan peran budaya pop terhadap eksistensi mereka.
 
Dalam kehidupan sehari-hari misalnya, boleh jadi anggota komunitas indie menolak sifat bawaan dari budaya pop yakni konsumerisme terhadap barang, sebagaimana yang dituduhkan oleh Baudrillard (2006), namun mereka sendiri tidak dapat melepaskan diri sepenuhnya dari jerat budaya pop dalam kehidupan mereka. Mereka memang tidak mengkonsumsi fastfood di berbagai restoran multinasional namun toh mereka masih mengkonsumsi rokok yang diproduksi oleh perusahaan multinasional, mereka memang tidak mengenakan pakaian dari butik mewah namun mereka mengenakan jeans dari merek tertentu sebagai bagian dari penampilan mereka, mereka pun tidak mempromosikan diri mereka melalui jalur pop mainstream namun mereka menggunakan medium alternatif yang saat ini justru menjadi lahan baru bagi pengguna pop mainstream. Kemudian muncul suatu pertanyaan baru: seberapajauh resistansi mereka terhadap budaya pop jika mereka sendiri tidak dapat melepaskan diri sepenuhnya dari budaya pop tersebut?
 
Resistansi komunitas indie jelas tidak dapat direduksi hanya sebatas penolakan terhadap penggunaan hasil produksi massal, namun harus dilihat pada sisi kemampuan untuk bertindak dan memilih secara terbuka. Jika saya mengenakan jeans dengan merek tertentu atau mendengarkan genre musik tertentu bukan berarti saya adalah korban dari budaya pop, namun saya memiliki pilihan dan saya memilih terhadap alternatif pilihan yang ada. Barangkali hal ini terdengar absurd, dengan anggapan bahwa setiap orang memiliki pilihan yang sama luasnya maka setiap orang bukan lah ‘korban’ budaya pop, padahal bukan itu yang saya maksudkan. Saya nampaknya harus setuju dengan Baudrillard (2006) yang secara terbuka menyatakan bahwa konsumsi yang dilakukan oleh orang saat ini bukan lah apa yang mereka butuhkan, namun apa yang mereka inginkan, sehingga setiap orang berbagi satu kesamaan penting, yakni mereka semua seragam dalam penggunaan simbol-simbol modernitas. Ritzer (2006) bahkan bertindak lebih jauh dengan menyebut kejadian ini sebagai ‘the globalization of nothing’, yakni konsumsi yang dilakukan oleh seseorang justru bergerak ke arah ketiadaan yang disusun secara sentralistis dan tidak memiliki substansi yang khas, atau dalam istilah lain, orang tidak lagi menjadi dirinya, namun menjadi seragam dengan orang lain.
 
Hal ini lah yang menjadi landasan awal bagi komunitas indie. Terlepas apakah mereka menolak untuk mengkonsumsi berbagai artefak budaya pop atau justru sebagai konsumen utama, mereka menjadikan diri mereka sebagai sosok yang bebas untuk memilih di antara pilihan yang sangat terbatas. Mereka justru menjadi lawan bagi usaha industri budaya pop untuk menyeragamkan konsumennya. Di saat penyeragaman a la budaya pop sedang gencar dilaksanakan, komunitas indie pun perlahan menyebarkan pengaruhnya. Dalam konteks yang lebih luas, komunitas indie tidak hanya ditujukan bagi mereka yang berkecimpung di dunia musik, namun juga merambah ke dunia fashion dan film. Mereka lah yang menjadi ujung tombak bagi penolakan terhadap penyeragaman yang dilakukan budaya pop.
 
 
Kesimpulan
 
Perdebatan yang tak berkesudahan mengenai komunitas indie setidaknya memberikan pandangan baru mengenai budaya pop, di mana budaya pop tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang taken for granted. Tidak ada yang dapat menyangkal bahwa telah banyak pertanyaan diajukan oleh kalangan akademisi mengenai budaya pop, namun toh itu hanya sebatas pada retorika, dan hal ini lah yang menjadi kelemahan kajian budaya pop. Komunitas indie merupakan gambaran nyata mengenai pertentangan terhadap budaya pop yang ada di masyarakat secara luas. Komunitas indie tidak hanya bergerak di bidang musik, namun juga dalam bidang fashion dan film. Ketiga bidang ini lah yang menjadi ujung tombak perlawanan komunitas indie terhadap budaya pop dan industri yang menyertainya. Harus diakui, terdapat pertentangan yang jelas antara komunitas indie dengan pendukung budaya pop, terutama dalam ruang-ruang publik. Hal ini terutama sekali disebabkan dengan adanya perbedaan yang jelas antara komunitas indie dengan masyarakat luas (yang dianggap mewakili budaya pop) dalam identitas, terutama representasi publik. Komunitas indie pun tidak berarti solid secara institusi, mengingat tidak adanya institusi yang mampu menampung semua anggota komunitas ini. Dengan keanggotaan yang relatif longgar, dan meskipun dianggap sebagai kelompok eksklusif, namun hal ini lah yang menyebabkan komunitas ini berkembang begitu pesatnya, mengingat siapapun – tanpa melihat jenis kelamin maupun kemampuan ekonomi – dapat menjadi anggotanya.
 
Komunitas indie merupakan bentuk nyata atas penyeragaman yang dilakukan oleh budaya pop di masyarakat. Mereka melakukan penolakan terhadap penyeragaman tersebut dengan mengetengahkan satu gagasan terbuka mengenai orisinalitas dan individualitas. Gagasan ini lah yang mendorong komunitas ini menjadi sangat berbeda dengan masyarakat kebanyakan. Meskipun tidak secara terbuka menyatakan perang terhadap budaya pop, namun resistansi komunitas indie terhadap dominasi budaya pop sesungguhnya memberikan gambaran yang lebih jernih dalam memandang budaya pop itu sendiri. Meskipun sering muncul konflik di antara anggota komunitas itu sendiri, terutama konflik terhadap ‘indie yang disponsori oleh budaya pop’, namun komunitas indie tetap merupakan contoh terbaik – setidaknya untuk saat ini – dalam melihat perlawanan terhadap budaya pop. Komunitas indie, terutama di Indonesia, boleh jadi berada di persimpangan jalan, adakah mereka akan tetap berada di jalur indie dan mempertahankan eksistensi mereka, atau mereka akan berpindah ke jalur mainstream populer dan justru jatuh dalam pelukan musuh besar komunitas ini: budaya pop. Saat ini saya dengan senang hati akan menjawab bahwa sebagian besar anggota komunitas ini tetap setia dengan ke-‘indie’-an mereka, namun saya tidak dapat menjamin keberlangsungan komunitas ini, sebab hanya mereka yang mampu menjamin masa depan mereka sendiri.
 
Kepustakaan
Adorno, T.
1990(1941) “On Popular Music” dalam Simon Frith dan Andrew Goodwin (eds.) On Record. London: Routledge
Baudrillard, J.P.
2006 Masyarakat Konsumsi. Cetakan kedua. Yogyakarta: Kreasi Wacana
Brown, A.R
2008 “Popular Music Culture, Media, and Youth Consumption: Towards an Integration of Structure, Culture and Agency”, Sociology Compass (2)2:388-408
Noer, K.U.
2008 “Becoming Idol: Dari Ajang Pencarian Bakat Hingga Komersialisasi Air Mata” disampaikan dalam Konferensi Nasional Kajian Media dan Ilmu Komunikasi “Transformasi Industri Komunikasi dan Media di Indonesia”, Departemen Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga, 26 Juni
Ritzer, G.
2006 The Globalization of Nothing: Mengkonsumsi Kehampaan di Era Globalisasi. Yogyakarta: Penerbit Universitas Atma Jaya
Strinati, D.
1995 An Introduction to Theories of Popular Culture. London: Routledge
Suryadi, L.
1994 Pengakuan Pariyem, Dunia Batin Seorang Wanita Jawa. Jakarta: Sinar Harapan
 
________________________________________
[1] Disampaikan pada panel Popular Culture, Social Life, and Translocal Identity, dalam 5thInternational Symposium of Journal ANTROPOLOGI INDONESIA, Banjarmasin 22-26 Juli 2008
[2] Anda dapat menghubungi saya di This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
 

 

 

 

 

Jadwal Salat