• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

DISTRO: T-Shirt, Urban Lifestyle, dan Gejala Glokalisasi Bahasa

on . Posted in Catatan Khusus

DISTRO: T-SHIRT, URBAN LIFESTYLE, DAN GEJALA GLOKALISASI BAHASA[1]
 
 
Khaerul Umam Noer[2]
 
Abstrak
 
Distribution outlet (distro) merupakan bagian yang tak terpisahkan ketika berbicara mengenai gaya hidup anak muda, terutama di wilayah perkotaan. Sebagai bagian integral dari kultur perlawanan a la indie, distro menawarkan suatu pendekatan yang lebih segar bagi ‘indie mania’ untuk mengekspresikan dirinya secara lebih terbuka di ruang-ruang publik. Distro umumnya menjadikan t-shirt (kaos) dan berbagai aksesori sebagai bagian dari penjualan. Meskipun demikian, tulisan ini hanya membatasi diri pada perubahan fungsi kaos. Melalui desain grafis berbentuk gambar atau kalimat yang unik, kaos telah mengalami transformasi fungsi yang sangat signifikan. Tidak hanya sebagai pakaian, kaos pun berfungsi sebagai medium kritik maupun ajang ekspresi diri seseorang. Penggunaan kalimat yang seringkalinyeleneh merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam evolusi kaos itu sendiri. Gejala glokalisasi bahasa, berupa penggunaan bahasa global dan bahasa lokal dalam desain kaos justru membuat evolusi kaos menjadi menarik untuk dikaji lebih mendalam. Gejala ini tentu saja dimunculkan oleh kalangan indie yang secara ideologis (idealnya) membebaskan diri mereka dari jerat budaya pop. Di satu sisi, sebagai sebuah produk budaya modern, penggunaan bahasa global, atau dalam hal ini bahasa Inggris, seakan tidak dapat dihindari. Namun di sisi yang lain, adanya keinginan (sekaligus permintaan pasar) untuk menggunakan bahasa lokal pun semakin menguat. Hal ini menunjukkan adanya hibridasi kultural dalam desain kaos, dan menjadikan kaos sebagai arena kontestasi bahasa, bahkan lebih jauh, sebagai arena konstestasi budaya. Hal ini tentu saja akan semakin rumit ketika globalisasi menjadi faktor pendorong bagi terciptanya glokalisasi bahasa, dan hal ini akan berakhir pada terciptanya suatu keadaan baru: dunia global dalam konteks lokal.
Kata kunci: T-shirt, bahasa, globalisasi, identitas
 
 
Sebuah kisah tentang sepotong kaos, pendahuluan
 
Apa yang anda pikirkan dan menjadi pertimbangan ketika anda membeli sepotong kaos? Harga? Kenyamanan? Warna? Grafik? Atau lainnya?, pertanyaan ini bahkan menjadi semakin rumit ketika ditanyakan “di mana lokasi yang biasanya anda kunjungi ketika membeli kaos?” mall? Gerai busana? Butik? Distro? Atau pinggir jalan?, tapi apa pun jawaban anda, coba lah perhatikan – terutama bagi laki-laki – kaos yang anda miliki, berapa banyak dari kaos yang anda miliki memiliki tema yang unik berupa kata-kata yang nyeleneh, gambar-gambar yang ‘tidak biasa’.
 
Kaos tidak hanya dapat dilihat sebagai sebuah pakaian yang dapat dikenakan secara universal, karena pada dasarnya kaos tidak lah ditujukan pada segmentasi pasar tertentu maupun untuk gender tertentu, kaos tidak pula ditujukan bagi golongan dengan status tertentu maupun untuk usia tertentu. Dalam konteks yang lebih luas, pemakaian kaos bersifat universal tanpa mengenal batasan usia, status, dan gender. Tulisan ini akan berbicara mengenai cerita tentang sepotong kaos, bagaimana kaos tersebut melakukan transformasi, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang-orang yang memakainya.
 
Pernahkah anda melihat film “Rebel Without a Cause” yang populer pada era 1950-an? Jika anda pernah melihat film itu, anda akan mengerti mengenai tranformasi luar biasa pada T-shirt (saya akan mempergunakan istilah kaos untuk mengacu pada istilah ini). Pada film tersebut anda akan melihat James Dean menggunakan kaos, jeans butut, dan jaket kulit, dan pakaian ini lah yang mengubah dunia mode dunia saat itu (lihat Kompas 2008b). Adalah penting untuk mengingat konteks berpakaian pada era itu, di mana kaos umumnya adalah pakaian yang dikenakan oleh kaum pekerja Amerika, hal ini tentu saja berhubungan erat dengan penggunaan jeans yang ditujukan bagi para pekerja pertambangan. Lalu apa hubunganya dengan Indonesia?
 
Dalam konteks Indonesia, sulit untuk mengatakan sejak kapan kaos mulai diperkenalkan dan digunakan oleh orang Indonesia, namun rasanya tidak berlebihan jika kita mengandaikan ‘kehadiran’ kaos telah dimulai sejak era perdagangan. Hal ini tentu saja membawa pada implikasi yang lebih luas: kaos boleh jadi dibawa oleh para pedagang dari luar atau justru merupakan pakaian asli penduduk. Meskipun demikian, secara pribadi saya lebih cenderung untuk menyatakan bahwa kaos dibawa oleh para pedagang, sebab pada masa itu, pakaian dapat dikatakan telah terdiferensiasi berdasarkan etnisitas seseorang (lihat van Dijk 2005). Pakaian yang dikenakan pada saat itu merupakan bagian integral dari identitas seseorang berdasarkan etnisitas dan status yang dimilikinya. Pendapat ini tentu saja masih bersifat kontestatif dan membutuhkan waktu untuk membuktikannya.
 
Sebagai pakaian yang sesuai dengan kondisi iklim tropis Indonesia, kaos merupakan solusi pakaian yang dapat dikenakan tanpa mengenal waktu. Penggunaan kaos pun tidak hanya digunakan oleh orang dengan etnis tertentu, namun juga meluas ke semua etnis yang ada. Penggunaan kaos yang bersifat universal boleh jadi mengalahkan popularitas pakaian lainnya, sebut saja baju koko atau bahkan kemeja khas Eropa. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, bagaimana transformasi kaos, dari sekedar pakaian hingga menjadi representasi dan medium kritik?
 
 
Kaos sebagai representasi dan medium kritik
 
Jika anda memperhatikan dengan seksama, kemunculan kaos sebagai bentuk representasi dapat dilihat dengan sangat jelas pada komunitas indie, terutama mereka yang bergerak di bidang musik. Apakah itu punk, hardcore, rock, alternative, post-punk, post-rock, maupun aliran musik lainnya, lebih banyak menggunakan kaos, terutama dengan warna hitam, sebagai bagian integral dalam penampilan mereka. Kaos hitam, celana jeans butut dan sobek, piercing, tattoo, dan assesoris merupakan respresentasi mereka sehari-hari (lihat Noer 2008). Mereka lah yang membawa kaos pada sebuah dimensi baru: kaos sebagai bentuk representasi. Hal ini tentu saja membawa pada dimensi yang lebih luas ketika kaos pun menjadi representasi para pemusik yang berjalan di jalur mainstream. Musisi rock seperti /rif maupun Netral lebih banyak tampil dengan kaos, begitu pula musisi pop seperti Iwan Fals dan grup pop seperti Nidji. Kaos menjadi ‘pakaian dinas’ para musisi tersebut, baik di dalam panggung mau pun dalam keseharian mereka.
 
Tentu saja hal ini tidak dapat lepas dari peran distro yang menjadikan kaos memiliki nuansa politis yang kental. Adalah distro, atau distribution outlet, sebuah cabang lain dari indie yang mengkhususkan diri pada penjualan pakaian – utamanya kaos, assesori, maupun benda-benda lain yang berhubungan dengan fashion (Wikipedia t.t.). Sebagaimana jalur indie lainnya, distro pun berbagi satu ciri utama: penekanan pada ekspresi diri. Hal ini lah yang menjadi salah satu ciri utama berbagai kaos yang secara spesifik diproduksi oleh distro, di mana mereka memproduksi dalam jumlah terbatas, sehingga hal ini menjadi sebuah ‘jaminan’ bagi para pelanggan distro mengenai ‘perbedaan’ diri mereka dengan orang lain, atau dalam istilah lain, distro menyediakan sebuah produk yang terbatas dan menjadi bagian dalam proses ekspresi diri seseorang.
 
Berbagai distro yang tersebar di Bandung misalnya, lebih 500 merek yang secara aktif menumpahkan produk mereka di daerah Bandung dan sekitarnya (Kompas 2008a). Geliatnya boleh jadi terasa sejak euforia reformasi pada tahun 1998, namun gerak yang sesungguhnya terjadi jauh sebelum itu. Saat reformasi bergulir, dapat dikatakan bahwa Bandung menjadi barometer tersendiri ketika berbicara mengenai ‘fashion as personal statement’. Berbagai distro yang muncul, sebut saja Ouval, Unkle 347, Celtic, Airplane System, Brooms, Valley Inc, dan lain sebagainya menjadikan produk mereka sebagai ‘fashion statement’, di mana karya mereka menjadi penanda khusus bagi orang yang memakainya. Kedekatan distro dengan kalangan indie dan underground menjadikan distro sebagai wadah yang khusus yang secara spesifik menciptakan produk sebagai sarana berekspresi yang tertuang dalam tulisan dan grafik. Berbagai varian teks muncul sebagai bentuk ekspresi diri sekaligus sebagai sarana representasi diri.
 
ot; lang="IN">Dalam konteks representasi diri misalnya, sangat banyak desain kaos yang menjadi penanda khusus bagi pemakainya, mulai dari yang sifatnya gurauan sampai hal-hal serius. Teks dalam kaos pun dapat menjadi penanda bagi seseorang; mulai dari tulisan dengan sedikit humor seperti “masih jomblo”, “Butuh uang segera!!!”, “Nyante dengan Sate”, atau “I just wanna say I HATE you”, “I am who I am”, “Super Bitch”, “hot momma”, “Dirty Babe”; hingga tulisan yang secara tegas menandakan posisi dan identitas seperti “NO CAMPAIGN ON 2009”, “Dont tell me to behave”, “Dont Disturb Me!!”, hingga “Yes, I’m GAY”.
 
Tidak hanya dalam konteks representasi diri, dalam konteks afiliasi diri pun cukup beragam desain yang tersedia, dan banyak pula yang secara efektif menunjukkan afiliasi pemakainya terhadap ‘produk’ yang ada dalam kaos tersebut. Para Slankers misalnya, akan dengan segera menggunakan kaos yang mereka gunakan untuk menandakan afiliasi mereka dengan grup tersebut, demikian pula para supporter sepak bola yang mempergunakan kaos grup sepak bola tersebut sebagai penanda afiliasi diri. Tapi tentu saja bentuk afiliasi ini sering kali tidak bersifat permanen, di mana hal ini hanya muncul ketika si pemakai bergabung dalam satu komunitas tertentu yang terikat oleh satu kepentingan tertentu. Meskipun demikian, patut dipertimbangkan mengenai afiliasi orang-orang yang menggunakan kaos bergambar partai politik, di mana afiliasi mereka umumnya tidak lah sesuai dengan kaos yang mereka kenakan.
 
Tidak hanya sebagai bagian dari representasi diri seseorang dalam domain publik, kaos pun dapat berperan sebagai medium dalam melontarkan kritik. Salah satu band indie misalnya, secara sengaja membuat kaos dengan tulisan “Who ever they voted for, we are ungovernable” (Kompas 2008a), ada pula kaos yang bergambarkan seorang kandidat presiden 2004 dengan tulisan “No body’s perfect?”. Jika menilik lebih jauh misalnya, cukup banyak kaos yang secara nyata menyuarakan kritik mereka terhadap kondisi sosial politik yang ada. Sebuah kaos misalnya secara gamblang menuliskan “R+W=C (rice+water=capitalism)”, atau juga kaos yang bertuliskan “Semua mahal: beras, air, listrik, gas, ampe pemilu juga...”. Lebih jauh, ada pula kaos yang menyuarakan kritik terhadap banyaknya tindakan KDRT, seperti kaos yang bertuliskan “Stop kekerasan pada perempuan” atau “STOP women and child abuse!!”.
 
Kaos tidak hanya menjadi medium dalam representasi diri, afiliasi diri, maupun ‘kritik yang tidak bersuara’, namun juga dapat berfungsi sebagai pengikat solidaritas dan identitas kelompok. Tidak sedikit para musisi indie yang sengaja membuat kaos dengan gambar atau logo grup band mereka – atau bahkan gambar album mereka – dan mendistribusikan kaos tersebut ke penggemarnya. Kaos para fans sepak bola juga contoh yang sangat baik mengenai fungsi kaos sebagai identitas kelompok, di samping mulai bermunculan pula kaos yang diproduksi untuk komunitas-komunitas tertentu, seperti kaos untuk paraskaterboard dan surfer. Kaos pun semakin mengalami diversifikasi tujuan, yakni dengan terbentuknya satu varian lain, yakni kaos sebagai talking shirt atau kaos sebagai “penanda berbicara” mengenai identitas kelompok”.
 
 
Globalisasi dalam sepotong kaos, bahasa lokal atau global?
 
Jika anda memperhatikan dengan seksama, berbagai contoh yang saya berikan memberikan gambaran yang jelas, bahwa sebagian besar kaos yang ada lebih banyak menggunakan bahasa Inggris sebagai teks dalam desain kaos itu sendiri. Hal ini tentu saja tidak lah mengherankan, mengingat posisi bahasa Inggris sendiri yang telah menjadi lingua franca dalam pergaulan sehari-hari.[3]
 
Di sisi yang lain, tidak sedikit pula kaos yang secara terbuka menggunakan bahasa lokal dalam desain mereka, atau setidaknya penggunaan bahasa Indonesia, baik yang baku maupun yang tidak. Berbagai merek kaos seperti Dagadu maupun Jogger cukup memberikan ruang bagi bahasa lokal dalam desain-desain mereka, demikian pula dengan Cak-Cuk Surabaya yang juga dengan senang hati mengeluarkan desain dengan kalimat khas Surabaya.
 
Dalam banyak kesempatan, tidak sedikit pula para desainer kaos yang menggabungkan bahasa Inggris dengan bahasa lokal. Cak-Cuk Surabaya misalnya, pernah mengeluarkan kaos dengan tulisan “What are u lookin’ at, jancuk!!”, maupun Concorde, sebuah distro di Jakarta, mengeluarkan desain kaos dengan teks unik “Mau Kemane Om?, hotel or cafe?” , atau Sonixx, sebuah distro di Bandung yang mengeluarkan kaos dengan desain grafis peta Bandung dengan tulisan “What the hell with Bandung, hareudang pisan euy...”.
 
Sulit untuk dikatakan sejak kapan gejala penggabungan bahasa ini terjadi dalam desain grafis kaos, namun setidaknya gejala ini dapat terlihat dengan cukup jelas sejak tahun 1990an, dan terus bergulir hingga saat ini. Adanya permintaan penggunaan bahasa lokal misalnya, boleh jadi merupakan bentuk revivalisme budaya lokal, atau kebangkitan budaya lokal dalam bentuk bahasa maupun dialek-dialek tertentu. Saya pun tidak dapat menutup kemungkinan adanya otonomi daerah memunculkan gejala kebangkitan atau revivalisme tersebut.
 
Adanya gejala pencampuran bahasa dalam desain kaos dapat dikatakan sebagai gejala hibridasi budaya yang terjadi dalam pasar Indonesia. Hibridasi ini terjadi setidaknya karena dua hal pokok: (1) adanya penetrasi pasar global dalam sistem pasar yang menjadikan bahasa Inggris sebagai lingua francamenyebabkan adanya peningkatan permintaan penggunaan bahasa Inggris, dan (2) adanya peningkatan permintaan pasar mengenai penggunaan bahasa lokal. Kedua hal ini lah yang nampaknya mampu memaksa para desainer kaos untuk memikirkan ulang penggabungan bahasa lokal dan bahasa global, dan hal ini berujung pada sebuah gejala glokalisasi bahasa. Glokalisasi bahasa, yang mengacu pada penggunaan bahasa global dan bahasa lokal dalam satu momen merupakan gejala yang sangat umum terjadi, terutama dalam beberapa tahun ke belakang. Gejala ini tidak hanya muncul dalam desain kaos, namun juga muncul dalam pergaulan sehari-hari.
 
 
Kaos, glokalisasi bahasa dan persoalan politik identitas
 
Globalisasi, sebagai suatu proses yang terus berlanjut tentu saja membawa dampak yang signifikan dalam kehidupan masyarakat, bagaimana masyarakat menanggapi globalisasi yang terjadi dan dialektika yang terjadi di masyarakat adalah fokus yang cukup banyak dikaji (lihat Ritzer 2007). Dalam konteks tulisan ini, globalisasi dilihat dalam kaitannya dengan transformasi kaos dan perubahan dalam dunia sosio-linguistik pada pemakai kaos itu sendiri.
 
Transformasi desain kaos yang memasukkan bahasa Inggris, yang dianggaps sebagai bahasa global, sebagai bagian integral dalam desain kaos itu sendiri menyebabkan desain kaos menjadi lebih variatif. Penggunaan bahasa Inggris sebagai dampak yang terlihat dari globalisasi menyebabkan hampir semua desainer kaos mengeksplorasi bahasa ini, tidak hanya dari sisi desain, namun juga dari sisi nama produk yang mereka usung. Penggunaan bahasa Inggris boleh jadi merupakan gejala yang bersifat massif dan universal, sehingga para desainer kaos pun berupaya sedapat mungkin untuk tidak meninggalkan bahasa ini dalam desain-desain mereka.
 
Di sisi yang lain, permintaan atas penggunaan bahasa lokal pun perlahan mengalami peningkatan yang cukup signifikan, dan hal ini lah yang dilihat oleh para pengusaha distro. Permintaan mengenai penggunaan bahasa lokal menjadi satu point penting dalam transformasi kaos di Indonesia. Adanya permintaan yang relatif sama menyebabkan para pengusaha distro untuk menyesuaikan desain kaos mereka dengan memasukkan dua ‘jenis’ bahasa yang berbeda dalam satu desain kaos. Hal ini lah yang memicu terjadinya suatu gejala glokalisasi bahasa yang lebih luas, di mana penggunaan bahasa global dan bahasa lokal dalam satu momen menjadi sesuatu yang umum dilakukan.
 
Gejala glokalisasi bahasa sejatinya tidak lah hanya terlihat dalam desain kaos, namun juga dalam pergaulan sehari-hari pemakai kaos itu sendiri. Dalam banyak percakapan yang terjadi misalnya, gejala glokalisasi bahasa adalah hal yang umum terjadi, di mana para penutur bahasa justru melakukan pencampuran bahasa, yakni dengan menggunakan bahasa yang berbeda dalam satu pembicaraan, hal ini tentu saja dapat dilihat dalam konteks bicara sebagai aktivitas budaya (lihat Keating dam Egbert 2004). Tentu saja hal ini dapat dilihat sebagai bentuk globalisasi yang terjadi dalam bidang bahasa, di mana penggunaan bahasa pun tidak dapat melepaskan diri dari aspek sosio-kultural (Bell 2007).
 
Bahasa menjadi domain penting dalam globalisasi, sebab melalui bahasa lah globalisasi lebih mudah terserap dalam kehidupan sehari-hari. Gejala glokalisasi bahasa, yang terjadi dalam desain kaos dan percakapan sehari-hari adalah fenomena bahasa yang sulit dihindari. Dalam konteks yang lebih luas, hal ini dapat bermuara pada persoalan politik identitas. Kenny (2004) misalnya, mengetengahkan suatu isu mengenai politik identitas (politics of identity), bahwa politik identitas merujuk pada praktik-praktik politik yang berdasarkan kelompok, di mana praktik ini tidak lah terkait dengan sistem politik tertentu, dan menjadi suatu ciri umum bahwa hal ini mengambil pondasi dari adanya mobilisasi berdasarkan identitas kolektif yang disembunyikan, ditekan atau bahkan diabaikan (lihat Sparringa 2005).
 
Ketika kaos menjadi identitas tersendiri bagi kalangan indie yang bergerak di musik punk dan underground misalnya, kaos menjadi penanda terciptanya suatu politik identitas, di mana para musisi dan penikmat musik indie mengambil sebuah identitas kolektif dan merepresentasikan identitas kolektif tersebut melalui kaos. Hal ini dapat pula dilihat pada para penikmat musik yang dibawakan oleh musisi di jalur mainstream, bahkan para penggila bola pun pada dasarnya mengambil satu identitas kolektif yang diwujudkan melalui kaos yang mereka kenakan. Kaos dengan demikian merupakan representasi luar dari adanya politik identitas yang diketengahkan.
 
Politik identitas dapat dilihat dalam banyak hal, utamanya dalam representasi yang dikeluarkan oleh kelompok identitas tersebut. Satu hal yang harus diingat, bahwa identitas tidak lah bersifat tetap, namun lebih pada persoalan konstruksi (lihat Castells 2004). Hal ini tentu saja membawa pada suatu konsekuensi, di mana untuk melihat suatu fenomena harus dilihat pula aspek sosio-kultural yang ada di balik fenomena tersebut. Hal ini pula yang menjadi pertimbangan ketika melihat persoalan kaos dan dinamika globalisasi yang terjadi di Indonesia.
 
Sebagai sebuah produk budaya, kaos tentu saja terkait erat dengan dimensi sosio-kultural orang yang menciptakan kaos itu sendiri, dan ketika seseorang menciptakan sebuah produk, ia tidak dapat melepaskan diri dari kondisi sosial budaya yang melingkupi dirinya. Hal ini lah mengapa kaos sebagai produk budaya dapat berubah dengan signifikan dalam waktu yang relatif singkat, di mana keberadaan dan desain kaos sangat ditentukan oleh kondisi si pembuat kaos.
 
Sebagai medium kritik, kaos terus mengalami perubahan bergantung pada situasi politik yang terjadi; hal yang berbeda ketika kaos berfungsi sebagai media representasi diri yang dapat berubah tanpa mempertimbangkan kondisi politik yang terjadi. Sebagai sebuah pakaian, media representasi diri dan identitas kelompok, maupun sebagai medium kritik, kaos menjadi sangat multifungsi, di mana hal ini menjadi keuntungan tersendiri bagi kaos itu sendiri maupun penggunanya. Fluiditas fungsi kaos dapat terjadi dengan sangat cepat tanpa melihat aspek waktu dan tempat. Transformasi fungsi kaos ini lah yang menjadikan kaos sebagai produk budaya dengan kondisi yang sangat dinamis.
 
 
Semua tentang kaos, penutup
 
Kaos dengan segala fungsi yang dimilikinya, apakah itu sebagai pakaian dengan estetikanya, fungsi kritik, fungsi representasi dan identitas merupakan dimensi yang dimiliki oleh kaos yang selama ini terabaikan. Tentu saja segala fungsi tersebut tidak lah ditemukan ada semua kaos secara universal, dapat dikatakan bahwa kaos yang memenuhi segala fungsi di atas hanya dapat ditemukan dalam sebuah fashion storetertentu, atau dalam hal ini distro.
 
Sebagai wadah penjualan produk fashion yang berbeda dengan produk fashion mainstream lainnya, distro menyediakan berbagai jenis kaos yang secara signifikan berbeda dan memiliki pesan tertentu yang hendak disampaikan. Pesan ini lah yang secara nyata terlihat dalam desain grafis kaos tersebut. Sebuah desain yang menyampaikan pesan mengenai identitas, afiliasi, maupun posisi pemakainya. Sebuah desain yang menggambarkan dengan sangat baik gejala glokalisasi bahasa dalam setiap desainnya. Sebuah gejala dari fenomena globalisasi yang terjadi, di mana pencampuran bahasa global (bahasa Inggris) dan bahasa lokal menciptakan sebuah varian baru dalam bahasa: bahasa global dalam konteks global. Semua hal ini tentu saja terlihat, entah disadari atau tidak, pada kaos yang kita pakai sehari-hari.
 
 
Kepustakaan
Bell, Allan. 2007. “Style and Dialogue: Bakhtin and Sociolinguistic Theory” dalam Robert Bayley dan Ceil Lucas (eds.) Sociolinguistic Variation: Theories, Methods, and Applications. Cambridge: Cambridge University Press. Hlm. 90-109
Castells, Manuel. 2004. The Power of Identity. Malden, MA: Blackwell Publishing
van Dijk, Kees. 2005. “Sarung, Jubah, dan Celana: Penampilan sebagai Sarana Pembedaan dan Diskriminasi” dalam Henk Schulte Nordholt (ed.) Outward Appearances: Trend, Identitas, Kepentingan. Yogyakarta: LKiS. Hlm. 57-120
Keating, Elizabeth dan Maria Egbert. 2004. “Conversation as cultural activity” dalam Alessandro Duranti (ed.) A Companion to Linguistic Anthropology. Malden, MA: Blackwell. Hlm 169-196
Kenny, Michael. 2004. The Politics of Identity. Cambridge: Polity
Kompas. 2008a. “Berdemokrasi dalam Kaos” dalam Kompas 12 Oktober, hlm. 17
_______. 2008b. “Rebel With a “Kaos”” dalam Kompas 12 Oktober, hlm. 17
Noer, Khaerul Umam. 2008. “Against Pop Culture: Indie Communities and the Rejection of Popular Mainstream” Disampaikan pada panel Popular Culture, Social Life, and Translocal Identity, dalam5th International Symposium of Journal Antropologi Indonesia “The Future of Indonesia: Sustainable Development and Local Initiatives in Post Capitalist Era”, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin 22-26 Juli
Ritzer, George (ed.). 2007. The Blackwell Companion to Globalization. Malden, MA: Blackwell
Sparringa, Daniel. 2005. “Multikulturalisme Sebagai Respon Alternatif Terhadap Politik Identitas dan Resolusi Konflik yang Bersifat Transformatif: sebuah Perspektif Sosiologi Politik”, disampaikan dalam pelatihan HAM dan Demokrasi CESASS-UGM, Yogyakarta 28 November – 2 Desember
Pennycook, Alastair. 1998. English and the Discourses of Colonialism. New York: Routledge
Wikipedia. t.t. “distro” dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Distro_(pakaian)
 
________________________________________
[1] Disampaikan dalam “International Symposium on Language, Culture and Globalization in Southeast Asian Countries”, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, 11 Desember 2008.
[2] Koordinator Kajian Sejarah dan Sosial, Social Research Center Nuruttaqwa Foundation, Bekasi. Anda dapat melihat web resmi saya di www.umamnoer.com.
[3] Mengenai penggunaan bahasa Inggris sebagai lingua franca, menarik untuk melihat tulisan Alastair Pennycook (1998) yang mempertanyakan netralitas bahasa Inggris, di mana Pennycook melihat bahwa penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa global tidak lah bersifat netral, namun merupakan bentuk kolonialisme terselubung yang dilakukan oleh para negara maju (AS) kepada negara dunia ketiga.
 

 

 

 

 

Jadwal Salat