• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

Migrasi (Berwajah) Perempuan

on . Posted in Catatan Khusus

Migrasi (Berwajah) Perempuan
 
 
“Ya, ya, Pariyem saya
Maria Magdalena Pariyem lengkapnya
“Iyem” panggilan sehari-harinya
dari Wonosari Gunung Kidul
sebagai babu nDoro Kanjeng Cokro Sentono
di nDalem Suryamentaraman Ngayogyakarta
Dari Wonosari Gunung Kidul
saya pun menggelinding – turun –
mBeboro mencari tumpangan raga
Sebagai babu nDoro Kanjeng Cokro Sentono
di nDalem Suryamentaraman Ngayogyakarta”
“Pengakuan Pariyem” – Linus Suryadi AG (1994:153-154)
 
 
Sebelum saya bercerita mengenai banyak hal, satu hal yang harus saya ingatkan: saya sama sekali tidak berniat bercerita tentang kehidupan Maria Magdalena Pariyem. Pariyem, atau Iyem (ia tidak mau dipanggil Maria, Riri atau Yeyem), adalah tokoh yang dibuat oleh Linus Suryadi, yang oleh Hotman Siahaan, karena kenabiannya, Iyem dianggap sosok yang mumpuni dalam khasanah (kebatinan) Jawa. Saya pun tidak akan bercerita tentang budaya Jawa. Saya akan bercerita mengenai perjalanan yang dilakukan manusia, baik laki-laki maupun perempuan, dan dilakukan pula oleh Iyem: migrasi.
 
Sejak masa pra-sejarah manusia telah berusaha untuk mengadakan perjalanan keluar dari wilayahnya. Adanya persebaran berbagai fosil manusia di berbagai daerah merupakan salah satu bukti adanya usaha manusia untuk mengadakan perjalanan. Perjalanan yang dilakukan pada umumnya didasarkan atas usaha untuk menjaga kelangsungan hidup dirinya, terutama bagi mereka yang masih menggunakan pola berburu dan meramu. Sejak dimulainya perjalanan tersebut, perlahan dunia berubah dengan sangat signifikan. Barangkali saat ini sangat sulit ditemukan suku-suku yang masih hidup secara nomaden, meskipun demikian, tidak berarti bahwa manusia telah berhenti untuk melakukan perjalanan dalam kehidupannya. Pada saat ini, perjalanan yang dilakukan manusia pada masa lalu pun masih dapat dijumpai, dengan tujuan yang sama namun dengan kemasan yang berbeda.
 
Migrasi merupakan salah satu bentuk perjalanan manusia modern untuk menempuh sekaligus mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Jika pada suku nomaden migrasi dilakukan dengan berpindah dari satu wilayah ke wilayah lainnya, maka pada manusia modern pun melakukan hal yang sama. Kajian mengenai migrasi sudah sangat banyak dilakukan, baik itu yang dilakukan pada para migran di dalam maupun di luar negri. Kajian-kajian mengenai migrasi yang dilakukan pun umumnya lebih banyak berbicara pada domain migrasi yang dilakukan oleh laki-laki untuk mencari nafkah atau penghidupan yang lebih baik bagi dirinya maupun keluarganya. Perempuan dan migrasi dapat dikatakan sebagai sesuatu yang sudah sangat lama dilakukan, hanya saja kajian mengenai perempuan dan migrasi baru berkembang dengan pesat beberapa dekade lalu dengan topik yang sangat bervariasi. Di sisi yang berbeda, terdapat kekurangan dalam teori migrasi, dalam hal ini adalah bagaimana migrasi yang dilakukan perempuan dalam konteks teori migrasi yang selama ini terabaikan. Berdasarkan hal itu lah tulisan ini dibuat.
 
Secara umum tulisan ini akan mencoba menjawab tiga pertanyaan: Pertama, bagaimana bangunan teori migrasi secara umum? Seperti apa diskusi teoritik yang berkaitan erat dengan teori migrasi? Kedua, di mana posisi perempuan dalam bangunan teori migrasi? Apa kritik yang disampaikan oleh feminisme atas bangunan teori migrasi?Ketiga, apa tawaran yang diajukan oleh feminisme atas bangunan teori migrasi? Bagaimana penetrasi feminisme masuk ke dalam bangunan teori migrasi? Dan perubahan seperti apa yang dihasilkan dari penetrasi tersebut?.
 
Mengingat luasnya cakupan tulisan ini, maka saya akan membagi tulisan ini dalam tiga bagian. Ketiga bagian tersebut secara sistematis akan membahas hal-hal yang bersifat spesifik, yaitu: bagian satu akan membahas teori migrasi klasik, bagian dua akan membahas teori migrasi yang lebih kontemporer, bagian tiga akan membahas perspektif perempuan dalam teori migrasi, kritik dan penetrasi serta pengaruhnya atas bangunan teori migrasi itu sendiri. Meskipun terkesan terpisah, namun saya akan mencoba merajut setiap jelujur benang sehingga membentuk tenunan yang menggambarkan teori migrasi, tentu saja dengan segala kekurangan yang ada.
 
I
HUJAN EMAS DI TANAH SEBRANG: EKONOMI SEBAGAI TITIK EPISENTRUM
 
Saya akan memulai dengan apa yang disebut oleh de Haas (2007) sebagaigeneral theory of migration. Sekurangnya terdapat tiga teori yang dapat masuk dalam kelompok ini, yaitu: (1) neo-classical equilibrium perspective, (2) asymmetric growth(historical-structural), dan (3) push-pull framework. Meskipun ketiganya nampak berbeda, namun ketiganya berbicara pada nada yang sama: menjadikan ekonomi sebagai titik episentrum migrasi, pijakan awal yang getarannya meluas ke segala arah. Setidaknya isu ekonomi akan membawa kita kepada isu lain, yang masih satu sisi dari koin yang sama: pembangunan.
 
Neo-classical equilibrium perspective muncul dari Ravenstein (1885), yang menyatakan bahwa faktor utama migrasi adalah ekonomi, bahwa ekonomi adalahgeneral law of migration. Ravenstein, acapkali dianggap sebagai pencetus hukum dasar migrasi mengetengahkan satu pandangan, bahwa migrasi tidak dapat dipisahkan dari pembangunan, oleh karenanya migrasi selalu bermotif ekonomi. Sejalan dengan Ravenstein, Skeldon (1997) juga melihat bahwa hukum utama migrasi terjadi berdasarkan jarak dan densitas populasi. Skeldon melihat bahwa migrasi utamanya terjadi dari wilayah-wilayah yang memiliki pendapatan sedikit ke wilayah dengan pendapatan tinggi, dengan demikian maka migrasi pada hakikatnya mengalirkan pendapatan dari wilayah yang surplus ke wilayah minus.
 
Dalam cakupan makro, perspektif ini melihat migrasi sebagai cara yang dianggap efektif untuk mendorong terciptanya keseimbangan ekonomi yang merata (lihat Castles dan Miller 2003). Pemerataan ini pada dasarnya upaya untuk menyamaratakan antara wilayah-wilayah dengan ekonomi maju dengan wilayah-wilayah tertinggal, antara wilayah dengan densitas tinggi dengan wilayah dengan densitas rendah, dan antara wilayah rural dengan wilayah urban. Pemerataan ini dilakukan melalui mekanisme migrasi, di mana pusat-pusat perekonomian (perkotaan) tumbuh, dan mendorong laju migrasi menuju pusat tersebut, dan pada gilirannya akan mengalirkan laju pendapatan ke wilayah-wilayah pendukung dan wilayah asal dari migran itu sendiri.
 
Dalam cakupan yang mikro, perspektif ini meletakkan individu pelaku migrasi sebagai pelaku aktif yang rasional, yang memutuskan untuk pindah berdasarkan kalkulasi ekonomi (de Haas, 2007:12). Kalkulasi ekonomi yang dilakukan oleh individu dilihat sebagai upaya individu untuk mencari keuntungan lebih di tempat baru, yang di tempat tersebut, si individu merasa, dapat memperoleh apa yang tidak ia peroleh di tempat asal. Lebih jauh, pandangan ini mengasumsikan, bahwa manakala individu tersebut telah memperoleh maksimalisasi benefit, maka ia, baik langsung maupun tidak, akan menyebarkan apa yang ia peroleh dari wilayah tujuan ke wilayah tempat ia berasal. Jika di wilayah asal jumlah individu yang melakukan migrasi semakin banyak, dan mereka menciptakan kesempatan yang lebih luas, maka akan terjadi keseimbangan antara wilayah asal dengan wilayah tujuan. Dalam hal ini lah mengapa migrasi dikatakan sebagai cara yang efektif untuk mendorong terciptanya keseimbangan dari sisi ekonomi.
 
Asymetric growth (historical-structural) muncul sebagai kritik atas pandanganneo-classical equilibrium. Terdapat dua asumsi dasar yang diserang (lihat de Haas 2007:15-16): pertama adalah posisi individu, yang dalam neo-classical equilibriumdianggap individu rasional yang bebas untuk bermigrasi atau tidak berdasarkan kalkulasi ekonomi; dan kedua adalah keseimbangan yang muncul sebagai akibat dari proses migrasi itu sendiri. Keduanya pada dasarnya adalah kritik atas kegagalan neo-classical equlibrium melihat apa yang dikatakan sebagai equilibrium itu sendiri tidak lain dari bayangan semu. Pandangan ini bahkan dianggap sangat Euro-centric, di mana gambaran bahwa semua migrasi dari rural ke urban akan mendorong pembangunan dan modernisasi sebagaimana terjadi di Eropa pada abad ke-19 dan 20 (lihat Skeldon 1997).
 
Dalam pandangan asymetric growth, individu tidak lah memiliki kebebasan sekaligus rasionalitas dalam memandang kehidupannya. Alih-alih bersifat kalkulatif, individu melakukan migrasi justru karena model ekonomi tradisional yang selama ini mereka miliki hancur lebur akibat penetrasi ekonomi global. Lebih jauh, penetrasi tersebut bahkan bergerak lebih kencang, dengan melakukan inkorporasi ke dalam sistem ekonomi dan politik global. Pembangunan yang terjadi pada hakikatnya tidak pernah, atau tidak akan pernah, merata. Hal ini disebabkan karena pembangunan, sebagai akibat pengaruh teori ekonomi politik (lihat Castles dan Miller, 2003:25), yang didasarkan pada ekonomi dan politik pada hakikatnya didistribusikan secara tidak merata. Hal ini menyebabkan orang-orang tidak memiliki akses atas pembangunan, dan ekspansi kapitalis menyebabkan penetrasi ketidakmerataan ini menjadi semakin menjadi-jadi. Akibatnya sederhana: mereka yang tidak berada dalam jalur pembangunan akan semakin bergantung, dan menjadi sumber tenaga kerja, yang murah meriah tentu saja, yang akhirnya akan mendorong kapitalisasi itu sendiri, atau dalam konteks makro adalah kapitalisme global.
 
Dalam pandangannya, ekonomi pada hakikatnya tidak akan mencapai satu titik yang kemudian dapat dikatakan sebagai seimbang. Karena industrialisasi selalu berada di wilayah-wilayah di mana kapital dikumpulkan, dan dikembangkan di wilayah yang sama, maka kapital tidak akan menyebar. Alih-alih menyebar, ia justru akan semakin terkumpul. Migrasi sebagai bentuk manifestasi dari kapitalisme global, dilihat sebagai cara yang paling mudah untuk mendapatkan tenaga kerja murah dari negara-negara yang dikategorikan underdevelopment (de Haas 2007:15). Dengan demikian, pada dasarnya titik keseimbangan adalah delusi yang dihembuskan, sejenis opium yang memabukkan. Titik keseimbangan yang muncul sebagai efek samping dari migrasi nyata tidak terjadi, dengan demikian pada dasarnya ide dasar pembangunan sebagai pemicu keseimbangan pun tidak pernah tercapai.
 
Pandangan ini bukan berarti bebas kritik. Salah satu kritik utama datang karena pandangan ini terlalu determinis dan kaku dalam melihat posisi individu, yang selalu diletakkan sebagai korban dari sistem. Sen (1999) misalnya, melihat bahwa kapitalisme global tidak melulu menjadikan individu sebagai korban yang mati karena darahnya diserap habis-habisan. Meskipun saya sendiri tidak percaya bahwa pembangunan dapat berperan sebagai pembebasan sebagaimana Sen, namun sejarah sendiri memberikan bukti bahwa beberapa negara pengekspor tenaga kerja mampu berkembang dan mencapai ekonomi yang berkesinambungan sebagai akibat ‘hubungan akrab’ mereka dengan kapitalisme global.
 
Push-pull factor pada dasarnya adalah ketidakpuasan pada dua teori sebelumnya, terutama kegagalan keduanya dalam menjawab dua pertanyaan utama: mengapa sebagian orang dari satu wilayah melakukan migrasi dan sebagian lainnya tidak, dan mengapa orang cenderung bermigrasi ke tempat tertentu dengan waktu tertentu, kadangkala terkonsentrasi di wilayah-wilayah tertentu pula (de Haas, 2007:16). Lee (1966) adalah orang yang mencoba merevisi pandangan dari Ravenstein dengan mengetengahkan pandangan bahwa orang melakukan migrasi berdasarkan faktor di dalam individu dan faktor di luar individu, dalam hal ini adalah faktor-faktor yang diasosiasikan dengan area asal dan area tujuan. Meskipun Lee tidak pernah menyebutnya sebagai push-pull factor, namun apa yang dikemukakan Lee, sebagai revisi atas ‘law of migration’ Ravenstein, tetap dianggap sebagai pandangan yang mendorong kajian-kajian migrasi lebih jauh.
 
Salah satu revisi utama Lee adalah posisi individu. Lee memang mempertimbangkan aspek kalkulasi individu, namun penting diperhatikan bahwa setiap individu akan memiliki persepsi yang berbeda atas kondisinya, dan bertindak sesuai dengan persepsi tersebut. Dengan demikian, tindakan migrasi yang dilakukan oleh setiap individu boleh jadi sama, namun kalkulasinya tidak lah seragam dan/atau secara universal sama. Lebih jauh, Lee (1966:54-55) berargumentasi bahwa migrasi yang dilakukan oleh orang-orang cenderung ke wilayah-wilayah yang telah dikenal, terutama dengan arus informasi dari para migran yang telah terlebih dahulu tiba, dan memberikan informasi mengenai daerah tujuan mereka ke orang-orang di wilayah asal. Dalam hal ini nampak bahwa Lee merevisi pandangan Ravenstein, yang terlalu menyamaratakan migrasi yang dilakukan individu-individu. Model push-pull kemudian semakin berkembang, terutama setelah masuknya elemen industrialisasi. Skeldon (1997:20) misalnya, melihat bahwa topik mengenai migrasi, yang didasarkan pada model push-pull, berkembang ke dua arah utama: Pertama, pertumbuhan populasi yang pesat di wilayah pedesaan mendorong semakin berkurangnya sumber daya alam dan agrikultur mendorong orang-orang untuk keluar dari wilayah tersebut. Kedua, “tawaran” untuk memperbaiki kondisi ekonomi “memaksa” orang-orang untuk bergerak ke kota-kota besar atau negara-negara industri.
 
Sama halnya dengan dua perspektif sebelumnya, model push-pull factor pun mendapat banyak kritik (lihat de Haas, 2007:18-19). Salah satu kritik utama adalah bahwa model ini melupakan adanya heterogenitas dan stratifikasi dalam masyarakat. Lebih jauh, model ini pun cenderung arbitrer, misalnya pilihan orang untuk migrasi ke kota besar untuk meningkatkan ekonominya secara arbitrer dihadapkan pada asumsi bahwa lingkungan pedesaan tidak memungkinkan seseorang untuk meningkatkan kemampuan ekonominya. Hal ini menyebabkan model ini seperti koin dengan dua sisi yang tidak melulu sama. Pandangan bahwa orang akan bermigrasi untuk memperoleh kesempatan yang lebih luas atau perbaikan ekonomi terlihat sangat logis, namun hal ini tidak lah berlaku umum di tingkat individu.
 
BERGERAK KE ARAH EPISENTRUM: MIGRASI DAN PEMBANGUNAN
 
Tiga pandangan di atas tidak sepenuhnya bebas kritik. Kritik utama atas pandangan-pandangan di atas terletak pada waktu dan tempat. Dalam hal ini, tiga pandangan di atas seakan abai pada persoalan durasi migrasi. Di sisi lain, pandangan ini juga seakan melakukan simplifikasi dengan mengesampingkan pola migrasi (lihat de Haas 2008). Salah satu revisi datang dari Zelinsky (dalam de Haas 2007:21-23) yang mencoba mengembangkan ¬spatio-temporal theory, hipotesis utamanya adalah bahwa transisi mobilitas merupakan fusi antara teori demografi, difusi atas inovasi, optimatisasi ekonomi, dan pengembangan push-pull dari Lee. Argumentasi dasarnya diletakkan pada kaitan antara “vital transition” dengan “mobility transition”. Istilah vital transition sendiri adalah perluasan konsep demografi dengan mengaitkannya dengan dimensi ekonomi, politik, modernisasi, dan mobilitas (barangkali dapat kita persamakan dengan istilah pembangunan).
 
Apa yang dikemukakan oleh Zelinsky terkait “vital transition” mencakup banyak hal, termasuk di dalamnya adalah model perubahan (atau evolusi?) masyarakat yang dikaitkan dengan perubahan demografi penduduknya. Sederhananya, bagi Zelinsky, ketika masyarakat dalam posisi di mana fertilitas sangat tinggi (demikian pula mortalitas), maka pada posisi itu akan semakin tinggi mobilitas. Zelinsky sendiri menguraikan lima model masyarakat berdasarkan fertilitas, dan mengaitkannya dengan mobilitas, dalam hal ini adalah “mobility transition”. Secara umum dapat dikatakan bahwa mobilitas seseorang, untuk melakukan migrasi, lebih banyak berlangsung dalam kondisi di mana masyarakat dengan fertilitas tinggi, berpenghasilan rendah, kurang dalam teknologi (dan lain-lain), atau suatu kondisi yang sering disebutunderdevelopment.
 
Tentu saja pandangan Zelinsky ini banyak memperoleh kritik. Salah satu kritik utama pandangan ini menyatakan bahwa pandangan Zelinsky terlalu simplistis dalam memandang masyarakat dan populasi, terlebih Zelinsky mengembangkan teori yang unilinear dalam melihat perkembangan masyarakat. Model perkembangan yang diarahkan Zelinsky mendapat kritik, terutama kegagalannya dalam menjelaskan model masyarakat wilayah teluk, yang pertumbuhan populasi berjalan seiring dengan ekonomi, yang, dalam pandangan Zelinsky akan melakukan migrasi, justru tidak bermigrasi sama sekali. Zelinsky juga gagal melihat bahwa model unilinear dalam perkembangan masyarakat ternyata sama sekali tidak bersifat universal.
 
Meskipun Zelinsky mendapat banyak kritik, namun model Zelinsky nampaknya memberikan banyak pembaruan dalam kajian migrasi, setidaknya memberikan banyak revisi atas kajian tersebut. Salah satu pengembangannya adalah perhatian pada proses internal yang dinamis dalam migrasi. Model internal dynamic of migration processesmempertimbangkan dua hal: modal sosial (termasuk jaringan dan informasi), dan individu pelaku migrasi. Hal ini misalnya dapat dilihat dari tulisan Castles dan Miller (2003), di mana para migran yang datang dan menetap kemudian akan membentuk jaringan-jaringan yang menyokong kehidupan mereka, sekaligus mendorong orang lain (dari wilayah asal) untuk datang dan bergabung dalam jaringan mereka.
 
Hal lain yang juga menjadi perhatian utama adalah pada porsi individu. Jika pada tiga teori sebelumnya, baik itu neo-classical equilibrium perspective, asymmetric growth(historical-structural), dan push-pull framework hanya sedikit memberikan porsi pada faktor individu, maka internal dynamic migration processes memberikan porsi yang lebih besar pada individu sebagai sosok yang memberikan pengaruh penting dalam proses internal yang dinamis dalam migrasi. Dalam kaitannya dengan hal ini, menarik untuk melihat, misalnya, apa yang dilakukan oleh Gardner (2002) yang mencoba menjelaskan proses dinamis ini melalui individu dan pengalaman personalnya, yakni para orang-orang sepuh dari Bengali yang tinggal di London. Dengan menitikberatkan pada individu, Gardner dapat bercerita lebih dalam mengenai migrasi yang dilakukan oleh manusia.
 
II
“BIARKAN DIA BERBISIK”: INDIVIDU SEBAGAI SUBJEK
 
Pada bagian dua, saya akan mengeksplorasi posisi individu dalam bangunan teori migrasi. Jika pada teori klasik tentang migrasi lebih banyak berbicara migrasi dalam cakupan makro, maka teori yang lebih baru lebih banyak berbicara dalam cakupan mikro. Dalam hal ini adalah pada individu-individu sebagai aktor yang memilih untuk melakukan migrasi. Di sisi yang berbeda, juga akan dilihat konteks-konteks yang lebih domestik, termasuk pula adalah overseas migration, dengan mempertimbangkan aspek-aspek kultural, sosial, politik, bahkan ekologi dari para pelaku migrasi.
 
Pendekatan yang lebih kontemporer ini dapat dikatakan sebagai kritik atas teori klasik, yang walaupun menempatkan individu sebagai individu yang rasional dan memiliki kalkulasi ekonomis ketika melakukan migrasi, namun individu di sana tidak lah dilihat sebagai individu, hanya lah sekumpulan individu yang dianggap memiliki latar belakang yang sama dan karenanya cenderung akan bergerak ke arah yang sama. Ketidakpuasan terhadap posisi individu mendorong revisi besar-besaran atas teori migrasi, terutama dengan penekanan terhadap individu (lihat Walker 2008, Farwick 2009). Dalam hal ini individu dilihat sebagai aktor utama, yang latar belakangnya mempengaruhi persepsinya, dan pada akhirnya akan menentukan tindakan yang akan dilakukannya atau pilihan yang dipilihnya.
 
De Haas (2008:1) melihat pada proses dinamis internal pada diri individu, sebagai jawaban atas kegagalan pandangan klasik dalam melihat realitas migrasi di tingkat mikro-individu. Bagi de Haas, pandangan klasik banyak meninggalkan pertanyaan yang tidak dapat dijawab, dan oleh karena itu muncul internal dynamic of migration processes yang dianggap mampu menjawab beberapa pertanyaan yang gagal dijawab oleh pandangan klasik. Meskipun demikian, model ini pun masih memiliki kekurangan. Setidaknya terdapat tiga kelemahan: Pertama, dengan hanya memfokuskan pada modal sosial, pandangan ini lupa bagaimana feedback mechanisms yang dilakukan oleh para migran. Kedua, pandangan ini seringkali tidak mampu menjawab mengapa efek jaringan ini tidak selalu berjalan mulus. Ketiga, pandangan ini pun seringkali tidak mampu menjawab mengapa asumsi kausalitas, antara perkembangan di wilayah asal dengan wilayah tujuan tidak selalu terjadi. Dalam hal ini lah, de Haas menawarkan, untuk meninjau ulang posisi individu dalam bangunan teori migrasi. Setidaknya terdapat tiga poin dalam melihat individu dan migrasi, yakni: jaringan sosial, konteks individu (termasuk adaptasi), dan motivasi dan tindakan individu (termasuk mobilitas).
 
Jaringan sosial memainkan peran penting, terutama dengan kecenderungan orang melakukan migrasi ke wilayah di mana jaringan mereka saling terinterkoneksi satu sama lain (lihat de Haas 2008, Jones 2009). Dalam hal ini penting untuk melihat, bahwa migrasi yang dilakukan individu-individu, terutama overseas migration, selalu menitikberatkan pada jaringan yang mereka miliki, utamanya yang berasal dari wilayah yang sama. Jaringan sosial memainkan dua peran penting: Pertama, sebagai sumber informasi atas wilayah tujuan yang mendorong individu-individu dari wilayah asal untuk mengikuti jejak mereka. Kedua, sebagai sumberdaya bagi para migran yang baru tiba ke wilayah tujuan (lihat de Haas 2008).
 
Sebagai sumber informasi, jaringan sosial menjadi amat penting dalam menyediakan berbagai informai yang dibutuhkan, atau setidaknya dianggap perlu untuk diketahui, oleh para individu di wilayah asal. Tentu saja jaringan sosial dapat lebih bermanfaat ketimbang informasi umum yang berasal dari sumber-sumber informasi umum. Dalam masyarakat yang saling terkoneksi, informasi tidak selalu berasal dari individu yang memiliki hubungan emosional, sebab informasi itu sendiri berjalan di atas jaringan-jaringan yang acapkali tidak membutuhkan keterkaitan fisik. Castells (2002) menyebutnya sebagai network society, di mana jaringan menjadi pembentuk sekaligus beton pembangun dalam masyarakat. Dengan memanfaatkan teknologi informasi, jaringan-jaringan tersebut dibangun dan dikembangkan. Meskipun demikian, Farwick (2009) menyebut bahwa jaringan melalui dunia maya cenderung tidak mampu mendorong seseorang untuk melakukan migrasi, khususnya migrasi internal, sebab jaringan tersebut acapkali gagal menyediakan sumber informasi yang terpercaya, yang dapat mendorong individu di wilayah asal untuk bergerak ke wilayah tujuan. Dengan kata lain, ucapan lisan seseorang yang dikenal akan jauh dihargai ketimbang segudang informasi yang dikeluarkan oleh mesin pencari.
 
Tidak kalah pentingnya adalah posisi jaringan yang berfungsi sebagai sumberdaya awal bagi para migran. Para migran yang baru saja tiba di wilayah tujuan acapkali mengalami keterkejutan kultural, di samping kekurangan ekonomi dan ketidakmampuan memahami aspek sosial dan kultural di wilayah tujuan. Keberadaan jaringan menjadi sangat penting, karena melalui jaringan-jaringan ini lah hal-hal baru dapat dipelajari, sekaligus menjembatani antara kondisi di wilayah asal dengan kondisi wilayah tujuan (lihat Farwick 2009).
 
Faktor lain yang juga mempengaruhi individu dalam melakukan migrasi adalah kondisi individu itu sendiri. Jika Ravenstein membayangkan individu akan melakukan migrasi berdasarkan kalkulasi ekonomi, maka Ravenstein melupakan faktor internal dari individu itu sendiri. Lee (1966) pun membuat kesalahan yang sama. Jones (2009) menyiratkan bahwa migrasi pada dasarnya bersifat personal, dan faktor-faktor yang mendorong migrasi pun harus lah dicari dalam lingkup person itu sendiri. Meskipun demikian, Jones pun tidak melupakan, bahwa faktor politik dan ekonomi di suatu negara dapat mempengaruhi bagaimana persepsi orang terhadap migrasi. Misalnya apa yang dikaji Jones mengenai migrasi di Brazil, bahwa meskipun individu memiliki kebebasan untuk memilih, namun pondasi ekonomi Brazil yang ditopang dari perkebunan tebu, mendorong individu untuk bekerja di perkebunan dan pabrik pengolahan tebu. Dalam hal ini patut untuk dilihat bagaimana dinamika yang terjadi antara individu dengan kondisi di luar individu itu sendiri sebagai faktor eksternal yang mempengaruhi dinamika internal. Senada dengan Jones, Castles dan Miller (2003) pun menyiratkan hal yang sama. Hal yang analog dengan migrasi internal adalah migrasi internasional yang acapkali terkait erat dengan latar belakang individu-individu, dan latar belakang geopolitik, ekonomi, politik, bahkan tekanan ekologi memaksa individu-individu tersebut untuk melakukan migrasi. Overseas migration pada era kolonial misalnya, didorong oleh upaya politik dan ekonomi kolonial untuk mencari koloni-koloni baru. Analog lainnya adalah migrasi yang dilakukan oleh etnis minoritas karena tekanan-tekanan politik, atau misalnya pula migrasi besar-besaran yang dilakukan ketika Perang Dunia II atas apa yang dilakukan Hitler dan “Final Solution”-nya.
 
Tentu saja migrasi tidak melulu berkaitan dengan tekanan politik maupun ekonomi. Ekologi pun turut andil dalam mendorong migrasi yang dilakukan oleh individu-individu. Kaum Hadrami misalnya, bermigrasi sejak abad 14 untuk menemukan daerah baru yang lebih subur ketimbang wilayah asal mereka (lihat Ho 2006), meskipun mereka juga lari dari politik masa kekhalifahan, dan bukan lah hal yang aneh manakala mereka datang ke Asia Tenggara, khususnya Asia Tenggara, terutama pada abad perdagangan (the age of commerce) , mengutip Reid (2011) yang merujuk pada era abad 14 dan 15, di mana para Hadrami telah datang, beberapa bahkan jauh sebelum itu (lihat Jacobsen 2009).
 
Barangkali ekonomi tetap memegang faktor determinan bagaimana migrasi dilakukan. Meskipun sebagai faktor utama, namun pola migrasi berkaitan dengan aspek ekonomi tidak lah seperti yang dibayangkan Ravenstein atau yang menjadi kritikhistorical-structural. Bagi Jones (2009), kondisi ekonomi tidak dapat dilepaskan dari dinamika politik dan kebijakan makro pemerintah. Sebagaimana terjadi dalam kasus Brazil, bahwa adalah kebijakan pemerintah yang memperluas perkebunan tebu dan memperbanyak pabrik tebu, yang membuka lapangan kerja yang luas, yang pada gilirannya mendorong migrasi orang pedesaan ke pusat industri gula. Agaknya Jones ingin mengingatkan, bahwa migrasi berdasarkan faktor ekonomi tidak lah berdiri sendiri, namun terdapat campur tangan pemerintah di sana. Lebih jauh, bahwa aspek ekonomi pun tidak dapat dilepaskan dari geopolitik dan geoekonomi (lihat Castles dan Miller 2003). Meskipun terdengar sangat makro, namun faktor utama lainnya ada di tingkat mikro. Faktor lain dari ekonomi yang tidak dapat dilupakan adalah aspek ekonomi keluarga (de Haas dan Fokkema 2009) dan/atau aspek ekonomi rumah tangga (Schwenken dan Eberhardt 2008). Bagi Mincer (1978), manakala kapasitas ekonomi keluarga tidak memenuhi kebutuhan keluarga, yang dipengaruhi oleh jumlah anggota keluarga, maka ekonomi rumah tangga keluarga tersebut berada dalam posisi kritis, dan hal ini menjadi pendorong utama migrasi anggota keluarga tersebut, yang dalam beberapa hal memiliki dua keuntungan: menambah ekonomi sekaligus mengurangi jumlah anggota keluarga di satu rumah tangga.
 
Aspek lain yang juga tidak dapat dilewatkan adalah motivasi individu. Faktor ini adalah faktor yang sangat personal, faktor utama yang membedakan dengan pendekatan klasik yang cenderung melihat individu secara seragam. Dalam hal ini, motivasi umumnya berada pada dua domain: meningkatkan kapasitas ekonomi yang pada gilirannya menaikkan status sosial, dan keluar dari wilayah tersebut baik untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik atau sekedar keluar dari tekanan ekonomi maupun sosial-kultural. Dua hal tersebut memiliki implikasi berbeda: yang pertama jelas bahwa mereka yang migrasi akan selalu kembali ke tempat asal mereka, dalam hal ini pola migrasinya adalah sirkuler atau temporal; dan yang kedua tidak berarti mereka tidak akan kembali sepenuhnya, namun pola yang umum adalah migrasi permanen.
 
Tidak dapat dipungkiri, bahwa sebagian besar migrasi adalah migrasi temporal atau bahkan sirkuler (lihat de Hass 2008, de Haas dan Fokkema 2009, Farwick 2009), meskipun banyak pula yang melakukan migrasi permanen, terutama yang dilakukan oleh etnis minoritas sebagai akibat dari tekanan politik (lihat Castles dan Miller 2003) atau ekologi dan politik (Ho 2006, Jacobsen 2009). Mereka yang melakukan migrasi sirkuler utamanya hanya berada di wilayah tujuan dalam waktu tertentu, dan akan kembali ke wilayah asal manakala waktu mereka sudah habis atau mereka memutuskan untuk kembali terlepas dari durasi waktu tersebut. Model ini tidak hanya terjadi dalam lingkup internal, dalam artian satu wilayah ke wilayah lain yang masih dalam teritori negara tertentu (Farwick 2009, Jones 2009), atau antarwilayah (transnasional) baik dalam kontinen yang sama atau tidak (Castles dan Miller 2003).
 
Dalam konteks ini, migrasi sirkuler dianggap sebagai cara termudah untuk melakukan mobilitas sosial (lihat Farwick 2009). Migrasi membuka celah bagi individu untuk meningkatkan kapasitas ekonomi keluarga sekaligus masuk (atau bahkan naik) dalam struktur masyarakat. Mereka yang melakukan migrasi tipe ini umumnya akan selalu menjalin hubungan dengan wilayah asal mereka. Melalui mereka lah informasi mengenai wilayah tujuan berasal, mereka lah jaringan interkoneksi antarwilayah, dari wilayah asal ke wilayah tujuan. Mereka pula yang berperan menjadi jembatan bagi para individu baru yang datang dari wilayah asal ke wilayah tujuan. Dalam tipe migrasi ini, mobilitas sosial dilakukan dengan dua cara: pertama adalah apa yang mereka kirimkan dari wilayah tujuan ke wilayah asal. Informasi tentu saja bukan lah satu-satunya yang mereka kirimkan, jauh lebih penting dari informasi: uang yang dikirimkan sebagai remiten (de Haas, 2008:14-15). Remiten menjadi kata kunci penting, sebab melalui remiten lah ekonomi keluarga dapat terselamatkan (Schwenken dan Eberhardt 2008), lebih jauh, bahkan berpengaruh besar atas pendapatan nasional di tingkat makro (Buch dan Kuckulenz 2010, Pholphirul dan Rukumnuaykit 2010). Cara kedua adalah kelanjutan dari cara pertama, yakni dengan memanfaatkan remitensi, sekaligus posisi individu tersebut di wilayah tujuan, sebagai sarana menaikkan gengsi keluarga mereka di wilayah asal, dalam hal ini, mereka yang bermigrasi adalah mediator modernitas dari wilayah tujuan ke wilayah asal (lihat Elmhirst 1999, Pinger 2010).
 
Hal yang sama terjadi tidak hanya pada migrasi internal, namun juga pada migrasi transnasional. Meskipun mereka telah jauh mereka berjalan, mengarungi laut, namun mereka toh tetap akan kembali (lihat Olwig 1997). Migrasi sirkuler membuka peluang bagi setiap individu untuk mencapai stabilitas ekonomi, selain bahwa migrasi sirkuler dapat dilakukan dengan tanpa pusing memikirkan persoalan waktu atau kondisi ekonomi dan politik wilayah tujuan. Terlebih lagi bahwa migrasi sirkuler dapat dilakukan oleh setiap individu terlepas dari batasan usia dan etnisitas. Migrasi sirkuler semakin banyak dilakukan, mengingat waktu yang temporal, yang memungkinkan mereka untuk selalu kembali ke wilayah asal mereka.
 
Hal lain adalah migrasi permanen. Meskipun migrasi permanen tidak melulu berkaitan dengan mobilitas sosial di wilayah asal, namun tipe ini adalah gambaran paling terlihat dari mobilitas individu, melewati batasan struktur sosial maupun geografis. Mereka yang melakukan migrasi permanen pada umumnya ‘dipaksa’ untuk keluar dari wilayah asal mereka karena alasan-alasan politis atau ekologis. Motivasi terbesar dari mereka yang melakukan migrasi permanen adalah keluar untuk kepentingan diri (dan keluarga) dari tekanan yang mereka terima (lihat Gardner 2002, de Haas 2008). Sebagaimana migrasi sirkuler, meskipun mereka meninggalkan wilayah asal mereka dalam waktu yang relatif (sangat) lama, namun mereka tetap lah melabuhkan imaji mereka ke wilayah asal mereka, imaji bahwa suatu saat nanti mereka akan kembali, atau setidaknya keturunan mereka (lihat Gardner 2002, Ho 2006, Jocobsen 2009).
 
Meskipun menitikberatkan pada faktor individu, dalam hal ini mendudukan individu sebagai subjek aktif pelaku migrasi, namun ada satu hal yang terlewat, yakni melihat realitas bahwa latar belakang individu saja tidak lah cukup, gender pun memainkan peran dalam keputusan individu untuk melakukan migrasi. Dalam hal ini, adalah penting pula untuk melihat bagaimana migrasi dilakukan, seperti apa persamaan maupun perbedaannya, baik oleh laki-laki, terutama sekali perempuan.
 
III
TARIAN (DALAM) MIMPI: PEREMPUAN DAN MIGRASI
 
Lalu di mana posisi perempuan? Jika diperhatikan, meskipun kajian-kajian migrasi tidak bermaksud untuk membedakan jenis kelamin, dalam artian bahwa kajian (dan diskusi teoritik) bersifat uniseks dan berlaku secara universal untuk dua jenis kelamin, namun kajian-kajian migrasi, terutama kajian klasik, acapkali abai terhadap perempuan. Teori migrasi seakan merupakan sebuah bus yang penumpangnya terbuka bagi laki-laki maupun perempuan, namun si pengemudi bus, para teoritisi, justru lupa bahwa mereka meninggalkan penumpang perempuan dalam terminal yang baru saja mereka tinggalkan. Tidak hanya abai, beberapa malah sangat seksis dengan seolah meniadakan perempuan sebagai pelaku migrasi, padahal perempuan dan migrasi adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan (lihat Chant dan Radcliffe 1992). Di sisi yang berbeda, pengabaian terhadap perempuan merupakan kehilangan besar dalam bangunan teori migrasi, sebab pengalaman perempuan mampu membuka perspektif baru yang lebih segar dalam menjelaskan fenomena migrasi.
 
Pengabaian terhadap perempuan tidak hanya terjadi dalam bangunan teori migrasi klasik, namun juga dalam kajian mengenai migrasi yang berkaitan dengan pembangunan di negara berkembang. Kritik yang disampaikan Halfacree dan Boyle (1999) misalnya, melihat bahwa kajian mengenai migrasi dalam konteks negara berkembang cenderung abai dalam melihat bahwa perempuan pun pelaku migrasi, yang dalam banyak hal, memiliki persamaan rasionalitas dan kepentingan, tujuan dan motif dengan laki-laki. Kritik atas pengabaian perempuan dalam bangunan teori migrasi pada gilirannya mendorong kajian mengenai perempuan dan migrasi, yang pada akhirnya memaksa kita untuk memandang kembali bangunan teori migrasi secara umum.
 
Dalam dekade terakhir cukup banyak yang melihat migrasi dan perempuan, terutama kajian-kajian migrasi internal (lihat Elmhirst 1999, Fan 2004) maupun transnasional (lihat Asis 2003). Elmhirst misalnya, mengkaji migrasi dari wilayah perkampungan untuk menjadi Pekerja Rumah Tangga di Jakarta (kajian yang senada ada dalam buku yang diedit oleh Momsen [1999]), sama halnya dengan Fan yang meneliti migrasi dari empat wilayah di Sichuan dan Anhui. Sedangkan Asis mengkaji transnasional migration yang melibatkan laki-laki dan perempuan, meskipun dengan latar belakang pekerjaan yang berbeda. Begitu banyaknya kajian mengenai perempuan dan migrasi, namun saya dapat mengkategorikannya dalam dua kategori utama: perempuan dan migrasi sebagai akibat dari politik tubuh, dan kaitannya dengan tekanan ekonomi, sosial maupun ekologi.
 
TUBUH YANG TERLUPA
 
Salah satu kunci penting dalam memahami migrasi yang dilakukan oleh perempuan adalah bagaimana konteks kultural memandang tubuh perempuan. Tentu saja konteks kultural ini tidak lah hanya berlaku dalam migrasi per se, namun secara umum menyeluruh pada bagaimana tubuh perempuan menjadi lokus yang dikungkung, dipersepsikan, dan dikendalikan (Butler 1993). Adalah penting melihat bahwa perempuan melakukan migrasi tidak lah semata berdasarkan kalkulasi ekonomi, namun juga karena politik tubuh (Hardill 2002). Dalam hal ini, bahwa tubuh tidak lah entitas organisme biologis, namun juga entitas sosial dan kultural (Hooglan 2007). Refleksi atas tubuh membawa kita pada persoalan krusial lain, bahwa apa yang dipersepsi sebagai tubuh, seringkali, tidak lah sama antara si pemilik tubuh dengan orang lain yang melihat tubuh itu sendiri, yakni gambaran atas tubuh mendorong kita untuk melihat tubuh secara keseluruhan (lihat Nolan 2007).
 
Dalam hal ini tubuh menjadi area konstestasi tanpa akhir, sebab tubuh bukan hanya entitas yang terdiri atas tulang dan daging, namun tubuh itu sendiri adalah entitas sosial dan kultural yang terus menerus diperebutkan dan direpresentasikan (lihat Detsi-Diamanti, Kitsi-Mitakou, dan Yiannopoulou 2009). Tubuh menjadi kata kunci penting, di mana melalui tubuh lah operasi kebudayaan dapat dilihat dan dijabarkan. Terutama tubuh perempuan. Dalam banyak konteks, tubuh perempuan adalah arena perebutan tanpa akhir, yang seringkali perempuan kehilangan hak atas tubuhnya sendiri (lihat Swenson 2010). Politik tubuh menjadi penanda betapa opresi atas tubuh menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan perempuan. Termasuk di antaranya migrasi yang dilakukan oleh perempuan, di mana migrasi tersebut tidak dapat dilepaskan dari tubuh perempuan itu sendiri.
 
Migrasi perempuan tidak dapat dilepaskan dari ekonomi politik (melalui kebijakan pembangunan dan industrialisasi) maupun ekonomi rumah tangga. Kajian yang dilakukan oleh Green, Hardill, dan Munn (1999) misalnya, dengan sangat baik menggambarkan bahwa migrasi yang dilakukan oleh perempuan tidak hanya karena tekanan ekonomi, namun juga karena pekerjaan yang tersedia di wilayah tujuan secara spesifik diperuntukkan bagi perempuan, terutama di wilayah dengan kawasan industri yang sedang tumbuh (Ong 1991, Horton 1996). Adalah penting untuk memahami, bahwa untuk kasus Asia, Indonesia khususnya, pada era 1970an, partisipasi angkatan kerja mencapai 46,8%, dan kecenderungan meningkat setiap tahunnya (Tjiptoherijanto, 1997:7), di mana hal ini terjadi karena perubahan struktur usia penduduk dan meningkatnya partisipasi angkatan kerja perempuan (lihat Hugo 1992). Hal ini tidak lah mengherankan, manakala tingkat partisipasi kerja yang semakin meningkat mendorong terbukanya lapangan pekerjaan yang semakin banyak, dan tuntutan atas akses pekerjaan bagi laki-laki maupun perempuan (lihat Benjamin 1996).
 
Di sisi lain, meskipun perempuan banyak menempati pos penting dalam struktur ekonomi industri, namun diskriminasi tetap lah terjadi dalam ketersediaan lapangan pekerjaan, jenis pekerjaan, dan terutama upah atas tenaga kerja (Brooks 2006), yang seringkali dilandaskan pada perbedaan jenis kelamin maupun etnisitas (Bradley dan Healy 2008). Dalam hal ini adalah bahwa migrasi yang didorong oleh terbukanya lapangan pekerjaan, yang sejatinya ditujukan karena tubuh perempuan merupakan tenaga kerja murah dan mudah dicari penggantinya. Buruh perempuan menjadi bagian integral dalam sistem produksi, sebab buruh perempuan adalah bagian dari proses produksi yang biayanya dapat ditekan semaksimal mungkin (lihat Boyle, Halfacree dan Smith 1999), hal ini disebabkan buruh perempuan tidak lah dianggap sebagai pencari nafkah utama yang menopang ekonomi keluarga, akibatnya upah mereka lebih rendah ketimbang buruh laki-laki.
 
Keputusan perempuan untuk melakukan migrasi tidak dapat dilepaskan dari posisi perempuan dalam lingkup ekonomi keluarga. Chamberlain (1997) melihat bahwa bahasa migrasi yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan sangat berbeda. Jika keputusan laki-laki bermigrasi adalah otonomi diri, maka migrasi perempuan adalah tindakan kolektif dan merupakan representasi pengalaman dalam kerangka ekonomi keluarga (lihat juga Fan 2004, Gubhaju dan de Jonge 2009). Keputusan migrasi bukan lah satu-satunya keputusan yang yang otonom dan mandiri, atau hanya untuk menguntungkan diri sendiri, namun juga didorong untuk meningkatkan kapasitas ekonomi keluarga (Boyle, Halfacree, dan Smith 1999). Dengan demikian, migrasi perempuan adalah migrasi yang altruistik. Dalam hal ini, keputusan migrasi perempuan dan laki-laki berbeda secara konteks, sebab migrasi laki-laki tidak selalu berkaitan dengan keluarga asal, karena laki-laki dianggap akan memiliki keluarga sendiri di wilayah baru sehingga tidak memiliki kewajiban untuk meningkatkan ekonomi keluarga di wilayah asalnya.
 
Migrasi yang dilakukan perempuan seringkali dilihat sebagai cara untuk meneguhkan, sekaligus mendefinisikan identitas kolektif, untuk mengamankan batasan-batasan dari komunitasnya (Sharpe, 2001:9). Dalam hal ini, migrasi merupakan mekanisme kultural yang, memaksa, perempuan untuk turut serta dalam mempertahankan eksistensi komunitasnya dengan menceburkan diri ke dalam proses migrasi, yang dengan remitansi yang perempuan tersebut kirimkan mampu memperpanjang keberlangsungan hidup komunitasnya sendiri, termasuk di antaranya adalah keluarga di mana ia berasal. Tidak dapat dipungkiri, bahwa remitansi adalah bagian tak terpisahkan dari capital flows di tingkat makro, dan keberlangsungan keluarga dan komunitas di tingkat mikro (lihat Buch dan Kuckulenz 2010, Pholphirul dan Rukumnuaykit 2010).
 
Keputusan migrasi yang dilakukan perempuan pun tidak dapat dilepaskan dari statusnya. Sebagaimana dikaji oleh Mager (2001), Hardill (2002) maupun Gubhaju dan de Jonge (2009), bahwa keputusan perempuan untuk melakukan migrasi tidak dapat dilepaskan dari ada tidaknya ikatan perkawinan. Perempuan yang telah menikah dengan demikian, dipaksa, mengambil peran rumah tangga sebagai karir permanen, maka keputusan untuk melakukan migrasi tidak lah berada di tangan perempuan itu secara otonom, namun berada di tangan suami yang mengendalikan perkawinan itu sendiri. Perempuan-perempuan yang tidak bersuami, atau belum bersuami, lebih bebas untuk menentukan apakah ia akan melakukan migrasi atau tidak, meskipun pada konteks perempuan yang belum menikah, suara ayah (atau laki-laki yang dituakan dalam keluarga tersebut) boleh jadi merupakan faktor determinan atas keputusannya untuk bermigrasi atau tidak.
 
Di sisi yang berbeda, tidak dapat dipungkiri pula, bahwa keputusan perempuan untuk melakukan migrasi tidak dapat dilepaskan dari kondisi ekologi di sekitar perempuan itu sendiri (Elmhirst 2009). Alam seringkali tidak memberikan banyak pilihan, terutama ketika kerangka kultural turut campur dan menentukan mengenai siapa yang akan mengelola alam, untuk apa hasil alam tersebut dipergunakan, dan bagaimana mempertahankan keberlangsungan ekosistem menjadi bagian tidak terpisahkan. Persoalan yang lebih krusial terletak pada kondisi di mana perempuan bertugas untuk mengolah alam tanpa memiliki hak atas hasil pengolahan, atau bahkan alam itu sendiri (lihat White 2002), dan dengan menyusutnya wilayah garapan sebagai akibat dari masuknya kebijakan politik menyebabkan perempuan semakin tersudut dan perlahan tergusur (lihat Ressurection dan Elmhirst 2009). Dalam hal ini, keputusan untuk melakukan migrasi, bagi perempuan tidak dapat dipisahkan secara tegas dengan kepentingan-kepentingan di atas.
 
PENGETAHUAN YANG TERABAIKAN
 
Sekurangnya terdapat dua kritik utama atas bangunan teori migrasi, yang dilancarkan oleh feminisme: Pertama, bahwa bangunan teori migrasi sangat minim representasi dan cenderung mengabaikan kebaradaan perempuan sebagai pelaku migrasi (Boyd dan Grieco 2003, Palmary 2009). Kedua, bahwa bangunan teori migrasi mengabaikan pengalaman perempuan. Dengan melupakan bahwa pengalaman perempuan pada dasarnya adalah pengetahuan, dan pengabaian atas pengalaman itu sendiri adalah pengabaian atas pengetahuan secara fundamental (lihat Harding 1991, Bart 1998, Ramazano?lu dan Holland 2002). Maka dalam hal ini, pengetahuan perempuan menjadi sangat penting sebagai kritik sekaligus otokritik atas bangunan teori migrasi.
 
Setidaknya terdapat tiga catatan penting yang muncul sebagai akibat dari kritik atas pengabaian pengalaman perempuan: Pertama, munculnya berbagai kajian-kajian yang menitikberatkan pada perempuan sebagai aktor pelaku migrasi. Kedua, kelanjutan dari hal tersebut adalah munculnya tekanan bagi bangunan teori migrasi untuk memperhatikan faktor perempuan sebagai individu, dan kaitannya dengan faktor geoekonomi dan geopolitik. Ketiga, sebagai konsekuensi logis atas tekanan untuk memperhatikan faktor perempuan, adalah bangunan teori migrasi yang memasukkan faktor gender dalam bangunan tersebut sebagai salah satu penopang utama bangunan teori itu sendiri.
 
Meskipun ‘law of migration’ dari Ravenstein (1885), dalam satu pointnya, menyatakan bahwa perempuan lebih banyak bermigrasi ketimbang laki-laki, namun Ravenstein sendiri tidak lah mengeksplorasi lebih jauh pada motif, sebab ia selalu mengetengahkan gagasan bahwa pelaku migrasi adalah manusia rasional yang memutuskan berdasarkan kalkulasi ekonomi dan karenanya akan bertindak seragam berdasarkan kalkulasi yang sama. Di sisi yang berbeda, kritik terhadap Ravenstein pun tidak lah berbeda dengan Ravenstein secara fundamental. Kritik tersebut pun abai melihat bahwa perempuan, yang telah disebut ravenstein, lebih banyak bermigrasi ketimbang laki-laki, tidak dieksplorasi lebih jauh namun hanya sebatas data-data statistikal. Ravenstein abai melihat, bahwa perempuan melakukan migrasi tidak lah semata berdasarkan kalkulasi ekonomi. Pengabaian yang sama juga dilakukan Lee (1966), yang juga gagal melihat bagaimana konstelasi sosial dan kultural menitikberatkan perempuan untuk melakukan atau tidak melakukan migrasi.
 
Sebagai jawaban atas ketidakpuasan ini, perlahan mulai muncul kajian-kajian yang menitikberatkan perempuan sebagai pelaku utama migrasi (Suharso 1975, Ong 1991, Chant 1992, Chamberlain 1997, Sen 1998, Boyle, Halfacree, dan Smith 1999, Momsen 1999, Newberry 2008). Perempuan dan migrasi pada dasarnya tidak dapat dipisahkan, bahwa perempuan telah berperan penting dalam dinamika ekonomi telah ada sejak masa klasik (lihat Andaya 2006, Reid 2011), dengan demikian, menilik kesejarahan, hubungan antara perempuan dan migrasi pada hakikatnya tidak lah mengherankan. Kajian-kajian yang menitikberatkan pada perempuan sebagai pelaku migrasi semakin luas, tidak hanya sebatas pada perempuan dan dinamika ketenagakerjaan, namun juga migrasi transnasional. Tidak hanya sebatas pada ruang migrasi yang semakin lebar, kajian-kajian tersebut juga membuka perdebatan panjang, mengenai bagaimana perempuan sebagai pelaku migrasi ditempatkan dalam laporan-laporan penelitian, atau bahkan dalam bangunan teori migrasi itu sendiri.
 
Boyd dan Grieco (2003) misalnya, mengkritik penggunaan kata “migrant and their families” sebagai bentuk peniadaan perempuan sebagai pelaku migrasi dalam berbagai monograf dan laporan hasil penelitian migrasi pada era 1960an dan 1970an. Penggunaan kata “migrant and their families” pada dasarnya merujuk pada “male migrant and their wives and children”. Lebih jauh, meskipun peneliti pada akhir 1970 dan 1980 telah mulai memasukkan perempuan sebagai pelaku migrasi, namun hal tersebut tidak lah mengubah lanskap teori migrasi secara dramatis. Skeldon (dalam Altamirano 1997) misalnya, mencatat bahwa penelitian migrasi pada 1980an, yang mempergunakan pendekatan biografis pada umumnya disandarkan pada perspektif laki-laki. Para peneliti itu gagal dalam melihat bahwa perempuan dan laki-laki memiliki perbedaan dalam migrasi, baik dari sisi motif, kepentingan (dan keuntungan), maupun tujuan (Chant dan Radcliffe 1992, Altamirano 1997).
 
Schwenken dan Eberhardt (2008) menekankan pentingnya melihat pengetahuan perempuan dalam melihat, dan meninjau ulang, teori migrasi maupun migrasi itu sendiri. Dalam hal ini, perempuan sebagai pelaku migrasi harus ditempatkan sebagai entitas utuh, bukan sekedar ‘pendamping’, yang melakukan migrasi. Dengan meletakkan perempuan sebagai pelaku migrasi, maka dapat dilihat bagaimana pengalamannya, latar belakang, motif, tujuan (dan kepentingan), terbentuk melalui skema sosial dan kultural dapat mengkonstruksi ulang teori migrasi sebagai pengetahuan. Hal ini penting, sebagaimana de Beauvoir (dalam Bart 1998) dan Harding (1991) menekankan, bahwa pengetahuan yang selama ini digemborkan sebagai netral dan bebas nilai pada dasarnya keliru dan gagal dalam menetapkan dirinya sebagai pengetahuan. Sebab pengetahuan selalu dikonstruksi berdasarkan knowledge laki-laki, maka science yang muncul adalah pengetahuan laki-laki secara partikular, akibatnya, representasi dari pengetahuan itu sendiri gagal mewujud dalam kebenaran universal.
 
Tidak hanya mengkritik pengetahuan yang bias laki-laki, Altamirano (1997) bergerak lebih jauh, dia menyerang berbagai penelitian yang hanya menambahkan faktor gender sebagai bagian sampingan, berupa add and stir methods, di mana perempuan tidak lain dari bumbu penyedap yang gagal menampakkan dirinya sebagai faktor determinan (lihat juga Boyd dan Grieco 2003). Bagi Altamirano, kesalahan dalam melihat faktor gender pada dasarnya adalah kesalahan dalam melihat bahwa faktor gender adalah faktor yang sama pentingnya dengan usia sebagai faktor determinan. Dengan terus berulangnya kesalahan tersebut, muncul desakan untuk meninjau ulang konsepsi kita mengenai pengetahuan itu sendiri.
 
Baik Bart (1998) maupun Anderson (1995, 2011) menekankan pentingnya epistemologi feminis dalam meninjau ulang pengetahuan. Meletakkan epistemologi feminis dalam memandang pengetahuan membawa implikasi tersendiri, yakni dengan menantang asumsi epistemologis yang bias laki-laki. Epistemologi yang bias, yang menyangkal perempuan sebagai agen rasional dengan demikian telah menghilangkan perempuan dalam pengetahuan itu sendiri. hal ini lah yang menjadi elemen fundamental dari kritik feminisme sejak awal, karena peletakkan laki-laki sebagai basis epistemologis telah menjadi justifikasi atas subordinasi perempuan dalam sosial, kultural dan politik. Konsekuensinya, ketika perempuan terpinggirkan dalam basis epistemologis, maka klaim atas pengetahuan selalu meninggalkan perempuan di belakangnya.
 
TAWARAN FEMINISME DAN IMPLIKASINYA
 
Meskipun epistemologi feminis menjadi sangat krusial dalam meninjau kembali pengetahuan, namun Longino (1987) mengingatkan, agar pencarian atas epistemologi feminis tidak hanya sekedar kritik tanpa memberikan keluasan perspektif. Menurutnya “...We cannot restrict ourselves simply to the elimination of bias, but must expand our scope to include the detection of limiting and interpretive frameworks and the finding or construction of more appropriate frameworks.” (Longino, 1987:60). Dengan landasan demikian, maka feminisme menawarkan pendekatan yang lebih luas dari sekedar data-data statistikal atau pun analisis bias. Feminisme menawarkan pendekatan yang lebih luas dengan mempertimbangkan banyak faktor sebagai bagian dari pengetahuan itu sendiri. Analisis feminis secara nyata telah mengungkap konsekuensi epistemologis dan politis dari bias laki-laki dalam ilmu pengetahuan. Namun sebagaimana dikatakan Bart (1998), bahwa feminisme tidak lah berhenti hanya di sana, namun epistemologis feminis berkepentingan untuk mengkonstruksi ulang pengetahuan dengan memasukkan pengetahuan perempuan sehingga bangunan pengetahuan dapat berdiri lebih kokoh.
 
Kritik feminisme atas bangunan pengetahuan secara umum turut berimbas pula pada kritik feminisme atas bangunan teori migrasi. Namun mengikuti alur Longino, bahwa kritik feminisme atas bangunan teori migrasi juga disertai catatan-catatan khusus, berupa tawaran yang diajukan atas bangunan teori migrasi itu sendiri. Sekurangnya terdapat tiga tawaran dasar yang diajukan feminisme terhadap bangunan teori migrasiRazzertama, alih-alih berkutat pada data statistikal, feminisme mendorong penggunaan data statistikal bukan sebagai akhir dari bangunan teori, namun menjadi awal dalam mencari realitas di balik data tersebut (lihat Altamirano 1997). Lebih jauh, Altamirano menekankan, bahwa meskipun penggunaan data statistik diperlukan, namun tidak berarti bahwa feminisme terlalu sibuk mengkritik data yang tidak memasukkan gender sebagai faktor determinan, sehingga mereka memasukkan gender sebagai variabel hanya untuk memenuhi kritik tersebut. Masuknya gender di sana, tidak lah serta-merta memperlihatkan bagaimana migrasi itu sesungguhnya, namun hanya lah sebuah usaha, yang oleh Altamirano disebut sebagai feminist empiricism.
 
Altamirano (1997) merujuk pada kegiatan yang berlangsung pada era 1980, di mana para feminis berupaya mendemonstrasikan situasi empiris yang dialami oleh perempuan dari berbagai konteks geografis yang berbeda. Di satu sisi, bagi Altamirano, yang dilakukan oleh feminist empiricism telah berkontribusi penting dengan mengetengahkan data-data dan dokumentasi mendetail dari migrasi yang dilakukan perempuan. Dengan demikian, maka sediki-banyak usaha tersebut membuka celah penelitian yang lebih luas, dengan melihat data statistik tidak hanya sebagai angka kosong, namun data yang berbicara. Di sisi lain, Altamirano mengkritik bahwa usaha-usaha tersebut seringkali hanya lah add and stir, hanya ‘menambahkan’ gender sebagai variabel dan ‘mengaduk’ data tersebut sehingga nampak bahwa gender pun berperan penting dalam migrasi. Model ini pun mendapat banyak kritik, terutama dalam internal feminisme itu sendiri yang menilai bahwa model ini tidak akan membawa pengetahuan perempuan tidak lebih baik dari sebelumnya (Boyd dan Grieco 2003).
 
Kedua, feminisme menawarkan untuk meninggalkan metode add and stir, yakni hanya menambahkan perempuan sebagai variabel sampingan dalam meneliti migrasi (lihat Boyd dan Grieco 2003). Tawaran ini membawa implikasi serius, yakni dengan diletakkan gender sebagai faktor determinan, bersamaan posisinya dengan faktor usia maupun etnisitas. Dengan demikian, gender tidak lagi dianggap sebagai faktor sampingan, yang digunakan hanya untuk menghindari kritik bahwa penelitian tersebut bias. Hal ini membawa konsekuensi logis, bahwa dengan ditinggalkannya add and stir methods, maka feminisme beranjak lebih jauh lagi, yakni beranjak dari perspektif makro menuju perspektif yang lebih mikro, meskipun tentu saja apa yang terjadi dalam konteks mikro tidak dapat dilepaskan dari perubahan di tingkat makro (lihat Chant 1992, Benjamin 1996). Maka dalam hal ini, penting pula untuk melihat bagaimana level makro berpengaruh terhadap level mikro, demikian pula sebaliknya (Green, Hardill dan Munn 1999, Jones 2009). Implikasi serius lain dari tawaran ini terasa dari sisi metodologis, yakni dari sekedar pencarian data makro statistikal, menuju mikro individual. Boyle, Halfacree, dan Smith (1999) menunjukkan, bahwa dengan melihat pada level individual, maka kajian migrasi dapat memberikan gambaran yang lebih luas dan pemahaman yang lebih baik mengenai migrasi itu sendiri. Melalui level-level individual, dapat dilihat bagaimana migrasi dilakukan oleh individu-individu, sekaligus meletakkan individu sebagai subjek yang berbicara untuk dirinya sendiri (De Haas 2008). Dengan demikian, maka kajian migrasi mulai berangkat dari personal di tingkat mikro, meskipun tentu saja penting untuk melihat bagaimana konteks makro berpengaruh terhadap individu.
 
Ketiga, feminisme menawarkan untuk memberikan suara kepada mereka yang selama ini dibungkam: perempuan. Konsekuensi lanjutan dari kritik feminisme atas kajian migrasi adalah munculnya revisi-revisi atas kajian migrasi dengan mempergunakan perspektif perempuan. Namun pun demikian, feminisme pun harus waspada, sebagaimana dikatakan oleh Spivak (dalam Pocha 2010), bahwa suara perempuan pun tidak lah sama dan seragam, dengan demikian feminisme harus mampu menahan diri untuk tidak berbicara atas nama seluruh perempuan. Maka tawaran ketiga dari feminisme ini harus dilihat dari berbagai arah. Bahwa perempuan melakukan migrasi adalah sebuah fakta yang tidak dapat disangkal, namun latar belakang perempuan melakukan migrasi tidak dapat disamaratakan. Implikasi dari tawaran ini adalah dengan mempertimbangkan berbagai aspek yang berkaitan dengan migrasi yang dilakukan oleh perempuan, yakni sosial, kultural, ekonomi, politik, dan ekologi.
 
Tawaran kedua dan ketiga secara umum berbicara dalam frekuensi yang sama, yakni pada level individu dengan mempertimbangkan aspek-aspek di luar individu tersebut, di mana aspek-aspek tersebut berkontribusi atas pilihan individu untuk melakukan migrasi (Chant 1992). Penekanan ini menjadi sangat krusial dilakukan, sebab migrasi sendiri bukan lah sebuah fenomena yang berdiri sendiri tanpa sangkutpaut dengan kondisi sosial, kultural, ekonomi, politik, dan ekologi (lihat Halfacree dan Boyle 1999, De Haas 2007, 2008, Palmary 2009, Ressurection dan Elmhirst 2009). Dengan demikian, perhatian atas migrasi tidak dapat dilepaskan dari berbagai aspek yang turut mempengaruhi migrasi itu sendiri, baik di level mikro individu maupun makro politik, bahkan di tingkat geopolitik dan geoekonomi (lihat Castels dan Miller 2003). Tentu saja faktor determinan yang harus dilihat adalah perempuan dan keputusannya untuk bermigrasi dengan memperhatikan aspek-aspek tersebut.
 
Konsekuensi logis dari tawaran ini, adalah bahwa kajian migrasi harus dilihat tidak sebagai fenomena tunggal yang otonom. Dengan demikian, kajian migrasi turut pula melibatkan kajian-kajian lain, baik di tingkat mikro maupun makro. Di waktu yang bersamaan, kajian migrasi harus melihat migrasi sebagai sebuah episentrum yang riaknya menyebar ke segala arah, tidak hanya berhenti di satu titik stagnan, sehingga seorang peneliti akan memperkaya kerangka berpikirnya mengenai migrasi bukan hanya pada persoalan migrasi per se, namun juga melihat bagaimana pengaruh eksternal (makro) atas migrasi (mikro), dan bagaimana pengaruh migrasi (mikro) terhadap dinamika ekternal (makro) di luar migrasi tersebut (lihat Pholphirul dan Rukumnuaykit 2010, Irianto 2011). Model ini mengisyaratkan migrasi sebagai sebuah proses yang melibatkan banyak pihak, dan untuk menjelaskan migrasi itu sendiri, mau tidak mau, harus dijelaskan pihak-pihak mana saja yang berkaitan dan berkepentingan atas migrasi itu sendiri.
 
Dengan melihat pada aspek-aspek sosio-kultural misalnya, kajian migrasi dapat melihat dengan jelas bagaimana skema kultural menentukan siapa yang bermigrasi dan untuk apa mereka bermigrasi. Sama halnya dengan melihat pada aspek politik dan ekonomi, baik lokal, nasional maupun internasional, dapat pula dilihat alasan orang melakukan migrasi atau wilayah tujuan migrasi, yang bermuara pada kebijakan politik dan ekonomi dari satu wilayah. Dari bidang politik, dapat pula dilihat bagaimana implikasi kebijakan politik terhadap pengelolaan sumber daya alam, siapa yang mengelola, dan untuk apa sumber daya alam tersebut dikelola, di mana akhirnya akan berujung pada migrasi. Faktor-faktor tersebut, di tambah faktor lain yang muncul, mendorong perilaku migrasi yang dilakukan oleh individu-individu. Setiap individu, dalam migrasi yang mereka lakukan, memiliki latar belakang yang berbeda, terlebih jika dikaitkan dengan gender, di mana perempuan dan laki-laki memiliki latar yang berbeda, akibatnya jelas: mereka mengalami pengalaman yang berbeda.
 
Maka implikasi lain dari tawaran feminisme adalah meletakkan perempuan sebagai subjek yang berbicara dari diri mereka dan untuk kepentingan mereka sendiri. Dengan demikian, maka pengalaman perempuan dapat dikontruksikan sebagai landasan pengetahuan. Tidak berlebihan kiranya, sebab perempuan memiliki pengalaman yang berbeda, bahkan di antara perempuan itu sendiri. Begitu kayanya pengalaman perempuan, maka dari mereka lah dapat dilihat, faktor-faktor apa saja yang mendorong mereka untuk bermigrasi, bagaimana faktor-faktor tersebut berjalin-berkelindan membentuk jaringan yang memaksa perempuan untuk melakukan migrasi, dan kepentingan siapa yang bermain di belakang keputusan mereka untuk bermigrasi. Faktor-faktor ini tentu saja dapat dirunut dari banyak sisi, terjadi di berbagai wilayah, dan menembus batas-batas geografis.
 
Implikasi utama dari tawaran feminisme adalah menampilkan migrasi dengan wajah perempuan yang lebih jelas dan terbuka. Sebagai subjek yang berbicara untuk kepentingannya sendiri, maka perempuan dapat turut serta dalam mengkontruksi pengetahuan, terutama dalam bangunan teori migrasi. Dengan posisi tersebut, perempuan tidak lagi duduk sebagai penonton yang suara dan pengalamannya tidak diperhitungkan, namun berperan sebagai aktor yang turut serta dalam lakon migrasi yang dimainkan. Tentu saja posisi ini membawa keuntungan tersendiri bagi perempuan, yakni perempuan memiliki daya tawar untuk menciptakan sebuah teori migrasi yang lebih ramah perempuan.
 
Di sisi yang berbeda, lagi-lagi patut untuk diingat, bahwa pengalaman perempuan tidak lah seragam. Hal ini boleh jadi menjadi persoalan tersendiri manakala kita berbicara mengenai teori migrasi dengan perspektif perempuan. Dalam hal ini, penting untuk dilihat, sebagaimana dijelaskan Abu-Lughod (2006), bahwa perempuan berbagi kesamaan, kesamaan yang lahir bukan karena proses kematangan tubuh yang universal, namun karena pengalaman yang saling bersama dari interpolasi atas kelas, ras, dan orientasi seksual yang selalu didasarkan pada formasi patriarkal. Meskipun beragam, setidaknya pengalaman-pengalaman perempuan memiliki satu benang merah, yang mampu memberikan warna lain bagi bangunan teori migrasi. Perempuan akan menjadi satu bagian utama dari mozaik teori migrasi, di mana setiap kepingnya begitu berarti. Bahwa kehilangan satu keping akan membuat mozaik tersebut tidak lengkap, dan saya percaya, bahwa keberadaan perempuan adalah keping terakhir, yang selama ini terabaikan, yang akan membangun mozaik bangunan teori migrasi yang lebih lengkap dan utuh.
 
“MIGRASI KUPU-KUPU”: KESIMPULAN
 
Saya tiba di titik awal di mana saya memulai. Argumentasi yang ingin saya bangun pada dasarnya adalah kritik atas bangunan teori migrasi yang abai terhadap pengalaman dan pengetahuan perempuan. Saya telah memulai dari ‘law of migration’ dari Ravenstein yang memicu berbagai penelitian mengenai migrasi dan menjadi pondasi dari bangunan teori migrasi. Di atas pondasi itu lah teori migrasi dibangun dan secara berkala mengalami revisi-revisi. Di tengah revisi-revisi yang muncul sebagai akibat dari ketidakpuasan atas bangunan teori tersebut, teori migrasi tetap mengabaikan satu hal dasar: bangunan teori migrasi ternyata melupakan fakta statistikal dasar, bahwa perempuan, sebagai separuh dari penghuni bumi, pun melakukan migrasi sama halnya dengan laki-laki. Namun fakta itu rupanya tidak bersuara dalam bangunan teori migrasi. Berdasarkan hal itu lah landasan tulisan ini diletakkan.
 
Bahwa perempuan melakukan migrasi, sebagaimana telah saya sebutkan dalam beberapa kajian, adalah fakta yang tidak dapat disangkal. Namun sebagaimana telah coba saya jelaskan, bahwa fakta tersebut tidak lah serta-merta membuat perempuan terlihat dan berperan dalam bangunan teori migrasi. Meskipun Ravenstein sejak awal sudah mengatakan bahwa perempuan, secara statistik, turut pula melakukan migrasi, namun Ravenstein berhenti di titik itu. Dia memutuskan untuk tidak mengeksplorasi lebih jauh mengenai ‘law of migration’ yang coba ia bangun. Para pengkritiknya pun, alih-alih mempertimbangkan perempuan sebagai basis pengetahuan dalam migrasi, lebih asik berbicara mengenai ‘migrant (men) and their families (wives and childern)’. Lagi-lagi perempuan terabaikan. Maka saya pun memunculkan kritik atas bangunan teori migrasi: serangan-serangan atas bangunan teori migrasi, penolakan atas metode add and stir, dan tawaran yang diajukan feminisme atas bangunan teori migrasi itu sendiri.
 
Tawaran feminisme atas bangunan teori migrasi pada dasarnya terletak pada memberikan kesempatan berbicara bagi suara-suara yang selama ini dibungkam dan diabaikan. Melalui suara perempuan lah bangunan teori migrasi harus diletakkan. Hal ini menjadi sangat krusial, sebab pengabaian terhadap suara perempuan pada hakikatnya adalah pengabaian pada pondasi pengetahuan. Dalam waktu yang bersamaan, suara-suara perempuan perlahan muncul dari kegelapan, menerobos ruang, merembes gatra, dan menyampaikan kisah yang berbeda dengan yang selama ini dikisahkan. Maka bangunan teori migrasi pun perlahan mengalami perubahan, yakni dengan memunculkan bangunan teori yang lebih ramah perempuan. Meskipun demikian, saya melihat bahwa tugas perombakan belum lah usai. Teori-teori klasik, yang melupakan perempuan, terus mengalami peningkatan penggunaan, sedikit diubah, namun tidak lah mengubah landasan berpikirnya. Dengan demikian, sesungguhnya perempuan telah bersuara, hanya saja suaranya kurang terdengar jelas. Maka tugas untuk mengkritisi, memperluas perspektif, dan membuka ruang yang lebih bagi perempuan akan tetap menjadi tugas rumah bagi siapa saja yang menaruh perhatian pada persoalan perempuan, khususnya migrasi perempuan.
 
Terlepas dari apa yang telah saya jelaskan di atas, tulisan ini pun masih memiliki sejumlah keterbatasan. Pertama, begitu luasnya bangunan teori migrasi sehingga saya tidak mungkin berbicara dari seluruh sisi. Maka saya memilih untuk bergerak dari akar teori migrasi, dari Ravenstein lah saya memulai. Namun pilihan ini membawa konsekuensi, bahwa kajian saya bergerak dari pendulum ekonomi dan mengesampingkan faktor lain sebagai pijakan awal. Kedua, kritik feminisme atas bangunan teori migrasi sendiri begitu beragam, sama beragamnya dengan feminisme itu sendiri. Saya memilih untuk tidak bergerak pada percabangan feminisme, sebab setiap cabang memiliki tekanan atas kritik-kritik tertentu, yang dalam banyak hal begitu beragam. Saya hanya mengutarakan kritik yang tidak bersifat sui generis, sekaligus mencari tawaran-tawaran yang diajukan dari kritik tersebut. Ketiga, saya memilih untuk tidak mengeksplorasi secara spesifik pada kasus pengalaman migrasi perempuan di Indonesia. Saya hanya memberikan beberapa kata kunci yang mungkin dapat bermanfaat, namun karena kendala keterbatasan, maka saya memilih untuk tidak mengeksplorasi dengan lebih mendetail. Seluruh keterbatasan dalam kajian ini sepenuhnya adalah kekurangan saya, dan saya berharap kekurangan tersebut dapat ditutupi melalui kajian-kajian lanjutan di masa yang akan datang.
 
Sebagai penutup, izinkan saya mengutip sebuah puisi dari Gendotwukir, Migrasi Kupu-Kupu:
Dulu
Kala musim panen padi hampir tiba
Selalu ada
Migrasi kupu-kupu dari utara
Menerjang bentangan senja
Dengan warna-warni mengudara
Di atas pusaran desa
Adagio disambut allegro; di irama
Riuh geriap-geriapnya
Ribuan, bahkan jutaan
Memenuhi lautan kehidupan
Hingga bocah-bocah desa selalu berebutan
Menangkapi kehidupan ceria di harapan
Kini,
Panen sudah usai
Lemah lunglai
Tak satu pun kupu menderai
Mungkin karena sejarah telah memuai
Manusia terlalu ramai
Memperebutkan dunia damai
Padahal dirinya badai
Dan dengarlah: tengarai bocah-bocah belum usai
Menjelma menjadi kupu-kupu
Bermigrasi ke kota baru
Jejak mereka tumbuh lugu
Di perempatan berdebu
 
REFERENSI
 
Abu-Lughod, L. 2006. “Writing Against Culture” dalam Ellen Lewin (ed.) Feminist Anthropology. Malden, MA: Blackwell. Hlm. 153-169
Altamirano, A.T. 1997. “Feminist Theories and Migration Research – Makin Sense in the Data Feast?”, Refuge 16(4):4-8
Andaya, B.W. 2006. The Flaming Womb: Repositioning Women in Early Modern Southeast Asia. Honolulu: University of Hawai’i Press
Anderson, E. 1995. “Feminist Epistemology: An Interpretation and a Defense”, Hypatia10(3):50-84
__________. 2011. “Feminist Epistemology and Philosophy of Science” dalamhttp://plato.stanford.edu/entries/feminism-epistemology/. Diakses tanggal 15 April 2011
Asis, M.M.B. 2003. “Asian Women Migrants: Going the Distance, But Not Far Enough”dalam http://www.migrationinformation.org/Feature/display.cfm?ID=103. Diakses tanggal 13 Desember 2010.
Bart, J. 1998. “Feminist Theory of Knowledge: The Good, The Bad, dan The Ugly” dalamhttp://www.dean.sbc.edu/bart.html. Diakses tanggal 15 April 2011
Benjamin, D. 1996. “Women and the labour market in Indonesia during the 1980s”, dalam Susan Horton (ed.) Women and Industrialization in Asia. London and New York: Routledge. Hlm. 81-133
Boyd, M. dan E. Grieco. 2003. “Women and Migration: Incorporating Gender into International Migration Theory” dalamhttp://www.migrationinformation.org/Feature/display.cfm?ID=106. Diakses tanggal 15 April 2011.
Boyle, P., K. Halfacree, dan D. Smith. 1999. “Family Migration and Female Participation in the Labour Market: Moving Beyond Individual-level Analyses” dalam Paul Boyle dan Keith Halfacree (eds.) Migration and Gender in Developed World. London dan New York: Routledge. Hlm. 94-111
Bradley, H. dan G. Healy. 2008. Ethnicity and Gender at Work: Inequalities, Careers, and Employment Relations. New York: Palgrave Macmillan
Brooks, A. 2006. Gendered Works in Asian Cities, The New Economy and Changing Labour Markets. Hampshire: Ashgate
Buch, C.M., dan A. Kuckulenz. 2010. “Worker remittances and capital flows to developing countries”, International Migration 48(5):89-117
Butler, J. 1993. Bodies That Matter: On The Discursive Limits of “Sex”. London and New York: Routledge
Castells, M. 2002. The Rise of the Network Society, second edition. Malden, MA: Blackwell Publishers
Castles, S. dan M.J. Miller. 2003. The Age of Migration, third edition. London: MacMillan Press
Chamberlain, M. 1997. “Gender and the Narratives of Migration”, History Workshop Journal 43:87-108
Chant, S (ed.). 1992. Gender & Migration in Developing Countries. London: Belhaven Press
Chant, S. dan S.A. Radcliffe. 1992. “Migration and development: the importance of gender” dalam Sylvia Chant (ed.) Gender & Migration in Developing Countries. London: Belhaven Press. Hlm. 1-29
De Haas, H. 2007. Migration and Development: a Theoretical Perspective. Bielefeld: COMCAD
________. 2008. “The internal dynamics of migration processes”, makalah disampaikan dalam IMSCOE Conference on Theories of Migration and Social Change, University of Oxford 1-3 Juli
De Haas, H. dan T. Fokkema. 2009. Intra-household tensions and conflict of interest in migration decision making: a case study of the Todgha valley, Marocco. Working paper for IMI University of Oxford
Detsi-Diamanti, Z., K. Kitsi-Mitakou, dan E. Yiannopoulou. 2009. “Toward to Future of Flesh: An Introduction” dalam Zoe Detsi-Diamanti, Katerina Kitsi-Mitakou, dan Effie Yiannopoulou (eds.) The Future of Flesh: a Cultural Survey of the Body. New York: Palgrave Macmillan. Hlm. 1-15
Elmhirst, R. 1999. “’Learning the ways of the priyayi’: domestic servants and the mediation of modernity in Jakarta” dalam J.H. Momsen (ed.) Gender, Migration and Domestic Service. London and NY: Routledge. Hlm. 237-258
_________. 2009. “Multi-local livelihoods, natural resource management and gender in upland Indonesia” dalam Bernadette P. Ressurection dan Rebecca Elmhirst (eds.)Gender and Natural Resource Management; Livelihoods, Mobility and Interventions. Singapore: ISEAS. Hlm. 67-85
Fan, C.C. 2004. “Out to the City and Back to the Village: The Experiences and Contributions of Rural Women From Sichuan and Anhui” dalam A.M. Gaetano dan T. Jacka (eds.) On The Move: Women and Rural-to-Urban Migration in Contemporary China. New York: Colombia University Press. Hlm. 177-206
Farwick, A. 2009. Internal Migration, Chalengges and Perspectives for the Research Infrastructure. RatSWD Working Paper No. 97.
Gardner, K. 2002. Age, Narrative and Migration: The Life Course and Life Histories of Bengali Elders in London. New York: Berg
Gubhaju, B. dan G.F. de Jonge. 2009. “Individual versus household migration decision rules: gender and marital status differences in intentions to migrate in South Africa”, International Migration 47(1):31-61
Green, A., I. Hardill, dan S. Munn. 1999. “The Employment Consequences of Migration: Gender Differential” dalam dalam Paul Boyle dan Keith Halfacree (eds.) Migration and Gender in Developed World. London dan New York: Routledge. Hlm. 60-69
Halfacree, K. dan P. Boyle. 1999. “Introduction: Gender and Migration in Developed Countries” dalam Paul Boyle dan Keith Halfacree (eds.) Migration and Gender in Developed World. London dan New York: Routledge. Hlm. 1-23
Hardill, I. 2002. Gender, Migration and the Dual Career Household. London and New York: Routledge
Harding, S. 1991. Whose Science? Whose Knowledge?. Ithaca, NY: Cornell University Press
Ho, E. 2006. Graves of Tarim, Genealogy and Mobility Across the Indian Ocean. Berkeley: Univerity California Press
Hooglan, R.C. 2007. “Body, Theories of” dalam Fedwa Malti-Douglas (ed.) Encyclopedia of Sex and Gender. Hlm. 171-176.
Horton, S. 1996. “Women and industrialization in Asia: overview”, dalam Susan Horton (ed.) Women and Industrialization in Asia. London and New York: Routledge. Hlm. 1-42
Hugo, G. 1992. “Women on the move: changing patterns of population movement of women in Indonesia” dalam Sylvia Chant (ed.) Gender & Migration in Developing Countries. London: Belhaven Press. Hlm. 174-196
Irianto, S. 2011. Akses Keadilan dan Migrasi Global: Kisah Perempuan Indonesia Pekerja Domestik di Uni Emirat Arab. Jakarta: Obor
Jacobsen, F.F. 2009. Hadrami Arabs in Present Day Indonesia, an Indonesia-oriented group with an Arabic signature. London and New York: Routledge
Jones, T.A. 2009. “Migration Theory in the Domestic Context, North-South Labor Movement in Brazil”, Human Architecture: Journal of the Sociology of Self-Knowledge (7)4:5-14.
Lee, E.S. 1966. “A Theory of Migration”, Demography 3(1):47-57
Longino, H.E. 1987. “Can There Be A Feminist Science?”, Hypatia 2(3):51-64
Momsen, J.H. 1999. “Maids on the move” dalam J.H. Momsen (ed.) Gender, Migration and Domestic Service. London and NY: Routledge. Hlm. 1-20
Newberry, J. 2008. “Women’s ways of walking: gender and urban space in Java” dalam Judith N. DeSena (ed.) Gender in an Urban World. United Kingdom: Emerald. Hlm. 77-102
Nolan, A. 2007. “Body Image” dalam Fedwa Malti-Douglas (ed.) Encyclopedia of Sex and Gender. Hlm. 168-170
Olwig, K.F. 1997. “Cultural Sites: Sustaining a home in a deterritorialized world” dalam Karen Fog Olwig dan Kristen Hastrup (eds.) Siting Culture, the shifting anthropological object. London and New York: Routledge. Hlm. 17-38.
Ong, A. 1991. “The Gender and Labor Politics of Postmodernity”, Annual Review of Anthropology 20:279-309
Palmary, I. 2009. “Migration of Theory, Method, and Practice: a Reflection on Themes in Migration Studies”, PINS 37:55-66
Pholphirul, P. dan P. Rukumnuaykit. 2010. “Economic Contribution of Migrant Workers to Thailand”, International Migration 48(5):174-202
Pinger, P. 2010. “Come Back or Stay? Spend Here or There? Return and Remittances: The Cas of Moldova”, International Migration 48(5):142-173
Pocha, S. 2010. “Feminisme dan Gender” dalam Sarah Gamble (ed.) Feminisme dan Postfeminisme. Jakarta: Jalasutra. Hlm. 69-81
Ramazano?lu, C., dan J. Holland. 2002. Feminist Methodology, Challenges and Choices. London: Sage
Ravenstein, E.G. 1885. “The Laws of Migration”, Journal of the Statistical Society of London 48(2):167-235
Reid, A. 2011. Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680, Jilid 1: Tanah di Bawah Angin. Jakarta: Obor
Ressurection, B.P. dan R. Elmhirst (eds.). 2009. Gender and Natural Resource Management: Livelihoods, Mobility and Interventions. Singapore: ISEAS
Schwenken, H. dan P. Eberhardt. 2008. Gender Knowledge in Economic Migration Theories and in Migration Practices. GARNET Working Paper No.58/08
Sen, A. 1999. Development as Freedom. New York: Anchor Books
Sen, K. 1998. “Indonesian women at work: reframing the subject”, dalam Krishna Sen dan Maila Stivens (eds.) Gender and Power in Affluent Asia. London and New York: Routledge. Hlm. 35-62
Skeldon, R. 1997. Migration and Development: a Global Perspective. Essex: Longman
Suharso et.al. 1975. Migration and Education in Jakarta. Jakarta: Leknas LIPI
Suryadi AG, L. 1994. Pengakuan Pariyem: Dunia Batin Seorang Wanita Jawa. Jakarta: Sinar Harapan
Swenson, K.A. 2010. “Productive Bodies: Women, Work, and Depression”, dalam Lori Reed and Paula Saukko (eds.) Governing the Female Body: Gender, Health, and Networks of Power. New York: Suny. Hlm. 134-156
Tjiptoherijanto, P. 1997. Migrasi, Urbanisasi, dan Pasar Kerja di Indonesia. Jakarta: UI Press
Walker, J.R. 2008. Internal Migration. Dalam http://www.ssc.wisc.edu/~walker/ research/palgrave_6.pdf. Diakses 12 maret 2011.
White, B. 2002. “Inti dan plasma: pertanian kontrak dan pelaksanaan kekuasaan di dataran tinggi Jawa Barat”, dalam Tania Murray Li (ed.) Proses Transformasi Daerah Pedalaman di Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Hlm. 293-329
 

 

 

 

 

Jadwal Salat