• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

KAMI TIDAK BISU, sebuah tanggapan

on . Posted in Catatan Khusus

Kemarin (26/11), bertempat di Ruang Soelaeman Soemardi FISIP UI Depok, saya bersama Kamilia Manaf membedah buku yang diterbitkan oleh Institut Pelangi Perempuan. Sebagai orang yang mendadak ditodong untuk membedah buku itu, saya tentu tersanjung. Bagi saya, seorang pasivis (istilah ini tadi saya gunakan sebagai kebalikan dari aktivis), memdedah buku yang berasal dari pengalaman teman-teman lesbian muda adalah sebuah kehormatan.

 
Lama saya berpikir, bahkan setelah acara itu selesai, bahwa saya tidak pernah bisa menyelami kehidupan mereka. Saya akui sepenuhnya, bahwa saya berada dalam lingkup konstruksi sosial hetero, sehingga ketika berbicara mengenai LGBT, sulit untuk mengambil posisi yang menguntungkan, setidaknya bagi diri saya sendiri. Bahkan ketika catatan ini saya tulis dalam kamar yang sepi, hanya ditemani Adam Lambert, yang saya tahu dia gay, tetap membuat saya frustasi.
Mengutip salah satu penari, bahwa hantu itu ada. Ya. Bahkan hantu itu datang dalam gatra kamar saya, yang celakanya tidak bisa saya usir. Rasa takut itu masih terngiang. Meskipun saya sepenuhnya setuju dengan Tony Rudyansjah, sosok yang saya banyak berhutang jungkir balik logika, bahwa tidak mungkin berada dalam satu ekstrim, FEAR, untuk kemudian berayun ke ekstrim lainnya: FREEDOM. Bagi saya, rasa takut adalah kunci untuk memahami apa yang dialami dan dirasakan teman-teman LGBTIQ. Bagi saya, pemahaman adalah cara untuk membangun empati, tanpa pernah paham, sulit membangun ruang diskusi yang cair dan egaliter.
 
Tentang Buku KAMI TIDAK BISU
 
Barangkali ada baiknya, karena saya akan meletakkan tulisan ini dalam blog saya, untuk menjelaskan duduk masalahnya. Buku ini berjudul KAMI TIDAK BISU, ditulis dengan sangat baik, tentu saja ini pujian, oleh tim Institut Pelangi Perempuan. Setidaknya tercatat Kamilia Manaf selaku penulis dan tim editor Dewi Nova Wahyuni dan Arwani. Buku ini terdiri dari sebelas bab, masing-masing bab berdiri sendiri, sebab setiap bab adalah hasil kongkow dari teman-teman yang bergabung dalam KONGKOW LEZ. Secara pribadi saya mendukung adanya kegiatan KONGKOW LEZ, sebagai sebuah arena terbuka yang dapat diakses oleh setiap orang.
 
Kembali ke laptop. Buku ini bagi saya memantik dua hal: pengetahuan sekaligus imajinasi, pemahaman sekaligus frustasi. Mengapa pengetahuan dan imajinasi? Buku ini memberikan banyak sekali informasi mengenai lesbian yang sama sekali tidak saya ketahui. Pengetahuan, yang saya akui, memantik imajinasi liar saya atas kehidupan mereka. mengapa pemahaman dan frustasi? Buku ini membuat saya berpikir mengenai banyak hal. Saya akui, saya orang yang sering sekali melihat kehidupan teman-teman LGBTIQ sebagai sesuatu yang taken for granted. Kehidupan memang keras. Ya. Namun apa yang saya lihat rupanya hanya lah kulit terluar. Buku ini memberikan perspektif lain, sama sekali lain, dari apa yang saya lihat. Justru perspektif itu lah yang membuat saya frustasi. Dunia sosial tidak akan pernah sama sebelum saya membaca buku ini.
 
Masyarakat panoptik?
 
Bagaimana saya harus mendedahkan buku yang menggelisahkan saya? Kepada Foucault lah saya berpaling. Saya menyadari, dari hasil diskusi dengan teman-teman terbaik saya, tempat saya diskusi dan bertarung logika, bahwa penyiratan rasa takut itu bukan lah imajinasi saya. Mereka, teman-teman saya, menyatakan hal yang sama. Mengapa mereka (baca: peserta KONGKOW LEZ) takut? Pernah kan anda membaca tulisan Foucault “Discipline and Punish” (1978)? Saya pikir analisis Foucault bisa saya pergunakan.
 
Buku itu, pertama kali saya baca, adalah teror mental. Konsep panoptic, di mana setiap orang selalu berada dalam pengawasan, adalah kunci dalam presentasi saya. Foucault meminjam kerangka yang dibangun oleh Jeremy Bentham mengenai penjara berbentuk melingkar, di mana seorang pengawas berada dalam sentral, dan para narapidana berada di area lingkaran. Dengan pengawasan penuh selama 24 jam, sepanjang hari, sepanjang waktu. Pengawasan itu dilakukan sebagai salah satu mekanisme pendisiplinan yang dilakukan oleh institusi penjara. Foucault dengan brilian menyeret desain panoptik dalam dunia sosial.
 
Saya memahami, bahwa konsep dasar panoptik akan membuat seseorang selalu merasa diawasi. Rasa diawasi ini penting, sebab ketika kita selalu berada dalam pengawasan, maka kita akan bertindak sebagaimana diinginkan oleh pengawas kita. Pembiasan yang berulang, rasa khawatir melanggar aturan, rasa selalu diawasi, lambat laun akan membentuk sebuah habitus. Kebiasaan yang kita munculkan tidak lain adalah hasil dari pengawasan itu. Apa yang saya lakukan dalam area sosial saya adalah hasil dari habituasi atas pengawasan yang dilakukan secara sosial atas diri saya.
 
Lalu apa hubungannya dengan peserta KONGKOW LEZ (baca: LGBTIQ)? Saya rasa sama saja. Rasa diawasi itu lah yang muncul. Aroma busuk yang menyeruak dariindahnya kehidupan. Ketika saya membaca, kalimat seperti ‘apakah yang saya lakukan itu benar?’, ‘apakah yang saya rasakan itu dapat diterima?’, ‘bagaimana hubungannya dengan orangtua?’, atau bahkan ‘bagaimana sesungguhnya agama melihat apa yang saya lakukan?’. Argumentasi saya sederhana, bahwa kalimat-kalimat itu, yang muncul dari sanubari yang gelisah, adalah rasa bahwa tindakan yang dilakukan atau pilihan yang diambil itu keluar dari norma. Persoalannya, siapa yang menentukan norma atau aturan? Siapa yang memiliki otoritas untuk mengatakan itu baik atau buruk? Atau itu normal atauabnormal?
 
Pengawasan yang dilakukan oleh pasangan, orangtua, masyarakat, bahkan negara lah yang membuat teman-teman LGBTIQ selalu merasa bahwa mereka berada dalam lajur yang salah. Rasa diawasi membuat setiap orang yang berada dalam lajur yang keliru selalu dihantui rasa takut. Bagaimana pengawasan bekerja? Kita toh tidak pernah melihat adanya CCTV di depan mata kita sendiri? Jawaban sesungguhnya ada dalam realitas kita sehari-hari. Ketika saya membaca cerita bagaimana terjadi pengucilan, stereotipe, bahkan stigma terhadap teman-teman LGBTIQ, sesungguhnya itu lah bentuk hukuman dari disiplin yang dilanggar.
 
Lalu pertanyaannya, apa yang didisiplinkan? Jawaban saya sederhana: TUBUH. Tubuh tidak pernah hanya dianggap sebagai kumpulan tulang dan daging. Tubuh adalah area sosial, di mana setiap bagian dari tubuh kita terdapat satu konstruksi sosial yang bermain. Ambil contoh rambut, perempuan dikonstruksi sebagai pemilik rambut panjang, sedangkan laki-laki sebaliknya. Pakaian pun demikian. Saya setuju dengan Hartoyo, bahwa pakaian tidak pernah memiliki jenis kelamin, namun dalam dunia sosial, pakaian pun memiliki jenis kelamin, bahkan warna pun memiliki jenis kelamin. Saya misalnya, sebagai seorang laki-laki, tidak dikonstruksi untuk memakai daster, rok, atau kebaya (apalagi kalau ditambah sanggul). Perilaku pun demikian. Anak laki-laki selalu diajarkan untuk kuat, pemberani, tidak cengeng, bla bla bla. Demikian pula perempuan.
 
Tubuh kita telah didisiplinkan bahkan sebelum kita memiliki pemahaman bahwa kita manusia. Lihat lah para orangtua yang sibuk membedakan baju anak laki-laki dan anak perempuan bahkan sebelum si anak mampu mengoceh dan bilang “mama” atau “papa”. Lihat lah perilaku orangtua yang sibuk memberikan boneka kepada anak perempuan, atau mobil-mobilan kepada anak laki-laki. Lihat lah tetangga yang sibuk bergunjing ketika ada seorang anak perempuan memanjat pohon untuk memetik mangga atau berkelahi dengan teman sebaya. Lihat lah tetangga yang sibuk mencemooh ketika seorang laki-laki berbicara dengan gerak tubuh feminin atau pun gemar bersolek. Lihat lah negara yang sibuk mengatur apa yang harus dilakukan oleh laki-laki dan perempuan, bahkan dalam angkutan umum!.
 
Semua adalah aparatus kekuasaan. Power menegasikan tubuh sebagai tubuh yang tunduk dan teropresi. Sebagai aparatus kebudayaan, orangtua, masyarakat, dan negara, akan selalu membuat tubuh tunduk dan taat. Penghambaan mutlak oleh tubuh atas kuasa konstruksi membuat mereka yang berani bicara akan mendapat tekanan besar-besaran. Saya setuju dengan Butler (1993) dan Detsi-Diamanti, Kitsi-Mitakou, dan Yiannopoulou (2009), bahwa tubuh adalah area perang tanpa akhir. Sejak manusia menyadari tubuh sebagai area tempur, peperangan untuk memperoleh kendali atas tubuh selalu berlangsung.
 
Pengendalian atas tubuh juga berlangsung dalam skema kultural yang menyeret dimensi manusia sebagai makhluk hidup: untuk menjaga agar manusia tidak punah, maka setiap laki-laki “ditakdirkan” untuk memiliki pasangan perempuan. Siapa yang mengajarkanskema ini? benarkah bahwa skema ini ada dalam DNA kita? Misalnya, saya ambil contoh ekstrem, Tarzan. Dia adalah sosok manusia (laki-laki) yang dipelihara oleh kelompok gorilla. Lalu dia bertemu spesies manusia lain: Jane (perempuan). Siapa yang mengajarkan pada Tarzan bahwa dia mencintai Jane? Apa yang membuat rasa itumuncul? Feromon? Buat saya itu omong kosong. Bahkan siapa pula yang memberikannama Tarzan? Gorila? Atau dia menyebut dirinya sendiri Tarzan? Sungguh membuat akal sehat bergidik ngeri. Seharusnya, Tarzan tidak suka pada Jane, karena dia sosok yang tidak pernah disosialisasikan bahwa dia laki-laki, dan jodohnya adalah perempuan. Sebagai makhluk sosial, kita diajarkan, disosialisasikan, dienkulturasikan (apapun istilahnya), bahwa laki-laki berpasangan dengan perempuan, begitu pula sebaliknya (lihat saja para guru TK yang sibuk mengkoreksi seorang anak yang hanya menggambar sosok ibu tanpa ayah atau sebaliknya).
 
Di sisi lain, saya pun menyadari, betapa hebatnya pengawasan yang dilakukan, bahwa kita, selaku korban, tanpa kita sadari justru menjadi pengawas bagi orang lain. Kita menjadi aparatus disiplin untuk mendisiplinkan orang lain. Kita dengan mudah menggunjing, mencela, bahkan menghakimi orang lain hanya karena orang itu berada di luar jalur arus utama. Kita dengan mudah mencemooh pilihan orang lain hanya karena pilihan itu berbeda. Kita begitu mudah mengkafirkan orang lain hanya karena orang itu tidak sealiran dengan kita. Begitu hebatnya kuasa disiplin, sehingga kita lupa bahwa kita manusia, pun mereka juga manusia.
 
Siapa yang takut? Opium mayoritas dan ambivalensi lesbian
 
Saya bertanya pada teman-teman diskusi saya. Jangan-jangan, kita yang hetero lah yangtakut. Seorang teman berkata, seandainya semua perempuan lesbian, spesies manusia akan punah. Saya tertawa mendengar argumen teman saya. Bagi saya, teman saya itu tidak pernah membaca statistik: kita tidak pernah kekurangan jumlah penduduk. Seorang teman lainnya menyatakan bahwa dia tidak mempermasalahkan lesbian sebagai gaya hidup, namun tidak sebagai pilihan. Lho? Kok bisa? Bagi teman saya, sebagai gaya hidup, toh seorang lesbian tidak mungkin akan memilih jalur lesbian sepanjang hidupnya. Bagi teman saya, pilihan untuk menjadi lesbian tidak dapat diterima akal sehatnya. Akal sehat saya pun tidak dapat menerima alasan teman-teman saya, termasuk mereka yang mengaku aktivis.
 
Saya menyebutnya sebagai ambivalensi lesbian. Kita begitu semangat ketika bicara mengenai hak-hak LGBTIQ. Bahwa mereka harus menjadi warga negara sepenuhnya, tanpa diskriminasi, tanpa esploitasi, dan tanpa embel-embel lainnya. Kita begitu bersorak ketika teman-teman gay berani tampil dan menyatakan adalah hak mereka untuk menjadi gay. Namun ketika bicara mengenai lesbian, sebagian dari kita mendua. Alih-alih bertepuk tangan dengan semboyan jor-joran, kita justru menciut dan kembali ke tempurung kebisuan. Alasannya sederhana: rahim.
 
Harus diakui, secara biologis perempuan mengemban satu bagian paling penting dalam keberadaan manusia: rahim dan sel telur. Komponen ini jumlahnya amat terbatas. Marikita berhitung. Jika seorang perempuan berada dalam kondisi subur selama 30 tahun, dan dia mengalami sekali menstruasi setiap bulan, maka perempuan itu menyimpan 360 sel telur. Maka menurut logika teman saya, kalau semua sel itu “tidak dimanfaatkan” (serius ini istilah teman saya), maka hal ini akan mengancam keberadaan spesies manusia. Rahim perempuan menjadi lokus penting, sebab dia bukan hanya tempat di mana keberlanjutan manusia diletakkan, namun menjadi area kultural yang selalu penting dibincangkan. Monstrous feminine misalnya, muncul karena perempuan dianggap tidak mampu mengatur ritme tubuhnya. Berbeda dengan laki-laki yang dianggap lebih mampu, sehingga perempuan lebih banyak diatur dan disiplinkan ketimbang laki-laki. Hal yang sama sesungguhnya juga muncul dalam buku ini. Ada ketakutan di kalangan peserta KONGKOW LEZ sendiri mengenai tidak menjadi ibu. Konstruksi ibuisme mendorong setiap perempuan untuk mencapai tugas paripurna: menjadi ibu.
 
Bagi saya, argumen teman-teman saya lebih banyak ngawurnya ketimbang benarnya. Misalnya teman saya bertanya, apakah mereka mengenal cinta? Saya katakan “saya yakin ya”, apakah mereka merasakan kenikmatan seksual? Saya pikir jelas iya. Bla bla bla. Sama saja. Argumen-argumen mereka justru meneguhkan sikap saya, bahwa sesungguhnya kami lah, kaum hetero, yang takut. Ada semacam opium yang selaludikonsumsi, bahwa yang nikmat adalah yang lain jenis, bahwa yang bikin ketagihanadalah yang “berada di jalur yang benar”. Opium itu, bagi saya, justru menjadi bumerang. Ketika euforia kenikmatan dipergunakan dengan sewenang-wenang, maka rasa takut lah yang menjadi obat penyembuh. Rasa takut yang akut sehingga kaum hetero memanfaatkan setiap amunisi yang ada untuk menyerang teman-teman LGBTIQ. Rasa takut yang menyebar, seperti wabah sampar, membuat akal sehat tertutup dan karenanya memanfaatkan segala cara, menghalalkan segala metode, mencabut setiap kesempatan bicara, dan memberangus setiap arena di mana setiap orang berhak bicara.
 
Biarkan mereka bicara: homophobia, ruang publik dan klaim atas surga
 
Salah satu persoalan yang menarik datang dari Hartoyo. Bagaimana merebut ruang publik? Saya setuju sepenuhnya dengan Romo Johannes Supriyono, bahwa ketika kita meletakkan warga negara sebagai titik nol, maka semua diskusi mengenai LGBTIQ boleh jadi berakhir. Sebagai warga negara, setiap orang memiliki hak yang sama untuk menikmati ruang publik, dan ruang publik pun menjadi ruang yang cair dan egaliter. Namun karena negara abai meletakkan mereka sebagai warga negara, negara lalai hadir, sehingga klaim-klaim oleh kelompok-kelompok tertentu merebut ruang publik.
 
Tanpa ruang publik, teman-teman LGBTIQ jelas tidak punya wadah bicara. Saya sendiri pernah bertanya pada peserta konferensi media dan multikulturalisme di UMY tahun ini, jika media massa mengabaikan hak-hak LGBTIQ dalam pemberitaan, lalu ruang mana yang tersedia bagi mereka? Media, sepengetahuan saya, tidak pernah bermain sebagai sahabat bagi LGBTIQ. Media, kembali ke Foucault, adalah pengawas sempurna bagi disiplin tubuh. Lihat lah betapa media berpesta merayakan ditangkapnya Ryan dari Jombang. Apa yang mereka bingkai dalam berita mereka? Ryan itu gay, dan diapembunuh berdarah dingin. Sampah. Sangat busuk.
 
Ruang publik, bagi saya, tidak akan pernah lepas dari sikap homophobia. Dalam hal ini Hartoyo benar, bahwa merebut ruang publik adalah sebuah keharusan. Saya angkat topi atas usaha teman-teman LGBTIQ untuk merebut media alternatif sebagai corong berita mereka. Internet dan jejaring sosial menjadi area perang baru bagi komunitas LGBTIQ, mengutip Dede Oetomo, memberi suara bagi yang bisu. Namun bagi saya, ruang alternatif seperti ini punya sejumlah masalah. Misalnya, siapa sih aktif membuka laman-laman seperti ourvoice.or.id atau pelangiperempuan.or.id (dan laman-laman lainnya)? Saya rasa tidak banyak. Jika mengambil facebook atau twitter misalnya, siapa sih yang mau menjadi teman atau menjadi pengikut? Saya rasa tidak banyak juga. Berapa banyak orang yang aktif berinternet ria dalam memperoleh informasi? Apakah informasi itu efektif? Saya pikir tidak selalu. Sepengetahuan saya, dalam kultur masyarakat agraris seperti kita, bisik-bisik tetangga jauh lebih efektif ketimbang teriak lantang di internet.
 
Hartoyo benar. Ruang publik harus direbut. Homophobia harus dieliminir, syukur kalau bisa hilang sama sekali. Maka saya kembali berpegang pada argumen dasar saya. Pendidikan dasar harus dianggap sebagai investasi masa depan. Bagaimana mungkin kita bisa membuat cerita Retno pacaran dengan Sinta, kalau Retno selalu membantu ibu di dapur dan dimarahi habis-habisan karena berkelahi dengan teman sebaya atau menolak menyapu lantai rumah? Bagaimana kita bisa menerima Martin yang “gemulai” (maaf saya tidak tahu padanan kata yang tepat) jika Martin selalu diberikan mobil balap dan pedang Starwars? Sungguh tidak masuk akal. Membuat ruang ekspresi gender yang terbuka, bagi saya, adalah langkah awal membuka ruang diskursus seksualitas yang lebih luas. Membuang jauh stereotipe ke laut lepas hanya dimungkinkan jika kita memberikan ruang bagi setiap orang untuk menjadi dirinya sendiri. Lepas dari jerat jejaring laba-laba yang celakanya justru kita pintal sendiri. Kita tentu bisa berharap banyak pada generasi yang bebas memilih. Tentu ini bukan pekerjaan yang 1 tahun selesai. Ini adalah investasi jangka panjang.
 
Saya pun percaya, bahwa merebut ruang publik harus dengan akal sehat. Saya memahami, bahwa teman-teman LGBTIQ tidak mungkin bebas bicara tanpa rasa khawatir babak belur. Sponsor negara atas anarkisme justru membuat ruang publik semakin tertutup bagi mereka yang selama ini dibisukan. Kematian adalah harga yang selalu dibayar untuk memperoleh kebenaran, saya tidak bermaksud agar ada korban mati, namun selalu ada harga yang dipertaruhkan. Tentu negara ini tidak segelap itu. Saya percaya, di antara kelompok tolol yang selalu mengatasnamakan surga dan sejenisnya, selalu ada orang-orang yang siap membuka telinga dan pikirannya. Saya percaya, bahwa merebut ruang publik harus dimulai, bahkan dalam langkah yang paling sederhana: mendengar.
 
Bagi saya, semua hal selalu dimulai dari mendengar. Bukan kah Allah selalu menyatakan Maha Mendengar selalu lebih dahulu ketimbang Maha Melihat? Mendengar adalah langkah awal untuk memahami. Mereka yang selalu menolak adalah mereka yang tidak pernah mau mendengar. Maka saya bertahan pada posisi saya: BIARKAN MEREKA BICARA. Dengar lah setiap cerita, maka kita akan beranjak ke langkah selanjutnya: memahami. Namun mendengar dan memahami saja tidak cukup. Kita harus maju satu langkah lagi: BIARKAN MEREKA MEMILIH.
 
Saya menutup catatan ini dengan sebuah horison baru. Membaca buku KAMI TIDAK BISU memberikan sebuah pengalaman tersendiri bagi saya. Dari pengalaman itu lah tulisan ini didasarkan. Sebagai penutup, izinkan saya memuji teman-teman Institut Pelangi Perempuan yang telah mencoba bersuara. Sekecil apapun suara itu, namun gemanya akan terus terasa, merembes gatra, memecah kesunyian, mencairkan kebisuan. Ya. Mereka memang tidak bisu. Sungguh saya bersedia menjadi saksi.
 
Bacaan lanjutan:
Butler, Judith. 1993. Bodies That Matter: On The Discursive Limits of “Sex”. London and New York: Routledge
Detsi-Diamanti, Zoe., Katerina Kitsi-Mitakou, dan Effie Yiannopoulou (eds.). 2009. The Future of Flesh: a Cultural Survey of the Body. New York: Palgrave Macmillan.
Foucault, Michel. 1978. Discipline & Punish: The Birth of the Prison. New York: Vintage Books.

Jadwal Salat