• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

Meninjau Ulang Teori Migrasi, Di Mana Posisi Perempuan? Kritik, Tawaran, dan Implikasi

on . Posted in Catatan Khusus

ABSTRAK
 
Sepanjang sejarahnya, teori mengenai migrasi telah mengalami pasang-surut. Dimulai dari sudut pandang ekonomi, hingga pada posisi aktor pelaku individu. Namun perkembangan teori migrasi melupakan satu faktor penting: perempuan. Tulisan ini memiliki tujuan ganda: Pertama, melakukan kritik atas bangunan teori migrasi yang mengabaikan perempuan, baik sebagai pelaku migrasi maupun sebagai pihak yang berkepentingan untuk mengkonstruksi bangunan teori migrasi. Kedua, tidak berhenti pada kritik, tulisan ini mencoba memberikan tawaran feminisme atas bangunan teori migrasi dan apa implikasinya atas bangunan itu sendiri. Secara umum tulisan ini dibagi dalam tiga bagian. Bagian pertama akan mengekplorasi teori migrasi klasik yang menitikberatkan pada ekonomi dan teori migrasi kontemporer yang menitikberatkan pada aktor pelaku migrasi; bagian kedua merupakan kritik atas dua bagian sebelumnya, yakni melihat bagaimana sebenarnya posisi perempuan dalam bangunan teori migrasi; dan bagian ketiga merupakan  tawaran sekaligus implikasi atas tawaran feminisme terhadap teori migrasi. Sebagai kritik atas tidak munculnya suara perempuan dalam teori migrasi, maka kritik atas bangunan teori migrasi yang bias menjadi sangat penting, sebab dalam teori migrasi klasik maupun kontemporer, posisi perempuan sangat terabaikan. Terabaikannya perempuan membuatnya tidak mampu mengabarkan pengalaman mereka, akibatnya jelas: perempuan tidak diikutsertakan dalam konstruksi pengetahuan, terlupa, tenggelam dalam dinamika diskusi teori migrasi.
 
Kata kunci: teori migrasi, ekonomi, diri, perempuan, feminisme
 
PENDAHULUAN
 
Sejak masa pra-sejarah manusia telah berusaha untuk mengadakan perjalanan keluar dari wilayahnya. Adanya persebaran berbagai fosil manusia di berbagai daerah merupakan salah satu bukti adanya usaha manusia untuk mengadakan perjalanan. Perjalanan yang dilakukan pada umumnya didasarkan atas usaha untuk menjaga kelangsungan hidup dirinya, terutama bagi mereka yang masih menggunakan pola berburu dan meramu. Sejak dimulainya perjalanan tersebut, perlahan dunia berubah dengan sangat signifikan. Barangkali saat ini sangat sulit ditemukan suku-suku yang masih hidup secara nomaden, meskipun demikian, tidak berarti bahwa manusia telah berhenti untuk melakukan perjalanan dalam kehidupannya. Pada saat ini, perjalanan yang dilakukan manusia pada masa lalu pun masih dapat dijumpai, dengan tujuan yang sama namun dengan kemasan yang berbeda.
 
Berbagai pertanyaan menyeruak muncul ketika kita berbicara mengenai migrasi: sejauhmana kita memahami migrasi? Sejauhmana kajian mengenai migrasi mengkonstruksi pengetahuan kita tentang migrasi? Benarkah pengetahuan itu menjelaskan mengenai migrasi sepenuhnya? tanpa bias, tanpa menghilangkan sedikitpun fakta? Adalah fakta yang tidak dapat disangkal, kajian mengenai migrasi sudah sangat banyak dilakukan, baik itu yang dilakukan pada para migran di dalam maupun di luar negri. Bagi saya, banyaknya kajian tidak lah berarti apa-apa ketika kita bicara mengenai pengetahuan secara umum. Harus saya katakan, kajian-kajian mengenai migrasi yang dilakukan lebih banyak berbicara pada domain migrasi yang dilakukan oleh laki-laki untuk mencari nafkah atau penghidupan yang lebih baik bagi dirinya maupun keluarganya. Di titik ini lah terjadi masalah besar, sebagaimana akan saya jelaskan kemudian, kekurangan mendasar dalam teori migrasi: terlupakannya perempuan. Padahal perempuan dan migrasi adalah dua sisi dari koin yang sama, namun rupanya hal itu tidak berarti banyak dalam teori migrasi. Ketiadaan perempuan menjadi batu pijakan awal dalam tulisan ini, tentu dengan memperluas pembahasan, tidak hanya sekedar mengkritisi, namun juga dalam upaya memasukkan perempuan dalam episentrum pengetahuan untuk mengkonstruksi teori migrasi yang tidak lagi mengabaikan perempuan.
 
Secara umum tulisan ini akan mencoba menjawab tiga pertanyaan: Pertama, bagaimana bangunan teori migrasi secara umum? Seperti apa diskusi teoritik yang berkaitan erat dengan teori migrasi? Kedua, di mana posisi perempuan dalam bangunan teori migrasi? Apa kritik yang disampaikan oleh feminisme atas bangunan teori migrasi? Ketiga, apa tawaran yang diajukan oleh feminisme atas bangunan teori migrasi? Bagaimana penetrasi feminisme masuk ke dalam bangunan teori migrasi? Dan perubahan seperti apa yang dihasilkan dari penetrasi tersebut?. Mengingat luasnya cakupan tulisan ini, maka saya akan membagi tulisan ini dalam tiga bagian. Ketiga bagian tersebut secara sistematis akan membahas hal-hal yang bersifat spesifik, yaitu: bagian satu akan membahas teori migrasi klasik dan kontemporer, bagian dua akan membahas kritik feminisme atas teori migrasi, bagian tiga akan membahas penetrasi dan implikasi feminisme atas bangunan teori migrasi serta pengaruhnya atas bangunan teori migrasi itu sendiri. 
 
BAGIAN SATU
MENINJAU BANGUNAN TEORI MIGRASI
 
Teori klasik: ekonomi sebagai titik episentrum
 
Saya akan memulai dengan apa yang disebut oleh de Haas (2007) sebagai general theory of migration. Sekurangnya terdapat tiga teori yang dapat masuk dalam kelompok ini, yaitu: (1) neo-classical equilibrium perspective, (2) asymmetric growth (historical-structural), dan (3) push-pull framework. Meskipun ketiganya nampak berbeda, namun ketiganya berbicara pada nada yang sama: menjadikan ekonomi sebagai titik episentrum migrasi, pijakan awal yang getarannya meluas ke segala arah. Salah satu yang terpenting terletak pada isu pembangunan.
 
Neo-classical equilibrium perspective muncul dari Ravenstein (1885), yang menyatakan bahwa faktor utama migrasi adalah ekonomi, bahwa ekonomi adalah general law of migration. Ravenstein, acapkali dianggap sebagai pencetus hukum dasar migrasi mengetengahkan satu pandangan, bahwa migrasi tidak dapat dipisahkan dari pembangunan, oleh karenanya migrasi selalu bermotif ekonomi. Sejalan dengan Ravenstein, Skeldon (1997) berargumentasi bahwa hukum utama migrasi terjadi berdasarkan jarak dan densitas populasi. Skeldon berpijak pada pemikiran bahwa migrasi utamanya terjadi dari wilayah-wilayah yang memiliki pendapatan sedikit ke wilayah dengan pendapatan tinggi, sehingga mengalirkan pendapatan dari wilayah yang surplus ke wilayah minus.
 
Dalam cakupan makro, perspektif ini melihat migrasi sebagai cara yang dianggap efektif untuk mendorong terciptanya keseimbangan ekonomi yang merata (lihat Castles dan Miller 2003). Pemerataan ini pada dasarnya merupakan upaya untuk menyamaratakan antara wilayah-wilayah dengan ekonomi maju dengan wilayah-wilayah tertinggal, antara wilayah dengan densitas tinggi dengan wilayah dengan densitas rendah, dan antara wilayah rural dengan wilayah urban. Pemerataan ini dilakukan melalui mekanisme migrasi, di mana pusat-pusat perekonomian (perkotaan) tumbuh, dan mendorong laju migrasi menuju pusat tersebut, dan mengalirkan pendapatan ke wilayah-wilayah pendukung dan wilayah asal dari migran itu sendiri.
 
Dalam cakupan yang mikro, perspektif ini meletakkan individu pelaku migrasi sebagai pelaku aktif yang rasional, yang memutuskan untuk pindah berdasarkan kalkulasi ekonomi (de Haas, 2007:12). Kalkulasi ekonomi yang dilakukan oleh individu dilihat sebagai upaya individu untuk mencari keuntungan lebih di tempat baru, di mana mereka dapat memperoleh apa yang tidak dapat peroleh atau kerjakan di tempat asal mereka (lihat Idrus 2008). Lebih jauh, pandangan ini mengasumsikan, bahwa manakala individu tersebut telah memperoleh benefit di daerah migrasi, maka mereka, baik langsung maupun tidak langsung, akan menyebarkan apa yang diperoleh dari wilayah tujuan ke wilayah asal. Asumsi dasarnya sederhana: jika di wilayah asal jumlah individu yang melakukan migrasi semakin banyak, dan mereka menciptakan kesempatan yang lebih luas, maka akan terjadi keseimbangan antara wilayah asal dengan wilayah tujuan. Dalam hal ini lah mengapa migrasi dikatakan sebagai cara yang efektif untuk mendorong terciptanya keseimbangan dari sisi ekonomi.
 
Asymetric growth (historical-structural) muncul sebagai kritik atas pandangan neo-classical equilibrium. Terdapat dua asumsi dasar yang diserang (lihat de Haas 2007:15-16): pertama adalah posisi individu, yang dalam neo-classical equilibrium dianggap individu rasional yang bebas untuk bermigrasi atau tidak berdasarkan kalkulasi ekonomi; dan kedua adalah keseimbangan yang muncul sebagai akibat dari proses migrasi itu sendiri. Keduanya pada dasarnya adalah kritik atas kegagalan neo-classical equlibrium melihat apa yang dikatakan sebagai equilibrium itu sendiri tidak lain dari bayangan semu. Pandangan ini bahkan dianggap sangat Euro-centric, di mana gambaran bahwa semua migrasi dari rural ke urban akan mendorong pembangunan dan modernisasi sebagaimana terjadi di Eropa pada abad ke-19 dan 20 (lihat Skeldon 1997).
 
Dalam pandangan asymetric growth, individu tidak lah memiliki kebebasan sekaligus rasionalitas dalam memandang kehidupannya. Alih-alih bersifat kalkulatif, individu melakukan migrasi justru karena model ekonomi tradisional yang selama ini mereka miliki hancur lebur akibat penetrasi ekonomi global. Lebih jauh, penetrasi tersebut bahkan bergerak lebih kencang, dengan melakukan inkorporasi ke dalam sistem ekonomi dan politik global. Pembangunan yang terjadi pada hakikatnya tidak pernah, atau tidak akan pernah, merata. Hal ini disebabkan karena pembangunan, sebagai akibat pengaruh teori ekonomi politik (lihat Castles dan Miller, 2003:25), yang didasarkan pada ekonomi dan politik pada hakikatnya didistribusikan secara tidak merata. Hal ini menyebabkan orang-orang tidak memiliki akses atas pembangunan, dan ekspansi kapitalis menyebabkan penetrasi ketidakmerataan ini menjadi semakin menjadi-jadi. Akibatnya sederhana: mereka yang tidak berada dalam jalur pembangunan akan semakin bergantung, dan menjadi sumber tenaga kerja, yang murah meriah tentu saja, yang akhirnya akan mendorong kapitalisasi itu sendiri, yang dalam konteks makro adalah kapitalisme global.
 
Asymetric growth melihat ekonomi pada hakikatnya tidak akan mencapai satu titik yang kemudian dapat dikatakan sebagai seimbang, karena industrialisasi selalu berada di wilayah-wilayah di mana kapital dikumpulkan, dan dikembangkan di wilayah yang sama, sehingga kapital tidak akan menyebar. Alih-alih menyebar, kapital justru akan semakin terpusat di wilayah tertentu. Migrasi sebagai bentuk manifestasi dari kapitalisme global, dilihat sebagai cara yang paling mudah untuk mendapatkan tenaga kerja murah dari negara-negara yang dikategorikan sebagai underdevelopment (de Haas 2007:15). Dengan demikian, pada dasarnya titik keseimbangan adalah delusi yang dihembuskan, sejenis opium yang memabukkan. Titik keseimbangan yang muncul sebagai efek samping dari migrasi secara nyata tidak terjadi, dengan demikian ide dasar pembangunan sebagai pemicu keseimbangan pun tidak pernah tercapai.
 
Asymetric growth pun tidak bebas kritik. Salah satu kritik utama atas pandangan asymetric growth menganggap model ini terlalu determinis dan kaku dalam melihat posisi individu, yang selalu meletakkan individu sebagai korban dari sistem. Sen (1999) misalnya, melihat bahwa kapitalisme global tidak melulu menjadikan individu sebagai korban yang mati karena darahnya diserap habis-habisan. Meskipun saya sendiri tidak percaya bahwa pembangunan dapat berperan sebagai ‘pembebas’ sebagaimana Sen, namun sejarah sendiri memberikan bukti bahwa beberapa negara pengekspor tenaga kerja mampu berkembang dan mencapai ekonomi yang berkesinambungan sebagai akibat ‘hubungan akrab’ mereka dengan kapitalisme global.
 
Kemunculan Push-pull factor pada dasarnya adalah ketidakpuasan pada dua teori sebelumnya, terutama kegagalan keduanya dalam menjawab dua pertanyaan utama: mengapa sebagian orang dari satu wilayah melakukan migrasi dan sebagian lainnya tidak, dan mengapa orang cenderung bermigrasi ke tempat tertentu dengan waktu tertentu, kadangkala terkonsentrasi di wilayah-wilayah tertentu pula (de Haas, 2007:16). Lee (1966) adalah orang yang mencoba merevisi pandangan dari Ravenstein dengan mengetengahkan pandangan bahwa orang melakukan migrasi berdasarkan faktor di dalam individu dan faktor di luar individu, dalam hal ini adalah faktor-faktor yang diasosiasikan dengan area asal dan area tujuan. 
 
Salah satu revisi utama Lee adalah posisi individu. Lee memang mempertimbangkan aspek kalkulasi individu, namun yang penting diperhatikan bahwa setiap individu akan memiliki persepsi yang berbeda atas kondisinya, dan bertindak sesuai dengan persepsi tersebut. Dengan demikian, tindakan migrasi yang dilakukan oleh setiap individu boleh jadi sama, namun kalkulasinya tidak seragam dan/atau secara universal sama. Lebih jauh, Lee (1966:54-55) berargumentasi bahwa migrasi yang dilakukan oleh orang-orang cenderung ke wilayah-wilayah yang telah dikenal, terutama dengan arus informasi dari para migran yang telah terlebih dahulu tiba, dan memberikan informasi mengenai daerah tujuan mereka ke orang-orang di wilayah asal. Dalam hal ini nampak bahwa Lee merevisi pandangan Ravenstein, yang terlalu menyamaratakan migrasi yang dilakukan individu-individu. Model push-pull kemudian semakin berkembang, terutama setelah masuknya elemen industrialisasi. Skeldon (1997:20) misalnya, melihat bahwa topik mengenai migrasi, yang didasarkan pada model push-pull, berkembang ke dua arah utama: Pertama, pertumbuhan populasi yang pesat di wilayah pedesaan mendorong semakin berkurangnya sumber daya alam dan agrikultur mendorong orang-orang untuk keluar dari wilayah tersebut. Kedua, “tawaran” untuk memperbaiki kondisi ekonomi “memaksa” orang-orang untuk bergerak ke kota-kota besar atau negara-negara industri.
 
Sama halnya dengan dua perspektif sebelumnya, model push-pull factor pun mendapat banyak kritik (de Haas, 2007:18-19). Salah satu kritik utama adalah bahwa model ini melupakan adanya heterogenitas dan stratifikasi dalam masyarakat. Lebih jauh, model ini pun cenderung arbitrer. Misalnya pilihan orang untuk migrasi ke kota besar untuk meningkatkan ekonominya secara arbitrer dihadapkan pada asumsi bahwa lingkungan pedesaan tidak memungkinkan seseorang untuk meningkatkan kemampuan ekonominya. Hal ini menyebabkan model ini seperti koin dengan dua sisi yang berbeda. Pandangan bahwa orang akan bermigrasi untuk memperoleh kesempatan yang lebih luas atau perbaikan ekonomi terlihat sangat logis, namun hal ini tidak lah berlaku umum di tingkat individu.
 
Tiga pandangan di atas tidak sepenuhnya bebas kritik. Kritik utama atas pandangan-pandangan di atas terletak pada waktu dan tempat. Dalam hal ini, tiga pandangan di atas seakan abai pada persoalan durasi migrasi. Pandangan ini juga seakan melakukan simplifikasi dengan mengesampingkan pola migrasi (lihat de Haas 2008). Kritik atas tiga pandangan di atas mendorong munculnya perhatian pada proses internal yang dinamis dalam migrasi. Model internal dynamic of migration processes mempertimbangkan dua hal: modal sosial (termasuk jaringan dan informasi), dan individu pelaku migrasi. Castles dan Miller (2003) misalnya, menunjukkan bahwa para migran yang datang dan menetap kemudian akan membentuk jaringan-jaringan yang menyokong kehidupan mereka, sekaligus mendorong orang lain (dari wilayah asal) untuk datang dan bergabung dalam jaringan mereka.
 
Hal lain yang juga menjadi perhatian utama adalah pada porsi individu. Jika pada tiga teori sebelumnya, baik itu neo-classical equilibrium perspective, asymmetric growth (historical-structural), dan  push-pull framework hanya sedikit memberikan porsi pada faktor individu, maka internal dynamic migration processes memberikan porsi yang lebih besar pada individu sebagai sosok yang memberikan pengaruh penting dalam proses internal yang dinamis dalam migrasi. Dalam kaitannya dengan ini, kajian Gardner (2002), misalnya, menitikberatkan pada proses dinamis serupa melalui individu dan pengalaman personalnya. Dengan menitikberatkan pada individu, Gardner dapat menggali lebih dalam mengenai migrasi yang dilakukan oleh manusia.
 
Berpaling dari ekonomi: individu sebagai subjek
 
Pada bagian ini saya akan mengeksplorasi posisi individu dalam bangunan teori migrasi. Jika pada teori klasik tentang migrasi lebih banyak berbicara migrasi dalam cakupan makro, maka teori yang lebih baru lebih banyak berbicara dalam cakupan mikro. Dalam hal ini adalah pada individu-individu sebagai aktor yang memilih untuk melakukan migrasi. Di sisi yang berbeda, juga akan dilihat konteks-konteks yang lebih domestik, termasuk pula adalah overseas migration, dengan mempertimbangkan aspek-aspek kultural, sosial, politik, bahkan ekologi dari para pelaku migrasi.
 
Pendekatan yang lebih kontemporer ini dapat dikatakan sebagai kritik atas teori klasik, yang walaupun menempatkan individu sebagai individu yang rasional dan memiliki kalkulasi ekonomis ketika melakukan migrasi, namun individu dalam konteks ini dilihat sebagai sekumpulan individu yang dianggap memiliki latar belakang yang sama dan karenanya cenderung akan bergerak ke arah yang sama. Ketidakpuasan terhadap posisi individu mendorong revisi besar-besaran atas teori migrasi, terutama dengan penekanan terhadap individu (lihat Walker 2008, Farwick 2009). Dalam hal ini individu dilihat sebagai aktor utama, yang latar belakangnya mempengaruhi persepsinya, dan kemudian akan menentukan pilihan yang dipilihnya atau tindakan yang akan dilakukannya.
 
De Haas (2008:1) melihat pada proses dinamis internal pada diri individu, sebagai jawaban atas kegagalan pandangan klasik dalam melihat realitas migrasi di tingkat mikro-individu. Bagi de Haas, pandangan klasik banyak meninggalkan pertanyaan yang tidak terjawab, dan oleh karena itu muncul internal dynamic of migration processes yang dianggap mampu menjawab beberapa pertanyaan yang gagal dijawab oleh pandangan klasik. Meskipun demikian, model ini pun masih memiliki, setidaknya, tiga kelemahan: Pertama, dengan hanya memfokuskan pada modal sosial, pandangan ini lupa bagaimana mekanisme umpan-balik (feedback mechanisms) yang dilakukan oleh para migran. Kedua, pandangan ini seringkali tidak mampu menjawab mengapa efek jaringan ini tidak selalu berjalan mulus. Ketiga, pandangan ini pun seringkali tidak mampu menjawab mengapa asumsi kausalitas, antara perkembangan di wilayah asal dengan wilayah tujuan tidak selalu terjadi. Dalam hal ini lah, de Haas menawarkan, untuk meninjau ulang posisi individu dalam bangunan teori migrasi. Setidaknya terdapat tiga poin dalam melihat individu dan migrasi, yakni: jaringan sosial, konteks individu (termasuk adaptasi), dan motivasi dan tindakan individu (termasuk mobilitas).
 
Jaringan sosial memainkan peran penting, terutama dengan kecenderungan orang melakukan migrasi ke wilayah di mana jaringan mereka saling terinterkoneksi satu sama lain (Jones 2009). Dalam hal ini penting untuk melihat, bahwa migrasi yang dilakukan individu-individu, terutama overseas migration, selalu menitikberatkan pada jaringan yang mereka miliki, utamanya yang berasal dari wilayah yang sama. Jaringan sosial memainkan dua peran penting: Pertama, sebagai sumber informasi atas wilayah tujuan yang mendorong individu-individu dari wilayah asal untuk mengikuti jejak mereka. Kedua, sebagai sumberdaya bagi para migran yang baru tiba ke wilayah tujuan (Idrus 2008).
 
Sebagai sumber informasi, jaringan sosial menjadi amat penting dalam menyediakan berbagai informai yang dibutuhkan, atau setidaknya dianggap perlu untuk diketahui, oleh para individu di wilayah asal. Tentu saja jaringan sosial dapat lebih bermanfaat ketimbang informasi umum yang berasal dari sumber-sumber informasi umum. Dalam masyarakat yang saling terkoneksi, informasi tidak selalu berasal dari individu yang memiliki hubungan emosional, sebab informasi itu sendiri berjalan di atas jaringan-jaringan yang acapkali tidak membutuhkan keterkaitan fisik. Castells (2002) menyebutnya sebagai network society, di mana jaringan menjadi pembentuk sekaligus beton pembangun dalam masyarakat. Dengan memanfaatkan teknologi informasi, jaringan-jaringan tersebut dibangun dan dikembangkan. Meskipun demikian, Farwick (2009) menyebut bahwa jaringan melalui dunia maya cenderung tidak mampu mendorong seseorang untuk melakukan migrasi, khususnya migrasi internal, sebab jaringan tersebut acapkali gagal menyediakan sumber informasi yang terpercaya, yang dapat mendorong individu di wilayah asal untuk bergerak ke wilayah tujuan. Dengan kata lain, ucapan lisan seseorang yang dikenal akan jauh dihargai ketimbang segudang informasi yang dikeluarkan oleh mesin pencari.
 
Hal penting lainnya adalah posisi jaringan yang berfungsi sebagai sumberdaya awal bagi para migran. Para migran yang baru saja tiba di wilayah tujuan acapkali mengalami keterkejutan kultural, di samping kekurangan ekonomi dan ketidakmampuan memahami aspek sosial dan kultural di wilayah tujuan. Keberadaan jaringan menjadi sangat penting, karena melalui jaringan-jaringan ini lah hal-hal baru dapat dipelajari, sekaligus menjembatani antara kondisi di wilayah asal dengan kondisi wilayah tujuan (lihat Farwick 2009). Jaringan dengan demikian memiliki fungsi ganda, tidak hanya menyediakan informasi yang dibutuhkan, juga menyediakan semacam latihan bagi para pendatang baru untuk beradaptasi dan bertahan di wilayah yang sama sekali baru bagi mereka.
 
Faktor lain yang juga mempengaruhi individu dalam melakukan migrasi adalah kondisi individu itu sendiri. Ketika Ravenstein memfokuskan pada kalkulasi ekonomi, maka secara langsung ia melupakan faktor internal dari individu itu sendiri. Lee (1966) pun membuat kesalahan yang sama. Jones (2009) menyiratkan bahwa migrasi pada dasarnya bersifat personal, dan faktor-faktor yang mendorong migrasi pun haruslah dicari dalam lingkup individu itu sendiri. Meskipun demikian, Jones pun tidak mengabaikan, bahwa faktor politik dan ekonomi di suatu negara dapat mempengaruhi bagaimana persepsi orang terhadap migrasi. Misalnya kajian Jones tentang migrasi di Brazil, bahwa meskipun individu memiliki kebebasan untuk memilih, namun pondasi ekonomi Brazil yang ditopang dari perkebunan tebu mendorong individu untuk bekerja di perkebunan dan pabrik pengolahan tebu. 
 
Poin penting dalam hal ini adalah bagaimana dinamika yang terjadi antara individu dengan kondisi di luar individu itu sendiri sebagai faktor eksternal yang mempengaruhi dinamika internal. Senada dengan Jones, Castles dan Miller (2003) pun menyiratkan hal yang sama. Hal yang analog dengan migrasi internal adalah migrasi internasional yang acapkali terkait erat dengan latar belakang individu-individu dan latar belakang geopolitik, ekonomi, politik, bahkan tekanan ekologi memaksa individu-individu tersebut untuk melakukan migrasi. Overseas migration pada era kolonial misalnya, didorong oleh upaya politik dan ekonomi kolonial untuk mencari koloni-koloni baru. Analog lainnya adalah migrasi yang dilakukan oleh etnis minoritas karena tekanan-tekanan politik, atau migrasi Hadrami karena tekanan ekologi (dan politik era khalifah) untuk menemukan daerah baru yang lebih subur ketimbang wilayah asal mereka (lihat Ho 2006, Jacobsen 2009). 
 
Barangkali ekonomi tetap memegang faktor determinan bagaimana migrasi dilakukan. Meskipun sebagai faktor utama, namun pola migrasi berkaitan dengan aspek ekonomi tidak lah seperti yang dibayangkan Ravenstein atau yang menjadi kritik historical-structural. Bagi Jones (2009), kondisi ekonomi tidak dapat dilepaskan dari dinamika politik dan kebijakan makro pemerintah. Jones mengingatkan, bahwa migrasi berdasarkan faktor ekonomi tidaklah berdiri sendiri, namun ada campur tangan pemerintah didalamnya. Selain itu, aspek ekonomi tak terlepas dari faktor geopolitik dan geoekonomi (lihat Castles dan Miller 2003). 
 
Meskipun terdengar sangat makro, namun faktor utama lainnya ada di tingkat mikro. Faktor lain dari ekonomi yang tidak dapat dilupakan adalah aspek ekonomi keluarga (de Haas dan Fokkema 2009) dan/atau aspek ekonomi rumah tangga (Schwenken dan Eberhardt 2008). Bagi Mincer (1978), manakala kapasitas ekonomi keluarga tidak memenuhi kebutuhan keluarga, yang dipengaruhi oleh jumlah anggota keluarga, maka ekonomi rumah tangga keluarga tersebut berada dalam posisi kritis, dan hal ini menjadi pendorong utama migrasi anggota keluarga tersebut. Hal ini secara relatif memiliki dua keuntungan: menambah kapasitas ekonomi rumah tangga dan/atau sekaligus mengurangi jumlah anggota keluarga di satu rumah tangga (karena dirinya tidak masuk dalam hitungan).
 
Aspek lain yang juga tidak dapat dilewatkan adalah motivasi individu. Faktor ini adalah faktor yang sangat personal, faktor utama yang membedakan dengan pendekatan klasik yang cenderung melihat individu secara seragam. Dalam hal ini, motivasi umumnya berada pada dua domain: meningkatkan kapasitas ekonomi yang pada gilirannya menaikkan status sosial; dan keluar dari wilayah tersebut baik untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik atau sekedar keluar dari tekanan ekonomi maupun sosial-kultural. Dua hal tersebut memiliki implikasi berbeda: yang pertama jelas bahwa mereka yang migrasi akan selalu kembali ke tempat asal mereka, dalam hal ini pola migrasinya adalah sirkuler atau temporal; dan yang kedua tidak berarti mereka tidak akan kembali sepenuhnya, namun pola yang umum adalah migrasi permanen.
 
Tidak dapat dipungkiri, bahwa sebagian besar migrasi adalah migrasi temporal atau bahkan sirkuler (lihat de Hass 2008, de Haas dan Fokkema 2009, Farwick 2009), meskipun banyak pula yang melakukan migrasi permanen, terutama yang dilakukan oleh etnis minoritas sebagai akibat dari tekanan politik (lihat Castles dan Miller 2003) atau ekologi dan politik (Ho 2006, Jacobsen 2009). Mereka yang melakukan migrasi sirkuler utamanya hanya berada di wilayah tujuan dalam waktu tertentu, dan akan kembali ke wilayah asal manakala waktu mereka sudah habis atau mereka memutuskan untuk kembali terlepas dari durasi waktu tersebut. Model ini tidak hanya terjadi dalam lingkup internal, dalam artian satu wilayah ke wilayah lain yang masih dalam teritori negara tertentu (Farwick 2009, Jones 2009), atau antarwilayah (transnasional) baik dalam kontinen yang sama atau tidak (Castles dan Miller 2003).
 
Dalam konteks ini, migrasi sirkuler dianggap sebagai cara termudah untuk melakukan mobilitas sosial (lihat Farwick 2009). Migrasi membuka celah bagi individu untuk meningkatkan kapasitas ekonomi keluarga sekaligus masuk (atau bahkan naik) dalam struktur masyarakat. Mereka yang melakukan migrasi tipe ini umumnya akan selalu menjalin hubungan dengan wilayah asal mereka. Melalui mereka informasi mengenai wilayah tujuan berasal, mereka lah jaringan interkoneksi antarwilayah, dari wilayah asal ke wilayah tujuan. Mereka pula yang berperan menjadi jembatan bagi para individu baru yang datang dari wilayah asal ke wilayah tujuan. Dalam tipe migrasi ini, mobilitas sosial dilakukan dengan dua cara: pertama, adalah apa yang mereka kirimkan dari wilayah tujuan ke wilayah asal. Informasi tentu saja bukan satu-satunya yang mereka kirimkan, jauh lebih penting dari informasi: uang yang dikirimkan sebagai remiten (de Haas, 2008:14-15). Remiten menjadi kata kunci penting, sebab melalui remiten ekonomi keluarga dapat terselamatkan (Schwenken dan Eberhardt 2008), yang berpengaruh signifikan atas pendapatan nasional di tingkat makro (Buch dan Kuckulenz 2010, Pholphirul dan Rukumnuaykit 2010). Kedua, adalah kelanjutan dari cara pertama, yakni dengan memanfaatkan remitensi, sekaligus posisi individu tersebut di wilayah tujuan, sebagai sarana menaikkan gengsi keluarga mereka di wilayah asal. Dalam hal ini, mereka yang bermigrasi adalah mediator modernitas dari wilayah tujuan ke wilayah asal (lihat Elmhirst 1999, Pinger 2010).
 
Hal yang sama terjadi tidak hanya pada migrasi internal, namun juga pada migrasi transnasional. Meskipun mereka telah jauh mereka berjalan, mengarungi laut, namun mereka tetap akan kembali (lihat Olwig 1997). Migrasi sirkuler membuka peluang bagi setiap individu untuk mencapai stabilitas ekonomi, selain bahwa migrasi sirkuler dapat dilakukan dengan tanpa pusing memikirkan persoalan waktu atau kondisi ekonomi dan politik wilayah tujuan. Terlebih lagi bahwa migrasi sirkuler dapat dilakukan oleh setiap individu terlepas dari batasan usia dan etnisitas. Migrasi sirkuler semakin banyak dilakukan, mengingat waktu yang temporal, yang memungkinkan mereka untuk selalu kembali ke wilayah asal mereka.
 
Hal lain adalah migrasi permanen. Meskipun migrasi permanen tidak selalu berkaitan dengan mobilitas sosial di wilayah asal, namun tipe ini adalah gambaran paling nyata dari mobilitas individu, melewati batasan struktur sosial maupun geografis. Mereka yang melakukan migrasi permanen pada umumnya ‘dipaksa’ untuk keluar dari wilayah asal mereka karena berbagai alasan, mulai dari alasan politis hingga ekologis. Motivasi terbesar dari mereka yang melakukan migrasi permanen adalah keluar untuk kepentingan diri (dan keluarga) dari tekanan yang mereka terima (lihat Gardner 2002, de Haas 2008). Sebagaimana migrasi sirkuler, meskipun mereka meninggalkan wilayah asal mereka dalam waktu yang relatif (sangat) lama, namun mereka tetap melabuhkan imaji mereka ke wilayah asal mereka, imaji bahwa suatu saat nanti mereka akan kembali, atau setidaknya keturunan mereka (lihat Gardner 2002, Ho 2006, Jacobsen 2009).
 
Berbagai aspek di atas, meskipun menitikberatkan pada faktor individu, dengan mendudukan individu sebagai subjek aktif pelaku migrasi, namun ada satu hal yang terlewat, yakni melihat realitas bahwa latar belakang individu saja tidak lah cukup. Gender pun memainkan peran dalam keputusan individu untuk melakukan migrasi. Baik bagian satu maupun bagian dua secara umum dapat dikatakan tidak mempertimbangkan aspek gender secara mendalam. Hal ini yang menjadi kritik utama, bahwa meskipun seakan berlaku umum, namun pandangan migrasi klasik maupun kontemporer melupakan satu aspek fundamental: perempuan.
 
BAGIAN DUA
MENOLAK DILUPAKAN: PEREMPUAN DAN MIGRASI
 
Lalu di mana posisi perempuan? Jika diperhatikan, meskipun kajian-kajian migrasi tidak bermaksud untuk membedakan jenis kelamin, dalam artian bahwa kajian (dan diskusi teoritik) bersifat uniseks dan berlaku secara universal untuk dua jenis kelamin, namun kajian-kajian migrasi, terutama kajian klasik, acapkali abai terhadap perempuan. Teori migrasi seakan merupakan sebuah bus yang penumpangnya terbuka bagi laki-laki maupun perempuan, namun si pengemudi bus, para teoritisi, justru lupa bahwa mereka meninggalkan penumpang perempuan dalam terminal yang baru saja mereka tinggalkan. Tidak hanya abai, beberapa malah sangat seksis dengan seolah meniadakan perempuan sebagai pelaku migrasi, padahal perempuan dan migrasi adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan (Momsen 1999). Di sisi yang berbeda, pengabaian terhadap perempuan merupakan kehilangan besar dalam bangunan teori migrasi, sebab pengalaman perempuan mampu membuka perspektif baru yang lebih mendalam dalam menjelaskan fenomena migrasi.
 
Pengabaian terhadap perempuan tidak hanya terjadi dalam bangunan teori migrasi klasik, namun juga dalam kajian mengenai migrasi yang berkaitan dengan pembangunan di negara berkembang. Kritik yang disampaikan Halfacree dan Boyle (1999) misalnya, melihat bahwa kajian mengenai migrasi dalam konteks negara berkembang cenderung abai dalam melihat bahwa perempuan pun pelaku migrasi, yang dalam banyak hal, memiliki persamaan rasionalitas dan kepentingan, tujuan dan motif dengan migran laki-laki. Kritik atas pengabaian perempuan dalam bangunan teori migrasi pada gilirannya mendorong kajian mengenai perempuan dan migrasi, dan bagaimana memunculkan bangunan teori migrasi yang memperhatikan posisi perempuan. 
 
Feminisme, dengan segala percabangannya, memiliki intensitas perhatian pada kajian migrasi karena tiga hal pokok: Pertama, kajian migrasi mengabaikan fakta dasar bahwa perempuan pun melakukan migrasi sebagaimana laki-laki. Kedua, kajian migrasi cenderung menyamaratakan persoalan dan melupakan fakta dasar, bahwa perempuan memiliki latar belakang yang berbeda dengan laki-laki dalam melakukan migrasi. Ketiga, kajian migrasi melewatkan pengalaman perempuan dalam migrasi sehingga perempuan tidak ikut serta dalam konstruksi teori migrasi secara umum (lihat Chant 1992, Horton 1996, Altamirano 1997, Boyd dan Grieco 2003, Palmary 2009). Tentu saja perhatian ini menjadi penting, sebab akan menjadi titik tolak dalam bagian dua yang memfokuskan kritik feminisme atas bangunan teori migrasi. Pada bagian ini, saya akan mengeksplorasi pada dua hal yang saya pikir menjadi kritik utama atas bangunan teori migrasi. Pertama, perempuan dan migrasi sebagai akibat dari pembedaan peran dan posisi perempuan dengan laki-laki, terutama berkaitan erat dengan politik tubuh. Kedua, perempuan dan migrasi dalam kaitannya dengan tekanan ekonomi, sosial maupun ekologi.
 
Migrasi dan tubuh (yang dibedakan)
 
Salah satu kritik utama dalam teori migrasi, yang dilancarkan oleh para feminis, adalah pengabaian para pengkaji migrasi dalam melihat bahwa migrasi perempuan dimulai dari pembedaan tubuh (lihat Horton 1996), dalam hal ini perempuan melakukan migrasi tidak semata berdasarkan kalkulasi ekonomi, namun juga karena politik tubuh (Hardill 2002). Politik tubuh menjadi kunci penting dalam memahami migrasi yang dilakukan oleh perempuan adalah bagaimana konteks kultural memandang tubuh perempuan. Tentu saja konteks kultural ini tidak hanya berlaku dalam migrasi per se, namun secara umum menyeluruh pada bagaimana tubuh perempuan menjadi lokus yang dikungkung, dipersepsikan, dan dikendalikan (Butler 1993). Dalam hal ini, bahwa tubuh tidak lah entitas organisme biologis, namun juga entitas sosial dan kultural (Hooglan 2007). Refleksi atas tubuh membawa kita pada persoalan krusial lain, bahwa apa yang dipersepsi sebagai tubuh, seringkali, tidak lah sama antara si pemilik tubuh dengan orang lain yang melihat tubuh itu sendiri, yakni gambaran atas tubuh yang mendorong kita untuk melihat tubuh secara keseluruhan (Nolan 2007, Detsi-Diamanti, Kitsi-Mitakou, dan Yiannopoulou 2009). Politik tubuh menjadi penanda betapa opresi atas tubuh menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan perempuan, termasuk diantaranya migrasi yang dilakukan oleh perempuan, di mana migrasi tersebut tidak dapat dilepaskan dari tubuh perempuan itu sendiri.
 
Bagaimana tubuh perempuan diperlakukan tidak dapat dilepaskan dari dua hal: Pertama, politik ekonomi makro-industrial (melalui kebijakan pembangunan dan industrialisasi); dan Kedua, politik ekonomi rumah tangga. Kajian yang dilakukan oleh Green dkk (1999) misalnya, menggambarkan bahwa migrasi yang dilakukan oleh perempuan tidak hanya karena tekanan ekonomi, namun juga karena pekerjaan yang tersedia di wilayah tujuan secara spesifik diperuntukkan bagi perempuan, terutama di wilayah dengan kawasan industri yang sedang tumbuh (Ong 1991, Horton 1996). Kebutuhan akan barang konsumsi secara langsung mendorong dilaksanakannya usaha produksi dari barang-barang tersebut. Efek domino dari hal ini adalah dibukanya berbagai kawasan industri di berbagai wilayah, utamanya negara berkembang, yang kemudian mendorong terciptanya lapangan pekerjaan dalam skala besar. Efek lanjutannya pun mudah ditebak: lapangan yang tersedia akan selalu diisi dengan cepat. Orang-orang dari berbagai wilayah bermigrasi ke pusat-pusat industri, mengadu nasib dan peruntungan, serta berharap mendapat sedikit remah dari kue pembangunan.
 
Dalam konteks industrialisasi di Asia misalnya, khususnya di Indonesia pada era 1970an dan 1980an, partisipasi angkatan kerja mencapai 46,8%, dan cenderung meningkat setiap tahunnya (Benjamin 1996, Tjiptoherijanto, 1997). Hal ini terjadi karena perubahan struktur usia penduduk dan meningkatnya partisipasi angkatan kerja perempuan. Perubahan struktur usia dapat dilihat dari porsi usia kerja produktif yang lebih banyak ketimbang usia tua, dan tentu saja termasuk dalam golongan usia kerja produktif adalah perempuan  (lihat Hugo 1992). Tidak mengherankan, jika tingkat partisipasi kerja yang semakin meningkat mendorong terbukanya lapangan pekerjaan yang semakin banyak, dan tuntutan atas akses pekerjaan bagi laki-laki maupun perempuan (lihat Benjamin 1996). Dalam hal ini, apa yang dijelaskan oleh teori klasik mengenai episentrum ekonomi seolah menjadi ramalan yang mewujud nyata.
 
Namun kenyataan tentu saja tidak pernah seindah bayangan yang diimpikan oleh teori klasik. Ramalan akan kemakmuran dan kemerataan pekerjaan tidak pernah terjadi. Salah satu kritik mendasar yang mengemuka adalah kegagapan teori klasik dalam menjelaskan kegagalan industrialisasi menyediakan lapangan pekerjaan yang tidak diskriminatif. Sentra-sentra industri tidak pernah menerima mereka semua secara merata. Dalam hal ini lah kritik awal akan dimulai. Diskriminasi dalam industri terjadi dalam hal-hal yang berkaitan dengan ketersediaan lapangan pekerjaan, jenis pekerjaan, dan terutama upah atas tenaga kerja (Horton 1996, Brooks 2006), yang seringkali dilandaskan pada perbedaan jenis kelamin maupun etnisitas (Bradley dan Healy 2008). Dalam hal ini adalah bahwa migrasi yang didorong oleh terbukanya lapangan pekerjaan yang ditujukan karena tubuh perempuan merupakan tenaga kerja murah dan mudah dicari penggantinya. Buruh perempuan menjadi bagian integral dalam sistem produksi, sebab buruh perempuan adalah bagian dari proses produksi yang biayanya dapat ditekan semaksimal mungkin untuk mendapatkan margin keuntungan sebesar-besarnya (lihat Boyle, Halfacree dan Smith 1999). Hal ini disebabkan karena buruh perempuan tidak dianggap sebagai pencari nafkah utama yang menopang ekonomi keluarga, yang berimplikasi pada pembagian upah yang lebih rendah ketimbang buruh laki-laki yang dianggap sebagai pencari nafkah utama.
 
Dalam konteks munculnya kawasan-kawasan industri misalnya, Ong (1991) dan Horton (1996) mengkritik bagaimana kawasan industri ini, yang notebene membuka lahan pekerjaan bagi laki-laki dan perempuan, justru menjadi alat opresi bagi perempuan. Alih-alih mempekerjakan orang-orang karena kemampuan yang mereka miliki, industri justru secara sadar melakukan seleksi penerimaan pekerja berdasarkan dua hal: mereka yang benar-benar mampu dan mereka yang mampu untuk belajar, atau dalam kata lain orang awam yang tidak memiliki skill namun mau belajar, untuk kemudian dipekerjakan. Pembedaan atas tubuh memainkan peran di sini. Mereka yang benar-benar mampu, utamanya dipekerjakan dalam manufaktur dan permesinan, yang kemudian lebih banyak diisi oleh laki-laki, yang karena tubuhnya dianggap ‘kuat’ dan ‘tahan banting’, karena dianggap paling mampu dalam melakukan pekerjaan ‘kotor’ dan ‘berat’. Bagaimana dengan perempuan? Karena mereka dianggap lemah, rapuh, dan tidak kuat bekerja, maka mereka lebih banyak dipekerjakan di area yang ‘nyaman’ dan ‘tidak berbahaya’. Konstruksi atas tubuh perempuan mendorong para pekerja perempuan lebih banyak ditempatkan dalam pos-pos pengepakan atau pun industri garmen yang menggunakan mesin-mesin skala kecil. Asumsi mengenai tubuh kemudian mewujud dalam rangkaian kebijakan mengenai bagaimana seharusnya tubuh-tubuh tersebut dipekerjakan, atau dalam kata lain, pekerjaan yang ditawarkan secara langsung mengikuti bagaimana tubuh dikonstruksikan (lihat Blood 2005, Brooks 2006). 
 
Konstruksi atas tubuh perempuan tidak hanya dalam konteks industri padat karya pada perusahaan nasional dan multinasional, namun juga pada industri kecil dan menengah, bahkan pada kegiatan ekonomi non-industri: pekerja rumah tangga domestik. Kegiatan industri kecil dan menengah misalnya, juga membedakan pekerjaan berdasarkan konstruksi atas tubuh. Perempuan yang dianggap paling mampu dalam menangani berbagai kegiatan produksi yang membutuhkan ketelitian dan kecermatan yang tidak dimiliki oleh laki-laki. Industri batik misalnya, kegiatan mencanting adalah pekerjaan perempuan, sedangkan kegiatan ngelorod (melunturkan malam dari kain) adalah kegiatan laki-laki, karena membutuhkan tenaga dan ketahanan kulit mengingat proses ini melibatkan proses-proses kimiawi yang bersentuhan langsung dengan tubuh fisik (lihat Tirta 1996). Hal yang sama juga terjadi dalam pemenuhan kebutuhan pekerja rumah tangga domestik, baik di dalam maupun luar negri (misalnya lihat Irianto 2011), yang lebih didominasi oleh perempuan, karena kegiatan rumah tangga secara identik telah diletakkan pada kegiatan khas perempuan.
 
Di sisi berbeda, tidak dapat dipungkiri, bahwa banyak perempuan yang menempati posisi struktural dalam perusahaan dan/atau menempati pos penting dalam struktur ekonomi industri (Brooks 2006). Meskipun para perempuan menempati pos struktral penting, namun posisi mereka masih dibedakan dengan para laki-laki, utamanya dalam pengambilan keputusan. Dalam dunia kerja profesional, segregasi laki-laki dan perempuan terlihat ketika perempuan tidak diikutsertakan dalam proses pengambilan keputusan karena perempuan dianggap tidak memahami kompleksitas dari organisasi atau perusahaan itu sendiri (lihat Durbin 2011). Kemampuan manajerial perempuan kemudian dikaitkan dengan ketidakmampuan perempuan dalam mengatur ritme tubuhnya sendiri, karena perempuan dianggap tidak mampu mengoptimalkan tubuhnya dalam melaksanakan setiap pekerjaan yang dibebankan kepada perempuan.  Adanya cuti hamil dan melahirkan misalnya, dianggap sebagai pengganggu dalam kegiatan manajerial yang dibebankan kepada perempuan (lihat Swenson 2010).
 
Dalam konteks migrasi perempuan dan politik ekonomi makro-industri, adalah penting untuk melihat, sesungguhnya perempuan menempati kondisi yang nyaris sama: terpinggirkan karena tubuh mereka. Memang benar, dalam masalah upah misalnya, latar belakang sosial, pendidikan, usia, maupun etnisitas memainkan peran; namun sesungguhnya kondisinya sama saja. Argumentasinya sederhana: meskipun perempuan tidak mungkin digeneralisasi karena memiliki kondisi yang berbeda satu sama lain, misalnya buruh perempuan tentu memiliki kesulitan yang berbeda dengan manajer perempuan, tapi tantangannya sama. Konteks tubuh menjadi penting, sebab landasan utama yang dapat menyatukan entitas perempuan terletak pada tubuhnya. Sebab tubuh secara fisik memang berbeda adalah fakta mendasar, namun bagaimana tubuh dikonstruksikan dalam ekonomi industri pun adalah fakta lain yang tidak dapat ditutup-tutupi.
 
Di sisi lain, tidak hanya politik ekonomi yang menyebabkan migrasi yang dilakukan oleh perempuan, namun juga politik ekonomi rumah tangga. Jika politik ekonomi makro-industrial secara sadar telah membedakan kesempatan antara laki-laki dan perempuan, dengan membuka pintu lebih lebar bagi perempuan dan secara langsung mendorong para perempuan untuk melakukan migrasi, menuju sumber-sumber industri, dengan demikian, politik ekonomi makro dan industrial telah menjadi faktor penarik migrasi yang dilakukan oleh perempuan. Maka politik ekonomi rumah tangga dapat ditempatkan sebagai faktor pendorong dari migrasi yang dilakukan oleh perempuan.
 
Kritik lainnya terletak pada kesalahan mendasar dalam teori migrasi yang memandang perilaku migrasi yang dilakukan perempuan tidak memiliki kaitan dengan ekonomi rumah tangga, namun menyamaratakan dengan laki-laki, yakni tindakan rasional yang didasarkan pada kalkulasi ekonomi an sich (lihat Fan 2004, Gubhaju dan de Jonge 2009). Dalam melihat keputusan perempuan untuk melakukan migrasi menjadi penting untuk meninjau ulang mengenai konsepsi dasar keluarga dan peran ekonomi dalam keluarga itu sendiri. Migrasi yang dilakukan perempuan memiliki kaitan erat degan keluarga, dengan demikian, memahami keputusan untuk melakukan migrasi bagi perempuan tidak dapat dilepaskan dari posisi perempuan dalam lingkup ekonomi keluarga. Chamberlain (1997) melihat bahwa migrasi yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan memilki dimensi yang sangat berbeda. Jika keputusan laki-laki bermigrasi adalah otonomi diri, maka migrasi perempuan adalah tindakan kolektif dan merupakan representasi pengalaman dalam kerangka ekonomi keluarga. 
 
Keputusan migrasi bagi perempuan bukan satu-satunya keputusan yang yang otonom dan mandiri, atau hanya untuk menguntungkan diri-sendiri, namun juga didorong untuk meningkatkan kapasitas ekonomi keluarga (Boyle, Halfacree, dan Smith 1999). Dengan demikian, migrasi perempuan adalah migrasi yang altruistik, sebab konteks yang melahirkan keputusan untuk melakukan migrasi bagi perempuan dan laki-laki berbeda. Migrasi laki-laki tidak selalu berkaitan dengan keluarga asal, karena laki-laki dianggap akan memiliki keluarga sendiri di wilayah baru sehingga tidak memiliki kewajiban untuk meningkatkan ekonomi keluarga, berbeda dengan perempuan yang dibebankan tanggungjawab penuh untuk membantu perekonomian keluarga di wilayah asal.
 
Migrasi yang dilakukan perempuan seringkali dilihat sebagai cara untuk meneguhkan, sekaligus mendefinisikan identitas kolektif, untuk mengamankan batasan-batasan dari komunitasnya (Sharpe, 2001:9). Dalam hal ini, migrasi merupakan mekanisme kultural yang memaksa perempuan untuk turut serta dalam mempertahankan eksistensi komunitasnya dengan menceburkan diri ke dalam proses migrasi, melalui remitansi yang dikirimkan, mampu memperpanjang keberlangsungan hidup komunitasnya sendiri, termasuk keluarga di mana ia berasal. Remitansi merupakan bagian tak terpisahkan dari capital flows di tingkat makro, dan keberlangsungan keluarga dan komunitas di tingkat mikro (lihat Buch dan Kuckulenz 2010, Pholphirul dan Rukumnuaykit 2010).
 
Keputusan migrasi yang dilakukan perempuan pun tidak dapat dilepaskan dari statusnya. Sebagaimana dikaji oleh Mager (2001), Hardill (2002) maupun Gubhaju dan de Jonge (2009), bahwa keputusan perempuan untuk melakukan migrasi tidak dapat dilepaskan dari ada tidaknya ikatan perkawinan. Perempuan yang telah menikah ‘dipaksa’ mengambil peran rumah tangga sebagai karir permanen, maka keputusan untuk melakukan migrasi tidak berada di tangan perempuan, namun berada di tangan suami yang mengendalikan perkawinan itu sendiri. Perempuan-perempuan yang tidak bersuami, atau belum bersuami, lebih bebas untuk menentukan apakah ia akan melakukan migrasi atau tidak, meskipun pada konteks perempuan yang belum  menikah, suara ayah (atau laki-laki yang dituakan dalam keluarga tersebut) boleh jadi merupakan faktor determinan atas keputusannya untuk bermigrasi atau tidak.
 
Di sisi yang berbeda, tidak dapat dipungkiri pula, bahwa keputusan perempuan untuk bermigrasi tidak dapat dilepaskan dari kondisi ekologi di sekitar perempuan itu sendiri (Elmhirst 2009). Alam seringkali tidak memberikan banyak pilihan, terutama ketika kerangka kultural turut campur dan menentukan mengenai siapa yang akan mengelola alam, untuk apa hasil alam tersebut dipergunakan, dan bagaimana mempertahankan keberlangsungan ekosistem menjadi bagian tidak terpisahkan. Persoalan yang lebih krusial terletak pada kondisi di mana perempuan bertugas untuk mengolah alam tanpa memiliki hak atas hasil pengolahan, atau bahkan alam itu sendiri (lihat Li 2001, White 2002), dan dengan menyusutnya wilayah garapan sebagai akibat dari masuknya kebijakan politik menyebabkan perempuan semakin tersudut dan perlahan tergusur (lihat Ressurection dan Elmhirst 2009). Dalam hal ini, keputusan untuk melakukan migrasi, bagi perempuan tidak dapat dipisahkan secara tegas dengan kepentingan-kepentingan tersebut.
 
Pengalaman perempuan: pengetahuan yang terabaikan
 
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, salah satu kritik dasar feminisme, bahwa bangunan teori migrasi mengabaikan pengalaman perempuan. Dengan melupakan bahwa pengalaman perempuan pada dasarnya adalah pengetahuan, dan pengabaian atas pengalaman itu sendiri adalah pengabaian atas pengetahuan secara fundamental (Harding 1991, Bart 1998, Ramazanoğlu dan Holland 2002). Maka dalam hal ini, pengetahuan perempuan, yang bermula dari pengalaman perempuan dalam melakukan migrasi, menjadi sangat penting sebagai kritik sekaligus otokritik atas bangunan teori migrasi. 
 
Setidaknya terdapat tiga catatan penting yang muncul sebagai akibat dari kritik atas pengabaian pengalaman perempuan: Pertama, munculnya berbagai kajian-kajian yang menitikberatkan pada perempuan sebagai aktor pelaku migrasi. Kedua, kelanjutan dari hal tersebut adalah munculnya tekanan bagi bangunan teori migrasi untuk memperhatikan faktor perempuan sebagai individu, dan kaitannya dengan faktor geoekonomi dan geopolitik. Ketiga, sebagai konsekuensi logis atas tekanan untuk memperhatikan faktor perempuan, adalah bangunan teori migrasi yang memasukkan faktor perempuan dalam bangunan tersebut sebagai salah satu penopang utama bangunan teori itu sendiri.
 
Meskipun ‘law of migration’ dari Ravenstein (1885), dalam satu poinnya, menyatakan bahwa perempuan lebih banyak bermigrasi ketimbang laki-laki, namun Ravenstein sendiri tidak mengeksplorasi lebih jauh pada motif, sebab ia selalu mengetengahkan gagasan bahwa pelaku migrasi adalah manusia rasional yang mengambil keputusan berdasarkan kalkulasi ekonomi, dan karenanya akan bertindak seragam berdasarkan kalkulasi yang sama. Di sisi yang berbeda, kritik terhadap Ravenstein pun tidak berbeda dengan Ravenstein secara fundamental. Kritik tersebut pun abai melihat bahwa perempuan, yang telah disebut Ravenstein, lebih banyak bermigrasi ketimbang laki-laki, tidak dieksplorasi lebih jauh namun hanya sebatas data-data statistikal. Ravenstein abai melihat, bahwa perempuan melakukan migrasi tidak semata berdasarkan kalkulasi ekonomi. Pengabaian yang sama juga dilakukan Lee (1966), yang juga gagal melihat bagaimana konstelasi sosial dan kultural menitikberatkan perempuan untuk melakukan atau tidak melakukan migrasi.
 
Sebagai jawaban atas ketidakpuasan ini, perlahan mulai muncul kajian-kajian yang menitikberatkan perempuan sebagai pelaku utama migrasi (Suharso 1975; Ong 1991; Chant 1992; Chamberlain 1997; Sen 1998; Boyle, Halfacree, dan Smith 1999; Momsen 1999; Newberry 2008). Perempuan dan migrasi pada dasarnya tidak dapat dipisahkan. Sejak masa klasik, perempuan telah berperan penting dalam dinamika ekonomi secara mikro dan makro (lihat Andaya 2006, Reid 2011). Kajian-kajian yang menitikberatkan pada perempuan sebagai pelaku migrasi semakin luas, tidak hanya sebatas pada perempuan dan dinamika ketenagakerjaan, namun juga migrasi transnasional. Tidak hanya sebatas pada ruang migrasi yang semakin lebar, kajian-kajian tersebut juga membuka perdebatan panjang, mengenai bagaimana perempuan sebagai pelaku migrasi ditempatkan dalam laporan-laporan penelitian, atau bahkan dalam bangunan teori migrasi itu sendiri.
 
Boyd dan Grieco (2003) misalnya, mengkritik penggunaan kata “migrant and their families” sebagai bentuk peniadaan perempuan sebagai pelaku migrasi dalam berbagai monograf dan laporan hasil penelitian migrasi pada era 1960an dan 1970an. Penggunaan kata “migrant and their families” pada dasarnya merujuk pada “male migrant and their wives and children”. Selain itu, meskipun peneliti pada akhir 1970 dan 1980 telah mulai memasukkan perempuan sebagai pelaku migrasi, namun hal tersebut tidak mengubah lenskap teori migrasi secara dramatis. Skeldon (dalam Altamirano 1997) misalnya, mencatat bahwa penelitian migrasi pada 1980an, yang mempergunakan pendekatan biografis pada umumnya disandarkan pada perspektif laki-laki. Para peneliti itu gagal dalam melihat bahwa perempuan dan laki-laki memiliki perbedaan dalam migrasi, baik dari sisi motif, kepentingan (dan keuntungan), maupun tujuan (Chant dan Radcliffe 1992, Altamirano 1997).
 
Dengan menjadikan perempuan sebagai subjek yang berbicara untuk dirinya sendiri, perempuan dapat dengan leluasa menceritakan pengalamannya, terutama dalam kajian migrasi. Hal ini tidak lah terihat secara riil dalam teori migrasi klasik maupun kontemporer. Kegagalan perempuan dalam menampakkan wujud dan menceritakan pengalamannya, menjadikan teori migrasi sebagai bangunan yang rapuh. Tentu saja menjadi penting untuk digarisbawahi, bahwa posisi pengalaman perempuan tidak lah semata data statistikal, namun lebih pada kemampuan perempuan dalam mengkonstruksi ulang pengetahuan kita mengenai migrasi.
 
Banyak hal dalam teori migrasi yang sangat kering ketika kita memisahkan kepentingan perempuan di dalamnya. Remitansi misalnya, tanpa mempertimbangkan pengalaman perempuan, hanya lah dilihat sebagai uang atau barang yang dikirimkan oleh para migran dari wilayah tujuan ke wilayah asal, atau hanya sebagai capital gain dalam perekonomian skala makro (lihat Pholphirul dan Rukumnuaykit 2009). Remitansi gagal dilihat sebagai motif dasar dari para migran untuk mempertahankan keberadaan mereka di wilayah asal, atau sebagai jangkar dalam mempertahankan imaji dari para migran atas kampung halaman mereka. Tanpa mendengarkan suara perempuan, teori migrasi gagal mendengar bisik sunyi tekanan sosial dari wilayah asal kepada para migran di wilayah tujuan, karena remitansi pararel dengan posisi migran di wilayah asal. 
 
Tanpa mendengar suara perempuan, teori migrasi meletakkan para pelaku migrasi sebagai aktor yang secara sadar mengambil pilihan untuk bermigrasi. Persoalannya adalah, pilihan itu hanya lah sebatas ilusi. Pilihan yang tersedia bagi setiap orang membuat kita berpikir sempit bahwa semua orang memiliki pilihan dan memiliki kebebasan untuk memilih. Dengan mendengar suara perempuan, kita dapat memahami bahwa pilihan itu tersedia bukan untuk semua orang, utamanya bagi perempuan, pilihan yang tersedia bagi mereka sangat lah sedikit dan terbatas (lihat Elmhirst 1999, Momsen 1999, Khater 2001). Sama halnya ketika teori migrasi meletakkan migrasi dalam konteks politik tubuh maupun politik ekonomi rumah tangga. Tanpa memperhatikan pengalaman perempuan, kepergian migran ke wilayah tujuan akan mendapat justifikasi yang simplistik, bahwa kepergian mereka hanya lah untuk memenuhi kebutuhan ekonomi diri dan keluarga, tanpa mempertimbangkan aspek sosial, kultural, ekonomi dan politik di balik kepergian para migran ke wilayah tujuan.
 
Tidak berlebihan jika Schwenken dan Eberhardt (2008) menekankan pentingnya melihat pengetahuan perempuan dalam melihat, dan meninjau ulang, teori migrasi maupun migrasi itu sendiri. Perempuan harus dilihat sebagai pelaku migrasi, dengan demikian harus ditempatkan sebagai entitas utuh, bukan sekedar ‘pendamping’, yang melakukan migrasi. Dengan meletakkan perempuan sebagai pelaku migrasi, maka dapat dilihat bagaimana pengalamannya, latar belakang, motif, tujuan (dan kepentingan), terbentuk melalui skema sosial dan kultural dapat mengkonstruksi ulang teori migrasi sebagai pengetahuan. Hal ini penting, sebagaimana de Beauvoir (dalam Bart 1998) dan Harding (1991) menekankan, bahwa pengetahuan yang selama ini digemborkan sebagai netral dan bebas nilai pada dasarnya keliru dan gagal dalam menetapkan dirinya sebagai pengetahuan. Sebab pengetahuan selalu dikonstruksi berdasarkan knowledge laki-laki, maka science yang muncul adalah pengetahuan laki-laki secara partikular, akibatnya, gambaran utuh dari pengetahuan itu sendiri gagal mewujud dalam kebenaran universal.
 
Baik Bart (1998) maupun Anderson (1995, 2011) menekankan pentingnya membawa perempuan ke dalam titik episentrum pengetahuan. Hal ini lah yang akan membawa saya pada bagian akhir, yakni bagaimana kritik feminisme atas bangunan teori migrasi membawa implikasi bagi teori migrasi. Dalam hal ini, saya mencoba mendorong epistemologi feminis dalam meninjau ulang pengetahuan kita atas teori migrasi. Meletakkan epistemologi feminis dalam memandang pengetahuan membawa implikasi tersendiri, yakni dengan menantang asumsi epistemologis yang bias laki-laki yang berimplikasi dengan hilangnya perempuan dalam pengetahuan itu sendiri. Hal ini menjadi elemen fundamental dari kritik feminisme sejak awal, karena peletakkan laki-laki sebagai basis epistemologis telah menjadi justifikasi atas subordinasi perempuan dalam sosial, kultural dan politik. Konsekuensinya, ketika perempuan terpinggirkan dalam basis epistemologis, maka klaim atas pengetahuan selalu meninggalkan perempuan dibelakangnya.
 
BAGIAN TIGA
MENDORONG KE ARAH EPISENTRUM: TAWARAN FEMINISME DAN IMPLIKASINYA
 
Setelah polemik panjang mengenai teori migrasi klasik, teori migrasi kontemporer, dan kritik atas keduanya, satu hal tersisa: bagaimana membawa perempuan sebagai titik episentrum. Altamirano (1997) benar, bahwa representasi yang minim perlu dibongkar habis-habisan, sama benarnya bahwa representasi berdasarkan statistikal, dengan add and stir method, tidak lebih dari mengulang kesalahan yang sama. Meskipun epistemologis feminis menjadi penting dalam membongkar kesalahan dasar dalam teori migrasi, namun dalam hal ini, saya pikir peringatan dari Longino (1987) pun harus diperhatikan secara seksama, agar pencarian atas epistemologi feminis tidak hanya sekedar kritik tanpa memberikan keluasan perspektif. Menurutnya:
 
 “...We cannot restrict ourselves simply to the elimination of bias, but must expand our scope to include the detection of limiting and interpretive frameworks and the finding or construction of more appropriate frameworks” (Longino, 1987:60).
 
 Dengan landasan demikian, maka feminisme menawarkan pendekatan yang lebih luas dari sekedar data-data statistikal atau analisis bias. Feminisme menawarkan pendekatan dengan mempertimbangkan banyak faktor sebagai bagian dari pengetahuan itu sendiri. Analisis feminis secara nyata telah mengungkap konsekuensi epistemologis dan politis dari bias laki-laki dalam ilmu pengetahuan. Namun sebagaimana dikatakan Bart (1998), bahwa feminisme tidak berhenti hanya di sana, namun epistemologis feminis berkepentingan untuk mengkonstruksi ulang pengetahuan dengan memasukkan pengetahuan perempuan, mendorongnya ke arah episentrum, sehingga bangunan pengetahuan dapat berdiri lebih kokoh. 
 
Kritik feminisme atas bangunan pengetahuan secara umum turut berimbas pula pada kritik feminisme atas bangunan teori migrasi. Namun mengikuti alur Longino, bahwa kritik feminisme atas bangunan teori migrasi juga disertai catatan-catatan khusus, berupa tawaran yang diajukan atas bangunan teori migrasi itu sendiri. Sekurangnya terdapat tiga tawaran dasar yang diajukan feminisme terhadap bangunan teori migrasi: Pertama, alih-alih berkutat pada data statistikal, feminisme mendorong penggunaan data statistikal bukan sebagai akhir dari bangunan teori, namun menjadi awal dalam mencari realitas di balik data tersebut (lihat Altamirano 1997). Selain itu, Altamirano menekankan, bahwa meskipun penggunaan data statistik diperlukan, namun tidak berarti bahwa feminisme terlalu sibuk mengkritik data yang tidak memasukkan gender sebagai faktor determinan, sehingga mereka memasukkan gender sebagai variabel hanya untuk memenuhi kritik tersebut. Dengan sekedar menambahkan dan mencakupkan (add and stir methods) gender tidak otomatis memperlihatkan bagaimana migrasi itu sesungguhnya, namun hanya sebuah upaya, yang oleh Altamirano disebut sebagai feminist empiricism.
 
Altamirano (1997) merujuk pada kegiatan yang berlangsung pada era 1980, di mana para feminis berupaya mendemonstrasikan situasi empiris yang dialami oleh perempuan dari berbagai konteks geografis yang berbeda. Di satu sisi, bagi Altamirano, feminist empiricism telah berkontribusi penting dengan mengetengahkan data-data dan dokumentasi mendetail dari migrasi yang dilakukan perempuan. Dengan demikian, maka paling-tidak upaya tersebut membuka celah penelitian yang lebih luas. Di sisi lain, Altamirano mengkritik bahwa upaya-upaya tersebut seringkali hanya add and stir methods, hanya ‘menambahkan’ gender sebagai variabel dan ‘mengaduk’ data tersebut, yang tidak menghilangkan seksisme dalam teori migrasi. Model ini pun mendapat banyak kritik, terutama dalam internal feminisme itu sendiri yang menilai bahwa model ini tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap inklusifitas pengetahuan perempuan (Boyd dan Grieco 2003).
 
Kedua, feminisme menawarkan untuk meninggalkan metode add and stir dalam penelitian migrasi (lihat Boyd dan Grieco 2003). Tawaran ini membawa implikasi serius, yakni dengan diletakkannya gender sebagai faktor determinan, bersamaan posisinya dengan faktor usia maupun etnisitas. Dengan demikian, gender tidak lagi dianggap sebagai faktor sampingan, yang digunakan hanya untuk menghindari kritik bahwa penelitian tersebut bias. Hal ini membawa konsekuensi logis, bahwa dengan ditinggalkannya add and stir methods, maka feminisme beranjak lebih jauh lagi, yakni beranjak dari perspektif makro menuju perspektif yang lebih mikro, meskipun tentu saja apa yang terjadi dalam konteks mikro tidak dapat dilepaskan dari perubahan di tingkat makro (lihat Chant 1992, Benjamin 1996). Dalam konteks ini, perubahan dalam level makro tidak saja berpengaruh terhadap perubahan di level mikro, tetapi juga sebaliknya (Green, Hardill dan Munn 1999, Jones 2009). 
 
Implikasi serius lain dari tawaran ini terasa dari sisi metodologis, yakni dari sekedar pencarian data makro statistikal, menuju mikro individual berdasarkan pengalaman individual. Boyle, Halfacree, dan Smith (1999) menunjukkan, bahwa dengan melihat pada level individual, maka kajian migrasi dapat memberikan gambaran yang lebih luas dan pemahaman yang lebih baik mengenai migrasi itu sendiri. Melalui level-level individual, dapat dilihat bagaimana migrasi dilakukan oleh individu-individu, sekaligus meletakkan individu sebagai subjek yang berbicara untuk dirinya sendiri (De Haas 2008). Dengan demikian, maka kajian migrasi mulai berangkat dari personal di tingkat mikro, meskipun tentu saja penting untuk melihat bagaimana konteks makro berpengaruh terhadap individu.
 
Ketiga, feminisme menawarkan untuk memberikan suara kepada mereka yang selama ini dibungkam: perempuan. Konsekuensi lanjutan dari kritik feminisme atas kajian migrasi adalah munculnya revisi-revisi atas kajian migrasi dengan mempergunakan perspektif perempuan. Namun pun demikian, feminisme pun harus waspada, sebagaimana dikatakan oleh Spivak (dalam Pocha 2010:73), bahwa suara perempuan pun tidak lah sama dan seragam, dengan demikian feminisme harus mampu menahan diri untuk tidak berbicara atas nama seluruh perempuan. Perempuan melakukan migrasi adalah sebuah fakta yang tidak dapat disangkal, namun latar belakang perempuan melakukan migrasi tidak dapat disamaratakan. Implikasi dari tawaran ini adalah dengan mempertimbangkan berbagai aspek yang berkaitan dengan migrasi yang dilakukan oleh perempuan, yakni aspek sosial, kultural, ekonomi, politik, dan ekologi.
 
Tawaran kedua dan ketiga secara umum berbicara dalam substansi yang serupa, yakni pada level individu dengan mempertimbangkan aspek-aspek di luar individu tersebut, di mana aspek-aspek tersebut berkontribusi atas pilihan individu untuk melakukan migrasi (Chant 1992). Penekanan ini menjadi sangat krusial dilakukan sebab migrasi sendiri bukan lah sebuah fenomena yang berdiri sendiri tanpa keterkaitan dengan kondisi sosial, kultural, ekonomi, politik, dan ekologi (lihat Halfacree dan Boyle 1999, De Haas 2007, 2008, Palmary 2009, Ressurection dan Elmhirst 2009). Dengan demikian, perhatian atas migrasi tidak dapat dilepaskan dari berbagai aspek yang turut mempengaruhi migrasi itu sendiri, baik di level mikro individu maupun makro politik, bahkan di tingkat geopolitik dan geoekonomi (lihat Castels dan Miller 2003), yakni dengan faktor determinan yang mempengaruhi perempuan untuk bermigrasi.
 
Konsekuensi logis dari tawaran ini, adalah bahwa kajian migrasi harus dilihat tidak sebagai fenomena tunggal yang otonom. Kajian migrasi berpengaruh di tingkat mikro maupun makro, sebagai sebuah episentrum yang riaknya menyebar ke segala arah, tidak hanya berhenti di satu titik stagnan, sehingga seorang peneliti akan memperkaya kerangka berpikirnya mengenai migrasi bukan hanya pada persoalan migrasi per se, namun juga melihat bagaimana pengaruh eksternal (makro) atas migrasi (mikro), dan bagaimana pengaruh migrasi (mikro) terhadap dinamika ekternal (makro) di luar migrasi tersebut (lihat Pholphirul dan Rukumnuaykit 2010, Irianto 2011). Model ini mengisyaratkan migrasi sebagai sebuah proses yang terkait dengan berbagai aspek sehingga harus dijelaskan pihak-pihak mana saja yang berkaitan, berkepentingan, dan diuntungkan atas migrasi itu sendiri.
 
Sebagaimana telah saya jelaskan sebelumnya, dengan menitikberatkan pada aspek gender dalam kerangka sosio-kultural misalnya, kajian migrasi dapat melihat dengan jelas bagaimana skema kultural menentukan siapa yang bermigrasi dan untuk apa mereka bermigrasi. Migrasi perempuan misalnya, memiliki dimensi kultural yang berbeda dengan migrasi yang dilakukan laki-laki. Bidang lainnya seperti bidang politik dan pengelolaan sumber daya alam, dapat dilihat bagaimana implikasi kebijakan politik terhadap pengelolaan sumber daya alam, siapa yang mengelola, dan untuk apa sumber daya alam tersebut dikelola (lihat Li 2002, Ressurection dan Elmhirst 2009, Laurie 2011). Faktor-faktor tersebut, di tambah faktor lain yang muncul, mendorong perilaku migrasi yang dilakukan oleh individu-individu. Setiap individu, dalam migrasi yang mereka lakukan, memiliki latar belakang yang berbeda, terlebih jika dikaitkan dengan gender, di mana perempuan dan laki-laki memiliki latar yang berbeda, akibatnya jelas: mereka mengalami pengalaman yang berbeda.
 
Bagi saya, ketiga tawaran feminisme atas teori migrasi tidak boleh berhenti di sana. Masih terdapat satu persoalan mendesak yang harus dilakukan. Bukan lagi sekedar mendengarkan pengalaman perempuan tentang migrasi, namun yang lebih krusial, adalah mendorong perempuan ke titik pusat pengetahuan. Pengalaman perempuan harus menjadi pondasi dari pengetahuan itu sendiri, bukan sekedar lip service yang digunakan untuk membungkam para kritikus. Tentu saja ini akan menjadi tugas yang sulit, terutama ketika bangunan teori migrasi, melalui para teoritisi, tetap bertahan hanya sekedar mendengar, tidak berbuat lebih.
 
Persoalannya adalah, bagaimana mendorong perempuan sebagai aktor utama yang membuat diskusi teoritik migrasi beredar di sekitarnya? Saya pikir, setidaknya dibutuhkan dua hal dasar: Pertama, meletakkan perempuan sebagai subjek yang berbicara untuk diri mereka dan untuk kepentingan mereka sendiri. Konsekuensi logis dari hal ini adalah meletakkan perempuan sebagai subjek yang berbicara dari diri mereka dan untuk kepentingan mereka sendiri, bukan untuk suara orang lain dan kepentingan orang lain. Dengan demikian, maka pengalaman perempuan harus menjadi landasan pengetahuan. Keuntungan dasar dari hal ini adalah beragamnya pengalaman perempuan, sebab perempuan memiliki pengalaman yang berbeda, bahkan di antara perempuan itu sendiri. 
 
Abu-Lughod (2006) menjelaskan dengan sangat baik, bahwa meskipun memiliki pengalaman yang berbeda, perempuan berbagi kesamaan mendasar. Kesamaan yang lahir bukan karena proses kematangan tubuh yang universal, namun karena pengalaman yang saling bersama dari interpolasi atas kelas, ras, dan orientasi seksual yang selalu didasarkan pada formasi patriarkal. Begitu kayanya pengalaman perempuan, maka dari mereka dapat dilihat faktor-faktor apa saja yang mendorong mereka untuk bermigrasi, bagaimana faktor-faktor tersebut berkelindan membentuk jaringan yang “memaksa” perempuan untuk melakukan migrasi, dan kepentingan siapa yang bermain di belakang keputusan mereka untuk bermigrasi. Faktor-faktor ini tentu saja dapat dirunut dari banyak sisi, terjadi di berbagai wilayah, dan menembus batas-batas geografis dan geokultural.
 
Kedua, bahwa perempuan berkepentingan untuk turut serta dalam konstruksi pengetahuan adalah hal yang tidak dapat ditawar lagi. Dengan demikian, ruang diskusi yang lebih dinamis harus dibuka seluas-luasnya, terutama bagi kepentingan perempuan itu sendiri. Implikasi utama dari hal ini adalah menampilkan migrasi dengan wajah perempuan yang lebih jelas dan terbuka. Namun keberanian untuk berbicara harus didukung oleh kesempatan untuk masuk ke dalam area diskursus. Tanpa masuk ke dalam ruang diskusi teoritik, pengalaman perempuan tidak lain hanya lah catatan kaki dalam sebuah opus besar tentang migrasi. Sebagai subjek yang berbicara untuk kepentingannya sendiri, maka perempuan dapat turut serta dalam mengkontruksi pengetahuan, terutama dalam bangunan teori migrasi. Dengan posisi tersebut, perempuan tidak lagi duduk sebagai penonton yang suara dan pengalamannya tidak diperhitungkan, namun berperan sebagai aktor yang turut serta dalam lakon migrasi yang dimainkan. Ini dapat memberikan keuntungan tersendiri bagi perempuan, yakni daya tawar untuk menciptakan sebuah teori migrasi yang lebih yang tidak lain mengabaikan pengalaman perempuan.
 
PENUTUP
 
Di tengah hiruk-pikuk revisi, kritik, dan sanggahan yang muncul sebagai akibat dari ketidakpuasan atas bangunan teori migrasi, satu hal tetap terabaikan: bangunan teori migrasi ternyata melupakan fakta mendasar, bahwa perempuan melakukan migrasi sama halnya dengan laki-laki. Namun fakta itu rupanya tidak bersuara dalam bangunan teori migrasi. Perempuan sebagai pelaku migrasi rupanya tidak serta-merta membuat perempuan terlihat dan berperan dalam bangunan teori migrasi. Meskipun Ravenstein sejak awal sudah mengatakan bahwa perempuan, secara statistik, turut pula melakukan migrasi, namun Ravenstein berhenti di titik itu. Dia memutuskan untuk tidak mengeksplorasi lebih jauh mengenai ‘law of migration’ yang coba ia bangun. Para pengkritiknya pun, alih-alih mempertimbangkan perempuan sebagai basis pengetahuan dalam migrasi, lebih asik bermain pada ‘migrant (men) and their families (wive[s] and children[s])’. 
 
Tawaran feminisme atas bangunan teori migrasi pada dasarnya terletak pada memberikan hak berbicara bagi suara-suara yang selama ini dibungkam dan diabaikan. Melalui suara perempuan lah bangunan teori migrasi harus diletakkan. Hal ini menjadi sangat krusial sebab pengabaian terhadap suara perempuan pada hakikatnya adalah pengabaian pada pondasi pengetahuan. Dalam waktu yang bersamaan, suara-suara perempuan perlahan muncul dari kegelapan, menerobos ruang, merembes gatra, dan menyampaikan kisah yang berbeda dengan yang selama ini dikisahkan, sehingga bangunan teori migrasi pun perlahan mengalami perubahan, yakni dengan memunculkan bangunan teori yang lebih mengakomodir suara dan pengalaman perempuan. Meskipun demikian, saya melihat bahwa tugas perombakan belum usai. Teori-teori klasik, yang melupakan perempuan, terus mengalami peningkatan penggunaan, sedikit diubah, namun tidak mengubah landasan berpikirnya. Dengan demikian, sesungguhnya perempuan telah bersuara, hanya saja suaranya kurang terdengar jelas, hanya gema di tengah gemuruh diskusi teoritik yang mengemuka, sehingga diperlukan upaya untuk mengkritisi, memperluas perspektif dan membuka ruang yang lebih luas bagi perempuan untuk berbicara lantang menyuarakan pengalaman mereka. Maka tugas ini akan tetap menjadi pekerjaan rumah bagi siapa saja yang menaruh perhatian pada persoalan perempuan, khususnya migrasi perempuan.
 
Terlepas dari apa yang telah saya dedahkan di atas, tulisan ini pun masih memiliki sejumlah keterbatasan. Pertama, begitu luasnya bangunan teori migrasi sehingga saya tidak mungkin berbicara dari seluruh sisi. Maka saya memilih untuk bergerak dari akar teori migrasi, dari Ravenstein saya memulai. Namun pilihan ini membawa konsekuensi, bahwa kajian saya bergerak dari pendulum ekonomi dan mengesampingkan faktor lain sebagai pijakan awal. Kedua, kritik feminisme atas bangunan teori migrasi sendiri begitu beragam, sama beragamnya dengan feminisme itu sendiri. Saya memilih untuk tidak bergerak pada percabangan feminisme, sebab setiap cabang memiliki tekanan atas kritik-kritik tertentu, yang dalam banyak hal begitu beragam. Saya hanya mengutarakan kritik yang bersifat umum, sekaligus mencari tawaran-tawaran yang diajukan dari kritik tersebut. Ketiga, saya memilih untuk tidak mengeksplorasi secara spesifik pada kasus pengalaman migrasi perempuan di Indonesia. Saya hanya memberikan beberapa kata kunci yang mungkin dapat bermanfaat, namun karena kendala keterbatasan, maka saya memilih untuk tidak mengeksplorasi dengan lebih mendetail. 
 
Perempuan dan migrasi sesungguhnya fakta yang tidak dapat disangkal, namun fakta tersebut tersimpan rapat sehingga suara perempuan tidak pernah muncul dalam bangunan teori migrasi. Di tengah keterbatasan yang ada, saya mencoba meninjau ulang bangunan teori migrasi. Dari sudut pandang perempuan lah tulisan ini dibangun, dengan memberikan sejumlah kritik, argumen, tawaran, dan tentu saja implikasi yang muncul dari kritik tersebut. Namun tentu saja tulisan ini masih jauh dari sempurna. Seluruh keterbatasan dalam kajian ini sepenuhnya adalah kekurangan saya, dan saya berharap kekurangan tersebut dapat ditutupi melalui kajian-kajian lanjutan di masa yang akan datang. Di sisi lain, saya berharap bahwa diskusi teoritik akan sangat bermanfaat jika berjalan dua arah. Saya harap.
 
(DITERBITKAN DALAM JURNAL ANTROPOLOGI INDONESIA VOL. 31 NO.3  HAL 160-184)
 
REFERENSI
 
Abu-Lughod, L. 2006. “Writing Against Culture” dalam Ellen Lewin (ed.) Feminist Anthropology. Malden, MA: Blackwell. Hlm. 153-169
Altamirano, A.T. 1997. “Feminist Theories and Migration Research – Making Sense in the Data Feast?”, Refuge 16(4):4-8
Andaya, B.W. 2006. The Flaming Womb: Repositioning Women in Early Modern Southeast Asia. Honolulu: University of Hawai’i Press
Anderson, E. 1995 “Feminist Epistemology: An Interpretation and a Defense”, Hypatia 10(3):50-84
_______. 2011 “Feminist Epistemology and Philosophy of Science” dalam http://plato.stanford.edu/entries/feminism-epistemology/. Diakses tanggal 15 April 2011
Bart, J. 1998 “Feminist Theory of Knowledge: The Good, The Bad, dan The Ugly” dalam http://www.dean.sbc.edu/bart.html. Diakses tanggal 15 April 2011
Benjamin, D. 1996 “Women and the labour market in Indonesia during the 1980s”, dalam Susan Horton (ed.) Women and Industrialization in Asia. London and New York: Routledge. Hlm. 81-133
Blood, S.K. 2005 Body Work: The Social Construction of Women’s Body Image. London and New York: Routledge
Boyd, M. dan E. Grieco. 2003 “Women and Migration: Incorporating Gender into International Migration Theory” dalam http://www.migrationinformation.org/Feature/display.cfm?ID=106. Diakses tanggal 15 April 2011.
Boyle, P., K. Halfacree, dan D. Smith. 1999 “Family Migration and Female Participation in the Labour Market: Moving Beyond Individual-level Analyses” dalam Paul Boyle dan Keith Halfacree (eds.) Migration and Gender in Developed World. London dan New York: Routledge. Hlm. 94-111
Bradley, H. dan G. Healy. 2008 Ethnicity and Gender at Work: Inequalities, Careers, and Employment Relations. New York: Palgrave Macmillan
Brooks, A. 2006 Gendered Works in Asian Cities, The New Economy and Changing Labour Markets. Hampshire: Ashgate
Buch, C.M., dan A. Kuckulenz. 2010 “Worker remittances and capital flows to developing countries”, International Migration 48(5):89-117
Butler, J. 1993 Bodies That Matter: On The Discursive Limits of “Sex”. London and New York: Routledge
Castells, M. 2002 The Rise of the Network Society, second edition. Malden, MA: Blackwell Publishers
Castles, S. dan M.J. Miller. 2003 The Age of Migration, third edition. London: MacMillan Press
Chamberlain, M. 1997 “Gender and the Narratives of Migration”, History Workshop Journal 43:87-108
Chant, S (ed.). 1992 Gender & Migration in Developing Countries. London: Belhaven Press
Chant, S. dan S.A. Radcliffe. 1992 “Migration and development: the importance of gender” dalam Sylvia Chant (ed.) Gender & Migration in Developing Countries. London: Belhaven Press. Hlm. 1-29
De Haas, H. 2007 Migration and Development: a Theoretical Perspective. Bielefeld: COMCAD
_____. 2008 “The internal dynamics of migration processes”, makalah disampaikan dalam IMSCOE Conference on Theories of Migration and Social Change, University of Oxford 1-3 Juli
De Haas, H. dan T. Fokkema. 2009 Intra-household tensions and conflict of interest in migration decision making: a case study of the Todgha valley, Marocco. Working paper for IMI University of Oxford
Detsi-Diamanti, Z., K. Kitsi-Mitakou, dan E. Yiannopoulou. 2009 “Toward to Future of Flesh: An Introduction” dalam Zoe Detsi-Diamanti, Katerina Kitsi-Mitakou, dan Effie Yiannopoulou (eds.) The Future of Flesh: a Cultural Survey of the Body. New York: Palgrave Macmillan. Hlm. 1-15
Durbin, S. 2011 “Creating Knowledge through Networks: a Gender Perspective”, Gender, Work and Organization 18(1):90-112
Elmhirst, R. 1999 “’Learning the ways of the priyayi’: domestic servants and the mediation of modernity in Jakarta” dalam J.H. Momsen (ed.) Gender, Migration and Domestic Service. London and NY: Routledge. Hlm. 237-258
______2009 “Multi-local livelihoods, natural resource management and gender in upland Indonesia” dalam Bernadette P. Ressurection dan Rebecca Elmhirst (eds.) Gender and Natural Resource Management; Livelihoods, Mobility and Interventions. Singapore: ISEAS. Hlm. 67-85
Fan, C.C. 2004 “Out to the City and Back to the Village: The Experiences and Contributions of Rural Women From Sichuan and Anhui” dalam A.M. Gaetano dan T. Jacka (eds.) On The Move: Women and Rural-to-Urban Migration in Contemporary China. New York: Colombia University Press. Hlm. 177-206
Farwick, A. 2009 Internal Migration, Chalengges and Perspectives for the Research Infrastructure. RatSWD Working Paper No. 97.
Gardner, K. 2002 Age, Narrative and Migration: The Life Course and Life Histories of Bengali Elders in London. New York: Berg
Gubhaju, B. dan G.F. de Jonge. 2009 “Individual versus household migration decision rules: gender and marital status differences in intentions to migrate in South Africa”, International Migration 47(1):31-61
Green, A., I. Hardill, dan S. Munn. 1999 “The Employment Consequences of Migration: Gender Differential” dalam dalam Paul Boyle dan Keith Halfacree (eds.) Migration and Gender in Developed World. London dan New York: Routledge. Hlm. 60-69
Halfacree, K. dan P. Boyle. 1999 “Introduction: Gender and Migration in Developed Countries” dalam Paul Boyle dan Keith Halfacree (eds.) Migration and Gender in Developed World. London dan New York: Routledge. Hlm. 1-23
Hardill, I. 2002 Gender, Migration and the Dual Career Household. London and New York: Routledge
Harding, S. 1991 Whose Science? Whose Knowledge?. Ithaca, NY: Cornell University Press
Ho, E. 2006 Graves of Tarim, Genealogy and Mobility Across the Indian Ocean. Berkeley: Univerity California Press
Hooglan, R.C. 2007 “Body, Theories of” dalam Fedwa Malti-Douglas (ed.) Encyclopedia of Sex and Gender. Hlm. 171-176.
Horton, S. 1996 “Women and industrialization in Asia: overview”, dalam Susan Horton (ed.) Women and Industrialization in Asia. London and New York: Routledge. Hlm. 1-42
Hugo, G. 1992 “Women on the move: changing patterns of population movement of women in Indonesia” dalam Sylvia Chant (ed.) Gender & Migration in Developing Countries. London: Belhaven Press. Hlm. 174-196
Idrus, N.I. 2008 “Makkunrai Passimokolo’:” Bugis Migrant Women Workers in Malaysia”, in Michele Ford and Lynn Parker (eds.), Women and Work in Indonesia. London: Routledge. Hlm. 155-172.
Irianto, S. 2011 Akses Keadilan dan Migrasi Global: Kisah Perempuan Indonesia Pekerja Domestik di Uni Emirat Arab. Jakarta: Obor
Jacobsen, F.F. 2009 Hadrami Arabs in Present Day Indonesia, an Indonesia-oriented group with an Arabic signature. London and New York: Routledge
Jones, T.A. 2009 “Migration Theory in the Domestic Context, North-South Labor Movement in Brazil”, Human Architecture: Journal of the Sociology of Self-Knowledge (7)4:5-14.
Khater, A.F. 2001 Inventing Home: Emigration, Gender, and Middle Class in Lebanon 1870-1920. Berkeley: University of California Press
Laurie, N. 2011 “Gender Water Networks: Femininity and Masculinity in Water Politics in Bolivia”, International Journal of Urban and Regional Research 35(1):172-188
Lee, E.S. 1966 “A Theory of Migration”, Demography 3(1):47-57
Li, T.M. 2002 “Keterpinggiran, Kekuasaan dan Produksi: Analisis Terhadap Transformasi Daerah Pedalaman”, dalam Tania Murray Li (ed.) Proses Transformasi Daerah Pedalaman di Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Hlm. 3-74.
Longino, H.E. 1987 “Can There Be A Feminist Science?”, Hypatia 2(3):51-64
Momsen, J.H. 1999 “Maids on the move” dalam J.H. Momsen (ed.) Gender, Migration and Domestic Service. London and NY: Routledge. Hlm. 1-20
Newberry, J. 2008 “Women’s ways of walking: gender and urban space in Java” dalam Judith N. DeSena (ed.) Gender in an Urban World. United Kingdom: Emerald. Hlm. 77-102
Nolan, A. 2007 “Body Image” dalam Fedwa Malti-Douglas (ed.) Encyclopedia of Sex and Gender. Hlm. 168-170
Olwig, K.F. 1997 “Cultural Sites: Sustaining a home in a deterritorialized world” dalam Karen Fog Olwig dan Kristen Hastrup (eds.) Siting Culture, the shifting anthropological object. London and New York: Routledge. Hlm. 17-38.
Ong, A. 1991 “The Gender and Labor Politics of Postmodernity”, Annual Review of Anthropology 20:279-309
Palmary, I. 2009 “Migration of Theory, Method, and Practice: a Reflection on Themes in Migration Studies”, PINS 37:55-66
Pholphirul, P. dan P. Rukumnuaykit. 2010 “Economic Contribution of Migrant Workers to Thailand”, International Migration 48(5):174-202
Pinger, P. 2010 “Come Back or Stay? Spend Here or There? Return and Remittances: The Case of Moldova”, International Migration 48(5):142-173
Pocha, S. 2010 “Feminisme dan Gender” dalam Sarah Gamble (ed.) Feminisme dan Postfeminisme. Jakarta: Jalasutra. Hlm. 69-81
Ramazanoğlu, C., dan J. Holland. 2002 Feminist Methodology, Challenges and Choices. London: Sage
Ravenstein, E.G. 1885 “The Laws of Migration”, Journal of the Statistical Society of London 48(2):167-235
Reid, A. 2011 Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680, Jilid 1: Tanah di Bawah Angin. Jakarta: Obor
Ressurection, B.P. dan R. Elmhirst (eds.). 2009 Gender and Natural Resource Management: Livelihoods, Mobility and Interventions. Singapore: ISEAS
Schwenken, H. dan P. Eberhardt. 2008 Gender Knowledge in Economic Migration Theories and in Migration Practices. GARNET Working Paper No.58/08
Sen, A. 1999 Development as Freedom. New York: Anchor Books
Sen, K. 1998 “Indonesian women at work: reframing the subject”, dalam Krishna Sen dan Maila Stivens (eds.) Gender and Power in Affluent Asia. London and New York: Routledge. Hlm. 35-62
Skeldon, R. 1997. Migration and Development: a Global Perspective. Essex: Longman
Suharso et.al. 1975. Migration and Education in Jakarta. Jakarta: Leknas LIPI
Swenson, K.A. 2010 “Productive Bodies: Women, Work, and Depression”, dalam Lori Reed and Paula Saukko (eds.) Governing the Female Body: Gender, Health, and Networks of Power. New York: Suny. Hlm. 134-156
Tirta, I. 1996. Batik: A Play of Light and Shades. Jakarta: Gaya Favorit Press
Tjiptoherijanto, P. 1997. Migrasi, Urbanisasi, dan Pasar Kerja di Indonesia. Jakarta: UI Press
Walker, J.R. 2008. Internal Migration. Dalam http://www.ssc.wisc.edu/~walker/ research/palgrave_6.pdf. Diakses 12 maret 2011.
White, B. 2002. “Inti dan plasma: pertanian kontrak dan pelaksanaan kekuasaan di dataran tinggi Jawa Barat”, dalam Tania Murray Li (ed.) Proses Transformasi Daerah Pedalaman di Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Hlm. 293-329
 
 

Jadwal Salat