• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

Rumah Kaca: tubuh, negara, dan fundamentalisme (Part.1)

on . Posted in Catatan Tepi

 

Apa hubungan antara tubuh, negara, dan fundamentalisme? Mungkin tidak ada, mungkin juga saling berhubungan. Saya berpendapat yg kedua. Ketika saya diminta oleh Nadya Karima Melati bicara soal "womens confronting fundamentalism", alam bawah sadar langsung teringat Pram.

Pram, dalam buku terakhir tetralogi Pulau Buru, menggunakan terma yg sangat puitis sekaligus argumentatif: rumah kaca. Jika Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, dan Jejak Langkah dilihat dr perspektif bawah, maka Rumah Kaca adalah antitesa. Tetralogi ini memang bicara zaman pergerakan, melalui Minke - Tirto Adhi Soerjo, narasi itu diletakkan. Saya tidak bicara ttg sosok Nyai Ontosoroh, sang patron, melainkan sosok Tuan Panggemanan.

 

Rumah Kaca bercerita bagaimana Negara, melalui Tuan Panggemanan, memantau seluruh upaya pergerakan yg dilakukan oleh Minke. Rumah Kaca adalah kekhawatiran atas riak gelombang, yg jika tidak dikontrol akan membesar dan menjadi ombak yg menyapu kekuasaan. Rumah Kaca adalah kekuatan yg memantau, mengontrol, dan mengopresi. Rumah Kaca bukanlah bangunan fisik, melainkan nuansa. Dalam terma Foucault, Rumah Kaca adalah Panopticon, sebuah "bangunan" yg digagas oleh Jeremy Bentham, yg bertujuan untuk mengawasi semua tahanan sepanjang waktu. Gagasan Bentham menarik, bahwa tujuan utama Panopticon adalah mengawasi secara penuh, sedangkan pihak yang diawasi selalu merasa terawasi – meskipun tidak sedang diawasi – sehingga dirinya bertindak sesuai dengan kemauan si pengawas. Rumah Kaca bertransformasi. Dengan demikian Rumah Kaca bukan lagi kata benda, melainkan kata kerja. Maka perumahkacaan adalah sebuah keniscayaan.

Lalu apa hubungannya dgn tubuh dan dan negara?

Mari kita berjalan ke masa klasik. Pernahkah anda main ke Candi Sukuh? Atau Jolotundo? Atau Monumen Nasional? Di sana tubuh dan reproduksi dirayakan. Penyatuan antara Kama dan Ratih adalah sebuah keniscayaan. Oh iya, soal Kama Ratih, saya tidak hanya bicara tentang Lingga dan Yoni, melainkan bagaimana tubuh dikonstruksi. Pada masa klasik, tubuh adalah sesuatu yang dirayakan. Ia bukan lah sesuatu yang tabu dan cabul hingga harus disembunyikan.


Candi Belahan, Pasuruan

Tubuh adalah sesuatu yang bersifat sakral. Ketika tubuh difungsikan dalam kapasitasnya sebagai reproduksi, ia menjadi sesuatu yang ilahiah, suci, dan sakral. Ia adalah jembatan kehidupan. Ia adalah kehidupan itu sendiri. Namun negara memandang tubuh dengan sama sekali berbeda. Tubuh adalah sesuatu yang profan, duniawi, gelap. Tubuh kemudian dicerabut dari makna dan otonominya. Tubuh tidak lagi dirayakan. Ia harus disembunyikan, ditutupi, dihilangkan otonomi dan otoritasnya. Tubuh harus diturunkan harkatnya, dari perihal keilahian menjadi perkara duniawi. Tubuh di rekonstruksi, redefinisi, dan di reposisi. Tubuh kemudian dibedakan. Tubuh laki-laki versus tubuh perempuan. Masing-masing memiliki beban kultural, masing-masing terjerembab dalam kegelapan yang profan. Tubuh sebagai diskursus menghilang, menjadi tubuh sebagai anatomi dan fisiologi semata.

Tentu saja negara bukan satu-satunya yang bermain dalam menjatuhkan tubuh ke dunia penuh lendir ini. Barbara Creed (1993) memiliki pandangan menarik, mengenai tubuh, dalam hal ini tubuh perempuan, sebagai monstrous feminine. Bahwa tubuh perempuan dinilai lebih rendah ketimbang tubuh laki-laki karena perempuan dianggap tidak mampu mengontrol tubuhnya sendiri. Menstruasi dilihat sebagai kekalahan perempuan dalam mengontrol tubuhnya. Menstruasi dianggap sebagai darah kotor yang harus disembunyikan dalam relung tergelap kehidupan.  Sebagaimana menstruasi, begitu pula menyusui. Tindakan menyusui, mengeluarkan air kehidupan dari ibu ke anak, dilihat sebagai sesuatu yang harus ditutupi.

Hal ini sejatinya mengerikan, bahwa menstruasi pada hakikatnya adalah anugerah yang tidak dibuahi. Menstruasi secara inheren adalah pertanda dan prasyarat dari anugerah terbesar bagi perempuan: menjadi ibu. Kita bisa debat sepanjang hari apakah kehamilan itu angerah atau bukan, tapi yang ingin saya katakan adalah, bahwa penempatan tubuh perempuan sebagai monster adalah sebuah penghinaan akal sehat dan pengingkaran pada konsteks sosio-historis masyarakat. Jika anda pernah ke Jolotundo, anda akan mengerti, bahwa masyarakat memandang suci air yang keluar dari payudara arca Sri, Cri dari Wisnu. Bahkan dalam masa klasik, penggambaran dewa-dewi selalu diletakkan secara bersamaan. Sebab Brahma, Wisnu, Siwa adalah dewa, ia membutuhkan pasangan untuk membawa anugerahnya kepada seluruh manusia. Para dewi-dewi ini, Laksmi, Sri, Durga, bukanlah wakil, melainkan pemegang kunci dari kekuatan adikodrati para dewa.

Saya pikir hingga era Soekarno, negara masih membebaskan tubuh sebagai diskursus. Adalah gonjang-ganjing 65 yang mengubah posisi tubuh melalui tarian harum bunga. Tahukah anda tarian itu? Konon tarian itu dilakukan oleh para perempuan setengah telanjang, berkalung bunga kamboja, yang dilakukan di atas jasad para jenderal yang dibunuh. Kita mengenal peristiwa itu sebagai G30S. Sebuah upaya makar yang dikonstruksi oleh negara yang dilakukan oleh PKI. Saya tidak tertarik bicara soal PKI, namun pada GERWANI. Gerwani atau Gerakan Wanita Indonesia pada awalnya organisasi ini bernama Gerakan Wanita Sedar (Gerwis). Didirikan pada 1950 dengan jumlah anggota sekitar 500 orang, di mana hampir seluruh anggotanya adalah mereka yang berpendidikan tinggi dan memiliki kesadaran politik. Secara ideologis, gerakan ini adalah kelajutan dari Istri Sedar, di mana anggota Gerwis umumnya memiliki hubungan dengan anggota Istri Sedar. Tahun 1954, Gerwis membuka diri bagi semua perempuan dan berencana menarik perempuan dari kalangan massa yang lebih luas, dan untuk kepentingan ini lah nama organisasi ini berubah menjadi Gerakan Wanita Indonesia. Pada tahun 1955, Gerwani berhasil menempatkan empat anggotanya dalam parlemen, dan pada tahun 1956 jumlah anggota Gerwani mencapai lebih dari 500.000 orang (lihat Wieringa 1998).

Gerwani menarik karena dia adalah organisasi perempuan paling progresif dan agitatif pada masanya. Tujuan organisasi ini tidak jauh berbeda dengan organisasi lainnya: pendidikan untuk perempuan, politik agitasi untuk mendukung perempuan duduk di institusi pemerintah, dan penolakan terhadap poligami (anda bayangkan ketika Gerwani berhadapan dengan Soekarno yang poligami?). Organisasi ini juga memiliki hubungan khusus dengan berbagai berbagai kalangan perempuan, tidak hanya kaum perempuan kelas menengah perkotaan, namun juga perempuan pedesaan dan para buruh pabrik.

Gegar 65 mengubah peta politik sekaligus menjatuhkan tubuh ke titik nadir peradaban. Melalui tarian harum bunga, negara menjadikan tubuh sebagai sesuatu yang tabu dan profan. Kebebasan dan otonomi tubuh mengalami langkah mundur. Tubuh harus diatur. Sebab pengaturan terhadap tubuh adalah langkah awal dalam upaya rekonstruksi ideologi gender yang selama ini ada. Tubuh sudah cukup diberikan kebebasan. Kebebasan ini berbahaya, sebab ia hanya melahirkan tarian harum bunga. Maka untuk mencegah kenistaan ini terus berlanjut, maka mau tidak mau, suka tidak suka, tubuh harus dikendalikan. Tarian harum bunga adalah sebuah konstruksi fakta, bahwa tubuh dan kebebasan adalah dua hal yang menjadi awal malapetaka. Sebagian dari kita mengimani itu, hingga hari ini.

 

Siapa aktor fundamentalisme?

Bagi saya, negara adalah peletak awal fundamentalisme. Saya memaknai fundamentalisme sebagai gerakan atau upaya untuk kembali ke aspek fundamental. Makna itu sendiri sangat ambigu sebab bergantung pada dua hal: Pertama, aspek fundamental apa? Kedua, dari sudut pandang siapa? Dalam konteks Rumah Kaca, maka jelas negara menjadikan ideologinya sebagai aspek fundamental, dan karena ideologi itu secara inheren ada pada negara, maka jelas sudut pandangnya adalah sudut pandang negara.

Fundamentalisme negara adalah pengaturan dasar bahwa tubuh adalah terpidana yang harus dikembalikan ke kodratnya. Laki-laki sebagai imam, suami, kepala rumah(ber)tangga, pencari nafkah, dan anggota masyarakat. Perempuan sebagai makmum, istri, anggota rumah(ber)tangga, ibu, dan anggota masyarakat. Tubuh dilihat sebagai elemen biologis, maka tubuh harus melayani kodratnya. Pemahaman kita atas tubuh pun perlahan berubah. Perempuan di Bali misalnya, hingga era 1960an, tidak menggunakan kain untuk menutup dada mereka. Namun negara melihat itu sebagai kemunduran peradaban, maka kain penutup dada diperkenalkan.

Negara mulai masuk dalam diskursus tubuh. Melalui serangkaian peraturan, negara mengatur tubuh. Melalui apa? Salah satu yang paling jelas ada pada UU 1/74 Tentang Perkawinan. Negara secara jelas mengatur pada siapa kita bisa kawin, kapan, apa yang harus dilakukan dalam perkawinan itu sendiri. Cukupkah? Rupanya tidak. Atas nama pembangunan, negara masuk dalam urusan ranjang. Pada 16 Agustus 1967, negara memperkenalkan program pembatasan kehamilan. Melalui KB, alias Keluarga Berencana, negara mengatur bahwa 2 anak cukup. Namun cukupkah itu? Lagi-lagi tidak. Negara bahkan mengatur bahwa kawin dan hanya punya dua anak saja tidak cukup. Baik suami dan (terutama) istri, harus sesuai dengan gambaran ideologi gender negara.

Maka negara memperkenalkan antitesa Gerwani: Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di tingkat komunitas, dan organisasi sejenis: Dharma Wanita dan Dharma Pertiwi. Setiap organisasi membawa beban ideologi yang nyaris sama. PKK misalnya, membawa lima ideologi pokok, yaitu: (1) perempuan sebagai istri pendamping setia bagi suami, (2) ibu pendidik anak dan pembina generasi muda penerus bangsa, (3) pengatur rumah tangga, (4) sebagai pekerja penambah penghasilan keluarga, dan (5) sebagai anggota masyarakat yang berguna.

Anda lihat, tubuh menerima beban baru. Ia tidak hanya tercerabut dari akar ilahiahnya, namun juga harus melaksanakan serangkaian Dharma agar dia diakui oleh negara. Dharma yang dilihat bukan lagi sekedar melalukan kebaikan untuk memperoleh pahala, melainkan harus dilakukan agar eksistensi dari tubuh itu sendiri tetap ada. Melalui organisasi-organisasi ini negara menggunakan instrumentasi gender berbasis tubuh, dengan mereduksi dan membakukan peran gender: dalam sosok perempuan yang mengabdikan hidupnya demi keluarga, sosok istri teladan, ibu yang mengasuh anak-anaknya; dalam sosok laki-laki yang pergi pagi pulang malam demi nafkah, sosok suami teladan, ayah yang bertanggungjawab atas penghidupan keluarganya.

Inilah fundamentalisme awal. Bibitnya ditanam langsung oleh negara.

Ada satu masa, ketika rezim akhirnya berganti. Negara mulai kehilangan kendali atas bibit yang ditanam dan dipelihara. Gegar reformasi 98 membawa nuansa baru dalam cara pandang kita atas negara, namun tidak terhadap tubuh. Selama 32 tahun kita menutup tubuh, menutup akal sehat, sebagai aspek fundamental dalam politik kebudayaan kita. Maka gegar 98 hanya mengubah aktor negara. Jika sebelumnya bibit fundamentalisme itu, pengekangan atas tubuh, dilakukan oleh aktor negara di tingkat pusat, kini bibit itu menyebar bak sampar. Mulai dari pusat hingga daerah. Sponsor dan motornya memang bukan lagi negara, melainkan moral dan agama.

 

 

Jadwal Salat