• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

bacaan hari ini: islam in java, normative piety and mysticism in the sultanate of yogyakarta – M.R. Woodward

on . Posted in Catatan Tepi

I
 
Membaca buku ini mengingatkan saya pada komentar seorang teman, yang juga pengajar di IAIN Sunan Ampel, yang mengatakan bahwa agama tidak jatuh dari syurga dan tidak pernah sepi dari dinamika masyarakat. Teman saya itu mengatakan, entah bergurau atau tidak, bahwa Islam sendiri tidak lah “difaks dari langit”. Islam sebagai agama tidak lah menyebar dan mengakar dengan sendirinya. Terdapat proses, anggap lah kalau kita sepakat untuk membuat model periodik, mengenai waktu Islam datang, berkembang, dan melembaga dalam kehidupan masyarakat di Indonesia.
 
Buku Woodward, telah diterjemahkan ke dalam Bahasa, menceritakan kisah pelembagaan Islam di Jawadwipa, lebih tepatnya di Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat. Buku ini, menurut pengakuan Woodward, adalah bentuk kritik terhadap tulisan-tulisan terdahulu, salah satunya Geertz, yang menitikberat-kan Islam hanya pada kalangan tertentu, yakni kaum santri dan priyayi. Ortodoksi Islam, sebagaimana dikemukakan Geertz, bahwa Islam tidak pernah dipegang teguh di Jawa kecuali oleh komunitas kecil pedagang dan kerabat kerajaan.
 
Menarik untuk dicermati dalam bagian pembukaan buku ini, bahwa Woodward yang semula datang dengan membawa seperangkat pengetahuan mengenai Hindu dan Buddha, dan bertujuan untuk menemukan prototipe Hindu dan Buddha dalam mistisisme Jawa, dan tidak menemukan hal tersebut. Dalam konteks historis, Yogyakarta - wilayah kerajaan ini muncul setelah perjanjian Gianti yang membagi Mataram menjadi dua kerajaan, yakni Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta, belum lagi wilayah kerajaan yang lebih kecil seperti Pakualaman dan Mangkunegaran – adalah wilayah yang didominasi pengaruh Hindu dan Buddha, yang sempat berkuasa penuh di sana. Meskipun pusat kerajaan berpindah ke wilayah timur, namun pusat keagamaan tetap berada di wilayah tersebut.
 
Kedatangan Islam tidak lah dengan serta merta mengubah kepercayaan dan tradisi yang telah ada sebelumnya. Sebagaimana difokuskan oleh Woodward mengenai elemen-elemen Hindu yang masih tertanam, seperti konsep kasekten yang diasosiasikan dengan tapa, dan tradisi wayang kulit. Wayang sendiri, meskipun mengambil akar dari tradisi cerita Mahabharata dan Ramayana, namun telah mengalami sejumlah perubahan signifikan. Woodward mencatat bahwa elemen-elemen Hindu yang muncul tidak lah melukai dasar fundamen dari prinsip-prinsip Islam, sebab elemen-elemen tersebut menemukan justifikasikanya dalam tradisi Islam. Meskipun terdapat penjelasan lebih rinci mengenai syirik, namun Woodward sendiri menyatakan bahwa pandangan orang Jawa mengenai syirik itu sendiri sangat beragam. Meskipun dapat dilihat batasan-batasan syirik jika dilihat dari pandangan santri dan kejawen.
 
Dalam penelitiannya, berbagai ritual yang diobservasi dan mistisisme kejawenmisalnya, dikatakan sebagai bentuk derivasi dari tradisi Islam. Bentuk-bentuk kehidupan di wilayah Yogyakarta dengan segera memberikan gambaran yang lebih rinci, di tambah lagi dengan penggunaan teks-teks klasik, yang menggambarkan dinamika kehidupan yang bernuansa Islam dalam setiap tarikan napas kehidupan di Yogyakarta. Islam Jawa, atau lebih tepatnya Islam di Jawa, menggambarkan pengaruh Islam sebagai kekuatan yang predominan dalam kepercayaan religius, termanifestasi dalam tindakan-tindakan keagamaan, dan membentuk karakter interaksi sosial dan kehidupan sehari-hari dari seluruh segmen masyarakat. Dalam hal ini, Islam sebagai agama dan kepercayaan telah menyelusup masuk ke dalam seluruh sendi kehidupan masyarakat.
 
II
 
Adalah penting untuk melihat pada konteks historis, bahwa pernah dalam suatu masa, Yogyakarta adalah wilayah yang belum mengenal Islam. Islam sendiri secara formal, dianggap, muncul setelah berdirinya kerajaan Demak, yang kemudian runtuh dan beralih ke Pajang, dan kemudian ke Mataram. Adalah Panembahan Senopati yang dianggap memiliki jasa paling besar dalam membangun Mataram Islam, dan mencapai masa kejayaannya pada Sultan Agung. Meskipun terdapat friksi, yang berakhir pada perjanjian Gianti, babak sejarah yang muncul akibat kedatangan dan kepentingan VOC, baik Surakarta maupun Yogyakarta tetap menarik akar historis mereka ke dua sosok ini. Akar historis yang termanifestasi dalam benda-benda pusaka, dan terutama sekali adalah klaim atas wahyu.
 
Melalui teks-teks klasik, Serat Centhini misalnya, dapat dilihat mengenai kehidupan keagamaan di Yogyakarta pada masa lalu. Penggunaan teks-teks ini menjadi penting, sebab teks-teks historis ini memiliki tujuan untuk memberikan legitimasi dari dinasti yang memerintah. Jauh sebelum Centhini hadir, telah ada Pararaton maupun Negarakrtagama yang bercerita mengenai Majapahit. Serat Centhini sendiri memiliki tujuan utama: menggambarkan hubungan antara perpindahan kekuasaan dari Majapahit ke kerajaan-kerajaan Islam awal di Jawa (Demak), yang kemudian diteruskan ke Mataram. Hal ini misalnya dapat dilihat dari Serat Putra Raja yang menjelaskan hubungan genealogis dari Sultan Agung hingga jauh ke masa lalu, dan hubungan-hubungan yang menguat dari munculnya Mataram sebagai penerus kerajaan-kerajaan yang sebelumnya ada di Jawa.
 
Dalam tradisi politik Jawa, kekuasaan tidak serta merta runtuh bersamaan dengan runtuhnya sebuah dinasti atau kerajaan. Kekuasaan dilanggengkan oleh pihak yang mengaku sebagai penerus dari kerajaan sebelumnya. Meskipun memiliki kepercayaan yang berbeda, namun lokus utama kekuasaan tetap berada di tangan raja yang dianggap memiliki hubungan-hubungan genealogis yang dapat menjadi dasar justifikasi keberadaan dan kekuasaan yang dipegangnya. Serat Putra Raja setidaknya menggambarkan hal yang sama. Bahwa kerajaan Majapahit dan Demak memiliki basis agama yang berbeda nampaknya bukan lah sebuah masalah penting untuk diributkan.
 
Kedatangan Islam sendiri memunculkan banyak pendapat di kalangan, yang masing-masing mendasarkan dari sedikitnya bukti dan peninggalan yang dapat memberikan informasi akurat mengenai kedatangan Islam di Jawa. Majapahit sendiri meninggalkan informasi mengenai sejumlah kecil pedagang muslim di wilayah mereka, yang dapat ditelusuri informasinya pada peninggalan cungkup makam. Kedatangan para pedagang muslim membawa pengaruh tersendiri dalam penyebaran Islam di Jawa, namun posisi raja muslim lah yang memungkinkan pelembagaan Islam menjadi agama yang resmi di pulau Jawa.
 
Demak menjadi penanda utama masa penyebaran dan pelembagaan Islam. Melalui cerita sembilan wali atau wali songo yang menyebarkan Islam ke seluruh pelosok Jawa, dan pengaruh Sultan Demak yang mengkorporasi Islam ke dalam sistem pemerintahan, berpengaruh kuat pada penerimaan dan pelembagaan Islam di masyarakat. Yogyakarta sendiri, sebagaimana telah dijelaskan, secara khusus telah menarik garis genealogis melalui Sultan Agung ke Demak, dan secara terang menyatakan sebagai raja muslim yang memiliki peran sebagai kalipatullah (wakil Allah) dan panatagama (pengatur urusan agama).
 
Sebagai kalipatullah dan panatagama, maka kehidupan keagamaan masyarakat sepenuhnya berpusat pada diri sultan. Adalah penting untuk mengingat, bahwa penyebaran dan pelembagaan Islam tidak selalu menitikberatkan pada Islam per se, namun bagaimana Islam mengalami “modifikasi” agar dapat dengan mudah diterima di masyarakat. Akar tradisi Islam di mana pun tetap lah sama. Bahwa sultan di Jawa atau Pasai, hingga wilayah lain di belahan dunia, tetap meyakini ajaran yang dibawa oleh Muhammad SAW, yang diturunkan melalui wahyu yang dibawa oleh Jibril, sebagai pesan dan petunjuk dari Allah bagi ummat manusia. Perbedaannya terletak pada interpretasi.
 
Woodward sendiri mencatat, bahwa interpretasi Islam sebagai tradisi dan sistem sosial menguat berdasarkan empat prinsip dasar: ajaran tauhid (pengesaan Allah), pembedaan sufistik mengenai lahir dan batin, pandangan Al Quran (? [tanda tanya dari saya]) dan sufistik mengenai hubungan antara humanitas dan divinitas sebagaimana termanifestasi dalam hubungan antara kawula dan gusti – konsepjumbuhing kawula gusti adalah sentral dari pemikiran religius Jawa sekaligus teori politik Jawa - , dan kesamaan dari model mikrokosmos dan makrokosmos dari pandangan sufi dan tradisi Hindu Jawa.
 
III
 
Sufisme menjadi entri poin penting tersendiri ketika membahas mengenai Islam Jawa. Sufisme dan kesalehan normatif santri merupakan dua entitas yang berbeda namun sulit dibedakan. Meskipun santri diidentikkan dengan mereka yang belajar ataunyantri di pondok pesantren, namun santri di sini merujuk pada segmen dari kalangan muslim Jawa yang mementingkan kesalehan normatif, seperti melaksanakan salat lima waktu, zakat, puasa, haji, dan mempelajari teks religius Arab (maksudnya barangkali Al Quran). Secara umum, terdapat dua tipe santri: mereka yang mengikuti pula kegiatan ritual dan aspek mistisisme Islam Jawa, dan mereka yang menolak ikut dan melakukan ’puritanisme’ ajaran dan memiliki hubungan kuat dengan Timur Tengah dan gerakan fundamentalis Asia Selatan dan/atau gerakan modernis.
 
Bagi kebanyakan santri tradisional, dalam tipologi Woodward sebagai kaum tua, internal diri atau batin lebih penting ketimbang eksternal diri atau lahir. Meskipun demikian, kesalehan yang nampak di luar pada dasarnya adalah kultivasi dari pandangan internal-eksternal, bagaimana dialektika yang terbangun antara batin-lahir. Apa yang dilakukan oleh raga adalah bentuk-bentuk lahiriah, yang merupakan manifestasi dari jiwa yang didorong oleh batin manusia. Pada hakikatnya manusia tidak dapat melepaskan dua hal ini sebagai entitas yang berbeda.
 
Sufisme Jawa mengenal sosok-sosok yang disucikan, sosok-sosok yang dipercaya sebagai penyebar utama agama Islam di Tanah Jawa: wali songo. Tradisi ziarah ke makam para wali maupun kramat (asal katanya adalah karomah) yang dinisbatkan pada peninggalan para wali menggambarkan tingginya rasa hormat terhadap mereka. Di Jawa Tengah, di antara para wali ini, Sunan Kalijaga memiliki posisi yang paling utama. Hal ini tentu saja mudah dipahami, sebab Kalijaga dianggap sebagai salah satu arsitek dari Masjid Kerajaan Demak, dan sebab para wali senior utamanya ada di Jawa Timur. Ada pula Syaikh Maulana Maghribi, yang dianggap penyebar Islam pertama dan keturunan langsung dari raja Makkah. Melalui kedua sosok ini, pihak kerajaan membangun hubungan-hubungan mitologis, dan tentu saja kita tidak mungkin melewatkan sosok perempuan paling berpengaruh: Kanjeng Ratu Kidul.
 
Tradisi sufisme mewujud pula dalam bentuk lain: sarana pendidikan dan ibadah. Masjid dan langgar merupakan representasi paling baik atas konsep ummah atau komunitas. Pelaksanaan salat lima waktu misalnya, memberikan gambaran yang jelas bagaimana fungsi masjid atau langgar, yakni sebagai tempat berkumpulnya komunitas. Masjid menjadi pusat komunitas dan melayani kegiatan-kegiatan keagamaan, termasuk di dalamnya adalah ritus kalenderikal yang sering dilakukan secara berkala. Di satu sisi, masjid melambangkan Islam sebagai agama yang demokratis, sebab ketika berada di masjid, seseorang tidak ditanyakan apa posisinya. Di sisi yang berbeda, meskipun Islam mengklaim sebagai agama yang demokratis, namun hirarki memainkan peran penting dalam organisasi masyarakat lokal. Seringkali seorang, secara de fakto sebagai pemimpin komunitas, apalagi jika masjid tersebut di atas tanah wakaf miliknya. Terdapat pula organisasi supralokal yang berasal dari tradisi pesantren. Dalam model organisasi ini, dipimpin oleh seorang kiai, yang mendapat pendidikan dari Timur Tengah, utamanya Mekkah dan Madinah.
 
Posisi paling signifikan dalam tradisi Islam Jawa adalah sultan, sebab sultan, sebagaimana terlihat dari gelar yang disandangnya yakni Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengkubuwana Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Kalipatullah, adalah kalipatullah dan panatagama. Posisi sultan menjadi sangat penting, sebagaimana tersirat dalam Serat Cabolek, bahwa sultan berperan sebagai regulator dari hukum Islam. Dalam hal ini keberadaan diri sultan memiliki tujuan pokok untuk melindungi tradisi kenabian, dalam hal ini tradisi Islam. Posisi sultan sebagai penerus Nabi Muhammad, sebagai pemerintah bukan sebagai nabi, sekaligus sebagai wakil Allah, menjadikan posisi sultan menjadi sangat strategis.
 
Dalam diri sultan lah segala kehidupan di Yogyakarta beredar. Jumbuhing kawula gustimerupakan gambaran dari penyatuan makrokosmos dan mikrokosmos di dalam diri sultan. Aspek teoritik dari model seperti ini bersumber dari konsepsi ummat muslim mengenai khalifatullah atau wakil Allah. Secara prinsipil, khalifatullah adalah wakil Allah di muka bumi dan penerus Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, dalam sosok sultan lah seluruh persoalan keagamaan disandarkan. Dalam posisi yang sama, sultan pula bertindak sebagai hamengkubuwana, orang yang memangku alam raya, yang menunjukkan posisi bahwa di bawah kendalinya lah kehidupan orang-orang, terutama masyarakat Yogyakarta. Berdasarkan mandat ilahiyah yang diberikan kepadanya, sultan berkewajiban menjalankan roda pemerintahan dan melakukan fungsi-fungsi keagamaan.
 
IV
  
Kehidupan orang-orang Jawa di Yogyakarta, dengan mengikuti setiap jelujur benang historis, dapat dengan mudah dilihat sebagai perpaduan yang unik antara Islam dan lokal. Islam lokal, atau Islam Jawa, pada asalinya adalah Islam yang meresap ke dalam setiap elemen pembentuk masyarakat Jawa. Adalah keliru dengan mengatakan bahwa tradisi yang berlangsung di Yogyakarta adalah tradisi yang bukan Islam, sebagaimana dibuktikan oleh Woodward, bahwa tradisi-tradisi tersebut memiliki justifikasinya dalam tradisi Islam.
 
Apa yang kita sebut sebagai tradisi Islam sendiri tidak lah semata-mata Islam yang digulirkan di Timur Tengah. Sebab Islam tidak hanya datang dan menyebar, Islam menyebar sejalan dengan tradisi lokal dan perlahan melembaga. Pelembagaan Islam di Yogyakarta tidak dapat dilepaskan dari konteks historis dan kultural, terutama konteks sufistik dan justifikasi yang muncul dalam teks-teks klasik. Tentu saja sangat mustahil untuk membicarakan mengenai Islam Jawa tanpa membicarakan sosok yang kepadanya tanggungjawab untuk melestarikan Islam diletakkan: sultan.
 
Sultan memiliki wewenang utama, tidak hanya karena dia dianggap sebagaikalipatullah, namun juga karena dia lah panatagama. Dalam sosok sultan lah terletak elemen-elemen Islam Jawa yang kental, elemen-elemen yang unik, elemen-elemen yang membentuk kehidupan. Dari elemen-elemen itu lah dunia kosmos berputar, membentuk gugusan, yang menjadi landasan kehidupan Yogyakarta.
 

 

 

 

 

Jadwal Salat