• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

bacaan hari ini: global ethnoscapes, notes and queries for a transnational anthropology – A. Appadurai

on . Posted in Catatan Tepi

 “fantasy is now asocial practice; it enters, in a host of ways, into the fabrication of social lives for many people in many societies”

 
Appadurai mengenalkan konsep ‘ethnoscapes’ yang merujuk pada dilema yang dihadapi oleh para etnografer dalam menghadapi gejala dunia global yang semakin kosmopolitan. Appadurai sesungguhnya ingin agar kita memikirkan kembali berbagai studi etnografi yang pernah dilakukan, dan apakah studi semacam itu tetap dapat kita lakukan di era kosmopolit seperti saat ini.
 
Secara sederhana Appadurai ingin agar kita melihat perkembangan saat ini, di mana fantasi memainkan peranan yang penting. Fantasi yang turut dikembangkan oleh media menydiakan berbagai mimpi akan perubahan yang tersedia bagi setiap orang di setiap komunitas. Deteritorialisasi menjadi konsekuensi logis dari adanya fantasi-fantasi ini. Fantasi liar yang diwujudkan oleh orang-orang, dengan melakukan mobilitas, tidak hanya antardaerah, antarwilayah, namun antarnegara. Kondisi riil yang dihadapi oleh setiap orang di berbagai wilayah mendorong setiap orang untuk menemukan jalan keluarnya, dan media secara tidak langsung memberikan gambaran jalan keluar, yang bahkan semu sekalipun dianggap sebagai solusi yang paling masuk akal. Appadurai bercerita banyak, bagaimana orang-orang India yang bermigrasi transnasional, bahkan Appadurai sendiri termasuk di dalamnya. Saya rasa kasus TKI kita pun menyiratkan persoalan yang nyaris sama.
 
Apa implikasinya dari deteritorialisasi dan ethnoscape dalam etnografi? Bagi Appadurai, implikasinya adalah etnografi tidak lagi dapat berlindung di balik tebalnya deskripsi dari kondisi local atau partikular. Etnografi harus mampu melihat adanya dinamika yang riil dalam sudut pandang dan skala yang lebih besar. Bagaimana kehidupan seseorang terpengaruh bahkan berubah sama sekali berkait dengan semakin kosmopolitnya kehidupan. Etnografi tidak lagi dapat berpijak pada masyarakat lokal yang memiliki teritori yang jelas. Deteritorialisasi mendorong etnografi untuk melihat dunia yang lebih luas, bahwa kondisi riilnya adalah, apa yang dahulu tidak ada di satu wilayah, pada saat ini dapat dengan mudah ditemukan. Globalisasi mendorong setiap wilayah untuk mensejajarkan dengan wilayah lain.
 
Imaji dalam kehidupan sosial turut mendorong perubahan ini. Fantasi yang di dorong oleh media menciptakan kelompok-kelompok yang terus berubah, berpindah, dan bertransformasi. Hal ini lah yang agaknya sulit dilakukan oleh etnografi, terutama jika etnografi terus berpijak pada landasan klasiknya. Dalam pandangan Appadurai, “the ethnographer needs to find new ways to represent the links between the imagination and social life”, ini lah tantangan utamanya. Bagi Appadurai, kaitan antara imajinasi dan kehidupan sosial terletak pada kondisi dunia yang mengglobal dan perkembangan deteritorialisasi. Ketebalan deskripsi etnografi harus dilandaskan pada perbedaan yang diletakkan pada kesadaran akan fakta bahwa kehidupan yang biasa saat ini diperkuat bukan dari ketersediaan materi namun posibilitas yang diberikan oleh media bagi setiap orang untuk mewujudkan apa yang ia inginkan.
 
Appadurai bercerita mengenai sang istri yang pergi ke India untuk menemui Thangam Bhattar, namun apa yang ia temui lebih mengagetkan dan ironis. Thangam Bhattar telah pergi ke Houston, padahal si istri telah jauh-jauh dari Philadelphia ke India untuk menemuinya. Ini hanya lah sekelumit kisah kecil bagaimana perpindahan transnasional menjadi semakin mungkin, yang semakin mendorong deteritorialisasi, dan pada akhirnya mendorong setiap orang untuk menciptakan dunianya sendiri. Kondisi ini memberikan tantangan tersendiri, terutama bagaimana kita berupaya memahami dunia yang semakin global dan batas-batas teritori yang semakin kabur.
 

 

 

 

Jadwal Salat