• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

bacaan hari ini: how to read ethnography - P.G. y Blasco dan H. Wardle

on . Posted in Catatan Tepi

Ini adalah pertemuan kedua saya dengan buku yang ditulis oleh Blasco dan Wardle, setelah sebelumnya saya bertemu dalam kuliah di program pascasarjana Universitas Airlangga. Tidak sulit membaca buku ini. Hal ini disebabkan karena buku ini memang dimaksudkan bagi para pembaca etnografi untuk dapat lebih mudah memahami apa yang mereka baca tanpa sedikit pun menghilangkan hak si pembaca untuk berimajinasi. Buku ini adalah pengantar yang mampu memberikan gambaran apa yang dilakukan oleh etnografer, bagaimana etnografer bersikap, dan terutama adalah bagaimana pembaca mengambil sikap dan posisi terhadap tulisan etnografi yang ia baca. Sebelum saya berbicara lebih jauh, satu hal yang harus diperjelas, ulasan buku ini hanya pada chapter 3.
 
I
 
imagine yourself suddenly set down surrounded by all your gear, alone
 
Kalimat pembuka di atas berasal dari Malinowski ketika ia melakukan penelitian di Trobriand. Dalam lingkungan yang asing itu lah sebuah karya etnografi dihasilkan. Perasaan ini, terpisah dari kehidupan normal, adalah tipikal dari penelitian antropologi, dan menjadi sangat penting dalam penulisan etnografi. Di sisi yang berbeda, perasaan ini memberikan keuntungan luar biasa: melalui rasa terasing ini lah seorang peneliti dapat lebih mudah melihat sesuatu yang penting dalam kehidupan sosial di antara komunitas yang ditelitinya. Penulisan etnografi, dalam hal ini, menjadi jalan utama bagi peneliti untuk menghilangkan keterasingan tersebut. Boleh jadi hal ini tidak lebih dari delusi, namun setidaknya hal ini yang saya lihat dilakukan oleh para etnografer.
 
Penulisan etnografi dapat dilihat sebagai usaha untuk mentranslasikan, bahkan lebih jauh, mengkomparasikan, apa yang telah ia ketahui, dengan konteks kebudayaan maupun akademik, dengan konteks asli komunitas yang ia teliti. Beberapa etnografer secara langsung mempergunakan konteks kebudayaannya sebagai langkah awal untuk memahami sekaligus menjelaskan mengenai komunitas yang ia teliti. Beberapa lainnya mencoba melakukan komparasi dengan model-model lain yang telah ia ketahui sebelum akhirnya menjelaskan mengenai komunitas yang ia teliti. Apapun model yang digunakan, semuanya bermula dari satu hal: komparasi.
 
Komparasi atau perbandingan adalah hal pokok yang dilakukan oleh para etnografer, baik di masa terdahulu maupun yang lebih modern. Meskiipun dikatakan komparatif, namun komparasi ini tidak lah mudah dilihat secara eksplisit, namun lebih secara implisit. Saya sendiri memang sangat jarang menemukan kajian etnografi yang secara eksplisit menyatakan bahwa ia melakukan komparasi. Tindakan komparasi ini bahkan bertindak lebih jauh lagi: bahwa setiap etnografer melakukan studi atas suatu komunitas dengan pengetahuan dari kelompok lain, dan hal ini membawa implikasi lain: hal ini bahkan membentuk tipe pertanyaan yang diajukan dan analisis atas material data yang ditemukan.
 
Komparasi yang dilakukan pada dasarnya mencoba untuk melihat dua hal: melihat adanya kesamaan dan untuk menunjukkan adanya perbedaan. Hal ini sebenarnya logis saja, sebab ketika orang melakukan komparasi, kedua hal itu lah yang sebenarnya coba ia lihat. Meskipun komparasi dapat dilakukan dengan sangat leluasa dalam teks yang ditulis oleh si peneliti, namun Blasco dan Wardle menyatakan bahwa dengan mengenai pada titik mana komparasi itu dilakukan, dapat dilihat tujuan yang hendak dicapai maupun posisi teoritis dari peneliti. Boleh jadi posisi ini pun adalah hasil dari penelitian yang menggunakan komparasi. Pada masa lalu, berbagai konsep dan teori dalam etnografi lahir dari kegiatan penelitian komparasi. Ketika satu penelitian di lakukan di satu wilayah, maka penelitian di wilayah baru seringkali mencoba untuk melihat apakah terjadi kesamaan atau kebedaan, tentu saja hal ini menggunakan model komparasi. Hal ini dimungkinkan, sebab antropologi sebagai ilmu terus mengembangkan diri dengan membuka sebanyak mungkin data baru, membuka seluas mungkin ruang diskusi, dan membuka sebanyak mungkin kesempatan masuknya pengetahuan baru yang dapat memperluas pengetahuan antropologi.
 
 
II
 
Etnografi adalah satu upaya yang dilakukan oleh etnografer untuk menyingkap berbagai dimensi dalam suatu komunitas dengan menceritakan detail. Detail-detail tersebut menemukan signifikansinya dengan kerangka yang lebih luas atau lebih sempit dari konteks. Konteks-konteks yang ada harus dlihat sebagai sebuah gambaran luas dengan orang-orang sebagai pengisi ruang-ruang dari konteks-konteks tersebut. Sebagai sebuah teks, etnografi memuat berbagai variasi elemen, situasi, perilaku, respon, dan lain sebagainya. Di sisi yang berbeda, dengan luasnya cakupan etnografi, hal ini memungkinkan, baik penulis maupun pembaca, untuk menemukan berbagai variasi dan interpretasi yang lebih luas dan leluasa.
 
Sebagai sebuah karya, etnografi juga mengkayakan dirinya dengan berbagai deskripsi yang maha luas dari masyarakat. Elaborasi dalam etnografi melibatkan proses-proses diferensiasi, proses yang mana terjadi dalam masyarakat, namun si peneliti lah yang meletakkan dasar akademik atas diferensiasi tersebut. Kontras-kontras dapat dimunculkan dengan memfokuskan pada karakteristik peran maupun status. Hal ini mudah dilihat dari berbagai karya etnografi yang telah ada, di mana selalu mengambil fokus pada diferensiasi di masyarakat yang menjadi subjek penelitian. Adanya diferensiasi ini membawa pada satu kondisi logis: menjelaskan kompleksitas suatu komunitas. Kompleksitas ini menunjukkan kapasitas sosial atau agensi dari berbagai aktor yang ada dalam komunitas tersebut. Kompleksitas ini menjadi salah satu basis dari interpretasi maupun eksplanasi dalam karya etnografi.
 
Secara sederhana, etnografi yang dilakukan oleh etnografer berupaya untuk menunjukkan kompleksitas di satu sisi, dan pola-pola sosial yang tidak hanya terdiferensiasi namun juga terinterkoneksi di sisi yang lain. Interkoneksi ini dapat dilihat dari aspek-aspek integratif maupun agensi yang dilakukan oleh aktor-aktor. Dalam hal ini, etnografi mencoba melihat bagaimana dimensi individu ketika diposisikan dalam konteks komunitas. Dimensi individu sendiri dapat dilihat dari status maupun peran yang dibebankan kepada individu itu. Di sisi yang berbeda, dimensi individu sendiri sangat unik dan variatif berdasarkan perbedaan dari pengalaman setiap individu, dan hal ini menjadi salah satu topik kajian yang populer di etnografi, tentu saja dengan mempertimbangkan kompleksitas pengalaman masing-masing individu dalam konteks komunitas.
 
 
III
 
“how can something as interesting as other peoples lives
become so uninteresting when anthropologist write about it?
 
Pertanyaan yang sama, tentu dengan bahasa yang berbeda, pernah saya ajukan ke dosen saya ketika saya menginjak tahun kedua di program sarjana saya. Ketika saya membaca berbagai karya etnografi, entah mengapa, para etnografer agaknya lebih senang menyulitkan gambaran yang sebenarnya sederhana. Hal yang membuat saya frustasi, bahkan hingga saat ini.
 
Satu hal yang saya pelajari dari buku ini adalah kesadaran, bahwa gambaran sulit yang dibuat oleh para etnografer pada dasarnya adalah upaya mereka untuk menjelaskan kompleksitas masalah yang mereka hadapi dan temukan jawabannya. Etnografi secara langsung maupun tidak, berupaya untuk menyingkap hubungan-hubungan berdasarkan peran-peran yang dimainkan dan kapasitas sosial yang ada. Hal ini boleh jadi membawa kita pada satu kondisi umum, bahwa apa yang ditulis dalam karya etnografi adalah upaya untuk menangkap gambar dari lensa yang lebih lebar, dan dengan mengabstraksi sekaligus memfokuskan pada hubungan-hubungan ini, etnografer mencoba untuk memetakan secara lebih tegas mengenai kehidupan sosial dari subjek yang diteliti.
 
Tentu saja berbagai akjian etnografi yang memang mengambil dasar kajian dari suatu komunitas, tidak akan melepaskan diri berbagai metafor yang dipergunakan oleh komunitas tersebut. Metafor-metafor ini pada dasarnya digambarkan untuk memberikan penjelasan mengenai makna dari hubungan-hubungan yang sifatnya spesifik. Tugas etnografer tidak hanya berhenti dengan menjelaskan metafor-metafor tersebut, namun juga menganalisis kombinasi dari berbagai hubungan yang ada dan melihat kombinasi tersebut dalam konteks komunitas. Hal-hal ini dilakukan untuk memberikan penjelasan yang lebih gamblang, juga untuk memberikan penjelasan yang lebih logis dan rational mengenai kompleksitas subjek yang diteliti kepada pembaca. Hingga di titik ini saya mengakui bahwa Blasco dan Wardle benar, namun saya masih sulit mengerti mengapa para etnografer tidak mempermudah apa yang mereka bincangkan meskipun menggunakan metafor-metafor lokal? Barangkali Bapak dapat memberikan bantuan kepada saya.
 
Pemberian makna atas kompleksitas subjek penelitian bukan lah yang mudah. Berbagai aspek harus menjadi fokus penelitian, antara lain konteks arena, mode, maupun level analisis yang dapat menjadi kunci untuk memberikan pemahaman terhadap karya etnografi. Perbedaan lokus kajian dalam etnografi tentu saja akan berakibat pada perbedaan pengetahuan etnografis yang dihasilkan. Secara khusus etnografi menciptakan pandangan baru dengan mendirikan kerangka kerja yang baru terkait dengan pengetahuan dengan beberapa cara, entah itu dengan mencampur ulang berbagai arena atau level yang telah ada, atau dengan melakukan kontras dan mengkomparasi berbagai mode dari pengetahuan etnografis yang ada.
 

Jadwal Salat