• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

bacaan hari ini: writing against culture - Lila Abu-Lughod

on . Posted in Catatan Tepi

most American anthropologists believe or act as if ”culture,” notoriously resistant to definition and ambiguous of referent, is nevertheless the true object of anthropological inquiry

 
Tulisan Lila Abu-Lughod, jika boleh saya katakan, adalah tulisan yang menantang dan mempengaruhi banyak orang, termasuk saya. Meskipun ditulis pada tahun 1991, tulisannya tetap menarik untuk dicermati. Judul artikelnya sendiri menyatakan banyak hal, terutama kritiknya atas konsep ‘culture’, itu sebabnya ia memberikan judul yang brilian, ‘writing against culture’. Sangat banyak isu yang dibawa dalam tulisan ini, namun terutama isu-isu tersebut dilihat dari dua sudut pandang: feminist dan halfies. Halfies atau separuh-separuh, istilah yang ia pinjam dari Kirin Narayan, adalah orang-orang yang identitas nasional atau kulturalnya bercampur dengan adanya migrasi, pendidikan ke luar, atau asal-usul.
 
Abu-Lughod tidak hanya membawa banyak isu, tapi juga memberikan banyak pengaruh atas pergeseran konsep kebudayaan. Bagi Abu-Lughod, konsep kebudayaan yang selama ini kita anut harus didefinisikan ulang, ditinjau ulang, bahkan jika perlu, ditinggalkan. Dalam pandangannya, konsep kebudayaan sebagaimana yang ada saat ini sangat lah bias Barat dan sarat patriarki. Konsep kebudayaan beroperasi dalam diskursus antropologi tanpa banyak disadari bahwa konsep itu sendiri membawa nuansa hirarkis. Abu-Lughod melihat, bahwa ketika konsep mengenai kebudayaan dimunculkan dalam tradisi antropologi, sadar atau tidak, konsep tersebut sangat bias Barat. Hal ini mudah dimengerti sebenarnya, mengingat konsep tersebut memang muncul dari para antropolog Barat dan digunakan untuk menjelaskan mengenai kehidupan orang Non-Barat.
 
Bagi Abu-Lughod, ketika orang berbicara mengenai konsep kebudayaan, terdapat dua kelompok yang ketidakhadirannya tidak dianggap penting: kaum feminis dan halfies. Kritik utama feminis terhadap konsep kebudayaan terletak pada operasionalisasi konsep tersebut yang sangat bias laki-laki. Lebih celaka lagi manakala para feminis yang berkutat di bidang antropologi ini muncul, mereka hanya dianggap sebagai representasi atas gambaran kecil dari masyarakat karena hanya dianggap mempelajari hanya perempuan. Kritik dari halfies dan dari kalangan Non-Barat lainnya adalah posisi antropologi yang sangat bias Barat dan sarat dengan kepentingan Barat. Sejak awal kelahirannya, antropologi sarat dan di dominasi oleh Barat, di mana mereka enggan melakukan penelitian di AS atau Eropa karena khawatir dianggap mengaburkan batasan dengan keilmuan lain seperti sosiologi atau sejarah. Akibatnya mereka memilih untuk melakukan studi terhadap ‘yang lain’, yakni masyarakat Non-Barat. Dalam hal ini lah terjadi proses ‘peliyanan’ atau ‘othering’.
 
Abu-Lughod mengilustrasikan bagaimana pentingnya kebudayaan dalam antropologi, dan bagaimana antropologi membantu dalam memberikan pemahaman atas kebudayaan, sebagaimana yang dilakukan atas ras. Abu-Lughod mempertimbangkan perbedaan antara kebudayaan dan ras. Baginya, kebudayan itu dipelajari dan dapat berubah, sedangkan ras itu ada sejak dilahirkan. Di sisi yang berbeda, Abu-Lughod juga menjelaskan salah satu subjek utamnya: feminisme.
 
Abu-Lughod menulis tentang feminisme dalam kaitannya dengan kebudayaan. Baginya adalah penting bagi para feminist untuk meletakkan perbedaan seksual dalam konteks kebudayaan, bukan biologi ataunature. Meskipun demikian, harus diingat pula bahwa terdapat banyak perbedaan budaya dalam memandang perempuan dan laki-laki. Perbedaan ini dapat dilihat dari model teori psikoanalisis, derivasi teori marxis atas divisi tenaga kerja dan peran perempuan dalam reproduksi sosial, hingga teori eksploitasi seksual. Dalam pandangan Abu-Lughod, terdapat kecenderungan adanya permintaan untuk memberikan porsi yang lebih besar bagi perempuan, sebuah ruang di mana mereka (perempuan) dapat mengekspresikan diri mereka dan belajar lebih jauh mengenai kebudayaan yang tidak melulu direcoki oleh laki-laki. Bagi Abu-Lughod, perempuan berbagi kesamaan, kesamaan yang lahir bukan karena proses kematangan tubuh yang universal, namun karena pengalaman yang saling bersama dari interpolasi atas kelas, ras, dan orientasi seksual yang selalu didasarkan pada formasi patriarkal.
 
Salah satu strategi yang ditawarkan oleh Abu-Lughod dalam etnografi, yang paling kontroversial, adalah menumbangkan konsep kebudayaan yang telah ada dan meninggalkannya. Adalah fakta bahwa antropolog menulis mengenai apa yang mereka pelajari, dan dalam banyak hal melakukan generalisasi atas apa yang mereka amati, dengan cara yang mirip satu sama lain. Bagi Abu-Lughod, generalisasi atau moda karakteristik dari apa yang dilakukan dan gaya penulisan yang sama dalam ilmu sosial tidak dapat lagi dilihat sebagai deskripsi yang netral. Lebih jauh, writing against culture menggeser fokus ke arah yang lebih partikular, baginya: “and the particulars suggest that other live as we perceive ourselves living, not as robots programmed with “cultural” rules, but as people going through life agonizing over decisions, making mistakes, trying to make themselves look good, enduring tragedies and personal losses, enjoying others, and finding moments of happiness.”

Jadwal Salat