• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

bacaan hari ini: islam observed: religious development in morocco and Indonesia – C. Geertz

on . Posted in Catatan Tepi

I
 
Saya beruntung menemukan buku ini, lebih tepatnya terjemahan buku ini, di sebuah toko buku loak di Surabaya. Buku ini bercerita banyak mengenai pengalaman Geertz hidup di dua Negara: Maroko dan Indonesia. Tentu saja kita mengetahui betul siapa Geertz sebenarnya, bagaimana pengaruhnya terhadap studi budaya di berbagai disiplin ilmu. Buku ini adalah salah satu kepiawaian Geertz dalam menjelaskan mengenai Islam di Maroko dan Indonesia.
 
Secara umum buku ini bercerita mengenai perkembangan Islam di Maroko dan Indonesia, bagaimana kedua masyarakat dari dua negara itu berkembang dan berubah, dan bagaimana agama menanggapi perubahan tersebut di masyarakat. Satu hal unik yang patut di catat dari buku ini adalah bagaimana Geertz mengkomparasikan studi mengenai agama dan dialektika di dalamnya, antara apa yang terjadi di Maroko dan apa yang terjadi di Indonesia.
 
Meskipun kedua negara sama-sama menganut agama Islam, namun dinamika di antara Maroko dan Indonesia sangat lah berbeda. Perbedaan tersebut muncul sebagai akibat dari perbedaan dinamika sejarah, sosial, dan budaya di masing-masing negara. Maroko, dalam pandangan Geertz sebagai negeri Islam yang lebih tua ketimbang Indonesia, terutama jika kita melihat pada waktu kedatangan Islam di Indonesia.Berbeda dengan Maroko yang telah bersentuhan dengan Islam pada awal masa perkembangan agama Islam itu sendiri, Indonesia relatif lebih terlambat dalam menerima Islam. Terlepas dari kesimpangsiuran fakta sejarah kedatangan Islam di Indonesia, namun Indonesia adalah lahan “perawan” bagi kedatangan dan penyebaran agama Islam.
 
Islam di Maroko dan Indonesia, meskipun akar doktrinal yang sama, namun proyeksinya berbeda. Jika Islam di Maroko dikembangkan melalui pendekatan yang keras, cenderung tidak kompromistis, dan adanya usaha untuk melakukan purifikasi ajaran agama Islam; maka Indonesia adalah kebalikan sepenuhnya. Islam berkembang di Indonesia melalui absorpsi nilai, inkorporasi budaya, dan mengutamakan toleransi (sebenarnya saya hendak mengatakan penghindaran purifikasi).
 
Menarik bahwa Geertz juga mencoba melihat gaya keagamaan di Maroko dan Indonesia, yang keduanya, dapat lah dikatakan, bercorak “mistis”. Tentu saja terdapat perbedaan mendasar mengenai apa yang dimaksud dengan ‘mistis’ di sini. “mistis” di sini merujuk pada dua tokoh historis, terlepas apakah mereka secara faktual benar ada atau tidak, yakni Abu Ali al Hasan bin Masud Al Yusi alias Sidi Lahsen Yusi di Maroko, dan Raden Sahid alias Sunan Kalijaga di Indonesia. Sidi Lahsen Yusi merupakan ketrunan Arab pada abad 17 yang dianggap sebagai orang suci di Maroko. Model perjuangan Sidi Lahsen Yusi lebih bersifat konfrontatif, perjuangan moral dengan memberikan perintah, dan terutama sekali adalah kemunculannya bersamaan dengan munculnya Dinasti Alawiyah. Sunan Kalijaga sendiri memiliki sejumlah perbedaan signifikan dengan Sidi Lahsen Yusi, terutama pada model perjuangan yang akulturatif, estetik, dan terutama perannya dalam menjembatani antara Jawa Hindu dengan Jawa Islam.
 
Pada perkembangan selanjutnya, dinamika yang berbeda juga muncul di antara Maroko dan Indonesia, lebih spesifik lagi perubahan kontelasi sosial dan politik di masing-masing negara. Dalam mengembangkan argumennya, Geertz dengan cepat berjalan sepanjang koridor sejarah agama di kedua negara serta mitos tradisional tentang tokoh agama awal di setiap masyarakat yang juga berasal dari periode perubahan besar. Jika sebelumnya Geertz menghadirkan sosok tokoh yang lebih historis, dia juga menggambarkan seorang tokoh politik yang lebih ‘kontemporer’,yang memiliki arti penting khusus bagi kehidupan agama masing-masing negara. Makna penting kehadiran ‘tokoh yang lebih kontemporer’ ini merepresentasikan sosok masyarakat yang resah. Jika sebelumnya terdapat Sidi Lahsen Yusi, maka perkembangan selanjutnya muncul Muhammad V di Maroko. Jika sebelumnya terdapat Sunan Kalijaga, maka perkembangan selanjutnya muncul Sukarno di Indonesia.
 
 
II
 
Geertz nampaknya memiliki ketertarikan tersendiri dengan melihat bagaimana hubungan antara budaya (termasuk agama di dalamnya) dengan pembangunan (termasuk politik di dalamnya). Pada bagian ini berisi banyak informasi menarik dan merupakan contoh yang cukup baik baik dalam melihat hubungan di antara budaya dan ‘pembangunan’, terutama dengan dipergunakannya model perbandingan antara Maroko dan Indonesia untuk menjelaskan lebih banyak mengenai kebudayaan dan‘pembangunan’. Geertz juga mengembangkan deskripsi tentang bagaimana pandangan agama di negara masing-masing, dan bagaimana pengalaman yangberbeda di antara kedua negara mempengaruhi wajah Islam di masing-masing negara. Perbedaan yang muncul mengakibatkan model dan corak Islam yang berbeda pula.
 
Dalam kajian yang lebih teoritis, Geertz menggambarkan agama sebagai sebuah “layar simbolik” melalui pengalaman yang ditafsirkan oleh setiap pemeluk agama.Agama berfungsi sebagai paradigma, yang muncul bukan hanya sebagai hasil dari pengalaman, tetapi ada sebelum mereka dan memungkinkan untuk ditafsirkan dalam kehidupan sehari-hari. Di beberapa tempat Geertz menjelaskan agama sebagaimedium untuk mengisi ‘kesenjangan dalam akal sehat’. Kita tidak bisa menjelaskan dengan logis segala sesuatu yang kita alami semata-mata melalui lensa pengalaman kita sendiri tentang bagaimana dunia bekerja, jadi kita perlu suatu kerangka interpretatif yang lebih luas. Geertz menggambarkan hal ini sebagai perpaduan akal sehat dengan etos agama yang membuat agama bagian dari akal sehat yang mengatur interaksi sehari-hari. Dia membedakan dua kualitas yang ia lihat sebagai gambaran bagaimana agama mengubah pandangan dunia orang yang “religius” itu. Salah satunya adalah “keberagamaan” yang ditanamkan, mewujud dalam kegiatan, dan berfungsi sebagai identitas.
 
Diskusi lain yang juga menarik adalah bagaimana reaksi atas pemikiran agama terhadap masyarakat yang lebih “kontemporer”. Secara khusus Geertz menjelaskan tensi yang muncul antara religiusitas dan kehidupan modern di masing-masing negara. Dalam pandangannya, hal ini tidak lah mengurangi peran agama dalam kehidupan para pemeluknya atau membuat mereka meragukan kepercayaan mereka sendiri, namun lebih para kondisi di mana para pemeluk agama ‘meragukan’ kesalehan mereka sendiri. Kondisi ini muncul disebabkan oleh meningkatnya perbedaan antara dunia pengalaman yang telah terpengaruh oleh modernisasi, dan dunia yang terepresentasikan dalam sistem kepercayaan mereka.
 
Tanggapan mengenai hal ini sangat beragam. Di satu sisi, muncul skripturalisme yang berupaya untuk kembali ke sumber agama Islam: Al Quran dan Hadis, dan merepresentasikan penolakan, tidak hanya terhadap pemikiran sekuler namun juga tradisi religius di masa lalu. Di sisi yang berbeda, muncul pula gerakan menginkorporasikan kebudayaan dalam diskursus mengenai agama, dan bagaimana mewujudkan agama yang lebih ramah terhadap tradisi. Deskripsi Geertz mengenai skriptualisme agama sebagai ideologi, dan diskusi mengenai pengaruh modernitas terhadap agama sangat informatif, dan relevan hingga saat ini.
 
Secara umum buku ini layak dibaca, terutama untuk mendapatkan gambaran umumtentang agama pada umumnya, atau sejarah komparatif Indonesia dan Maroko, atau sekitar antropologi komparatif (atau metode komparatif studi budaya umum) pada khususnya. Buku ini, meskipun secara usia relatif tua dan secara kuantitas tidak terlalu tebal, dapat memberikan gambaran yang sangat luas dan sangat baik dalam melihjat perkembangan religiusitas di dua negara, Maroko dan Indonesia. Sebab agama tidak lah diturunkan dengan tiba-tiba, maka buku ini memberikan gambaran bagaimana agama tumbuh, berkembang, dan berubah, sesuai dengan konteks sejarah, dinamika sosial dan politik, pengaruh kebudayaan, dan lain sebagainya. Saya sendiri merasa buku Geertz memberikan kita sebuah cermin lain dalam merefleksikan keberagamaan diri kita, ya kalau anda tidak setuju, setidaknya saya merasa demikian.
 

 

 

 

Jadwal Salat