• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

bacaan hari ini: intimacy and alienation: money and the foreign in Biak – Danilyn Rutherford

on . Posted in Catatan Tepi

Danilyn Rutherford membahas dengan sangat luas mengenai hubungan-hubungan yang muncul antara orang Biak, orang asing, dan uang. Menarik untuk dilihat, bahwa pada awal pembahasan Rutherford secara spesifik menyebut peristiwa kebakaran yang melanda di sebuah toko atau pasar, bagaimana orang Biak melihat peristiwa tersebut dan apa hubungannya dengan uang menjadi fokus tulisannya.
 
Secara khusus Rutherford mencoba melihat peristiwa tersebut dengan dunia orang Biak, dan bagaimana peristiwa tersebut dicoba dilihat dalam kerangka uang. Uang di sini tidak lah dilihat sebagai alat pertukaran atau jual beli, namun sebagai medium yang saling berkaitan, antara dunia orang Biak dengan orang-orang asing yang datang ke Biak. Uang di sini bukan lah nilai tukar yang memiliki nilai intrinsik maupun ekstrinsik, namun bagaimana uang tersebut dipergunakan dalam dunia orang Biak berkaitan erat dengan logika budaya orang Biak itu sendiri.
 
Rutherford melihat, bahwa peristiwa kebakaran di sebuah toko atau pasar bukan hanya sekedar peristiwa kebakaran per se, namun memiliki keterkaitan dengan konteks budaya bagi orang Biak. Secara spesifik Rutherford menjelaskan mengenai peristiwa yang melatarbelakangi hubungan antara orang Biak, orang asing, dan uang. Rutherford misalnya menerangkan mengenai peristiwa satu orang Biak yang membeli di sebuah toko namun menerima barang yang dibungkus dalam pembungkus yang berasal dari lembaran kitab suci, atau orang Biak yang ditolak berbelanja karena memiliki uang yang kurang, yang kemudian si perempuan Biak tersebut pulang ke rumah dan menangis tersedu di hadapan kitab sucinya, dan cerita-cerita lainnya. Secara khusus saya tidak membahas mengenai cerita-cerita tersebut.
 
Dalam pandangan Rutherford, cerita-cerita tersebut menjadi petunjuk ke arah mana hubungan-hubungan yang terjalin antara orang Biak, orang asing, dan uang. Dalam konteks ekonomis, orang Biak berada dalam posisi marginal ketimbang orang asing yang berasal dari luar Biak, dan dalam hal ini lah uang memegang peranan yang signifikan. Rutherford menyatakan bahwa meskipun kemunculan uang di Biak dapat dilihat sebagai kekuatan yang menitegrasikan, namun uang secara potensial memiliki konsepsi subversif yang memiliki dampak berbeda dengan yang selama ini dibayangkan. Rutherford mengutip sekaligus mengkritisi Simmel, bahwa dalam pandangan Simmel, uang memiliki fungsi integrasi dengan melakukan homogenisasi melalui uang, sehingga pada akhirnya akan tercipta sebuah integrasi melalui pembentukan komunitas-komunitas yang dibayangkan sebagai sebuah nation yang kita kenal dengan nama Indonesia. Bagi Rutherford, konsepsi ini tidak lah berlaku manakala kita membayangkan bahwa melalui uang lah terbentuk hubungan-hubungan yang non-personal, yakni hanya lah hubungan yang sebatas pada transaksi jual beli. Pada model ini, hubungan maupun relasi tidak lah mutlak dibangun, sebab hubungan itu sendiri akan terbangun secara integral dalam proses jual beli tentunya dengan menggunakan uang sebagai alat tukar yang sah.
 
Rutherford melihat bahwa hubungan-hubungan yang terjalin di antara orang Biak, orang asing, dan uang, adalah hubungan yang berada dalam dua sisi yang berjalin, hubungan intim sekaligus alienasi. Barangkali konsep alienasi Rutherford sedikit berbeda dengan apa yang saya bayangkan sebagai alienasi a la Marxian, yakni bagaimana alienasi yang terbentuk dalam proses-proses produksi. Rutherford melihat alienasi, barangkali, sebagai bentuk atau kondisi di mana orang Biak melihat dan berinteraksi dengan si alien atau orang asing. Sebagaimana dijelaskan, bahwa keberadaan orang asing dapat dilihat sebagai peluang bagi orang Biak untuk mencapai salah satu tujuan sosial yang hendak dituju: penguasaan sumber-sumber uang, entah itu menjadi pedagang maupun pegawai pemerintah. Berdasarkan kepentingan itu lah hubungan-hubungan antara orang Biak, orang asing, dan uang terbangun, terjalin, dan tercipta.
 
Lalu apa hubungannya dengan peristiwa kebakaran? Rutherford mengaitkannya dengan cerita rakyat Biak tentang Manarmakeri, orang yang dianggap memiliki kemampuan untuk mendatangkan kekayaan yang berlimpah, yang diceritakan membakar dirinya untuk memberikan harta tak terkira. Peristiwa tersebut, bagi Rutherford, harus dilihat sebagai keseluruhan bentuk budaya orang Biak tekait dengan posisi uang dalam dinamika kehidupan orang Biak. Terbakarnya toko atau pasar dapat dilihat sebagai salah satu tanda harta berlimpah yang diberikan Manarmakeri, koreksi jika saya salah, barangkali hal ini dilihat melalui upaya penjarahan, atau aji mumpung toko lagi terbakar (walaupun saya sendiri merasa jika hal ini benar rasanya di luar nalar sehat saya pribadi). Posisi uang bagi orang Biak bukan lah tujuan asalnya, namun merupakan sebuah medium yang dipergunakan orang Biak untuk mencapai status tertentu, sekaligus uang dipergunakan untuk menunjukkan dengan sangat meyakinkan bagaimana status tersebut dimiliki dan dipergunakan oleh orang Biak.
 

Jadwal Salat