• umamnoer.com
  • 50 tahun Attaqwa Putri

bacaan hari ini: social anthropology & anthropology and history – E.E. Evans-Pritchard

on . Posted in Catatan Tepi

Kali saya membaca tulisan dari Evans-Pritchard, dan saya harus akui, membaca tulisan Evans-Pritchard ternyata tidak lebih mudah ketimbang membaca Levy-Strauss. Meskipun demikian, saya harus memuji Evans-Pritchard karena keengganan dia untuk mengatakan apa yang ingin dia katakan ketimbang memilih jalan berputar. Maka saya akan merangkum apa yang ingin dikatakan oleh Evans-Pritchard melalui cara saya.

Evans-Pritchard, sepanjang yang saya baca, menyatakan secara jelas betapa perlunya antropologi menyapa saudaranya: sejarah. Dalam pandangan Evans-Pritchard, antropologi sebagai subjek telah berkembang dengan sangat pesat, terutama dengan dibukanya jurusan antropologi di berbagai universitas. Hal ini membawa implikasi serius: antropologi telah bergeser, dari hanya mengejar tujuan-tujuan amatir, menjadi murni profesional. Dalam kaitannya dengan pergeseran itu, Evans-Pritchard merasa perlu untuk mengkritisi beberapa hal, terutama persoalan hubungan antropologi dan sejarah yang selama ini tidak mesra.
 
Evans-Pritchard melihat, bahwa dalam sejarah perkembangannya, antropologi mencoba melihat masyarakat sebagai sistem alam atau organisme. Dalam konteks yang lebih luas, asumsi yang dipergunakan bahwa masyarakat memiliki seperangkat aturan dasar yang sama, atau kurang lebih sama, dengan aturan dasar dalam ilmu alam. Para ahli antropologi terdahulu, dengan sangat meyakinkan, menjelaskan bahwa mereka dapat mereduksi sejumlah hal pokok dalam masyarakat, tentu saja hal tersebut adalah hal yang empiris, dengan meletakkan hal-hal tersebut dalam kerangka ilmu alam, tentu saja dengan harapan agara dapat ditemukan sebuah generalisasi yang mumpuni.
 
Hal ini lah yang dikritik oleh Evans-Pritchard, sebagaimana kritik yang ia sampaikan pada teori fumgsional. Dalam pandangan Evans-Pritchard, fakta bahwa para antropolog terdahulu, dan mereka-mereka yang menggunakan teori fungsional, melupakan, atau setidaknya menganggap tidak penting, sejarah, telah melupakan salah satu pijakan dasar. Teori fungsionalisme misalnya, melihat bahwa masyarakat sebuah sistem di mana setiap fungsinya mengalami interdependensi, saling terkait untuk menciptakan sebuah fungsi yang menjalankan keseluruhan masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat, karena dilihat sebagai sistem, maka tidak lah diperlukan melihat sejarah masa lalu masyarakat itu sendiri. Hal ini lah yang dikritik oleh Evans-Pritchard.
 
Evans-Pritchard mencoba menjelaskan bahwa antropologi dan sejarah dapat saling melengkapi, saling memberi, dan saling menerima. Dalam pandangannya, melihat masyarakat hanya dalam kerangka fungsi tanpa melihat bagaimana sejarah membentuk masyarakat dan fungsi itu sendiri adalah absurd. Baginya, penolakan fungsionalisme untuk menengok ke sejarah adalah sebuah kesalahan. Penolakan ini tidak hanya membuat fungsionalisme gagal dalam mempelajari masalah secara diakronis, namun juga dalam mengujicobakan konstruksi fungsional dalam sebuah masyarakat. Tentu saja Evans-Pritchard tidak lah bermaksud memerintahkan kita untuk mempelajari sejarah sebuah masyarakat secara partikular, yang diinginkan Evans-Pritchard sesungguhnya adalah, jika kita ingin mempelajari sebuah masyarakat, maka kita tidak boleh melupakan kondisi historis yang membentuk masyarakat itu.
 
Meskipun antropologi harus lebih akrab dengan sejarah, tidak berarti kajian antropologi bergeser menjadi histiografi. Bagi Evans-Pritchard, tidak ada perbedaan terlalu mendasar antara antropologi dengan sejarah. Apa yang dilakukan oleh antropolog, dalam derajat tertentu, memiliki kesamaan dengan apa yang dilakukan oleh sejarahwan. Orang-orang yang bergerak di bidang antropologi sosial pada dasarnya bergerak dalam tiga level abstraksi. Pertama, dia berusaha untuk memahami sebuah unsur budaya dab menterjemahkannya ke dalam budayanya sendiri. Hal yang sama juga dilakukan oleh para sejarahwan, di mana keduanya sama-sama mempergunakan seleksi yang ketat dalam terhadap material yang akan dipergunakan. Kedua, dia berusaha mencari dengan menganalisis hal laten yang mendasari bentuk-bentuk yang ada dalam masyarakat. Fase terakhir adalah fase di mana seorang antrolog mengkomparasikan struktur sosial yang ia analisis dengan mengungkapkan aspek yang jauh lebih luas dari masyarakat.
 
Dalam kalimat penutupnya, Evans-Pritchard meyakini bahwa pemahaman yang lebih jelas akan pentingnya saling menyapa antara antropologi dengan sejarah akan membawa hubungan yang lebih dekat antara antropologi dan sejarah. Bagi Evans-Pritchard, kedekatan hubungan ini akan membawa keuntungan bagi kedua pihak, baik bagi antropologi maupun bagi sejarah. Sejarahwan dapat menyediakan sejumlah bahan yang dapat membantu pemahaman yang lebih mendalam bagi antropolog, dan antropolog pun dapat memberikan sejumlah gambaran masa depan berdasarkan catatan yang ada yang didasarkan pada pengamatan yang mendetail. Evans-Pritchard sendiri memprediksi, bahwa ke depan, antropologi akan bergerak ke arah disiplin yang lebih humanis, terutama melalui kajian sejarah sosial atau sejarah institusi, yang akan membuat antropologi memiliki kedekatan dengan sejarah sebagaimana memang seharusnya terjadi.
 
 
“anthropology and history – E.E. Evans-Pritchard”
 
Dalam tulisan berikutnya, sebelas tahun setelah kuliahnya di Marett lecture pada tahun 1950, Evans-Pritchard masih meyakini hal yang sama. Meskipun, sebagaimana ia nyatakan sendiri, diserang mengenai apa yang ia katakan sebelas tahun yang lalu, ia masih percaya bahwa antropologi harus saling menyapa dengan sejarah. Evans-Pritchard sendiri menyadari bahwa pengaruh Malinowski dan Radcliffe-Brown, yang enggan menoleh ke sejarah, masih sangat kuat.
 
Bagi Evans-Pritchard, harus dibedakan mengenai tipe-tipe sejarah. Sejarah yang dimaksud oleh Evans-Pritchard adalah historiens-sociologues, yakni sejarah yang memiliki ketertarikan primer pada institusi sosial, gerakan massa, perubahan sosial, dan yang mencari kebiasaan, tendensi, tipe-tipe dan rangkaian tipikal dalam masyarakat, tentu saja dengan catatan bahwa apa yang dicari selalu pada konteks kultural maupun historis yang spesifik. Sejarah bukan lah cerita yang terpotong dan terpisah, namun adalah rangkaian yang saling berkaitan. Evans-Pritchard menjelaskan sejumlah konsekuensi pemutusan hubungan antara antropologi dan sejarah.
 
Bagi Evans-Pritchard sejumlah konsekuensi muncul ketika antropologi secara serius memutuskan hubungan sejarah, antara lain: (1) antropolog memiliki kecenderungan untuk menjadi tidak kritis dalam penggunaan bahan dokumen; (2) antropolog sangat jarang membuat usaha yang sangat serius untuk merekonsruksi catatan sejarah dan tradisi verbal pada masa lalu di masyarakat yang dipelajari; (3) dengan kurangnya usaha untuk merekonstruksi sejarah, maka akan sulit mempelajari perubahan yang terjadi di masyarakat, terutama dengan tidak adanya dokumen sejarah; (4) sejarah tradisional masyarakat sangat penting untuk alasan yang lebih jauh bahwa bentuk-bentuk pemikiran yang ada dalam masyarakat berhubungan dengan kehidupan sosial mereka muncul dan terbentuk melalui konteks historis mereka; (5) kurangnya ketertarikan antropolog pada masa lalu, pada masyarakat yang dipelajari, membuat mereka secara jelas membedakan antara sejarah, mite, legenda, anekdot, dan cerita rakyat. Bagi Evans-Pritchard, jika antropolog tidak meletakkan ‘selimut’ tradisi pada cerita-cerita yang ada di masa lalu, maka mereka tentu akan mengatakan bahwa cerita-cerita tersebut adalah sejarah; (6) antropologi mencari pada fakta sosial dan sejumlah fakta yang dicari terdapat atau pun tercatat pada sejarah, maka antropologi akan mengalami kesulitan untuk mencapai sebuah generalisasi mengenai masyarakat yang dipelajari; (7) antropologi harus melihat kembali sejarah perkembangan antropologi yang melibatkan pemikiran evolusi di dalamnya, di mana evolusi sendiri dapat dipelajari dan digeneralisasi setelah melihat fakta-fakta sejarah; (8) tendensi yang berkembang melalui fungsionalisme dalam etnografi, dengan menolak sejarah, berarti mencegah kita untuk menguji validitas dari sejumlah asumsi dasar yang dihasilkan. Bahkan dengan menolak sejarah, maka kajian fungsional terhadap masyarakat adalah tidak relevan; dan (9) histiografi menyediakan sejumlah lahan penting bagi studi sosiologis, dan lahan-lahan tersebut saat ini sedang dalam penggarapan yang luar biasa.
 
Sebagaimana telah dikatakan oleh Evans-Pritchard sebelas tahun yang lalu, bahwa kedekatan dengan sejarah akan membawa keuntungan bagi antropologi, dan tentu saja keuntungan yang sama dapat pula diperoleh oleh sejarah. Hal ini sebenarnya bukan lah yang aneh, sebab antara antropologi dengan sejarah pada dasarnya memiliki fundamental yang sama. Bahwa antropologi dan sejarah adalah cabang dari ilmu sosial atau studi sosial, dengan demikian sangat dimungkinkan terjadinya pertemuan dan saling menumpuk yang relevan dan penting bagi keduanya, di mana keduanya dapat saling belajar dan mengisi.

Jadwal Salat